
..."Ikhlasin aja, kamu hanya kehilangan seseorang yang awalnya kamu kira itu baik."...
Rezvan. Pria itu memasuki kelas dengan wajah datarnya. Pemandangan ini sudah biasa dilihat oleh teman sekelasnya. Karena Rezvan hanya akan ramah kepada orang terdekatnya, terutama Freya.
"Van, gue denger-denger adik lo dihukum karena telat."
"Guru BK kan lagi gak ada, dia dihukum sama siapa?"
"Bang Farrel. Dia kan ketos."
Tanpa aba-aba apapun, Rezvan langsung saja berlari kearah ruangan Farrel. Pria itu masuk kedalam ruangan dengan tampang polosnya.
"Lo ngapain hukum adek, Bang?"
"Dia telat, mau gak mau gue harus hukum dia."
Rezvan menghembuskan nafasnya kasar. "Tapi adek ka-----"
"Lo gak usah bela adek, dia salah dan gue harus hukum dia."
"Adek lagi sakit, bodoh!!"
Farrel membulatkan matanya tak percaya. Tanpa bertanya lebih lanjut kepada Rezvan, ia langsung saja berlari kearah lapangan. "Adek, stop!"
Diujung sana, terlihat Freya yang sedang memegangi kepalanya. Farrel berlari kearah adiknya itu. Ia lalu memegang pelan dahi Freya. Panas, batinnya.
"Kok gak bilang kalo lagi sakit? Kan kalo kakak tau, kakak gak akan hukum kamu kaya gini, dek."
Belum sempat Freya menjawab. Gadis itu sudah pingsan terlebih dahulu, untung saja Farrel dengan sigap menangkap tubuh ringan adiknya itu.
"Rezvan, buka pintunya!!"
Farrel yang khawatir, dan Rezvan yang panik. Kedua pria itu benar-benar sedang kelimpungan saat ini. Disaat mereka berdua khawatir, Gerald datang dengan raut wajah polosnya. "Eh, adek tidur? Padahal gue kesini mau ngasih dia es krim."
"Pingsan, bego! Lo tadi berangkat bareng adek, kan? Bisa-bisanya lo gak tau kalo adek lagi sakit."
Gerald menggelengkan kepalanya. "Bukan sama gue. Tapi sama si Kelvin, tadinya gue mau maksa adek buat berangkat sama gue aja, tapi adeknya malah mau nangis."
Farrel mengacak rambutnya frustasi. Seharusnya sebelum berangkat, ia mengecek terlebih dahulu suhu badan dari adik kecilnya itu. "Panggil dokter,"titahnya.
"Gak bawa handphone."
"Panggil Azri."
Gerald segera berlari kearah kelas Abangnya itu. Tanpa memperdulikan seisi kelas yang memperhatikannya. Ia langsung saja menarik Azri untuk segera pergi kearah ruangan Farrel. "Bang, lo bawa handphone, kan?"
Azri mengangguk.
"Good."
Gerald membawa Azri kehadapan Farrel. Setelah mendengar semua penjelasan dari Farrel, Azri dengan segera menghubungi dokter khusus keluarganya itu.
"Jangan lama-lama, gue gak rela liat adek gue dipegang-pegang sama lo."
Arley a.k.a dokter itupun memutar bola matanya malas. Jika tidak dengan menyentuh area badan dan kepala dari Freya. Bagaimana caranya pria itu bisa mengecek keadaan Freya?
Hal ini sudah terbiasa terjadi. Ia bahkan sering diomeli habis-habisan oleh Farrel, hanya karena pria itu menekan pelan tangan dari Freya.
"Berhenti bersikap berlebihan. Gue cuman mau ngecek kondisi adik kalian."
"Ntar jangan lupa pake sarung tangan."
Kesabaran Arley memang terbatas. Ditambah lagi ia harus berhadapan dengan Farrel dan Gerald yang notabenenya adalah pria tercerewet yang pernah Arley kenal.
"Lo masuk kedalem kamar, dan gue gak akan tutup pintunya.
Arley mengangguk malas. Ia lalu masuk kedalam kamar, dan memeriksa keadaan dari Freya. Setelah semuanya selesai, ia lalu keluar lalu memberikan 1 pack obat kepada Farrel.
