My Protective Brothers

My Protective Brothers
So Cute....



Rezvan menatap kakak dinginnya itu dengan pandangan sendu, selama ia hidup dengan pria itu, tak pernah sekalipun pria itu melewatkan sarapan paginya. Rezvan memberikan sebuah kotak makan kepada Freya, hal itulah yang membuat gadis itu kini menatap bingung kearahnya.


"Anterin buat Kak Azri, dia belum sarapan pagi."


Freya menolak. Gadis itu pergi kearah mobil milik Farrel, lalu menyuruh sang pemilik untuk mengantarkannya kearah sekolah. "Bentar tunggu Rezvan sama Gerald dulu."


Rezvan dan Gerald masuk dengan senyuman yang terlihat di wajah tampannya. Tanpa Freya sadari, secara diam-diam Rezvan memasukkan bekal milik Azri kedalam tas adik kecilnya itu.


Freya turun dari mobil, lalu gadis berpisah dengan ketiga kakak tampannya itu. "Pagi Del, Mik, Lice, Nat."


"Pagi, Frey."


Freya tersenyum. Gadis itu membulatkan matanya, saat ia menyadari bahwa kotak makan milik Azri tersimpan didalam tasnya. Dengan cepat gadis itu berlari kearah lapangan sekolah, dan pergi menemui Nichol yang sedang bermain futsal.


"Kak,"panggilnya.


Nichol berlari kecil kearah Freya. Ketika sudah dihadapan gadis itu, ia tersenyum kecil. "Kenapa?"tanyanya.


Freya memberikan kotak bekal milik Azri kearah Nichol. Hal itulah yang membuat Nichol menatap bingung kearahnya.


"Buat Kak Azri, dia belum sarapan pagi soalnya."


Seakan mengerti akan kondisi ini, dengan cepat pria itu menatap Rezvan yang sedang menontonnya dari arah kejauhan. Pria tampan itu memberi kode kepada Nichol, jika ia harus menolak permintaan dari Freya. Nichol mengangguk sebagai jawaban.


"Kakak lagi sibuk, Frey. Kamu aja sendiri sana."


Freya mengerucutkan bibirnya lucu. Nichol terkekeh melihat hal itu. Tangannya secara tidak sadar mencubit pelan pipi kanan dari gadis cantiknya itu. "Gih, sana. Kakak sendiri juga,"titahnya.


Freya mengerucutkan bibirnya sebal, pandangan dari gadis itu kini mulai tertuju kearah Rezvan dan Gerald yang sedang asik mengobrol dengan para anggota OSIS. Freya menghampiri kedua Kakak tampannya itu.


"Kak, anterin adek dong."


Gerald mengusap puncak kepala adiknya itu. "Kemana?"tanyanya.


"Ke kelasnya Kak Azri, nganterin makanan."


Tangan dari Rezvan kini mulai menahan tubuh Gerald yang akan ikut bersama Freya. Gerald yang paham dengan kode itu, ia langsung berlari kearah kelasnya, lalu meninggalkan Freya yang sedang menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.


Dengan terpaksa gadis itu pergi menemui Azri seorang diri. Persetanan dengan rasa gengsinya. Freya masuk kedalam kelas Azri dengan tatapan datarnya. Setelah semuanya selesai, ia langsung pergi kearah ruangan pribadi Farrel.


Gadis itu mendekat kearah Farrel, lalu ia duduk di atas pangkuan Kakak tertuanya itu.


"Freya capek, Kak"


Farrel mengecup bagian punggung adik kecilnya itu. "Tidur sana, masalah izin ntar Kakak yang urus."


Bukannya pindah kearah kamar yang Farrel buatkan khusus untuk Freya, adik kecilnya itu malah memutuskan untuk tidur diatas pangkuannya. Farrel menggelengkan kepalanya pusing melihat tingkah ajaib Freya.


"Rel, lo dipangg----"


"Ssttt! Adek gue lagi tidur."


Erick. Pria itu menutup mulutnya. Tak ingin terkena pukulan dari Farrel, dengan cepat pria itu keluar dari ruangan, lalu menyuruh Aland untuk menggantikan tugasnya.


Aland masuk kedalam ruangan Farrel tanpa bersuara sedikitpun. Ia tahu, jika pria dihadapannya ini tidak suka dengan kebisingan. Tangan dari Aland, kini mulai mengkode Farrel untuk segera meletakkan tubuh Freya di kasur yang ada di ruangan khusus ini.


