
Nara Azelia Smith. Seorang gadis cantik yang memiliki hobi menganggu putri satu-satunya keluarga Abrisam, yaitu Freya. Alasannya menganggu Freya, karena ia ingin mendapatkan perhatian lebih dari seorang Azri. Ya, Nara menyukai pria tampan itu. Akan tetapi, Azri tidak pernah memperhatikannya. Jangankan memperhatikan,melihatnya saja Azri tidak pernah. Sungguh malang nasib Nara ini.
"Adiknya Rezvan yang baru pulang dari Amerika lebih ganteng daripada Azri loh,Ra. Lo gak mau gitu berpaling ke dia?"
Nara menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajamnya. Tak ada yang bisa menggantikan Azri dihatinya. Meskipun pria itu setampan Kyle Thomas, Nara tetap tidak akan memperdulikannya. Tetap Azri yang ada dihati Nara. Selamanya akan tetap Azri.
"Permisi,mau tanya kalo kelas yang ditempatin sama adik saya, ada disebelah mana,yah?"
Bolehkah Nara pingsan saja kali ini? Pria yang saat ini sedang bertanya kepadanya,benar-benar tampan. Bahkan bisa dibilang, pria ini 2x lipat lebih tampan daripada gebetannya sendiri. Sungguh kejam.
"Siapa nama adik kamu?"tanya Nara kepada pria asing itu.
Bukannya menjawab. Pria tampan itu malah menunjukkan label nama yang ada diseragam SMA nya. Nara membaca nama dari pria tampan tersebut. "Gerald Fatih Albizari Abrisam,"gumamnya.
"Adiknya Azri?"
Pria tampan itu mengangguk. "Kamu bisa anterin saya ke kelas adik kecil saya, gak?"
Nara menganggukkan kepalanya. Apapun demi pria tampan dihadapannya ini,ia rela melakukan hal apa saja. Lagipula adik yang dimaksud dari si pria tampan ini adalah korban bully nya selama ini. Dia Freya, adik dari keempat pria tampan keluarga Abrisam.
Sahabat Nara yang sedari tadi melihat kejadian itu pun,ia memutar bola matanya malas. Nara memang selalu seperti itu,ada yang ganteng dikit,sikat! Namanya juga cabe :v eh-----
Gerald a.k.a pria tampan itu sudah sampai didepan kelas Freya berkat bantuan Nara. Gerald berterimakasih akan hal itu. Ternyata gadis jadi-jadian dihadapannya ini benar-benar baik. Gerald sangat bersyukur akan hal itu. "Makasih,ya. Sekarang kamu boleh pergi,"ucapnya.
"Lah,kok pergi?"tanya Nara heran.
"Emangnya kamu mau apa disini? Saya kesini ada urusan dengan adik saya, bukan dengan kamu."
Nara benar-benar merasa malu sekarang,pria tampan dihadapannya ini benar-benar keterlaluan. Nara harus memberinya pelajaran dengan cara menikahinya
eh---- gimana sih :v
"Aku pergi,tapi kamu jangan rindu ya."
Gadis ini memang sangat baik,tapi Gerald masih curiga jika gadis dihadapannya ini benar-benar tidak mempunyai rasa malu sama sekali. Gerald merindukannya? Oh,tidak. Jangankan merindukannya, mengingat mukanya saja rasanya Gerald ingin muntah. Ia benar-benar jahat kali ini.
"Iya,ntar saya rindu kamu,kalo kamu udah gak ada didunia ini."
Sialan!
...•••••••••••••...
Azri berjalan kearah kelas adik kecilnya itu dengan gaya khasnya. Semua gadis yang ada disitu menatap Azri dengan tatapan memuja. Azri benar-benar sempurna kali ini.
"Heh,bocil!"teriaknya kearah Gerald yang sedang diam mematung ditempat.
Gerald tersenyum kearah abang nya itu. Ia beruntung,karena Azri datang di waktu yang tepat. "Bang, bantuin gue dong,"pintanya.
"Bantu apa?"
Azri berjalan kearah depan kelas adik kecilnya itu. Tanpa ada rasa malu sedikit pun,ia langsung saja mengetuk pintu kelas adiknya itu.
"Ada apa,kak?"tanya salah satu murid dikelas itu.
"Freya,"jawab Azri dengan wajah datarnya.
Murid itupun menganggukkan kepalanya paham. Tanpa dijelaskan lagi pun,ia sudah paham dengan maksud kakak kelas tampannya ini.
Murid itu pergi kearah meja Freya. Ia menepuk pelan bahu dari adik keempat pria tampan keluarga Abrisam itu. "Frey,lo dicariin kak Azri diluar,sama satu lagi cowok bule,gue gak tau namanya siapa tapi dia ganteng,"ucapnya.
