My Protective Brothers

My Protective Brothers
Hari Pertama #PART 16



'I love you'


Okay, tiga kata itu selalu saja menghantui pikiran seorang Freya. Ia bahkan tak menyangka bahwa Kelvin---- sahabat dari ketiga kakak tampannya---- akan menyukainya. Freya mencubit pipinya sendiri. Ia sedang memastikan bahwa kejadian waktu itu---- saat Kelvin menyatakan perasaannya--- nyata atau tidak.


"aww-- sakit,"keluhnya.


Rezvan. Pria itu sedari tadi memperhatikan adik kecilnya yang sedang mencubit pipinya sendiri dengan sangat keras. Ia berpikir,kenapa adiknya itu melakukan hal menyakitkan seperti tadi?


"Berhenti mencubit pipimu sendiri,itu menyakitkan,"tegur nya.


Freya menghampiri kakak ketiganya itu. Ia ingin bertanya,apakah menyukai salah satu sahabat kakak nya sendiri itu salah?


Sebelum bertanya,Freya memastikan terlebih dahulu apakah kakak nya itu sedang dalam keadaan baik atau tidak. Pasalnya,kakak ketiganya itu akan sangat menyeramkan jika dia sedang dalam keadaan 'tidak baik-baik saja'.


"Kakak lagi gak mau marah-marah,kan?"


Rezvan mengerutkan keningnya heran. Kenapa tiba-tiba adiknya itu memberikan pertanyaan aneh seperti itu? Padahal biasanya,Freya akan bersikap sangat tidak peduli dengan mood ketiga kakak tampannya itu,asalkan keinginannya terpenuhi,ia tak akan peduli dengan mood Rezvan,Azri, ataupun Farrel.


"Kamu aneh,"cibir Rezvan.


Freya mengerucutkan bibirnya sebal. Menurutnya,pertanyaan yang diberikannya tadi tidaklah aneh. "Kakak yang aneh. Emangnya apa susahnya sih tinggal jawab pertanyaan doang,"balasnya kesal.


Rezvan tertawa kecil. Tingkah lucu adiknya ini lah yang sering membuat emosinya lenyap seketika. Aneh? Memang,tapi itulah kelebihan Freya,ia bisa meredakan emosi ketiga kakak nya dengan satu tindakan lucu saja.


"Okey, kakak nyerah. Mood kakak sekarang lagi baik,emangnya kenapa?


Pertanyaan inilah yang tidak ingin Freya dengar sekarang. Sebenarnya ia ingin jujur kepada kakak ketiganya itu,akan tetapi ia takut jika kakak nya itu akan marah kepadanya.


"Ngomong aja,kakak janji kakak gak akan marah,"ucap Rezvan yang membuat Freya agak tersentak kaget.


"Euumm--- kakak tau temen kakak yang ganteng itu,kan?"


"Yang mana? Temen kakak banyak."


Entah mengapa Freya merasa gugup sekarang,padahal selama ia tinggal bersama ketiga kakak nya,dirinya tak pernah merasa segugup ini.


"Kelvin?"tebak Rezvan.


Freya membulatkan matanya kaget. Bagaimana kakak nya itu bisa tau,siapa pria yang sedang ada dalam pikirannya?


"Kok kakak tau?"tanyanya heran.


Rezvan tersenyum manis. Ia mengelus puncak kepala adiknya itu dengan sayang. "Terima dia,dia pria yang baik,"pesan Rezvan sembari pergi kearah kamarnya.


Setelah kepergian Rezvan,Freya hanya diam saja. Ia bingung? Tidak! hanya saja ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan kakak nya itu.


"Aku benar-benar bodoh!" batinnya.


.......................


Farrel memperhatikan bercak merah yang ada dibelakang celana adiknya itu dengan seksama. Apa itu benar benar darah? batinnya bingung.


"Dek,kamu lagi halangan?"tanyanya.


Freya menganggukkan kepalanya pelan.


"Itu nembus,"ucap Farrel.


Freya memegang area belakang celananya, dan ternyata benar,itu basah. Apa yang harus Freya lakukan?


Mata Freya kini mulai berkaca-kaca. Ia merasa malu karena tidak bisa mengatasi masalah kebocoran ini. Terlebih lagi kakak tertuanya mengetahui hal ini. Farrel yang merasa adiknya itu akan menangis,ia dengan segera memeluk adiknya itu.


"Jangan nangis. Tenang,kakak ada disini,"ucapnya mencoba menenangkan adiknya itu.


Bukannya merasa tenang,Freya malah menangis di pelukan sang kakak. Ia benar-benar merasa malu sekarang.


"Pembalut nya masih ada gak?"tanya Farrel.


Freya menggelengkan kepalanya pelan. Sementara Farrel? Pria itu menghembuskan nafasnya pasrah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengetahui berbagai macam pembalut pun ia tidak tahu.


"Kenapa adek?"tanya Azri yang baru saja turun dari arah kamarnya.


"Zri,beliin pembalut,gih" Bukannya menjawab pertanyaan Azri,Farrel malah menyuruhnya untuk membelikan sesuatu yang tidak Azri pahami. Apa itu pembalut? batin Azri bingung.


Melihat ekspresi Azri,Farrel memukul dahinya pelan. Ia lupa,jika Azri tidak mengetahui apa itu pembalut. Ia benar-benar bodoh. Sekarang apa yang harus Farrel lakukan? Membelinya sendiri ke superm*rk*t? Ah,tidak. Membayangkannya saja itu sangatlah menjijikan. Lalu,bagaimana sekarang?


Farrel melepaskan pelukan adiknya itu. Ia merogoh saku celananya,lalu mengambil handphone miliknya. Farrel menekan salah satu nomor yang ada di handphone miliknya itu,lalu ia mengetikkan pesan kepada nomor tersebut.


To: Kelvin


Vin,adek gw sekarang lagi halangan. Lo bisa gak beliin pembalut buat dia?


read✓


Farrel benar-benar tidak salah orang. Kelvin benar-benar orang yang tepat. Setelah menunggu selama 10 menit. Kelvin akhirnya datang dengan membawa beberapa jenis pembalut yang ia bawa didalam kantong kereseknya.


"Nih,"ucapnya sembari memberikan kantong keresek itu kearah Freya.


Freya mengangkat sebelah alisnya bingung. Ia benar-benar tidak peka!


"Pembalut,"ucap Kelvin yang mengerti akan ekspresi Freya.


Freya mengangguk paham. Ia kemudian mengambil alih kantong keresek itu dari genggaman Kelvin. Kelvin yang melihat hal itupun hanya tersenyum tipis.


Farrel. Pria itu mendekati adik kecilnya yang sedang menatap isi didalam kantong keresek itu dengan tatapan berbinar nya. "Kakak bilang juga apa,Kelvin itu pria yang baik,kamu gak boleh nolak dia,"bisik Farrel tepat disamping telinga adiknya itu.


(Fyi Farrel udah tau kalo Kelvin itu nembak adik kecilnya)


Tubuh Freya merinding seketika. Kakak nya itu benar-benar tidak tahu waktu. Kakak gila,umpatnya.


See you next part,babai