My Protective Brothers

My Protective Brothers
Farrell's departure



..."Still you, nobody can replace you."...


Happy Reading....


"Lo udah ngasih tau ke Adek soal kabar ini?"


Yang ditanya menggelengkan kepalanya pelan. Gerald, pria itu mengumpat pelan kepada sang Kakak Tertua. Mempunyai otak yang serba setengah seperti Farrel, memang lebih baik dibunuh saja.


"Bilang cepetan, anjing. Lo mau Adek nangis kejer lagi?!"


Farrel tersenyum polos. Pria itu dengan cepat berlari kearah Rezvan dengan tujuan untuk meminta bantuan akan hal ini.


"Gue mau bantu, tapi gue bingung gimana caranya, Bang. Coba lo minta bantuan Bang Azri aja, gue yakin dia bisa bantu lo."


Saran yang bagus, tapi cukup membuat mental Farrel agak sedikit ciut. Pasalnya, Azri sedang dalam kondisi mood yang tidak baik saat ini. Sangat berbahaya jika ia menganggu adik laki-lakinya yang satu itu.


"Takut ya, Bang?" Gerald bertanya dengan nada meledeknya. Farrel menatap sinis adik gilanya itu. Ingin membuktikan bahwa ia tidak takut, dengan segera Farrel masuk kedalam kamar milik Azri. Persetanan dengan mood Azri, kali ini ia benar-benar membutuh pria yang satu itu.


"ZRI, WOY!!"


Jika bukan Farrel Kakak tertuanya, mungkin Azri sudah membunuh pria tua yang satu itu, saat ini juga.


"Gue mau minta ban----"


"Ngomong sama Adek kalo lo mau kuliah di Spanyol, kan?"


Farrel mengangguk.


"Gue udah bilang ke Adek dari tadi malem. Dia nangis kejer, tanggung jawab lo sana!"


Memang tidak ada gunanya mempunyai adik durhaka seperti Azri. Farrel dengan cepat berlari kearah kamar adik kecilnya. Dan benar saja disana sudah ada Rezvan yang sedang memeluk hangat tubuh Freya. Farrel dengan perlahan mulai mengusap puncak kepala dari adik kecilnya itu.


Matanya kini mulai mengisyaratkan Rezvan untuk segera meninggalkan ia dan Freya dikamar ini. Rezvan mengangguk mengerti.


"Um, Dek. Mau boneka, gak?"


"Enggak."


"Maunya apa? Es krim mau? Atau Pizza mungkin?"


"Mau Kakak disini aja. Spanyol kan jauh, Kak. Nanti kalo Kakak diculik gimana?"


Farrel tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol dari adik kecilnya itu. Freya memang random, inilah alasan kenapa Farrel tidak ingin meninggalkan gadis polos ini.


"Dek, ngertiin Kakak, ya? Kakak ke Spanyol buat kejar mimpi Kakak. Emang kamu mau kalo Kakak gak sukses kaya Daddy?"


Freya menggeleng.


"Iya..." Freya menjawab dengan nada pelan. Tatapan dari gadis itu masih tetap mengarah keatas. Farrel mulai memeluk adik kecilnya itu. Ia mengecup dahi Freya, lalu membiarkan adik kecilnya itu menangis sepuasnya didalam pelukannya.


"Kalo udah capek nangisnya, tidur aja, ya? Besok kamu harus anterin Kakak ke bandara soalnya."


......'°'°'°'°'......


Pagi ini, Rezvan dan Azri sudah siap untuk mengantar Kakak tertuanya itu ke Bandara. Akan tetapi perjalanan mereka tertunda, karena sampai saat ini Freya masih belum bangun dari tidur cantiknya. Akhirnya, Gerald memutuskan untuk membawa adiknya itu kearah bandara dalam kondisi tidur.


"eumm..."


Ketiga Kakak tampannya kini bernafas lega, karena akhirnya adik kecilnya itu sudah bangun dari tidur lamanya. Belum sempat Azri berbicara, Freya sudah tumbang kembali di pangkuan seorang Rezvan.


Rezvan, Azri, dan Gerald yang menyaksikan hal itu hanya bisa mengumpat pelan. Untung Adik, batin mereka bertiga.


Beralih kepada Farrel. Kini pria itu masih setia menunggu keempat adiknya yang masih dalam perjalanan kesini. Sebenarnya keberangkatannya sudah setengah jam yang lalu, akan tetapi ia tunda, karena pesawat yang ia gunakan adalah pesawat pribadi.


Cukup lama menunggu akhirnya keempat adiknya itu sampai. Farrel kini mengarahkan pandangannya kearah Freya yang sedang menangis tepat dipelukan seorang Gerald. Perlahan ia mendekat, lalu mengucapkan kata maaf tepat ditelinga adik kecilnya itu.


Azri menepuk bahu Farrel dengan pelan. Ia mengkode Farrel untuk segera pergi menaiki pesawat. Farrel mengangguk, sebelum pergi ia menyempatkan mencium puncak kepala Freya terlebih dahulu.


"Kakak berangkat, ya? Jaga diri kamu baik-baik. Kakak sayang kamu, Dek!"


...`°`°`°`°`...


Ini sudah 7 hari semenjak Farrel meninggalkan negara ini. Dan Freya, gadis itu menolak makan akhir-akhir ini. Gerald sudah beberapa kali membujuk adik kecilnya itu, akan tetapi ia selalu gagal. Dan hari ini adalah giliran Rezvan untuk membujuk adik kecilnya itu.


Tok... Tok... Tok...


"Ehem... Dek makan dulu yuk. Kak Farrel bakalan sedih loh, kalo dia liat kondisi kamu yang kaya gini."


Cukup. Rezvan menyerah, memang dari awal harusnya Azri yang turun tangan. Pria itu berjalan kearah ruang tamu, lalu mengatakan kepada Azri jika usahanya gagal total. Azri menghembuskan nafanya pelan. Memang sulit untuk membujuk anak kecil yang satu ini. Dengan cepat ia berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan cepat kearah kamar Freya.


BRAK!


Mata Gerald dan Rezvan kini membulat sempurna. Saat ini Freya sedang diseret secara kasar oleh seorang Azri. Melihat Freya yang menangis dengan disertai dengan jeritan kecil, kini membuat Gerald menggendong tubuh ringan Freya dengan cepat. Azri menatap tajam kearah adik kecilnya itu. "Pastikan dia makan dengan baik, jika tidak hal yang baru saja terjadi akan terulang kembali. Atau mungkin akan lebih parah,"peringatnya.


Gerald menyuapi Freya dengan hati-hati. Inilah akibatnya jika tidak menuruti perkataan Azri dengan baik. Baik itu Freya ataupun Gerald, Azri tak akan segan bertindak tegas, jika kedua adik kecilnya itu melakukan kesalahan sekecil apapun.


"Nangisnya ditunda dulu dong, Dek. Nanti Kak Azri marah lagi loh."


Terlihat Freya yang sekuat tenaga untuk menahan tangisannya itu, Rezvan terkekeh pelan melihatnya. Adik kecilnya itu benar-benar sangatlah imut. Rezvan mengabadikan momen itu untuk ia berikan kepada Farrel nantinya. Tak lupa ia juga akan menceritakan kejadian aksi kejam Azri terhadap Freya kepada sang Kakak tertua.


"Mampus lo Kak...."