
..."Sampai detik ini, kamu masih menjadi alasanku untuk tidak menerima siapapun."...
"Rumit, ya? Gue tau lo udah mulai jatuh cinta sama Nara. Tapi disisi lain, lo harus jaga perasaannya adek."
Gerald tersenyum pahit, ingin mengelak pun ia tidak bisa. Yang berbicara kepadanya tadi adalah seorang Azri. Pria yang selalu tahu akan isi hati seseorang, walaupun orang itu tidak memberitahukannya.
"Lanjutin aja hubungannya, gue yakin adek setuju kok."
"Dia liat gue jalan sama Nara aja gak seneng, apalagi gue ngelanjutin hubungannya."
"Kalo lo mentingin terus perasaannya adek, kapan lo mau bahagianya?"
Gerald tersenyum tipis. Pria itu berdiri dari kursinya, lalu menepuk bahu Azri pelan. "Lo juga nolak Nara demi kebahagiaan adek, kan? Lo aja bisa mengikhlaskan orang yang lo cinta, kenapa gue enggak?"
......•••••••••......
Freya menepuk jidatnya pelan, saat ia menyadari bahwa buku pr yang seharusnya ia bawa tadi tertinggal diatas meja makan. Gadis itu pergi kearah kelas Farrel, untuk meminta bantuan kepada kakak tertuanya itu.
"Nyari Farrel, dek?"
Freya menganggukkan kepalanya pelan. Teman dari Farrel itu masuk, dan keluarlah Farrel dengan gaya cool nya. "Kenapa?"tanyanya.
Freya tersenyum kearah kakaknya itu. "Buku pr aku ketinggalan di meja makan, Kak. Padahal bentar lagi pelajarannya Pak Dodi."
Farrel menyentil pelan dahi adiknya itu. Karena sedang sibuk, akhirnya ia menyeret adiknya itu kearah kelas Gerald. "Minta tolongnya ke Gerald aja, kakak lagi sibuk. Bye, adek manis."
Freya menatap sinis kepergian Farrel. Ia mengalihkan pandangannya, saat tubuh Farrel sudah menghilang dari penglihatannya.
"KAK GERALD!!!"
"Gerald nya lagi dikantin sama Nara, dek."
"Oh iya, kak. Makasih infonya."
Freya pergi kearah kantin. Matanya memanas, saat ia melihat Gerald yang kini sedang tersenyum manis kearah Nara. Freya menghampiri kedua sejoli itu. "Kak,"panggilnya kearah Gerald.
Melihat Freya yang ada disampingnya. Gerald secara spontan berdiri dari tempat duduknya. Pria itu menarik Freya kearah kelasnya, lalu memberikan buku pr Freya yang sengaja ia bawa.
"Ini buk----"
"Makasih."
Sudah ia bilang bukan. Sampai kapanpun adiknya itu takkan pernah setuju dengan hubungannya. Gerald menatap nanar kepergian adiknya itu. Entah ini keputusan yang baik atau tidak, ia akan memutuskan hubungannya demi kebahagiaan adik kecilnya itu.
...•••••••••••••••...
"Berhenti egois bisa, dek? Gerald pingin bahagia, stop pikirin ego kamu itu."
"Yang ngelarang kak Gerald buat ngelanjutin hubungannya sama Nara siapa?"
"Kalo gitu, kamu samperin Gerald, terus bilang ke dia kalo kamu setuju hubungan dia sama Nara."
Freya menatap Farrel dengan tatapan tak suka. Sudah jelas-jelas ia membenci Nara, akan tetapi demi kebahagiaan Gerald, kakaknya. Ia rela berpura-pura setuju dengan hubungan kakak tampannya itu.
"Stop paksa aku buat bilang gitu ke kak Gerald, kak. Aku emang setuju sama hubungan mereka, tapi aku masih benci sama Nara. Kenapa kakak maksa aku terus sih?"
