My Protective Brothers

My Protective Brothers
Nyaman #PART 27



..."Dia hanya bercanda, seharusnya kamu tertawa, bukannya malah jatuh cinta."...


"Belajar yang bener, ntar kalo udah bel, tunggu dikelas. Nanti aku yang jemput."


Freya menganggukkan kepalanya kearah Kelvin. Gadis itu dengan sengaja mencium pipi kanan Kelvin, saat terdengar suara seorang siswi yang menuduhnya sebagai cewek gatal.


Kelvin mengusap puncak kepala gadisnya itu. Setelah itu, ia menyuruh Freya untuk segera masuk kedalam kelas. Kelvin mendekati seorang siswi yang mencaci maki gadisnya tadi, ia mendekatkan wajah dari siswi itu kearah mulutnya. "You're in big trouble, *****!"bisiknya


...•••••••••••••••••...


Freya. Gadis itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Akan tetapi Kelvin belum juga menemuinya.


Freya berjalan kearah lapangan basket, lalu ia menghampiri kakak dinginnya, yaitu Azri. "Kak, liat Kak Kelvin gak?"


Azri menujuk kearah ruang ganti. Dan Freya menganggukkan kepalanya paham. "Boleh Freya masuk kesana?" Azri menggeleng. Bukannya memberitahu jika alasannya kenapa, Azri malah memangku tubuh ringan adiknya itu.


"Ish! Kak, aku mau masuk kesana."


"Kalo kamu masuk kesana, ntar anak basket yang lain malu."


Freya mencoba mencerna apa maksud dari kalimat yang dilontarkan kakak tampannya tadi. Azri menepuk jidat adiknya itu pelan. Resiko mempunyai adik yang lola (loading lama) seperti Freya ya begini.


"Adikku yang lucu, ntar kalo kamu masuk ke ruang ganti, anak basket yang lain bakalan malu, kan mereka lagi ganti baju."


Freya tersenyum imut kearah Azri. Akhirnya ia mengerti juga.


"Tuh Kelvin."


Freya mengalihkan pandangannya kearah Kelvin. Tanpa aba-aba apapun, gadis itu langsung saja memeluk sang pacar. "Kak, katanya mau pulang bareng."


Kelvin memukul jidatnya pelan. Pria itu memandang Freya dengan tatapan bersalahnya. "Hari ini aku ada latihan basket, by. Aku lupa buat ngabarin kamu."


Freya mengerucutkan bibirnya sebal. Di keadaan seperti inilah Azri menghampiri adik kecilnya itu. "Bareng sama Rezvan aja, mau?"


"Kak Rezvan tadi udah pulang bareng sama Kak Gerald. Terus Kak Farrel tadi izin ke gurunya, kalo dia harus meeting mendadak sama kliennya Daddy."


Azri mengusap pelan puncak kepala adiknya itu. Pria itu takkan mungkin membiarkan adiknya pulang sendirian. "Nichol,"panggil pria itu kearah seseorang.


"Ya?"


"Anterin adek gue pulang ya. Soalnya gue sama Kelvin hari ini ada latihan."


Pria yang bernama Nichol itu mengalihkan pandangannya kearah Kelvin. Kelvin yang mengerti akan maksud dari temannya itu, ia menganggukkan kepalanya pelan. Pertanda bahwa ia mengizinkan gadisnya untuk pulang bersama dengan Nichol.


"Hati-hati di jalan, ya. Bilang sama aku kalo Nichol ngapa-ngapain kamu."


Nichol mendelik kesal kearah Kelvin. Pria itu langsung saja mengajak Freya untuk pergi kearah parkiran motor.


"Bisa naiknya?"


"Bisa, kak. Tapi roknya?"


Nichol membuka Hoodie yang dipakainya. Pria itu mendekat kearah Freya, lalu mengikatkan Hoodie nya itu kearah pinggang ramping Freya. "Tutup pake ini, gue gak mau disalahin sama si Kelvin, cuman gara-gara paha gadisnya terekspos jelas,"sinis Nichol.


Freya tertawa kecil mendengarnya. Tangannya refleks melingkar kearah perut Nichol, saat motor yang dikendarai pria badboy itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Nichol sama seperti Kelvin. Akan selalu mengendarai dengan kecepatan tinggi, walaupun kedua pria itu tahu bahwa nyawa lah taruhannya jika sudah celaka. Tapi siapa yang peduli dengan hal itu? Berkendara dengan kecepatan tinggi sangatlah menyenangkan. Nichol dan Kelvin sama-sama menyukai suasana seperti itu.


"Rumah lo dimana?"


Freya mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan teman kakak dan pacarnya ini?


