My Protective Brothers

My Protective Brothers
An unwanted accident #PART 23



Entah harus bersikap biasa saja atau khawatir. Kali ini Gerald dihadapkan dengan kecelakaan yang tidak ia inginkan. Pasalnya, pria itu menabrak salah satu cewek jadi-jadian yang waktu itu menampar adik kecilnya a.k.a Freya.


Nara---- nama dari cewek jadi-jadian itu---- ia mengulurkan tangannya, bermaksud untuk meminta pertolongan dari Gerald. Gerald menolong Nara dengan wajah datarnya. "Makasih,"ucap Nara.


"Gue pergi."


Urusannya sudah selesai. Lagipula itu hanya luka kecil biasa, Nara saja yang lebay.


"Eh, tunggu. Lo belum tanggung jawab."


Gerald menghentikan langkahnya. Ia berbalik, lalu memandang Nara dengan tatapan tajamnya. "Gue udah tanggung jawab, lagian luka di kaki lo itu luka kecil, gak usah alay bisa?"


Nara mengerucutkan bibirnya sebal. Niatnya memancing perhatian Gerald malah berujung membuat Gerald menjadi ilfeel kepadanya. Kali ini apa yang harus ia lakukan?


"Tunggu. Gue akan berhenti minta tanggung jawab dari lo, asalkan dengan syarat lo mau jadi pacar gue."


Penawaran yang cukup bagus bukan?


Gerald. Pria itu mengusap wajahnya gusar. Ia pergi dari lokasi itu, sembari mengumpat pelan. "Cewek gila,"umpatnya.


...•••••••••••••••••...


Freya. Gadis itu sedang sibuk memilih-milih cemilan yang ada di supermark** di dekat rumahnya. Tentu saja, ia kesini dengan ditemani oleh Rezvan, yang sedang sibuk bermain game di handphone miliknya. Farrel, kakak tertua dari Freya tidak akan pernah membiarkan adik kecilnya itu pergi kemana-mana sendirian. Ia akan selalu memerintahkan Rezvan, Gerald ataupun Azri untuk menemani Freya. Itupun jika ketiga adiknya sedang tidak sibuk. Jika Rezvan, Azri, Ataupun Gerald sedang sibuk. Maka Farrel lah yang turun tangan untuk menemani adik kecilnya.


"Kak, segini cukup gak?" Rezvan mem-pause terlebih dahulu game di handphone nya itu. Ia menatap keranjang yang berisikan cemilan itu dengan seksama. "Kurang banyak, dek. Tambah lagi aja,"sarannya.


Freya menganggukkan kepalanya paham. Benar juga, ini kurang. Kenapa ia tak menyadari hal itu?


Freya memasukkan beberapa ciki dan minuman secara asal. Lagipula cemilan ini adalah kebutuhan untuk keempat kakak tampannya. Untuknya? Ia memakan cemilan sisa. Poor Freya.


Setelah selesai. Freya memberikan keranjang berisikan cemilan itu kepada Rezvan. Rezvan yang paham pun mengangkat keranjang itu lalu membawanya kearah kasir. "Berapa totalnya, mbak?"tanyanya.


"675 rb, mas!"


Rezvan memberikan black card milik Farrel kearah mbak kasir itu. Ia tak mungkin menggunakan kartu ATM miliknya untuk membayar semua cemilan ini. Bisa-bisa isi saldonya habis dalam waktu singkat.


"Ini black card nya dan ini belanjaannya. Terimakasih karena telah membuat supermark** ini ramai ya, mas. Jangan lupa sering-sering belanja kesini."


Mendengar hal itu. Rezvan melihat kearah sekitar, dan benar saja supermark** ini sudah ramai oleh pengunjung, padahal tadi jika diingat-ingat kembali, supermark** ini sangatlah sepi. Tak ada pembeli satupun disini, kecuali Rezvan sendiri dan adik kecilnya, yaitu Freya.


"Hahaha iya, mbak. Makasih, ya!"


Rezvan segera pergi kearah luar untuk menemui adik kecilnya itu. Ia memberikan kantong keresek berisi cemilan itu kepada Freya. Freya menerimanya dengan sangat baik.


"Gimana rasanya jadi penglaris disini, kak?" Freya tertawa keras, ia senang menggoda kakak tampannya itu.


Rezvan menyentil dahi adiknya pelan. Setelah itu ia mengelusnya. Ia tak ingin jika adiknya merasa kesakitan karena ulahnya tadi. "Jaga omongannya ah, dek. Gak sopan tau, kalo sampe Gerald tau kamu ngomong kaya tadi, kamu pasti diomelin habis-habisan sama dia,"nasihat Rezvan.