Farrel mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, ia langsung mengikuti langkah Aland dari arah belakang. Tanpa Farrel sadari, sedari tadi Gerald mengawasi Kakak tertuanya itu. Pria itu masuk kedalam ruangan, dan menjaga Freya yang sedang asik tertidur.


Gerald memperhatikan setiap inci wajah dari adik kecilnya itu. Cantik juga, batinnya. Pria itu kini mulai menepuk pelan kedua pipinya. Cara otaknya berpikir kali ini sungguh tidak lazim.


Gerald tersenyum polos kearah adik kecilnya itu. "Jagain kamu, dek. Tadi Kak Farrel pergi dulu sebentar, mau rapat."


Freya menganggukkan kepalanya paham. Gadis itu melompat dari arah kasur, kemudian pergi kearah lapangan futsal. Gerald? Pria itu mengikuti Freya dari arah belakang.


Freya menghampiri Nichol yang sedang sibuk beristirahat di pinggir lapang. Gadis itu duduk disebelah Nichol, lalu membantu pria itu untuk mengelap keringatnya.


"Janji ice cream?"


Nichol menatap gemas Freya. Bisa-bisanya gadis selucu ini disia-siakan begitu saja oleh seorang bajingan seperti Kelvin. Tangan dari Nichol kini mulai mengusap puncak kepala Freya.


"Istirahat bentar, ya? Kakak baru aja selesai latihan."


"Iya."


Freya memainkan ujung baju yang dikenakan oleh Nichol. Gadis itu memang cepat bosan dalam hal menunggu.


Nichol membulatkan matanya tak percaya, saat ia melihat Freya yang diseret begitu saja oleh seorang Nara. Nara membawa Freya tepat dihadapan Kelvin. Kelvin menatap lirih gadis kesayangannya itu, bukan cara ini yang Kelvin inginkan.


"Lo ngapain seret Freya dengan cara begitu, bego!"


"Biar cepet."


Yang Kelvin khawatirkan hanyalah satu, bagaimana jika Azri mengetahui hal ini?


"Cepet ngomong, anjir. Atau gue aja yang bertindak nih?"


Melihat sang teman yang sedari tadi hanya diam saja. Nara dengan cepat mengangkat tangan kanannya itu. Freya sudah bersiap menutup kedua matanya, ingin melawan pun ia tidak bisa. Pasalnya, badannya terlalu lemah untuk dipaksakan melawan.


PLAK!


Nara. Gadis itu membulatkan matanya tak percaya. Ia kini berjalan mundur, berniat untuk menjauh dari area ini. Sementara Freya, gadis itu kini perlahan membuka kedua matanya. Tidak merasakan sakit di area bagian pipinya, membuatnya kini menjadi bingung.


"Kak Azri?"


Azri mengalihkan pandangannya kearah Freya. Pria itu tersenyum dengan bekas tamparan yang terlihat jelas di bagian salah satu pipi dari pria itu. Freya berlari kearah Azri, gadis itu meluapkan semua tangisannya tepat dipelukan sang Kakak.


"Maaf...."


Azri mengecup puncak kepala adiknya itu. Ia akan lebih memilih Freya yang bersikap cuek kepadanya, daripada Freya yang bersikap lemah seperti ini.


"Kak, maaf....."


Kejadian langka yang sangat jarang, atau bahkan tidak pernah dilihat, Azri meneteskan air matanya karena permintaan maaf adik kecilnya. Erick mengabadikan momen langka ini. Selama ia bersekolah disini, ini pertama kalinya ia melihat Azri yang menjadi lemah seperti ini. Farrel yang ada disitu, ia mengelus punggung Azri dengan pelan.


"Nangis aja, gue tau lo paling lemah kalo liat adek nangis,"titahnya.


Azri menghapus bekas cairan air matanya itu. Tapi tak lama, ia meneteskan air matanya kembali. So cute, hahaha. Sorry Azri.


Freya menggoyangkan pundak Azri pelan. Melihat Azri yang diam saja, membuatnya kini menjadi khawatir. Freya kini memberanikan diri untuk menatap kedua mata indah milik Azri. Gadis itu mengucapkan kata maaf diiringi dengan tingkah lucunya.


Azri yang melihat hal itu, ia tertawa kecil. Akan sangat munafik jika pria itu tidak merasa gemas kepada adik kecilnya. Tangan kanan dari Azri kini mulai mencubit pelan pipi bapau milik Freya. Setelah itu, ia membawa Freya kedalam pelukannya.


"You're so cute, baby."


TBC......