"Kak, kan aku adeknya Kak Farrel, Kak Azri, Kak Rezvan, sama Kak Gerald. Masa kakak lupa sih sama alamat rumah keempat pria gila itu?"


"Lupa gue, maklum kalo ada cewek cantik dideket gue, bawaannya suka lupa segalanya mulu."


Freya dan Nichol sama-sama tersenyum tipis. Akan tetapi sedetik kemudian, Nichol kembali dengan ekspresi serius nya. "Astaghfirullah, Nic. Pacar sahabat lo itu,"gumamnya kecil.


"Eh, Frey. Udah nyampe ini."


"Makasih ya, Kak. Ntar titip salam buat Kak Kelvin."


"Lo bisa chat dia, Frey. Ngapain nyuruh gue?"


Freya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Situasi ini memang cukup canggung. Terlebih lagi sekarang ada Farrel yang tiba-tiba saja menyuruh Nichol untuk masuk kedalam.


"Ganti baju dulu gih, dek. Ntar kalo ada Kelvin, kakak kasih tau."


Farrel memang kakak yang pengertian.


Nichol. Pria itu mendekati Farrel untuk meminta izin pulang karena team futsal nya sudah meneleponnya sedari tadi. Pria itu pergi saat Farrel menganggukkan kepalanya paham. "Hati-hati, Nic!"


"Siap, Bang!"


...••••••••••••...


Bruk!


Freya menidurkan dirinya diatas kasur kesayangannya itu. Pulang bersama Nichol adalah hal yang tidak terduga. Pasalnya Freya akan lemah jika tentang masalah cogan.


"Kak Nichol terlalu Masyaallah untuk Freya yang Nauzubillah Min Dzalik."


Freya memeluk boneka pemberian Kelvin. Gadis itu tersadar dari zina pikirannya, saat Gerald melemparnya dengan bantal yang pria itu bawa dari arah kamar miliknya. "Dek, denger suara kakak gak dari tadi?" Gerald menatap sinis Freya. Pria itu memang tidak suka jika perkataan atau pertanyaannya diabaikan.


Freya menggelengkan kepalanya. Gadis itu menatap Gerald dengan tatapan polosnya. "Emang kakak tadi ngomong apa?"


"Beliin makanan buat kakak."


Freya memutar bola matanya malas. Tapi gadis itu tetap saja menuruti perintah Gerald. Freya mengambil uang yang diberikan oleh Gerald, lalu gadis itu pergi kearah supermarket terdekat.


"Allahuakbar kenapa ada Team futsal sekolah disini?"


Freya mengalihkan pandangannya kearah lain. Ingin menerobos masuk kedalam supermarket pun ia malu. Pasalnya disitu ada Nichol dan team futsal sekolahannya yang sedang sibuk bercanda tawa.


"Kak Farrel tolong Freya hiks, Freya malu."


Freya menundukkan kepalanya. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah Nichol, saat pria itu secara tiba-tiba memasangkan Hoodie yang dipakainya tadi kearah pinggang ramping Freya. "Pake ini, buat lo aja sekalian. Gue gak mau dimarahin sama si Kelvin cuman karena temen-temen futsal gue ngeliatin tubuh lo dari atas sampe bawah,"ucap pria itu.


Freya tersenyum tipis. Nichol itu ibarat Gerald. Sering bercanda, akan tetapi jika mereka berdua serius, damage nya bukan main-main :)


"Lo mau beli apa kesini? Gue temenin deh."


"Gak latihan, Kak?"


"Enggak, lapangannya ternyata dipake sama sekolah lain yang nanti bakalan tanding sama team nya Kelvin. Jadi terpaksa team futsal libur dulu hari ini."


Freya menganggukkan kepalanya paham. Kemudian gadis itu masuk kedalam supermarket, dengan Nichol yang menjaganya dari belakang.


"Udah beres?"


Freya masih sibuk menghitung jumlah makanan yang diberinya. Ia bahkan sampai tidak mendengar jika Nichol bertanya padanya tadi.


"Frey! Dah beres?"


"Eh, iya kak udah."


Freya membayar semua pembelanjaannya. Sebenarnya tadi Nichol ingin mentraktirnya, akan tetapi Freya menolaknya dengan alasan jika semua makanan ini milik Gerald bukan miliknya.


"Naik."


Nichol sudah siap dengan motor andalannya. Pria itu membantu Freya untuk naik keatas motor. Lalu tanpa diduga-duga, pria itu juga mengambil alih kedua tangan Freya untuk dilingkarkan kearah pinggangnya.


Hanya satu kata yang Freya rasakan saat bersama Nichol. Yaitu...... Nyaman :)


TBC......