My Protective Brothers

My Protective Brothers
Permintaan Maaf Farrel #PART 25



Ini sudah hari ketiga semenjak Freya memusuhi kakak tertuanya itu. Sebenarnya Freya bisa saja memaafkan Farrel, akan tetapi ego nya seperti melarangnya.


"Dek, kak Farrel udah gak makan 3 hari, kamu bujuk dia, gih!"


Rezvan menarik selimut yang membaluti tubuh kecil adiknya itu. Kemudian, ia membawa tubuh ringan Freya kedalam gendongannya. "Jangan marah mulu, jelek!"ejeknya.


Freya mengerucutkan bibirnya lucu. Gadis itu menyembunyikan wajahnya kedalam ketiak Rezvan. "Freya masih marah, kakak. Jangan dipaksa,"balasnya.


"Kak Farrel belum makan, dek. Kasian dia mikirin kamu terus."


"Freya gak pernah nyuruh kak Farrel buat mikirin Freya terus. Lagipula itu salah dia, kak. Freya cuman gak mau kak Gerald pacaran sama Nara, tapi kak Farrel malah gak setuju."


"Dek, dengerin kakak. Kak Farrel itu cuman mau Gerald tanggungjawab atas semua perbuatannya. Setelah semuanya selesai, Gerald berhak mutusin Nara. Udahan marahannya, ya. Kasian kak Farrel nya."


Rezvan menurunkan Freya dari tubuhnya. Kemudian ia membawa adik kecilnya itu kearah kamar Farrel. "Minta maaf,"titahnya.


Bukannya menurut, Freya justru berlari kearah kamar milik Gerald. Jujur saja, ia masih kesal dengan keputusan kakak tertuanya itu. Rezvan yang melihat hal itu, ia hanya bisa mengusap wajahnya gusar. Mempunyai adik perempuan benar-benar melelahkan.


"Kak."


Freya menghampiri Gerald yang sedang sibuk bermain hp. Gadis itu menelusup masuk kedalam pelukan Gerald.


"Ada apa, sayang?"


"Freya bosen, kak. Jalan-jalan, yuk!"


Gerald menggelengkan kepalanya pelan. Sebenarnya ia tidak ingin menolak ajakan adik kecilnya ini. Tapi karena Nara, gadis jadi-jadian itu sedang berada diluar rumah, akhirnya Gerald memutuskan untuk menolak ajakan Freya.


"Ajak yang lain aja gih, dek."


Freya menganggukkan kepalanya patuh, ia melepaskan dirinya dari pelukan Gerald, lalu berjalan kearah ruangan tengah rumahnya.


"Kak Azri jalan-jalan, yuk!"


"Kakak lagi nugas, dek. Satu jam lagi tugasnya harus dikumpulin."


Freya mengerucutkan bibirnya kesal. Gadis itu kini mengalihkan pandangannya kearah Rezvan yang sedang asik menikmati keripik pedas buatan Mommy nya sendiri.


"APA LIAT-LIAT?!"ketus Rezvan kearah adik kecilnya itu.


Freya tersentak kecil. "Jalan-jalan yuk, kak,"ajaknya.


"Gak, mal----"


"Sama kakak aja, yuk."


Farrel datang dengan sweater yang tadi ia bawa untuk adik kecilnya. Mendengar Freya ingin berjalan-jalan, membuat Farrel menawarkan dirinya untuk mengantar kemanapun adik kecilnya itu ingin pergi.


Rezvan tersenyum melihat kejadian itu, sementara Freya, gadis itu tersenyum tipis. Farrel memang kakak yang baik untuk adik-adiknya.


"Terima aja, gak usah gengsi. Kakak sendiri juga,"cibir Rezvan.


Freya mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu juga sempat menatap sinis Rezvan sebentar. "Berisik ya, kak!"omelnya.


"Heh! Anak kecil gak boleh marah-marah, ntar mukanya tambah jelek loh." Rezvan menjulurkan lidahnya kearah Freya. Bermaksud untuk mengejek adik perempuan satu-satunya itu.


Karena terlanjur kesal, tanpa sadar Freya menggandeng tangan Farrel untuk segera meninggalkan kakak menyebalkannya itu. Tentu saja Farrel tidak menolaknya, karena inilah yang dia inginkan.


"Nih pake sweater nya dulu."


"Eh!" Freya tentu saja kaget. Karena ternyata tangan yang ia bawa adalah tangan dari seorang pria yang telah membuatnya kesal kemarin.


Dengan terpaksa ia memakai sweater yang Farrel bawa. Farrel tersenyum melihat adik kecilnya itu. Setelah Freya sudah memakai sweater itu dengan benar, Farrel mencium kening adik kecilnya itu. "Good girl,"pujinya.


Freya tersenyum kecil. Didalam hatinya, ia ingin sekali memeluk kakak tertuanya itu. Akan tetapi mengingat Farrel adalah orang yang menyebalkan, membuat Freya mengurungkan niat baiknya itu.


"Kamu mau jalan-jalan kemana?"tanya Farrel kepada adik kecilnya itu.


