My Protective Brothers

My Protective Brothers
Perlakuan Manis #PART 21



Freya tersenyum lebar saat Gerald memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama dengannya. Itu berarti,secara tidak langsung Freya mempunyai bodyguard baru untuk melindunginya, benar kan?


"Kakak disana jangan genit,ya!"pesan Freya kepada kakak termudanya itu.


Freya memberi pesan ini,tentu ada alasannya. Alasannya adalah, karena visual seorang Gerald tentu tidak bisa disia-siakan begitu saja. Diantara ketiga kakaknya yang lain,visual kakak termudanya inilah yang terbaik. Bukannya apa-apa,sejak kecil Gerald sudah digemari oleh banyak perempuan,baik itu yang sudah berumur ataupun yang masing muda. Itulah sebabnya, mengapa Freya harus menjaga pria paling tampan di keluarga Abrisam ini.


Gerald tersenyum manis mendengar pesan adik kecilnya itu. "Iya,dek. Kapan sih kakak pernah genit sama cewek?"


Benar juga! Kakak termudanya itu belum pernah melakukan hal serendah itu. Menurut Gerald,melakukan hal menjijikkan seperti itu,hanya akan membuang waktu berharganya saja. Gerald tak mau dipandang rendah oleh gadis diluaran sana. Akan tetapi,sikap jual mahalnya inilah yang membuat semua gadis diluaran sana menjadi tertarik kepadanya. Freya bisa bernafas lega,karena kakak termudanya itu belum berniat untuk mencoba menjalani hubungan dengan gadis manapun. Walaupun nanti berniat,Freya akan menyeleksi calon kakak iparnya itu terlebih dahulu. Kan sayang,masa Gerald nya ganteng tapi pacarnya malah buriq_-


Freya tersenyum manis. Ia berniat mengusap puncak kepala kakak termudanya itu,akan tetapi tak sampai. Gerald yang menyadari hal itu,ia membungkukkan sedikit badannya itu,agar adik kecilnya bisa mengusap puncak kepalanya. Dan berhasil,Freya akhirnya bisa mengusap puncak kepala kakak tampannya itu. Setelah itu,Freya memeluk Gerald dengan sangat erat. "Jangan tinggi-tinggi,kan jadinya adek gak nyampe buat ngusap kepala kakak,"bisik Freya kepada Gerald.


Gerald tertawa mendengarnya. "Bukan kakak yang tinggi,tapi kamu nya yang kependekan. Makannya pas pembagian tinggi badan itu kamu dateng,jangan males-malesan didalam perut doang,"cibirnya kepada Freya.


Freya memutar bola matanya malas. Ia kesal,karena selalu kalah jika berdebat dengan kakak termudanya ini,berbeda dengan Azri,pria itu akan selalu mengalah kepada adik kecilnya yang satu ini. Azri benar-benar kakak laki-laki yang baik.


"Kak,ngalah kek kali-kali sama adeknya,jangan dibales terus. Lagian,mana ada pembagian tinggi badan pas aku didalam perut,kakak ini bodoh atau bego?"


Poor untuk Gerald kali ini.


...•••••••••••••••...


Gerald. Pria itu memasuki area sekolah barunya dengan gaya khasnya. Freya yang melihat hal itu,rasanya ia ingin muntah saja. Sementara Alice dan Delsya malah menatap Gerald dengan tatapan memuja. Pesona Gerald memang tiada duanya.


"Hallo,pendek!"sapa Gerald kepada adik kecilnya itu.


Freya merenggut kesal. Tadinya,ia berencana untuk pura-pura tidak mengenal kakak tampannya ini. Alasannya,karena ia tak mau menjadi korban sasaran gadis-gadis gatal disekolah ini.


"Kak,kan aku bilang kakak pura-pura gak kenal aku,"omelnya kesal.


Gerald tertawa kecil. Ia mengusap puncak kepala adiknya itu dengan sayang. "Kamu adik kakak, kakak gak bisa ngejauhin kamu. Ntar, kalo kakak pura-pura gak kenal kamu,terus kamu dibully, gimana? Kakak gak bisa liat kamu nangis ataupun sakit,dek."


Bolehkah Freya pingsan saja kali ini? Kakak nya yang satu ini benar-benar sangat romantis, bolehkah Freya menjadikan Gerald sebagai pacarnya saja?


Freya memeluk kakak termudanya itu. Ia benar-benar merasa terharu sekarang. "Makasih,kak!"ucapnya.


Gerald tersenyum manis. Ia mengelus puncak kepala adik kecilnya itu dengan sayang. "Iya,sama-sama,"balasnya.


Freya melepaskan pelukannya itu. Ia kemudian mengalihkan pandangnya kearah Alice yang sedang menatap kakak termudanya dengan tatapan memuja. Delsya juga seperti itu,akan tetapi Freya tahu jika sahabatnya yang satu itu hanya menyukai kakak tertuanya,yaitu Farrel. Ya, Delsya hanya menganggumi Gerald, bukan mencintai Gerald apalagi memiliki Gerald :v


Freya memperkenalkan satu per satu sahabatnya kepada Gerald. Dan Gerald menanggapinya hanya dengan anggukkan kecil saja.


"Kamu anter dulu kakak ke ruang kepala sekolah,ntar baru masuk kelas,"ucap Gerald.


