My Protective Brothers

My Protective Brothers
She's my sister, you didn't forget, right? #PART 30



"Dek, mau Kebab gak?"


Freya menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia berlari kearah kamar Rezvan, lalu mengambil beberapa Kebab yang Rezvan punya. Rezvan menghembuskan nafasnya pasrah. Seharusnya tadi ia tak menawarkan Kebab kepada adik durhakanya itu.


"Ya Allah, dek. Ngambil nya cukup satu aja, jangan banyak-banyak. Kasian Rezvan nya,"tegur Farrel.


Freya mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu berjalan kearah Farrel, lalu ia duduk dipangkuan kakak tertuanya itu.


"Kakak gak mau liat Freya nangis, kan?"


Farrel mengangguk.


"Kalo gitu jangan suruh Freya buat ngembaliin semua Kebab ini ke Kak Rezvan, terus semua cemilan yang Kakak punya, wajib dikasih ke Freya."


Farrel tertawa kecil. Pria itu mengecup pipi kiri dari Freya, lalu setelah itu ia menyerahkan semua cemilan miliknya kepada adik kecilnya. "Kalo mau bilang aja, gak usah ngancem kaya tadi segala. Kakak pasti ngasih buat kamu kok."


Freya tersenyum. Tanpa mengucapkan rasa terimakasih kepada Farrel, gadis itu langsung berlari kearah kamarnya. Dan meninggalkan Farrel yang masih shock akan kelakuan durhaka adiknya itu.


"Bang, gue sama Gerald mau keluar rumah dulu bentar ya."


Farrel mengalihkan pandangannya kearah kedua adik laki-lakinya itu. Ia tersenyum kearah Azri dan juga Gerald. "Lo masang CCTV di mobilnya si Kelvin, kan? Dan sekarang lo mau mata-matain si Kelvin karena lo tau kalo sekarang si Kelvin lagi jalan-jalan sama Nara. Gimana gue bener, kan?"


Azri mengangguk malas. Ia sudah tidak kaget lagi tentang hal itu. Jika dilihat-lihat, Farrel memang seperti Kakak yang tidak tahu akan masalah adik-adiknya, akan tetapi yang sebenarnya terjadi, Farrel selalu mengawasi semua pergerakan keempat adik-adiknya itu. Maka tak heran jika ia mengetahui masalah tentang adik kecilnya, tanpa bertanya kepada Azri ataupun Gerald terlebih dahulu.


"Kalo lo gagal, gue yang bakalan turun tangan."


Gerald bergidik ngeri mendengar perkataan dari kakaknya itu. Percayalah, ia lebih baik disiksa oleh kakak keduanya, yaitu Azri. Pasalnya, sewaktu ia kecil, ia pernah disiksa habis-habisan oleh Farrel. Jika Azri mengandalkan tangan kosong, maka Farrel sebaliknya. Pria itu lebih suka menggunakan benda-benda tajam. Hal inilah yang membuktikan jika Farrel lebih berbahaya dari seorang Azri.


"Mau bunuh si Kelvin pake pisau?"tebak Azri.


Farrel tertawa kecil. Pria itu bangkit, lalu perlahan mendekati Azri. Farrel menepuk pelan pundak adiknya itu. "Pake pisau? Hahaha. Gue bakalan pake tangan kosong kali ini, mana sudi gue kalo pisau kesayangan gue itu ternodai sama darah kotornya si Kelvin."


Jika biasanya Azri tertawa akan jawaban dari Kakak tertuanya itu, maka kali ini berbeda. Ia lebih baik diam saja. Pasalnya, dia tahu keganasan seorang Farrel jika sedang bertarung. Ia juga pernah meremehkan Farrel, dan akhirnya ia kalah tarung dari Kakaknya itu.


"Ngapain kalian diem aja? Sana pergi, habisin si Kelvin sekalian, jangan lupa bawa tulang sum-sum nya buat gue."


Farrel..... :)


Setelah semuanya beres, Gerald dan Azri mulai pergi kearah tempat tujuan. Mereka turun dari mobil, lalu mengawasi Kelvin yang sedang makan bersama dengan Nara. Azri tahu jika Nara adalah sahabat dari Kelvin, akan tetapi ia takkan membiarkan Kelvin menyakiti hati Freya. Cukup Gerald saja yang tersakiti melihat adegan romantis ini, Freya jangan.


Azri dan Gerald mulai masuk kearah restoran itu, mereka berdua duduk tepat disebelah kanan meja dari Kelvin dan Nara. Nara yang menyadari hal itu, ia tersenyum kearah Gerald. Sementara Kelvin, pria itu lebih memilih untuk menghindari kontak mata antara dia dengan Azri.


"Kak, gue mau spaghetti, tapi uangnya di lo, ya?"


Azri mengangguk, akan tetapi mata dari pria itu tetap mengarah kepada seorang Kelvin Adrean. Kelvin yang memang tidak bisa bermasalah dengan seseorang, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak ngobrol pria ganas itu. Beruntungnya Azri mau berbicara dengannya.


"Gini, Zri. Lo ada masalah apasih sama gue? Gue cuman makan siang bareng Nara. Lo jangan cemburu gitu, gue sama Nara cuman sahabatan."


"I don't care. It's not about Nara, it's about my sister. You don't forget that Freya is my sister, right?"


"G-gue udah izin kok sama Freya."


Azri tertawa sinis. "I don't like liar friends,"tekannya.


Percayalah jika sudah seperti ini, Kelvin lebih baik mati saja. Berhadapan dengan seorang Azri sama saja seperti berhadapan dengan malaikat maut. Kelvin menjadi tak berdaya jika dihadapan pria ganas ini.


"You want to die, Kelvin Adrean?"


Azri menendang perut dari temannya itu. Kemudian ia memegang leher dari Kelvin lalu membuat ukiran yang cukup menarik menggunakan sebuat cutter yang tadi ia bawa.


"This is just me, Gerald hasn't involved yet. Ah... don't let Farrell also get involved. You can die in just 2 seconds."


Kelvin tertawa renyah. "Farrel? Gue gak takut sama dia. Kakak lo yang satu itu memang lemah."


Azri tersenyum smirk. "Lo lupa yang ngebunuh bapak kepala sekolah dulu itu siapa?"


Kelvin terdiam kaku. Otaknya kini memutar kejadian mengerikan itu. Kejadian dimana Farrel mengeluarkan kekuatannya yang sebenarnya. Kelvin ada di lokasi kejadian, bersama Azri. Sebenarnya Azri yang akan menghabisi bapak kepala sekolah gila itu. Akan tetapi ia terkena pukulan terlebih dahulu. Melihat adiknya yang disakiti, Farrel mulai menunjukkan siapa diri dia yang sebenarnya. Azri memang seram jika sedang emosi, akan tetapi dibalik itu semua, masih ada Farrel yang lebih menyeramkan.


Azri menepuk pelan pundak temannya itu. "Stop disappointing my sister. I won't be responsible, if Farrell intervenes."


TBC.......