"Ke rumah Kak Kelvin?"


"Aku males jalan-jalan sama kakak, mendingan sama Kak Kelvin." Farrel tersenyum kecut mendengar jawaban adiknya itu. Pria itu membawa Freya kedalam pelukannya secara tiba-tiba, lalu menciumnya. "Hey, Kakak minta maaf atas kejadian waktu itu, itu kesalahan Gerald sendiri, dek. Gak mungkin kan kakak ngebiarin Gerald dapet masalah hanya karena dia gak mau tanggung jawab sama Nara?"


Freya tidak memperdulikan perkataan kakak tertuanya itu. Ia malah memutuskan untuk masuk kedalam mobil, lalu menyuruh Farrel untuk segera mengantarnya kearah mall.


Sesampainya ditempat yang Freya inginkan, Farrel membukakan pintu mobilnya untuk Freya. Freya keluar dengan gaya anggunnya. Inilah yang ia inginkan, pamer kekayaan kepada gadis-gadis yang sedang berdiri diujung parkiran mall sana. Farrel yang melihat kelakuan ajaib adiknya itu, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Kak, sinian dikit,"titah Freya.


Farrel menatap bingung kearah adiknya itu. Akan tetapi ia tetap menuruti perintah Freya. "Kenapa, dek?"


"Freya mau pamerin kakak, lumayan kan kakak ganteng, walaupun gak seganteng kak Gerald sih. Hari ini Freya mau kakak jadi pacar pura-pura Freya dulu. Mau kan, kak?"


Farrel menganggukkan kepalanya pelan. Pertanda bahwa ia menyetujui permintaan adiknya itu. Melihat hal itu, Freya tersenyum puas kearah Farrel. Tanpa berlama-lama lagi, ia langsung saja mengandeng tangan kakaknya dengan possessive. Seolah-olah gadis lain yang disini akan mengambil Farrel darinya, jika gandengan itu terlepas walau hanya sebentar saja.


"Freya bakal maafin kakak, kalo rencana ini berhasil kali ini."


"Setuju."


Farrel benar-benar memanjakan Freya seperti seorang pacar sungguhan kali ini. Ia benar-benar pria yang berbakat dalam bidang percintaan. Setelah kegiatan berbelanja Freya selesai, Farrel mengajak adik perempuan satu-satunya itu kearah cafe terdekat. Freya memesan Spaghetti dan juga Jus Jambu. Sementara Farrel, pria itu memutuskan untuk memesan Nasi goreng dan juga Jus Alpukat.


"Permisi. Kak, Gerald nya gak diajak?"


Sial! Kenapa kecebong yang satu ini harus muncul, saat Freya akan menyelesaikan pesanan makanannya.


"Kak Gerald lagi dirumah, katanya dia males keluar karena ada lo."


"Ssstt! Dek, bahasanya." Farrel menyentil pelan mulut pedas adiknya itu. Pria itu memberikan senyum termanisnya kepada wanita gila dihadapannya itu. "Gerald nya lagi gak enak badan, dan oh ya, kamu udah sembuh, ya? Sama siapa jalan kesini?"


Nara menunjuk salah satu pria yang ada di meja tempat ia duduk. Farrel dan Freya sama-sama mengalihkan pandangannya kearah meja yang dimaksud.


"Dek, Gak apa-apa?"


Bukan tanpa alasan Farrel menanyakan hal itu kepada Freya. Karena ternyata pria yang bersama Nara saat ini adalah Kelvin Adrean, yang notabenenya adalah pacar dari adik kecilnya sendiri. Farrel membawa Freya kepelukannya, ia takut jika tangisan adik kecilnya itu terdengar di seluruh cafe.


"Ada hubungan apa kamu sama Kelvin?"


"Cuma temen, Kak. Tadinya aku kesini mau bareng Gerald, tapi dia bilang, dia lagi ada urusan sama Rezvan. Yaudah aku mutusin buat ngajak Kelvin aja, dan Alhamdulillah nya dia mau."


Selagi Farrel dan Nara berbincang. Freya, gadis itu memutuskan untuk memberi pesan kepada Kelvin. Freya berharap jika pacarnya itu jujur. Doakan saja.


To: Kak Kelvin 🐻


Kak, lagi ada dimana?


Freya mengalihkan pandangannya kearah Kelvin sebentar. Terlihat pria itu sedang melihat handphone miliknya dengan senyuman yang terlihat di wajah tampannya.


From: Kak Kelvin 🐻


Lagi di rumah, sayang. Lagi main ps sama Erick


Lihat, bukan? Sudah Freya duga Kelvin pasti akan berbohong.


To: Kak Kelvin


Lihat kearah kanan deh, kak.


Diujung sana, Kelvin terlihat mengalihkan pandangannya kearah kanan. Dan pada saat itu juga matanya bertemu dengan mata Freya. Freya melambaikan tangannya kearah pacarnya itu.


From: Kak Kelvin 🐻


By, aku bisa jelasin


Ah, sudahlah :)


.............