Freya menatap Alice yang sedang memberi kode kearahnya. Freya yang mengerti akan hal itu pun,ia menganggukkan kepalanya paham. "Aku gak bisa,kak!"tolaknya.


"Kenapa?"


"Aku mau ngerjain pr yang kemarin dikasih sama pak Bondan."


Freya memukul dahinya pelan. Ia benar-benar keceplosan kali ini. Gerald itu disiplin. Ia takkan membiarkan salah satu dari anggota keluarganya melanggar peraturan yang pernah ia perintahkan. Salah satu dari peraturan itu adalah mengerjakan pr tepat waktu. Freya lupa akan peraturan itu,maklum namanya juga manusia :)


"Iya,kak. Maaf."


Yang bisa Freya katakan hari ini hanyalah permintaan maaf. Gerald tersenyum mendengar permintaan adiknya itu. Ia memaafkannya? Tentu. Gerald paling tidak bisa jika memarahi adik kecilnya terus menerus,kecuali yang ia omeli itu adalah Rezvan,ia takkan memaafkannya begitu saja. Sekarang Rezvan yang menjadi **korban**nya :)


Gerald mengelus pelan rambut adik kecilnya itu. "Udah sana,kerjain pr nya. Kalo susah,chat aja kakak, insyaallah kakak bisa bantu,"ucapnya.


Freya menganggukkan kepalanya paham. Tanpa berlama-lama lagi,ia langsung saja pergi dari hadapan kakak termudanya itu,tak lupa ia juga mengajak Delsya,Anatha, dan Mikaela untuk pergi dari tempat itu.


Kini tinggal ada Alice dan Gerald sekarang. Gerald menatap sahabat adiknya itu dengan senyuman manisnya. "Kamu bisa anterin saya ke ruangan kepala sekolahnya?"tanya Gerald ramah.


Alice menganggukkan kepalanya pelan. Didepan pria tampan,ia akan merasa sangat gugup. Entah mengapa,tapi itulah kebiasaannya saat ia masih menginjak kelas 5 SD. Ia benar-benar aneh,bukan?


Gerald menunggu Alice untuk berjalan disampingnya,akan tetapi gadis itu hanya diam,akhirnya Gerald terpaksa untuk menarik tangan gadis itu agar ia cepat sampai ke ruangan kepala sekolah.


Sesampainya disana, Gerald langsung saja masuk keruangan tersebut. Gerald tersenyum manis kearah kepala sekolah itu. Teo Mahendra Adhitama. Itu adalah nama lengkap dari kepala sekolah tersebut. Ayah dari Freya dan keempat kakaknya adalah adik dari kepala sekolah disini. Itulah sebabnya mengapa Gerald tersenyum manis kearah kepala sekolah itu.


"Hai,Gerald. Sudah lama kita tidak bertemu,"sapa kepala sekolah itu a.k.a Pak Teo.


Gerald tersenyum manis. "Tentu saja, Uncle. Aku terlalu sibuk mengurus Grandma dan Granpa yang jauh di Amerika sana,"balasnya.


"Mereka baik-baik saja,kan? Uncle tak sempat untuk menjenguk mereka,dikarenakan pekerjaan Uncle yang belum saja selesai."


"Mereka baik-baik saja, Uncle. Bahkan sangat sehat,"jawab Gerald.


"Syukurlah. Oh ya, kamu masuk ke kelas yang sama dengan Rezvan. Tadinya, Uncle ingin memasukkan kamu ke kelas yang sama dengan Freya,akan tetapi kapasitas dari kelas tersebut sudah penuh,sehingga Uncle terpaksa untuk memasukkan kamu ke kelas yang sama dengan Rezvan,"jelas Pak Teo.


"Tidak apa-apa, Uncle. Aku tahu kau khawatir pada keponakan kecilmu itu,tapi jangan khawatir, aku akan menjaga Freya dari kejauhan."


Kepala sekolah itu tersenyum manis. Ia benar-benar percaya pada keponakannya yang satu ini. Pak Teo menepuk pundak keponakannya itu pelan. "Uncle percaya sama kamu,"ucapnya.


Gerald menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia langsung keluar dari ruangan tersebut. "Kamu mau anterin saya ke kelasnya Rezvan?"tanyanya kepada Alice yang masih setia menunggunya.


Alice menganggukkan kepalanya. Ia berjalan mendahului Gerald. Dan Gerald berjalan dari arah belakangnya.


"Ini kelasnya,"ucap Alice sembari menunjuk salah satu kelas yang ditempati oleh Rezvan.


"Makasih,"balas Gerald sembari mengusap pelan puncak kepala sahabat adiknya itu. Setelah itu, ia pun masuk kedalam kelas barunya.


Sementara Alice. Gadis itu masih diam ditempatnya. Merasa senang? Tentu. Gerald adalah pria idamannya yang selama ini Alice cari. Perlakuan manis Gerald tadilah yang membuat Alice semakin berbunga-bunga sekarang,ia harus memberitahukan kabar baik ini kepada Freya,sahabat baiknya.


Diperjalanan menuju kelasnya Alice berteriak histeris. Ia masih bahagia atas kejadian tadi. Semua murid yang ada disekitarnya menatapnya dengan pandangan aneh. Kenapa dengan dia? batin semua orang.


Gadis itu benar-benar gila sekarang :)


See you next part,Babai!