My Protective Brothers

My Protective Brothers
Nara again



..."Dia sederhana, dan aku menyukainya. Dia tahu, namun dia tidak peduli :)"...


Freya duduk diatas kasurnya dengan ditemani oleh Delsya, Alice, Mikaela, dan Anatha. Keempat gadis cantik itu yang memutuskan untuk menginap dirumah milik kedua orang tua Freya. Freya membuka kaca jendelanya untuk membiarkan angin segar masuk kedalam kamarnya. Namun bukan angin segarlah yang Freya dapatkan, melainkan Kelvin yang sedang menatap kearahnya dengan senyuman yang tercetak di bibir cantik milik pria itu.


Kelvin menunjuk arah jam tangan yang dipakainya. Pria itu mengkode gadisnya untuk segera tidur, karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Freya menatap sinis kearah pria tersebut.


"Tidur, by. Udah malem."


Freya menyuruh Kelvin untuk segera meninggalkan area rumahnya. Bisa bahaya jika Farrel mengetahui tentang hal ini. Bukannya pergi, Kelvin malah duduk dibawah pohon dekat kamarnya itu. Pria itu menolak pergi jika Freya, gadisnya, belum tertidur pulas. Freya yang mengerti akan hal itu, ia memutuskan untuk menutup matanya, tapi sebelum itu ia meminta Delsya dan Alice untuk memberitahu Kelvin jika ia sudah tertidur pulas nantinya.


Setelah mendapat kode dari Alice dan Delsya. Kelvin pun pergi. Ia memang sengaja melakukan hal ini agar gadis nakalnya itu bisa segera beristirahat. Kelvin mengacungkan jempolnya kearah Rezvan yang telah membantunya untuk masuk kerumah ini tadi. Dan Rezvan membalasnya dengan anggukan kepala pelan.


"Jangan sakitin adek gue lagi, gue gak akan tanggung jawab kalo Kak Farrel nyiksa lo lagi."


Kelvin mengangguk paham. Setelah itu ia pergi meninggalkan rumah milik keluarga Abrisam. Bukannya pulang kembali kerumahnya, Kelvin malah memutuskan untuk pergi kearah bar. Pria itu bertemu dengan seorang Nara yang baru saja keluar dari arah toilet. Kelvin tersenyum kecil kearah temannya itu. "Pantes aja si Gerald gak mau sama lo, orang pekerjaan lo aja gak halal kaya gini."


Nara berdecih pelan. "Ngapain lo kesini? Mau mabuk-mabukan? Terus ntar kalo Freya tau, dan dia kecewa lagi. Lo mau ngapain?"


"Asal lo tutup mulut, gadis gue gak akan tau."


Nara tertawa sinis. Wanita itu kini mengambil sebuah alat penyadap suara kecil yang terpasang di sepatu kanan milik Kelvin. "Gue emang bakalan tutup mulut, dan lo beruntung, karena Freya gak akan tahu tentang hal ini. Tapi lo lupa kalo gadis itu punya 4 kakak laki-laki. Dan lo tahu ini apa? Ini alat penyadap suara, Vin. Lo emang selamat dari Freya, tapi lo gak akan selamat dari Farrel dan Azri."


Kelvin mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia bahkan tak menyadari jika Rezvan memasang alat penyadap itu dengan cara terjatuh dihadapannya. Dahi Kelvin kini mulai berkeringat dingin. Bagaimana jika Farrel nanti memintanya untuk menjauhi gadisnya?


"Pulang, lo harus pulang. Ini demi Freya, lo gak mau liat gadis lo kecewa lagi hanya karena perbuatan bodoh lo ini, kan?"


Kelvin mengangguk. Tanpa berpamitan kepada Nara, pria itu langsung saja pergi dari tempat sialan itu. Nara yang merasa mulai ada perubahan dari sifat Kelvin pun, ia tersenyum kecil. Dulu, Kelvin sama seperti Azri. Pria itu keras, gampang terpancing emosi, dan suka menyiksa. Hingga tiba saatnya dimana pria itu bertemu dengan gadis sebaik Freya. Nara beruntung karena pria itu jatuh cinta dengan seorang gadis yang berhati lembut sama seperti Freya. Ingin berebut Kelvin dari Freya? Tidak, Nara tidak sejahat itu. Ia hanya mencintai Gerald, seorang laki-laki tampan yang pernah menjadi kekasih nya dahulu.


"Gue percayain Kelvin sama lo, Frey."


...•••••••...


