My Protective Brothers

My Protective Brothers
Nichol's future wife



..."Dia tidak hilang, dia hanya memilih orang lain."...


Happy reading, guys... Enjoy


"Hey! Nanti pulang sekolah bareng Kakak yah?"


Ini adalah kejadian langka yang harus diabadikan, kapan lagi Nichol mengajaknya pulang, tanpa harus disuruh oleh keempat Kakak laki-lakinya itu.


"Loh, tumben. Ada apa emangnya, Kak?"


"Lagi pengen nganterin kamu aja. Nanti kamu tunggu dimobil Kakak aja ya. See you, adik manis."


Apa katanya? Adik manis? Ck... Padahal gadis itu sudah berharap lebih kepada pria itu. Memang benar kata orang, berharap lebih kepada seseorang itu memang tidak baik.


Freya menghentak-hentakkan kakinya kesal. Gadis itu menghampiri Rezvan yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kenap---"


"Apa liat-liat?!"


Gerald yang ada disamping Rezvan kini terkekeh geli, ada apa dengan adik anehnya ini? Tangan dari Gerald kini mulai menyentuh dahi dari Freya. Normal, batinnya.


Sementara Freya, gadis itu menghempaskan tangan dari Gerald dengan cara kasar. Gerald yang meringis kesakitan, dan Freya yang sedang sibuk menjulurkan lidahnya kearahnya, berniat mengejek.


Setelah pertengkaran kecil itu selesai, Rezvan mulai menatap adiknya itu dengan dalam. Pria itu menemukan sesuatu yang janggal. Perlahan Rezvan menarik tangan Freya pelan, lalu ia membawa adik kecilnya itu kedalam pelukannya. "Ada masalah? Kakak liat kamu lagi kesel,"tebaknya yang membuat Freya membulatkan matanya kaget, karena tebakan dari Kakaknya itu tepat.


"Masa tadi Kak Nichol manggil Freya pake sebutan adik kecil sih, Kak. Padahalkan Freya udah mulai baper sama dia."


Rezvan yang sudah mengetahui bahwa Nichol akan dijodohkan, pria itu dengan cepat menasehati adik kecilnya untuk tidak terlalu cepat jatuh cinta kepada seseorang. Gerald mengangguk setuju dengan nasehat Kakak ketiganya itu.


"Tapi tadi Kak Nichol nyuruh Freya pulang bareng dia. Siapa yang gak baper coba, Kak. Kalau digituin."


Memiliki kepekaan yang tinggi sejak ia kecil, membuat Gerald dengan cepat paham apa kode yang sedari tadi Rezvan berikan. Pria itu dengan cepat pergi, lalu menemui Nichol yang sedang asik mengobrol bersama dengan Azri dan juga Dalbert.


"Jauhin adik gue."


Terdengar sarkas, tapi hal itu tidak membuat mental dari Nichol ciut. Pria itu malah menatap remeh Gerald. Sementara yang ditatap sedang ditenangkan oleh Azri. Azri memerintahkan Gerald untuk segera pergi dari tempat ini, ia sudah tahu apa akar dari permasalahan ini. Dan masalah Nichol, biarkan saja ia yang urus.


Gerald pergi dengan amarah yang masih memuncak, pria itu kembali kearah kelasnya, lalu menemui Rezvan yang sedang asik bermain basket dilapangan.


"Adek mana?"


"Dijemput Kak Farrel, dia udah tau masalah ini."


Gerald menganggukkan kepalanya paham. Setidaknya Freya sudah aman sekarang.


Kembali kepada Azri. Kini pria itu sedang memperhatikan gerak gerik Nichol yang semakin aneh. "Kenapa lo?"tanyanya.


"Gue ngechat Freya, kok gak bales ya? Padahal tadi gue udah bilang ke dia, kalo gue mau ajak dia pulang bareng."


Azri tersenyum smirk. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, lalu menepuk pelan bahu kanan dari Nichol. "Adik gue udah pulang daritadi. Gue gak mau liat dia nangis hanya karena cowok brengsek kaya lo. Seenggaknya kalo udah punya calon, jangan bikin baper anak orang."


......°`°`°`°......