"Dia demam, lain kali jadi kakak yang bener. Yakali Freya sakit aja kalian gak tau, dasar payah!"
Ingin rasanya Farrel membunuh Arley saat ini juga, tapi niat jahatnya itu ia urungkan, karena Arley adalah dokter kepercayaan kedua orang tuanya. Sebelum Azri melemparkan sebuah cutter yang ada didekatnya itu, Rezvan terlebih dahulu mengusir Arley dari ruangan Farrel. Azri menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi ia gagal membunuh Arley.
"Van, lo jaga adek disini, ya? Ntar kalo adek bangun, lo harus langsung hubungin kita bertiga."
Rezvan mengangguk patuh. Lagipula ia senang diberi tugas ini. Setidaknya ia bisa terbebas dari pelajaran matematika yang menurutnya pelajaran itu sangatlah rumit.
Rezvan berjalan kearah Freya. Pria itu ikut membaringkan tubuhnya tepat disamping Freya. Rezvan mengecup pelan dahi dari adiknya itu. "Get well soon, baby!"gumamnya pelan.
...••••••••••...
Freya terbangun dari tidur cantiknya itu. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Rezvan yang begitu teduh. Freya menelusup kan wajahnya itu kearah pelukan Rezvan.
"Udah bangun?"
"He'em."
"Bangun, yuk. Kita pulang, Gerald udah nunggu kamu di parkiran."
"Tapi Freya udah janji sama Kak Kelvin kalo kita mau pulang bareng."
"Kamu lagi sakit, dek. Pulang bareng Gerald aja, yuk. Biar lebih aman."
"Kok kakak jadi gak percaya kalo Kak Kelvin gak bisa jaga aku dengan baik sih."
Rezvan mengusap puncak kepala adiknya pelan. Memang susah memberi penjelasan kepada gadis keras kepala dihadapannya ini.
"Yaudah, pergi gih. Kasian Kelvin nya udah nunggu."
Tidak, Rezvan tidak membiarkan adiknya itu pergi begitu saja. Tentu saja, ia dan Gerald mengikuti mobil Kelvin dari belakang. Gerald mengangkat sebelah alisnya, saat pria itu melihat jika Kelvin memberhentikan mobilnya.
"Maafin aku ya, sayang. Tapi Nara lebih butuh aku."
Gerald tersenyum miring. Nara lagi, Nara lagi. Lihatlah ini sudah ketiga kalinya adik kecilnya itu menangis karena ulah dari seorang Kelvin. Dengan cepat Gerald turun dari mobilnya itu, ia menggendong Freya dengan cepat, lalu memasukkannya kedalam mobil.
Gerald melajukan mobilnya tepat disamping mobil milik Kelvin. Pria itu menatap sinis Kelvin. "Thanks for making my sister cry again, you bastard! I will not interfere if Azri and Farrell find out about this. Happy a bad dream, Mr. Kelvin Adrean."
......••••••••••••......
Azri. Pria itu kini sibuk mengasah sebuah pisau yang dimilikinya. Melihat adiknya yang menangis karena seorang Kelvin, membuat jiwa psycho nya kini kembali muncul.
"Calm down, bro. You have to calm down."
Rezvan panik. Jika Azri sudah seperti ini sangat sulit untuk menghentikannya. Dengan terpaksa pria itu mengambil sebuah tali tambang, lalu diikatkannya tali itu kearah badan dari Azri. Azri tersenyum miring, tak ada dia, Farrel pun jadi.
Diujung sana, terlihat Farrel yang berjalan dengan tergesa-gesa. Pria itu mengambil kunci mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gerald, yang ikut dengan pria tua itu, ia hanya bisa mengucapkan kata 'istigfar' didalam hati. Mata Gerald membulat, saat ia melihat Farrel yang berambisi untuk menabrak mobil dihadapannya itu.
Farrel tersenyum miring. Kelvin kini sudah teratasi. Pria itu mengeluarkan tubuh Kelvin dari mobil yang sudah dalam keadaan terbalik. Lalu pria itu menepuk pelan pipi dari Kelvin. "You started it, so I have to end it."
Kaki dari Farrel kini menginjak area kepala dari Kelvin. Gerald yang melihat hal itu, ia meringis pelan. "I warned you from the start, don't hurt my sister. So this is the result. I want you to die, but later, I want to see you hurt first."
TBC.....