
"Lagi ada masalah sama Kelvin?"
Gerald mengusap pelan puncak kepala adiknya itu. Melihat Freya yang sedang kesal membuat Gerald berpikir jika adiknya itu sedang ada masalah dengan seorang Kelvin Adrean.
"Iya, Kak. Freya lagi kesel sama Kak Kelvin."
"Kenapa kesel?"
"Dia gak mau jemput Freya ke sekolah."
"Mungkin lagi sibuk, berangkatnya sama kakak aja yuk."
Freya menganggukkan kepalanya pelan. Tidak ada Kelvin, Gerald pun jadi. Memang ada untungnya mempunyai 4 kakak laki-laki yang baik hati serta tidak sombong.
Freya memasuki mobil milik Gerald dengan gaya anggunnya. Rambut dari gadis itu kini berterbangan, saat Gerald mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Kak, pelan-pelan, astagfirullah."
"Ini mumpung sepi jalanan nya, bentar."
Freya memutar bola matanya malas, saat mobil milik Gerald kini sudah terparkir rapih di depan gedung sekolah. Gerald membantu merapihkan rambut adiknya itu. Bisa gawat jika gadis disampingnya ini mengadu kepada Azri ataupun Farrel jika ia membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Udah cantik, gih sana turun."
"Ngusir?"
Gerald tertawa kecil. "Gak, sayang. Takutnya kamu telat."
"Yaudah deh, makasih kak tumpangannya. Freya sayang kakak."
Gerald tersenyum. Pria itu mencium puncak kepala adiknya, lalu ia mengantarkan adiknya itu kearah kelasnya. "Belajar yang bener, kalo ada pr bilang aja sama kakak."
"Kakak yang bakal ngerjain kan?"
"Iya, sayang."
Freya tersenyum manis kearah Gerald, lalu setelah itu ia masuk kedalam kelasnya. Gerald bernafas lega, akhirnya ia terbebas dari adik durhakanya itu.
kembali kepada Freya, kini gadis itu sedang sibuk menenggelamkan wajahnya kedalam lipatan tangan. Sungguh, pelajaran sejarah membuatnya mengantuk. Anatha, gadis itu menepuk pundak Freya pelan. Anatha memberitahu Freya jika gadis itu dipanggil oleh Farrel kearah ruang OSIS.
"Lo tau alesannya apa?"
Anatha mengangkat bahunya acuh. Pertanda bahwa ia tak tahu apa alasan Farrel menyuruh Freya untuk keruangan OSIS. Freya berjalan dengan susah payah kearah ruangan kakaknya itu. Matanya membulat seketika, saat ia melihat jika ada pizza dimeja kakak tertua nya itu.
"Kak, mau."
Farrel tersenyum. Tangan dari pria itu kini mulai mengusap puncak kepala adiknya itu. "Ambil aja, itu buat kamu."
"Semuanya?"
Farrel mengangguk. "Tadi kakak liat kamu gak semangat belajarnya, yaudah kakak inisiatif buat bikin kamu bolos aja. Masalah izin gampang, sekarang kamu makan aja ya disini, kakak mau ke ruang rapat bentar."
"Kalo ada yang masuk gimana?"
"Gak akan, ini ruangan khusus kakak. Kakak gak akan biarin orang lain masuk, kecuali kamu. Dan satu hal lagi, kakak udah suruh Kelvin buat nemenin kamu disini."
"Kenapa harus Kak Kelvin? Kenapa gak Kak Azri aja?"
"Kakak tau kamu lagi ada masalah sama Kelvin, selesaiin masalahnya secara baik-baik, ntar kakak kesini kalo rapatnya udah beres."
Farrel mengecup puncak kepala Freya. Pria itu keluar dari ruangan, lalu menyuruh Kelvin untuk segera masuk kedalam ruangan. Saat ini hanya ada Freya dan Kelvin, akan tetapi kedua sejoli itu hanya bersikap biasa-biasa saja.
"Pake saos cabe nya jangan banyak-banyak."
Freya memutar bola matanya malas. Tanpa mendengar ocehan tak berguna Kelvin, gadis itu menuangkan saos cabai yang banyak diatas pizza miliknya. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar, saat Kelvin dengan sengaja memakan pizza yang tadi sudah ia siapkan. Tangan dari gadis itu kini mulai mencubit pelan bagian area dari perut Kelvin.
