My Protective Brothers

My Protective Brothers
Ordeal #PART 24



Gerald menghembuskan nafasnya kasar. Menjadi pacar seorang wanita jadi-jadian memanglah sulit. Ia harus menuruti semua yang Nara mau. Dan Gerald tak punya cukup waktu untuk menuruti semua kemauannya itu.


"Berhenti merintahin gue yang enggak-enggak! Gue harus pulang, adek gue udah nunggu dirumah."


Nara menghembuskan nafasnya . mempunyai pacar yang dingin seperti Gerald memang membutuhkan tenaga yang extra. "Tugas lo belum selesai, Rald! Lo harus tetep ngurus gue sampe gue sembuh. Lupain dulu si Freya itu, sekarang ada gue, pacar lo, yang sangat lo sayangi."


Gerald benar-benar ingin melempar Nara ke lautan dalam sana saja. Wanita yang satu ini benar-benar menyebalkan. Gerald menyesal telah menuruti perintah Abang tertuanya itu.


Tanpa mendengar teriakan Nara. Gerald langsung saja pergi dari kamar wanita sialan itu. Ia berjalan kearah luar, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di rumah miliknya, Gerald langsung saja masuk kedalam kamar adiknya, lalu memeluk Freya yang sedang tertidur pulas.


"Kak, kakak dari mana?"


Ya, tidur Freya terganggu. Tidur dari gadis cantik itu terusik karena pelukan Gerald yang secara tiba-tiba. Freya mengusap puncak kepala kakak termudanya itu. Jujur, saat ini ia sedang ingin bermanja-manja dengan Gerald.


"Dari luar, dek! Kakak lagi capek jangan banyak nanya dulu, ya!"pintanya.


Freya menganggukkan kepalanya patuh. Ia membiarkan kakak termudanya itu memeluknya, sementara dirinya sibuk memandangi wajah tampan Gerald. Karena bosan, Freya mulai memainkan hidung milik kakaknya itu. Ia menekan-nekan hidung milik Gerald dengan cukup keras.


Awwws!


Freya melepaskan tangannya itu. Ia berpura-pura melihat kearah depan tembok kamarnya. Gerald yang menyadari hal itu ia langsung membalas balik perbuatan jahil adik kecilnya itu.


"KAKAK BERHENTI, ADEK GAK BISA NAFAS INI!" Teriakan Freya menggelegar di seluruh penjuru area rumah ini. Rezvan yang sedang tertidur pulas pun menjadi terusik karena suara teriakan itu. "GERALD! LO APAIN ADEK GUE, ANJIR!"


Gerald rasanya ingin kabur saat ini juga. Akan tetapi niatnya itu ia urungkan, karena di depan pintu kamar sana sudah ada Azri dan Farrel yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Gerald bersembunyi dibelakang tubuh kecil Freya. Pria itu meminta bantuan kepada adik kecilnya untuk menolongnya, akan tetapi Freya menolaknya. Sungguh adik yang sangat baik.


Tubuh Gerald terlempar, saat Azri dengan sengaja mengangkatnya lalu melemparnya kearah ujung tembok sana. Gerald meringis kesakitan, pria itu mengusap bagian punggung yang terasa akan remuk sebentar lagi.


"Kamu gak apa-apa, dek?"


Gerald benar-benar gemas dengan kedua Abang laki-lakinya itu. Disaat dia yang terluka, kenapa malah adik kecilnya yang mereka perhatikan?


"Adek gak kenapa-napa, Kak! Tadi kita cuman main bareng kok, dan Freya gak sengaja teriak kenceng."


Freya mendekati Gerald. Gadis itu mengecup serta memeluk kakak termudanya itu. "Maaf, Kak!"ucapnya.


"Hey! Gak usah minta maaf, okey? Kamu gak salah. You understand, baby?"


"Yes, I'm understand, Daddy!"


"Heh!"


...••••••••••••••••...


Delsya. Gadis itu membulatkan matanya tak percaya, saat ia secara tidak sengaja melihat suatu pemandangan yang kurang enak untuk dilihatnya. Itu Gerald, the most wanted disekolah nya yang kini sedang sibuk menuruti semua permintaan yang diperintah oleh Nara.


"Lice, itu kak Gerald, kan?" Alice mengikuti arah terlunjuk Delsya. Ia menganggukkan kepalanya, saat benar jika yang dilihat Delsya tadi adalah Gerald.


"Kak Gerald pacaran sama Nara? Gue gak salah liat, kan?"