Freya memutar bola matanya malas. Ini pasti Azri dan Gerald. Ia takkan pernah salah menebak, pasalnya diantara semua kakak laki-lakinya, hanya Azri dan Gerald lah yang memberikan pengawasan berlebihan kepada Freya. Sebelum Gerald masuk ke sekolah ini, Freya selalu saja didatangi oleh Azri, pria itu masuk kedalam kelasnya tanpa rasa malu sedikit pun,lalu ia mengusap puncak kepala Freya, dan setelah itu ia keluar dari kelas ini. Sungguh tidak jelas sekali maksud dari si babang tampan ini :(
Apalagi sekarang ada Gerald, Freya bisa-bisa menjadi gila karena sifat over protective dari kedua kakak tampannya itu. Meskipun Farrel dan Rezvan juga melakukan hal yang sama, akan tetapi kedua pria itu masih dalam tahap batas yang wajar. Freya masih bisa bertahan dari sikap protective Farrel dan Rezvan, akan tetapi jika urusan Azri dan Gerald, Freya lebih baik menyerah saja.
Freya keluar dari kelasnya dengan wajah cemberutnya. Ia menepuk kedua bahu kakak tampannya itu dengan pelan. Gerald yang melihat adiknya itu sudah keluar dari kelasnya, ia memeluk nya,sementara Azri? Pria itu hanya tersenyum kecil.
"Merasa bosan?"tanya Gerald kepada adik kecilnya itu.
Freya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Ada urusan apa kakak datang ke kelas ku?"
Gerald mengusap puncak kepala adiknya pelan. Niatnya kesini hanya untuk melihat Freya, ia sedang memastikan apakah adiknya itu baik-baik saja atau tidak? Apakah Gerald berlebihan dalam hal ini?
"Jangan bilang kakak kesini cuman mau mastiin aku baik-baik aja atau enggak? Ah, yang bener aja kak, aku itu udah gede, gak perlu diperhatiin kaya gini lagi,"protes Freya.
Gerald memukul pelan dahi adiknya itu. "Kalo ngomong yang bener, jangan sampe kakak kirim kamu ke Amerika sana buat ngurus Grandma sama Granpa,"ancam Gerald.
Freya mengerucutkan bibirnya kesal. Gerald selalu saja mengancamnya dengan alasan klasik seperti ini. Padahal sebenarnya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Gerald takkan pernah membiarkan adik kecilnya itu berdiam diri di negara asing sana. Sementara Azri? Pria itu sedari tadi hanya menikmati pertengkaran antara kedua adiknya ini.
Freya memeluk kakak dinginnya itu. Ia merengek kepada Azri, agar ia tidak dipindahkan ke Amerika sana. Azri mengusap puncak kepala adik kecilnya itu dengan sayang. "Siapa yang tega buat mindahin adik lucu kakak ini ke Amerika sana,hm?"tanyanya.
Freya menunjuk Kakak termudanya dengan cepat. Ia mengkode Azri agar memberi pelajaran kepada Kakak termudanya itu, dan Azri pun menurutinya. Azri memukul pipi Gerald dengan pelan. Freya yang melihat hal itu, ia hanya tertawa saja, ia bahkan tidak mengetahui jika Gerald sedang menahan tawanya sedari tadi.
Gerald pura-pura meringis kesakitan. Ia hanya ingin membuat adik kecilnya itu senang. Dan terbukti, sekarang Freya sedang tertawa terbahak-bahak. Ia sangat senang jika kakak termudanya itu menderita. Benar-benar adik durhaka.
Nara yang sedari tadi melihat kejadian itu, ia menahan amarahnya. Kedua pria yang bersama korban bully nya adalah pria yang dicintainya. Kenapa korban bully nya itu selalu lebih beruntung daripada dirinya? Ini aneh.
Nara berjalan kearah Freya dengan amarah yang memuncak. Ketika sudah sampai dihadapan Freya, Nara langsung menampar salah satu pipi milik Freya dengan keras. Freya meringis kesakitan. Sementara, kedua pria tampan yang melihat kejadian itu, mereka menegang ditempatnya. Kejadian itu benar-benar cepat, mereka bahkan tidak sempat untuk melindungi adik kecil mereka itu.
Azri menatap gadis jadi-jadian dihadapannya itu dengan tatapan tajamnya. Seumur hidupnya, ia bahkan tak berani untuk menyakiti adik kecilnya. Jangankan menyakiti, memarahi saja Azri tidak pernah.
Azri mengenggam kuat tangan gadis jadi-jadian itu. Gadis itu berteriak kesakitan, akan tetapi Azri tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah gadis itu harus diberi pelajaran.
Freya? Ia berlindung di pelukan Gerald. Melihat Azri yang marah seperti ini membuatnya takut. Memang, diantara ketiga kakaknya yang lain kemarahan seorang Azri lah yang paling ia takuti.
Azri menatap tajam gadis jadi-jadian dihadapannya ini. Ia berjanji takkan pernah memaafkan gadis jadi-jadian ini. "You're crossing the line I'm talking about, baby!"ucapnya.
See you next part,Babai!