My Protective Brothers

My Protective Brothers
Weird Gerald



Freya. Gadis itu sedang asik memperhatikan sang Kakak tertua, yang sedang sibuk menjelaskan beberapa aturan baru kepada anggota Osis yang lain. Farrel yang menyadari hal itu, ia mengedipkan sebelah matanya kearah Freya. Dan hal itulah yang kini membuat suasana rapat menjadi ricuh seketika.


Freya mengumpat pelan kepada semua anggota Osis disini. Ini baru Farrel, bagaimana jika Azri, Rezvan, dan tentu saja Gerald melakukan hal yang sama seperti tadi?


Melihat gerak-gerik sang adik yang sudah merasa tak nyaman. Farrel mulai mengkode kearah Freya untuk segera meninggalkan ruangan ini. Untung saja Freya paham, dengan segera gadis itu berdiri, lalu berlari kecil kearah luar ruangan. Diluar, sudah ada Gerald yang menunggunya sedari tadi.


"Mau pulang sekarang?"


Freya menggeleng. Tatapan matanya masih terfokus kearah ruangan rapat Osis. Gerald yang mengerti akan hal itu, ia mengusap puncak kepala Freya pelan. "Yaudah, kita tungguin dulu Kak Farrel nya,"putusnya final.


Tentu saja hal ini membuat Freya senang. Dengan refleks, gadis itu memeluk sang Kakak termuda. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Gerald juga membalas pelukan sang adik.


Mata dari Freya kini terfokus kearah Azri, yang sedang asik mengobrol bersama dengan Aland, dan juga Erick. Freya mengkode kepada Gerald untuk segera berbalik badan. "Kakak gak akan ikutan ngobrol sama mereka?" Pertanyaan itu dibalas gelengan kepala oleh Gerald.


"Loh, kenapa? Padahal biasanya Kakak paling suka ngobrol bareng Kak Aland."


Gerald tersenyum kecil, "kalo Kakak kesana, yang jagain kamu siapa, anak kecil?"


"Kak Rezvan lah, yakali Kak Nichol."


Jawaban itulah yang kini membuat Gerald menatap bingung kearah Freya, "Perasaan gak ada Rezvan disini." Freya mengkode Kakak termudanya untuk segera mengalihkan arah pandangannya kearah kanan. Gerald mengikuti kode dari adiknya itu. "Anjir! Sejak kapan lo ada disini?"


Rezvan menatap sinis Gerald. Pria itu memegang kerah seragam daei Gerald, lalu dipindahkannya badan dari Freya kearah Azri, yang entah sejak kapan pria itu sudah ada disamping Rezvan.


"Nitip Adek dulu, Bang. Gue ada urusan dulu sama ni bocah satu,"pesannya kepada Azri.


Tanpa mendengar pesan dari Rezvan, Azri membawa Freya menjauh dari kedua adik gilanya itu. Pria itu membawa Freya untuk masuk kedalam mobil. Lalu meninggalkannya, dan bergabung kembali bersama Aland, dan juga Erick. Tentu saja, Freya speechless dengan perlakuan aneh Kakak dinginnya itu. Ia ditinggalkan? Apa Azri tidak salah?


Tak terima dengan hal itu, Freya dengan sekuat tenaga membuka pintu mobilnya. Gadis itu menghela nafasnya pasrah, saat ia menyadari jika Azri mengunci pintu mobilnya. Terlihat dari arah seberang sana, pria dingin itu tersenyum smirk kearah adik kecilnya.


Bukan Freya namanya jika ia menyerah begitu saja. Gadis itu kini dengan cepat mengirim pesan teks kearah sang Kakak tertua, yaitu Farrel. Bibir dari gadis itu kini melengkung, membentuk sebuah senyuman kecil. Dan tak lama, matanya kini menangkap sosok Farrel yang sedang terburu-buru berlari kearahnya. Farrel dengan cepat mengeluarkan adik kecilnya dari mobil itu. Kemudian, mata dari pria itu kini menatap tajam kearah Azri yang sedang menunduk sedari tadi ketika ia datang.


"Azri, sini lo!"


Azri mendekat. Pria itu memposisikan dirinya tepat disamping Freya, Farrel menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya yang satu ini.


"Lo kenapa ngunci Adek lo sendiri, anjir!"


"Gabut."


Satu kata yang mudah diucapkan, tapi akan membuat emosi setiap orang yang ada didekatnya, dan hal itu terjadi kepada Farrel. Pria itu kini sudah mengepalkan tangannya dengan kuat, bersiap untuk memukul Azri. Akan tetapi Gerald dan Rezvan tiba tepat waktu. Kedua pria itu membawa masuk Farrel kedalam mobil, lalu disusul Freya dan Azri.


"Dek, tau gak minggu depan Kak Farrel lulus?"


"Hah? Kok cepet, perasaan Freya baru masuk sekolah sebentar deh."


Gerald. Pria itu menyentil dahi adiknya pelan, mempunyai adik yang otaknya setengah seperti Freya, memang membutuhkan tenaga kesabaran yang cukup extra.


"Kamu sebentar lagi bakalan jadi Kakak kelas, dek."


Farrel tersenyum membayangkan saat adik kecilnya menjadi seorang Kakak kelas nanti. Ah membayangkannya saja sudah membuatnya gemas, apalagi nanti.


"Mana ada Kakak kelas yang mukanya imut kaya kamu,"ejek Gerald.


Freya tentu saja merengek kepada Azri dan Rezvan, dan jika sudah begini nyawa Gerald lah yang dalam bahaya. Bagaimanapun juga pria itu takkan pernah menang, jika melawan seorang Freya.


...°`°`°`°...


Tepat hari ini, Farrel Edzard Abinaya Abrisam merayakan kelulusan sekolahnya. Freya sendiri merasa sedih, karena ia takkan bisa lagi menikmati tidur secara gratis. Gerald yang mengetahui isi pikiran adiknya itu, kini pria itu menepuk pelan kepala dari adik kecilnya. "Tenang aja, sekarang ketos pindah ke tangan Rezvan, kok. Kamu masih bisa tidur sepuasnya,"ucap Gerald dengan senyuman kecilnya.


Freya tersenyum senang. Tanpa gadis itu sadari, sedari tadi Farrel memperhatikan tingkah laku gadis itu. Setelah mengetahui akar dari permasalahan ini, ternyata dugaan Farrel benar. Adiknya itu hanya takut jika ia tidak bisa tidur dengan puas lagi, dan itulah alasan mengapa ia menunjuk Rezvan sebagai ketua Osis yang baru. Farrel benar-benar Kakak yang sangat baik, bukan?


"Hey, kamu mau apa dari Kakak?"


Yang ditanya malah mengernyitkan dahinya heran, bukankah ia yang seharusnya bertanya Kakak tertuanya itu mau apa?


"Kak, kebalik. Harusnya aku yang nanya Kakak mau apa,"koreksinya.


Farrel dan Azri tertawa kecil. Freya memang polos, akan tetapi otak adiknya itu agak sedikit bego.


"Masa cewek yang traktir cowok. Malu dong ah."


Ucapan Farrel memang benar, akan tetapi Freya agak sedikit gemas dengan Kakaknya yang satu ini. "Kak, mau aku jambak gak?"


Gerald yang mendengar nada emosi dari adik kecilnya itu, ia dengan segera menghampiri Freya. Pria itu berdiri tepat dihadapan adiknya, lalu ia bertingkah tepat seperti seorang pria lembek.


"Ahh Mas... jambak aku dong"


Tolol memang :)


TBC.....