"Gak lu gak salah liat, itu beneran kak Gerald, anjir!"


"Lu tanya gue, terus gue tanya siapa?"


Delsya menarik tangan Alice dengan tiba-tiba. Gadis itu membawa Alice kehadapan Freya. Dengan nafas yang tidak beraturan, Alice kini mulai menceritakan tentang kejadian mengejutkan tadi.


"Kalian bohong, kan? Mana mungkin kak Gerald mau pacaran sama Nara?!"


"Ikut gue."


Alice dan Delsya sama-sama membawa Freya kehadapan Gerald dan Nara. Gerald yang melihat jika adiknya ada dihadapannya, ia membulatkan matanya tak percaya. Sementara Nara, gadis itu tersenyum penuh kemenangan.


"This must be a lie. You two aren't dating, are you?"


Gerald menangkup kedua pipi adik kecilnya itu. Ia menatap Freya dengan sangat dalam. "I am sorry,"gumamnya kecil.


"Kak.... Are you kidding me?"


Gerald menggelengkan kepalanya pelan. Disaat itu juga, ia membawa Freya kedalam pelukannya. Kelemahan Gerald hanya satu, yaitu melihat adik kecilnya menangis karenanya.


"Hey, hey... Jangan nangis. Kamu tau kan, kakak paling gak bisa kalo liat kamu nangis? Jadi, berhenti nangis nya ya, sayang? Please, demi kakak."


Freya menghapus air matanya itu menggunakan baju seragam milik Gerald. Tak apa, pemiliknya takkan marah kepadanya. Kecuali Nara, gadis gila itu menjambak pelan rambut Freya. Gerald yang menyadari hal itu, ia langsung mengusap bagian rambut dari Freya, lalu ia menatap tajam Nara. Mata Gerald seakan-akan mengatakan, "Jangan ganggu adek gue, kalo gak lo akan mati."


Tentu saja Nara takut. Tatapan Gerald bahkan 2x lebih seram dari tatapan Azri. Akan tetapi jika soal kekerasan, tentunya Azri lebih kejam.


"Gue pacar lo, Rald. Freya juga pasti ngerti kalo kakak nya ini juga butuh pendamping buat dia hidup. stop, ngurusin Freya. Dia cuman mau manfaatin lo doang."


Gerald menatap tajam Nara. Tangan dari pria itu kini mulai menggenggam keras salah satu pergelangan tangan Nara. "Dia adik kandung gue. Mau dia manfaatin gue kek, mau dia minta duit 9M sama gue kek. Urusannya sama lo apaan, hah?! Dia berhak bergantung hidupnya sama gue, karena dia adik kecil gue. Yang gak boleh itu elo, lo siapanya gue? Kita pacaran juga karena gue mau tanggung jawab soal kecelakaan kemarin. Berhenti bersikap berlebihan Nara. Gue tanggung jawab juga karena perintah dari Bang Farrel, gak lebih."


"Tanggung jawab?"


Gerald menatap adik kecilnya dengan disertai senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Pria itu membawa Freya kedalam pelukannya. "Ya, kakak harus tanggung jawab sama Nara, karena waktu itu kakak gak sengaja nabrak dia. Awalnya kakak gak mau tanggung jawab sama cewek gila ini, tapi karena paksaan dari Kakak tertua kamu. Akhirnya kakak mutusin buat tanggung jawab aja."


"Jangan marah lagi ya, sayang! Kalo mau marahnya sama Kak Farrel aja, soalnya dia yang maksa kakak buat tanggung jawab,"pintanya.


"Iya, kak. Nanti Freya yang suruh kak Farrel buat gak gitu------"


"Gerald harus tanggung jawab sampe Nara sembuh, dek. Karena itu kesalahan dia sendiri,"potong Farrel yang tiba-tiba saja datang dengan Rezvan dan Azri yang berada tepat di samping pria itu.


"Tapi kan kak-----"


"Gak ada tapi-tapian, dek!"


Freya menatap Farrel dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Farrel yang melihat hal itu, ia dengan segera menghampiri Freya. Akan tetapi tidak jadi, karena saat Farrel mendekat, Freya malah menjauhkan dirinya dari Farrel.


"Kenapa, dek? Sini kepelukan kakak."


Freya menggelengkan kepalanya. Gadis itu bahkan menatap kecewa kearah kakak tertuanya. "Freya benci kak Farrel,"ucapnya.


•••••••••••••••••••