"Sakit, by."
Kelvin menyentil pelan mulut dari gadisnya itu. Sungguh jika sudah seperti ini, ingin rasanya Kelvin menyekolahkan mulut nakal gadisnya itu.
"Aku bukan gue,"koreksi pria itu.
"Gak peduli, Freya lagi marah sama kakak."
"Kenapa?"
"Kakak gak mau jemput Freya. Kak Kelvin jahat."
Kelvin tertawa kecil. Bagaimana ia tidak jatuh cinta dengan gadis sepolos Freya? Tangan dari pria itu kini mulai mengusap puncak kepala Freya. "Maaf, tadi aku nganterin Nara dulu ke sekolah."
Freya tertawa miris. Ia iri kepada Nara yang selalu didahulukan oleh Kelvin, dan sebaliknya Nara iri kepada Freya, karena gadis itu selalu saja didahulukan oleh Gerald, pria yang sangat Nara cintai.
"By, are you okay?"
"Yeah, I'm okay."
Kelvin tersenyum. Tangan dari pria itu kini mulai membawa tubuh ringan Freya kearah pangkuannya. "Jangan marah, anak kecil. Aku tau kamu cemburu, gak usah ngambek kaya gini, mulai besok aku bakal jemput kamu terus kok."
Do you know what the word 'bullshit' means? My message is only one, don't easily believe the sweet words of men.
"Gimana kalo kakak ingkar janji?"
"Kamu bisa hukum kakak."
"Putus?"
Ingin rasanya Kelvin melontarkan kalimat umpatan kepada gadis dihadapannya ini. Akan tetapi niat gilanya itu ia urungkan. Mengingat Freya adalah adik dari seorang Azri, membuat nyali Kelvin ciut seketika.
Kelvin menyentil pelan bibir dari Freya. Sepertinya bibir dari gadisnya itu harus benar-benar ia sekolahkan. "Jangan macem-macem, aku bakal nerima apapun itu hukuman kamu, asalkan jangan ada kalimat 'kita putus' paham?"
Freya menghembuskan nafasnya kesal. Dengan terpaksa gadis itupun menganggukkan kepalanya paham. Tak apa, Freya tetap pada pendiriannya, semua kelakuan gila Kelvin bisa ia maafkan kecuali satu, yaitu perselingkuhan. Ia tak takut jika Kelvin akan menyakitinya nanti, tenang, masih ada Azri, Farrel, Rezvan, dan Gerald yang akan melindunginya. Freya percaya penuh kepada keempat kakak tampannya itu. Nara yang keras kepala saja bisa Azri bungkam, apalagi seorang Kelvin.
Kelvin mengusap puncak kepala gadisnya dengan sayang. Ia berjanji takkan menyia-nyiakan gadis sebaik Freya. Jikapun ia melakukan hal gila itu, ia takkan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Kak, Freya lapar."
"Itu pizza nya belum abis, by."
"Freya maunya nasi goreng, gak mau pizza."
"Ke kantin?"
Freya mengangguk.
Kelvin berdiri dari tempat duduknya. Pria itu mengisyaratkan Freya untuk segera naik kearah gendongannya.
"Tapi Freya bisa jal---- Akhh!!"
Sumpah demi apapun, apa yang harus Freya lakukan kali ini. Rasa malu dan bahagia kini tercampur didalam dirinya. Freya menyembunyikan wajahnya itu di dada bidang seorang Kelvin.
Kelvin menurunkan tubuh ringan Freya tepat di depan gerobak penjual nasi goreng. Freya yang sibuk memesan, dan Kelvin yang sedang izin ke toilet.
Azri yang sedari tadi mengikuti arah kemana Kelvin pergi, kini pria itu tersenyum sinis. Tangan dari pria itu kini mulai menepuk pelan area punggung Gerald.
"Kenapa, Kak?"
Bukannya menjawab, Azri malah memberi kode kepada Gerald untuk segera mengalihkan pandangannya kearah kanan. Gerald yang peka pun mulai melihat kearah kanan. Gerald tersenyum kearah Kakaknya itu.
"All we have to do is one, we have to teach him a lesson, right?"
TBC.......