Freya mengerucutkan bibirnya lucu. Rezvan dan Gerald memang tak bisa diajak bercanda. Mereka selalu serius. Makannya Freya tak betah jika berlama-lama didekat kedua kakak tampannya itu.


Rezvan tertawa kecil. Ia memang sama seperti Gerald, tak bisa diajak bercanda. Rezvan lebih menyukai hal-hal yang berbau keseriusan. Seperti sebuah hubungan misalnya. Haha.


Rezvan menggandeng tangan Freya hingga kearah parkiran. Farrel---- kakak tertuanya---- sudah menitipkan Freya kepadanya, maka dari itu Rezvan harus menjaga Freya dengan sebaik-baiknya. Lecet sedikit saja, maka Farrel dan Azri lah yang bertindak.


"Mau jalan-jalan gak? Ke pantai gituh misalnya?"tawar Rezvan dengan pandangan yang fokus kearah depan. Oleng sedikit saja, maka nyawa lah taruhannya.


Freya mengalihkan pandangannya kearah kakak tampannya itu. Ia menganggukkan kepalanya dengan semangat. Sepertinya pantai enak untuk dijadikan tempat refreshing.


Sesampainya di area pantai itu, Freya langsung bermain pasir dengan perasaan senang. Rezvan hanya mengawasinya dari jarak yang cukup dekat. Tak lupa ia juga selalu tersenyum, karena tingkah adik kecilnya yang menggemaskan.


"Kak, ayok main pasir bareng,"ajak Freya yang merasa gemas karena kakak tampannya itu hanya diam mengawasi.


Rezvan menggelengkan kepalanya. Bisa rusak image nya jika ia bersenang-senang sembari memainkan pasir disini. Sementara Freya? Gadis itu memutar bola matanya malas. "Tau gini aku ke pantai aja bareng kak Gerald,"ketus gadis imut itu.


Rezvan terkekeh pelan. Tak apa, demi adiknya ia rela jika image nya berubah menjadi buruk. Melihat Rezvan yang ikut bergabung bersamanya, Freya tersenyum senang.


Gadis itu bahkan sempat memeluk kakak tampannya sebentar. "Kak, I Love You!"ucapnya.


...•••••••••••••••...


Farrel. Pria itu benar-benar menyuruh Gerald untuk menanggung jawabi semua perbuatan ceroboh nya tadi. Padahal, Farrel sudah selalu mengingatkan agar selalu berhati-hati dalam mengemudikan mobil. Gerald saja yang ceroboh, bisa-bisanya pria itu menabrak seseorang tapi tidak bertanggung jawab sedikitpun.


"Masa gue harus jadi pacarnya dia sih, Bang?! Kan gak mungkin, lagipula tadi gue nabrak kakinya, bukan bikin baper hatinya. Kaki ke hati jauh kali,"omel Gerald tak terima.


Farrel memijat pelipisnya pusing. Mempunyai adik yang super duper keras kepala seperti Gerald memanglah sulit. Farrel harus extra sabar menghadapinya.


"Yang penting lo tanggung jawab, Rald. Mau itu dalam hal bentuk apapun, intinya lo harus tanggung jawab,"jelas Farrel kepada adik keras kepalanya itu.


"Okey, gue bakal tanggung jawab. Tapi gue ntar gak ada urusan kalo sampe adek marah gara-gara gue pacaran sama cewek jadi-jadian yang pernah ngebully dia."


"B---bentar, ngebully adek? Maksud lo?!"


Gerald menghembuskan nafasnya pasrah. Kali ini ia harus menceritakan tentang pembullyan itu. Hah... Benar-benar melelahkan.


"Jadi, Cewek yang gue tabrak itu adalah cewek yang pernah eh bukan pernah tapi sering ngebully adek. Dia bahkan berani nampar adek dihadapan gue sama Bang Azri. Adek bahkan gak ngelawan, karena dia takut kena omel lo!"jelas Gerald.


Farrel menghembuskan nafasnya kasar. Kali ini ia harus mengambil tindakan apa? Mengizinkan Gerald menanggung jawabkan semua perbuatannya? Farrel rasa itu ide yang buruk kali ini.


"Jadi gimana? Gue harus macarin si cewek jadi-jadian itu?"


Farrel memijat pelipisnya pusing. Mau tak mau ia harus bersikap tegas bukan?


"Lo harus tanggung jawab, Rald!"


Okey! Kali ini Gerald benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Abang tertuanya.


See you next part, Babai!