Disinilah Freya sekarang, matanya sedari tadi hanya sibuk melihat pegawai kantor Kakaknya yang berlalu-lalang. Entah mereka sedang sibuk atau apa, Freya pun tidak tahu. Sementara Farrel? Pria itu sedang sibuk meeting dengan kliennya.


Sebenarnya ini adalah meeting yang sempat tertunda tadi. Pria itu harus terlebih dahulu menyelamatkan Freya dari Nichol. Meeting ini memang penting, tapi Freya jauh lebih penting dari segalanya.


Beruntungnya Farrel, semuanya berjalan dengan baik. Perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Nichol. Ini adalah rencana jahat dari Farrel untuk membuat Nichol hancur secara perlahan.


Katakanlah ia memang jahat, tapi siapa yang tega melihat adik kecil mereka yang terus-menerus gagal dalam urusan percintaan?


Nichol memang baik, dia mau menjadi pengganti Kelvin disaat adiknya itu terpuruk. Tapi, Nichol tidak jauh lebih baik dari Kelvin. Mencintai 2 orang sekaligus dalam 1 hati itu bukan pilihan yang terbaik. Freya bukanlah gadis murahan yang bisa dijadikan opsi kedua, jika perjodohan dari Nichol itu dibatalkan.


Farrel merasa iba dengan adik kecilnya itu. Memang benar kata orang, Gadis tulus tidak akan pernah menang sampai kapanpun.


Tidak ingin membuat Freya terlalu lama menunggu, Farrel dengan cepat membawa semua berkas tadi, lalu dengan segera sang Ceo itu menemui adik kecilnya.


"Merasa bosan?"


Freya mengangguk kecil. Farrel merasa bersalah akan hal ini, seharusnya ia tadi membiarkan Rezvan saja yang membawa pulang adik kecilnya. Rezvan bisa mengajak Freya untuk bermain, tapi Farrel? Pria itu hanya sibuk dengan pekerjaan kantornya.


Tubuh kekar Farrel oleng, saat Freya mulai memeluknya. Farrel yang mengerti jika mood dari adiknya itu sedang tidak baik, ia dengan cepat menelepon Rezvan untuk segera ke perusahaan milik keluarganya.


Tak butuh waktu lama, Rezvan tiba dengan Alice yang sudah berada tepat disampingnya. Freya dan Farrel menatap heran kedua makhluk itu.


"Alice tadi mau ikut, katanya dia mau main berdua sama kamu,"jelas Rezvan.


Freya menganggukkan kepalanya paham. Gadis itu berlari kearah Rezvan, lalu memeluknya. Setelah itu, Freya dengan cepat membawa Rezvan dan juga Alice untuk bermain bersamanya. Farrel hanya bisa tersenyum kecil, ia tak mungkin bermain bersama Freya lagi, umurnya sudah cukup matang. Azri saja akan merasa malu jika menjadi seorang Rezvan, apalagi dirinya.


"Van, jaga adek sama Alice baik-baik."


"Iya..."


Satu hal yang harus kalian tahu, Farrel akan merasa aman jika Freya dititipkan kepada ketiga adik laki-lakinya yang lain. Liana sempat menentang hal ini, akan tetapi Farrel mengabaikan tentang hal itu. Ia lebih setuju apa yang diucapkan oleh seorang Arthur.


"Seorang ibu memang mengerti apa itu 'cinta', akan tetapi Ayah lebih mengerti apa itu laki-laki."


...°`°`°`°...


Gerald. Pria itu sedang asik memainkan gitar miliknya, sembari bernyanyi lagu milik Sammy Simorangkir yang berjudul 'tak mampu pergi'. Secara diam-diam, Freya mendengarkan suara merdu dari Kakaknya itu. Merdu, pujinya.


Gadis itu berinisiatif untuk mendaftarkan Gerald ke America's got talent saja, walaupun akhirnya Freya tahu Gerald tidak akan menang. Gadis itu menajamkan pendengarannya saat ia tahu jika Azri sedang berada di kamar Kakak termudanya itu.


"Bang, Nichol dijodohin sama siapa?"


"Nara."


Deg-


2 orang yang terluka karena suatu perjodohan tidak masuk akal? hm impresif...


TBC.....