My Protective Brothers

My Protective Brothers
Stay away from my sister



..."Pernah menolak banyak hati,...


...demi satu hati yang gak tahu diri"...


Azri. Pria itu tersenyum manis kearah Freya. Besok adalah hari spesial adiknya. Mau tidak mau, pria itu harus memberi kejutan kepada Freya. Farrel menepuk pundak adik dinginnya itu pelan. Pria itu mengkode Azri untuk segera menemui Kelvin yang sedari tadi menunggu diruang keluarga.


Azri mengangguk. Pria itu pergi kearah ruang keluarga, lalu duduk diantara Erick dan juga Aland. Azri menatap serius kearah Kelvin. "Terus apa rencana lo kali ini?"


Kelvin tersenyum. Pria itu mengkode Azri untuk segera menengok kearah kanan.


"Nara?"


Kelvin mengangguk. "Kita bikin drama hubungan Nara sama Gerald lagi. Gadis gue kan benci tuh kalo si Gerald deket-deket sama si Nara."


Nara yang mendengar rencana itu, ia mendelik kesal. Jika bukan karena Gerald, ia mungkin takkan mau mengikuti rencana kampungan Kelvin ini.


Sementara Azri, pria itu tersenyum mendengar rencana dari Kelvin. Sudah lama ia tidak melihat adik kecilnya itu menangis. Besok, tepat di ulang tahun Freya, ia akan membuat adiknya itu menangis sejadi-jadinya. Jahat memang, tapi inilah satu-satunya cara untuk memberikan kejutan kepada seorang Freya Meisie Friska Abrisam.


"Mau mulai kapan?" Aland menatap serius Azri. Pria yang satu itu memang suka hal-hal yang berbau keseriusan. Contohnya seperti sebuah hubungan. Hehe.


"Sekarang lah, yakali Minggu depan."


Aland menatap sinis seorang Dalbert. Sementara yang ditatap hanya bersikap acuh. "Bacot lo Yatim."


Dalbert tertawa keras. Pria itu memang agak sedikit gesrek jika berdekatan dengan Aland. "Penistaan kepada seorang anak Yatim. Lo bisa gue laporin sumpah."


"Laporin ke siapa?"


"Bapak gue, dia kan sekarang jadi polisi cabang alam barzah."


Astaghfirullah, Bert :) Erick tertawa mendengar jokes dari seorang Dalbert. Dark memang, tapi itulah Dalbert. Pria itu memang lebih suka bercanda tanpa melibatkan perasaan.


"Dark banget lo, anjir!"


Dalbert tertawa renyah. Ini pertama kalinya ia melihat Azri yang tertawa keras seperti tadi. Berterima kasihlah kepada alm dari Ayah Dalbert, karena berkat dialah Azri bisa tertawa lepas seperti ini.


"Sumpah Zri, lo kalo ketawa gitu cakepnya nambah asli."


Azri menghentikan tawanya. Tanpa memperdulikan ucapan dari Dalbert tadi, ia kembali fokus kearah pembahasan untuk ulang tahun adiknya tadi. Dalbert menghembuskan nafasnya kasar, mempunyai teman yang bermuka datar seperti Azri, memang membutuhkan tenaga yang cukup extra.


"Yok, mulai."


Semua fokus pada perannya masing-masing. Azri dan Gerald sibuk memancing Freya untuk keluar dari kamarnya, Kelvin, Erick, dan Nara sibuk mempersiapkan dirinya masing-masing, dan Dalbert serta Aland sibuk memperhatikan mereka semua.


Gerald memberi kode saat Freya sudah keluar dari kamarnya. Rencana ini gagal, karena ditengah-tengah perdebatan, Dalbert tertawa dengan sangat kencang. Azri menatap tajam teman laknat nya itu.


Tangan Aland sudah bersiap-siap akan menampar teman laknatnya ini, tapi niatnya itu ia urungkan, karena Azri melarangnya.


Rezvan yang paham akan kondisi ini, ia dengan segera membawa Freya kedalam kamar miliknya. Azri bernafas lega, setidaknya ada satu orang yang peka dengan keadaan ini.


Bugh!


"Mulai ngelunjak ya lu, setan! Udah berapa kali gue bilang jangan sakitin adek gue lagi, njing!"


Gerald menahan tubuh Farrel dengan sekuat tenaga. Pria itu mengkode Azri untuk segera membantunya, akan tetapi Azri hanya mengangkat bahunya acuh.


"Tunggu, tunggu, lo salah paham, Bang. Gue cuman pingin buat prank kejutan ulang tahun buat adek lo."


Farrel tersenyum smirk. Ia lalu pergi dari situ, lalu kembali lagi dengan membawa seorang bodyguard yang selama ini Farrel suruh untuk mengawasi pergerakan antara Kelvin dengan Nara.


Farrel melempar handphone dari bodyguard miliknya itu. "Lo pacaran kan sama Nara?!"


Semuanya terkejut, kecuali Azri. Pria yang satu ini malah menampilkan senyuman smirk nya kearah Kelvin.


"Gue udah tau semuanya, Vin. Dan untuk Nara, sandiwara lo bagus juga."


Ingin rasanya Kelvin menghilang saat ini juga. Ternyata Nara benar, Farrel dan Azri memanglah pria yang sulit untuk dibohongi.


"Mau kapan mutusin adek gue?"


Kelvin menggeleng. "Gue gak akan pernah mutusin adek lo."


Farrel tertawa sinis. "Di keluarga Abrisam, Freya itu nomor satu. Dia selalu dimanja, disayang, dan dinomorsatukan. Lalu dengan gampangnya lu masuk ke kehidupan adek gue, dan lo jadiin adek gue prioritas nomor 2 setelah Nara? Gila kali lo, Kelvin."


Farrel mengalihkan pandangannya kearah Nara. Pria itu menatap penampilan Nara dari bawah sampai keatas. Farrel tersenyum smirk. "Yang kaya gini mau ngerebut Gerald dari adek gue? Yang bener lo Nara, Gerald gak akan mungkin mau sama cewek murahan kaya lo."


Plak!


Farrel tertawa. Kelvin, pria itu menamparnya dengan sangat keras tadi. Tangan dari Farrel kini mulai menahan badan dari Azri yang sudah bersiap akan menyerang Kelvin. Farrel mengkode adiknya itu biar dia saja yang mengurus hal ini. Azri mengangguk sebagai jawaban.


"Nara emang murahan, Vin. Gue bahkan gak sudi liat dia nginjekin kaki di rumah ini."


Tubuh Farrel terjatuh ke belakang, saat dengan kencangnya Kelvin menendang bagian dari perutnya. Farrel bangkit, lalu pria itu tertawa dengan keras. Tanpa aba-aba apapun, Farrel langsung saja membalas perbuatan Kelvin tadi dengan cara yang sama. Farrel menangkup kedua pipi Kelvin dengan tangan kanannya, lalu pria itu mulai menatap tajam Kelvin.


"Stay away from my sister, or Nara who I hurt."


TBC.........