
Freya. Gadis itu memperhatikan Azri yang sedari tadi mengotak-atik handphone miliknya. Ingin mengambil kembali handphone nya pun, ia tidak bisa. Pasalnya, dihadapannya sekarang sudah ada Gerald dan Rezvan yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Bisa gak tuh mata dibiasain? Freya gak akan kemana-mana juga kok."
Farrel terkekeh pelan. Mau tidak mau adiknya itu harus menerima semua resikonya. Mempunyai Kakak yang super duper protective seperti Azri memang sangatlah sulit. Farrel memindahkan tubuh ringan Freya kearah pangkuannya. Pria itu mengecup pelan pundak dari adiknya itu.
"Sabar ya, dek. Azri nya lagi ngehapusin semua foto Kelvin dari galeri kamu."
Freya membulatkan matanya tak percaya. Dengan cepat ia mengambil handphone miliknya itu dari seorang Azri Dylan Abrisam. Azri tersenyum smirk melihat hal itu.
"Percuma handphone nya direbut, orang Kakak udah berhasil ngehapus semua foto-fotonya."
Mendengar hal itu, mata dari Freya kini mulai terlihat berkaca-kaca. Rezvan dengan cepat memeluk adik kecilnya itu, dan ya seperti yang kalian duga, tangisan Freya pun pecah seketika. Tangan dari Gerald kini mulai mengusap puncak kepala adiknya itu. "Jangan nangis, ini demi kebaikan kamu."
Freya menghempaskan tangan dari kakak nya itu, mereka semua bahkan tidak mengerti, betapa susahnya ia mengumpulkan semua foto candid Kelvin yang begitu banyak. Freya kini mulai menatap tajam Azri. Sementara yang ditatap hanya bersikap acuh.
"Gak ada gunanya banget ya hidup kakak, sampe ngehapusin semua foto Kak Kelvin dari handphone aku."
Farrel menyentil pelan mulut pedas adik kecilnya itu. Sementara Azri, pria itu menatap tajam Freya. "Mau Kakak bunuh tuh si Kelvin?"
Freya mengepalkan tangannya dengan kuat. Rezvan yang menyadari hal itu, ia langsung memberi kode kepada Azri untuk ia mengalah saja. Bukannya menurut, Azri malah menggelengkan kepalanya. Pertanda, bahwa pria itu menolak untuk mengalah dari Freya.
"Berhenti possessive deh, Kak. Ini urusan Freya, bukan urusan Kakak. Freya udah gede, gak perlu diatur-atur kaya gini, malesin aja tau gak?"
Farrel mengacak rambutnya frustasi. Ini pertama kalinya ia melihat Freya yang sampai semarah ini. Apalagi adiknya itu sampai berani untuk melawan seorang Azri.
"Diajarin siapa buat ngelawan kaya gini?"
Freya tertawa sinis. "Like Brother, like Sister."
Azri mengepalkan tangannya dengan kuat. Tangannya kini sudah siap ia layangkan kepada seorang Freya, tapi beruntung, Farrel menahannya.
"Padahal gak usah ditahan tuh. Biar Freya tau sifat Kak Azri yang sebenernya. Suka main tangan, kan? Haha, bad brother."
Farrel mengkode Rezvan untuk segera membawa Freya kedalam kamarnya. Rezvan yang mengerti pun langsung saja menggendong Freya dengan ala bridal style.
Rezvan mengusap puncak kepala adiknya itu, untuk membuat Freya tenang. Pria itu terlihat panik saat tiba-tiba saja Freya menangis dengan volume yang cukup kencang. Gerald datang dan langsung memeluk adik kecilnya itu. Ia tahu watak dari Freya, adiknya itu akan cepat menangis jika sedang ada masalah dengan seorang Azri.
"Hey, jangan nangis. Kan udah ada Kakak, udahan yuk nangisnya."
Bukannya mereda, tangisan Freya justru semakin kencang. Kali ini Farrel yang harus turun tangan. Dengan cepat pria itu berlari kearah kamar Rezvan, lalu memeluk Freya dengan sangat erat. "Jangan nangis, Azri cuman kepancing emosi aja. Kamu gak usah takut sama dia."
Tangisan Freya mereda, bukan, lebih tepatnya gadis itu tertidur didalam pelukan seorang Farrel. Farrel melepaskan pelukannya itu, lalu ia mengecup pelan puncak kepala adiknya itu.
...••••••••••...
Freya terbangun dari tidur nyenyak nya itu. Matanya membulat sempurna, saat ia melihat seorang Nichol yang sedang tersenyum manis kearahnya.
"Mau minum, gak?"
Freya menggeleng pelan. Dan Nichol terlihat membantu gadis itu untuk bangun dari tidurnya. Setelah itu, ia mengusap pelan puncak kepala dari Freya.
"Azri yang nyuruh gue buat ngejaga lo, walaupun dia itu keras, tetep aja dia gak mau orang yang dia sayang itu terluka. Lo adik kesayangannya dia, Frey. Jujur, ini pertama kalinya gue ngeliat Azri sampe sepanik ini, hanya karena lo sekarang lagi benci sama dia."
Freya menundukkan kepalanya. Gadis itu menangis lagi, Nichol yang menyadari hal itu, ia dengan cepat membawa Freya kedalam pelukannya. "Azri yang ngejaga lo dari kecil, masa lo tega musuhin dia hanya karena hal sekecil ini?"
"Tapi dia udah ngehapus semua foto Kak Kelvin dari handphone Freya."
Nichol mengecup puncak kepala dari gadis yang dicintainya itu. "Ini demi kebaikan lo, Azri tahu semuanya. Dia itu kakak kandung lo yang hebat bukan? Berhenti benci sama dia, dia cuman mau ngelindungin lo dari si Kelvin."
Nichol menggendong Freya hingga sampai kehadapan Azri. Azri tersenyum kearah adik kecilnya itu, akan tetapi Freya, gadis itu malah bersembunyi dibelakang badan tinggi dari Nichol.
"Freya takut."
Freya meremas pelan Hoodie yang dikenakan oleh Nichol. Gadis itu bahkan tidak berani berhadapan langsung dengan seorang Azri.
"Emang Kakak nakutin, ya?"
Hening. Azri menghembuskan nafasnya kasar, ini memang salahnya. Sudah tahu Freya tidak suka dengan kekerasan, tetap saja ia lakukan hal gila itu. Benar-benar bodoh.
Tangan dari Azri kini mengkode Nichol untuk segera membawa adiknya itu ke kamar milik Rezvan. Percuma saja, Freya takkan mungkin memaafkannya dengan cepat.
Sementara Nichol, pria itu sedang berusaha menidurkan seorang Tuan Puteri. Freya tersenyum kearah teman dari keempat Kakaknya itu.
"Ntar besok Kakak ajak kamu buat beli ice cream deh."
Freya bersorak senang. Sudah lama ia tidak membeli ice cream. Dengan cepat, gadis itu menutup matanya, lalu pergi kealam mimpinya.
Nichol tersenyum kearah gadis itu. Ternyata sangat mudah untuk membuat gadis cantik ini tertidur lelap. Perlahan ia mendekat kearah Freya. Lalu pria itu mengecup pelan pipi kiri dan juga kening dari Freya.
"Good night, Nichol's princess."
TBC.........