Azri tertawa sinis, saat ia mendengar jika Farrel masih memberi kesempatan kedua kepada Kelvin untuk menjaga Freya. Tidak ada kesempatan kedua di kamus Azri, pria itu bahkan menentang keras keputusan Farrel yang mengizinkan Kelvin untuk menjaga adik kecilnya kembali.


"You stupid. I'm not even sure that bastard can take good care of my sister."


Farrel tertawa kecil. "Di kamus gue ada kesempatan kedua. Lo berhak nyiksa si Kelvin kalo sampe tu cowok nyakitin adek lagi."


"Tapi di kamus gue gak ada kesempatan kedua."


Farrel menepuk pelan pundak Azri. "Pikirin perasaan Adek, dia gak kaya lo, yang sekali disakitin bakal langsung pergi."


Azri tertawa mendengar perkataan dari seorang Farrel. Itulah prinsipnya. Jika sudah disakiti, untuk apa ia bertahan?


"Zri, dulu Kelvin sama kaya lo. Dia keras kepala. Tapi setelah dia kenal adek, dia berubah."


"Lo salah, Bang. Gak ada seseorang yang berubah hanya karena mereka udah kenal apa yang namanya itu cinta."


Farrel speechless dengan perkataan adik laki-lakinya itu. Setelah itu ia menepuk pelan pipi kanan milik Azri. "Gue bangga sama lo. Tapi sorry, Zri. Keputusan gue udah bulat, gue akan tetep ngasih keputusan kedua buat Kelvin. Kalo Kelvin melanggar janji yang gue buat, lo berhak nyiksa tu cowok gila satu."


Azri memutar bola matanya malas. Tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Farrel, ia langsung saja pergi kearah kamar Gerald.


Gerald membulatkan matanya tak percaya. Apa-apaan Abangnya ini. Dengan tekad yang kuat, ia menolak permintaan Azri.


Azri tersenyum smirk. Pria itu mendekati Gerald yang membuat adiknya itu kini mundur secara perlahan. "Bang, sadar, Bang. Kalo gue jemput Nara, ntar takutnya tu cewek mikir yang enggak-enggak. Gue gak mau adek marah gara-gara cewek gila itu lagi."


Azri menghembuskan nafasnya pasrah. Benar juga, Adik kecilnya itu memang tidak suka, jika Gerald berdekatan dengan Nara.


Dengan cepat, Azri pergi kearah kamarnya. Pria itu menidurkan dirinya dengan cepat. Alasannya hanya satu, ia ingin membuat Kelvin lebih mementingkan adiknya ketimbang Nara.


Waktu pun cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Azri sudah siap dengan seragam sekolahnya. Pria itu memang gesit jika dalam urusan mengejar ilmu.


"Gue pamit."


"Sarapan dulu, Zri!"tegur Farrel.


Azri berlari kecil. "Ntar aja, Bang. Gue lagi sibuk." Azri menaiki mobil miliknya, lalu pergi kearah apartemen yang ditempati oleh Nara. Pria itu berhenti tepat disamping mobil milik Kelvin.


"Hi."


Kelvin membulatkan matanya tak percaya. Untuk apa pria dingin ini ada disini?


"Lo ngapain ada disini, Zri?"


Azri menatap Nara. Pria itu memberi kode jika gadis itu harus segera masuk kedalam mobilnya. Nara mengangguk kecil. Ingin menolak pun tidak bisa, gadis itu terlalu takut dengan aura yang dikeluarkan oleh Azri.


"Gue yang nganter Nara hari ini."


"Tapi g-----"


"Lo jemput adik gue."


Kelvin menelan salivanya dengan susah payah. "Tapi Freya bilang dia mau berangkat bareng Gerald, makannya gue kesini buat jemput Nara."


"I don't like liar friends! Hurry up, pick up my sister. Atau nyawa lo yang jadi korbannya."


Dengan cepat, Kelvin langsung saja mengemudikan mobilnya kearah rumah keluarga Abrisam. Pria itu menghembuskan nafasnya lega, saat Freya keluar lebih dulu daripada Gerald ataupun Farrel. Kelvin keluar dari mobilnya, lalu tersenyum kearah gadisnya itu.


"Ngapain?"


"Jemput kamu."


"Tumben, biasanya kan nganterin Nara dulu."


Kelvin menyentil dahi Freya pelan. "Kan aku udah bilang, kamu itu prioritas aku. Berhenti cemburu sama Nara, dia cuman temen aku."


Freya mengerucutkan bibirnya. Gadis itu masuk kedalam mobil Kelvin dengan mood yang tak baik. Sementara Farrel yang melihat hal itu, ia tersenyum smirk.


"effeminate man,"gumamnya kecil.


TBC.......