Freya menundukkan kepalanya. Gadis itu berusaha meredakan amarahnya.
"Bawa kak Gerald kesini, dan Freya bakal langsung ngomong sama dia."
Rezvan yang sedari tadi menyimak kejadian tadi. Kini pria itu menghampiri Freya. Rezvan membawa adik kecilnya itu kedalam pelukannya. "Yang sabar, dek. Kak Farrel cuman mau Gerald bahagia."
"Tapi harus maksa aku kaya tadi yah?"
Rezvan mencium puncak kepala adiknya itu. "Keputusan hubungan Gerald ada di kamu. Gerald gak akan mungkin ngelanjutin hubungannya itu kalo kamu gak ngizinin. Gerald sayang sama kamu, dek. Dia bahkan rela ngegantung hubungannya sama Nara cuman demi kamu."
Freya memeluk erat kakaknya itu. Ingin memberi restu pun ia tak rela. Pasalnya ia tahu, jika Nara bukanlah gadis baik-baik.
"Freya mau jujur, kak."
"Apa?"
"Freya gak setuju sama hubungannya kak Gerald. Kakak tau kan kalo Nara itu bukan cewek baik-baik, dia juga pernah bully Freya. Jadi Freya gak yakin kalo Nara itu cewek yang terbaik buat kak Gerald."
Rezvan tersenyum kearah adik kecilnya itu. Tangannya secara sengaja mengkode Gerald agar segera bergabung dengannya dan juga Freya.
"I know, princess. Kakak gak mungkin jatuh cinta sama cewek yang pernah ngebully kamu. Lupain masalah itu, ini cuman bagian dari rencana kak Farrel buat bikin kamu nangis."
Rezvan yang tertawa dan Freya yang menangis. Gerald membawa tubuh ringan adiknya itu kedalam pelukannya. Ia bahkan tak bermaksud untuk membuat adik kecilnya itu menangis.
"Hiks, kalian jahat sama Freya."
Azri dan Farrel, kedua pria itu sama-sama tertawa kencang. Kapan lagi mereka melihat Freya yang menangis seperti itu.
"Cup cup, jangan nangis, sayang. Prank nya udah beres kok."
Gerald membawa adik kecilnya itu kedalam kamarnya. Ia menenangkan Freya yang sedang menangis. Pria itu duduk, lalu meletakkan tubuh ringan Freya diatas pangkuannya. "Prank nya kan udahan, kok masih nangis?" Gerald mengecup pipi kanan adiknya itu.
"Prank nya gak lucu, kak. Kakak tau kan Freya gak suka yang namanya dipermainkan kaya gini."
Gerald menyentil pelan dahi dari adiknya itu. "Heh! Ngadi-ngadi kamu,"omelnya.
Freya tertawa keras. Gadis itu memeluk Gerald, lalu memerintahkan pria bodoh itu agar segera membawanya kearah ruang keluarga. Dengan bodohnya, Gerald menuruti perintah adik kecilnya. Pria itu menepuk kepala Freya pelan, saat ia menyadari bahwa ia sedang dipermainkan oleh adiknya saat ini.
"Berat kamu, dek."
"Berat badan Freya cuman 38 kg. Berat dari mananya coba, kak?"
Gerald menyenggol lengan Kelvin yang baru saja datang untuk masuk kedalam rencana jahatnya. Untung saja Kelvin menyetujui rencana gilanya itu.
"Kamu berat tau, by."
"Aku aduin kek kak Azri nih ya."
Kelvin menahan tangan gadisnya itu. Ia menggendong Freya, lalu membawanya kearah kamar.
"Bercanda, sayang. Kamu ringan kok,"pujinya.
Freya mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu memukul pelan dada kiri Kelvin. "Nyebelin,"ucapnya.
Kelvin tertawa kecil. Pria itu mendekat kearah Freya. Lalu mengecup pelan dahi dari gadisnya itu. "Iya, sayang. Aku nyebelin."
TBC.....