
Happy reading....
Pagi ini,Freya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat bersemangat. Mood nya hari ini juga terasa sangatlah baik. Freya keluar dari kamarnya,kemudian pergi kearah meja makan untuk menemui ketiga kakak nya yang sedang sarapan bersama.
Freya mengucapkan selamat pagi kepada ketiga kakak nya itu, dan ketiga kakak nya itupun membalasnya. Rezvan memerintahkan adik kecilnya itu untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, dan untungnya adiknya itu langsung menurutinya. Selesai sarapan bersama,mereka berempat pun memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil milik Farrel. Farrel melajukan mobilnya itu dengan kecepatan sedang,karena prinsipnya itu 'biarkan lambat asalkan selamat'. Sungguh berbanding terbalik dengan kelakuan Azri,bukan?
10 menit kemudian,mereka berempat pun sampai di area sekolah. Freya turun dari mobil terlebih dahulu,disusul oleh Azri,Rezvan, dan yang terakhir Farrel. Mereka berempat jalan beriringan,dan kemudian Farrel harus berpisah dengan mereka bertiga tepat di depan kelasnya,yaitu kelas 12. Sementara Azri dan Rezvan? Kedua pria tampan itu memutuskan untuk mengantar terlebih dahulu adik kecilnya kedalam kelas. Setelah selesai,mereka berdua pun pergi kearah kelasnya masing-masing.
"Tumben dianterin kak Azri sampe kedalem kelas,Frey?"goda Rani,teman sekelas Freya.
Freya menatap temannya itu dengan tatapan herannya. Tak biasanya Rani peduli tentang urusan pribadinya. "Yang tumben itu elo,tumben lo kepo tentang urusan gue? Biasanya juga cuek bebek aja,"balas Freya.
Rani tersenyum manis kearah temannya itu. "Ya,jelas lah gue harus kepo,kan lo calon itu calon adik ipar gue,"jawab Rani dengan pd.
Freya menatap temannya itu dengan tatapan jijik nya. Sejak kapan temannya itu menjadi alay dan halu seperti ini?
"Ihh,najis!"batinnya ngeli.
...•••••••••••••••...
Setelah melewati satu per satu pelajaran yang membuat otak pusing tujuh keliling,akhirnya waktu istirahat pun tiba. Anatha menghampiri keempat sahabat nya itu dengan wajah yang merah merona.
"Kenapa lo,Nat? Kok kayaknya kaya yang lagi malu-malu gitu?"tanya Delsya penasaran dengan tingkah laku sahabat nya yang satu ini.
"G--Gue di---ditembak sa--ma ka-k D--dalbert kemarin,"jawab Delsya jujur.
Keempat sahabat nya yang mendnegar hal itupun,mereka tersentak kaget. Tak ada angin lewat,tak ada hujan turun,Dalbert tiba-tiba saja menembak Anatha. Ini benar-benar aneh.
"Gimana ceritanya?"tanya Alice penasaran.
"Jadi gini-----"
Flashback On...
"Macet parah ya,Nat!"eluh Dalbert.
"Iya,kak. Macet nya parah,nih!"timpal Anatha.
"Nat,aku mau ngomong serius sama kamu,"ucap Dalbert gugup.
"Ngomong aja,kak. Gak usah pake gugup segala,"ucap Anatha sembari memegang tangan Dalbert.
"E--eum...jujur ya,Nat! Sebenernya kakak itu udah suka sama kamu dari lama,tapi waktu kakak mau nembak kamu,selalu aja ada hambatan. Dan menurut kakak,saat ini adalah waktu yang tepat untuk nembak kamu. Anatha Natuzion,mau gak kamu pacaran sama kakak? Maaf kalo cara nembaknya ini gak romantis,tapi kakak bener-bener tulus mencintai kamu,Anatha!"jujur Dalbert.
Anatha yang mendengar pengakuan itupun,ia tersentak kaget. Dirinya tak menyangka,jika Dalbert,seorang pria yang sangat famous di sekolahnya,bisa mencintainya dalam waktu yang cukup singkat seperti ini,
Dalbert yang mengetahui perasaan Anatha saat ini,ia mengusap puncak kepala gebetannya itu. "Jangan dijawab sekarang,Nat! Kakak tau kamu masih kaget. Kakak bakalan tunggu jawaban kamu nanti,ya! I Love You,sayang!"bisik Dalbert sembari membawa Anatha kepelukannya.
Flasback Off.
Alice yang sedari tadi mendengarkan cerita sahabat nya itu,kali ini,ia mengacak rambutnya frustasi. Jika ia menjadi Anatha,mungkin tanpa berpikir panjang lagi,ia akan langsung menerima Dalbert sebagai pacarnya. Anatha benar-benar bodoh,batinnya kesal.
"Kenapa lo gantung sih,Anatha!!!"frustasi Delsya.
"Gue belum yakin,"ucap Anatha sembari menundukkan kepalanya. Freya yang melihat hal itu,dirinya berjalan pelan mendekati Anatha,sesudah ada dihadapannya,ia mengusap punggung Anatha dengan pelan. "Percaya sama gue kalo kak Dalbert itu serius sama lo,Nat! Kak Dalbert gak pernah main-main kalo soal cinta,dia yang paling setia setelah kak Azri. Saran gue,lo terima aja kak Dalbert,Nat!"jelas Freya.
Anatha tersenyum kepada sahabat nya itu. "Makasih sarannya,Frey!"ucapnya yang diangguki Freya.
"Kantin,yuk! Gue laper,nih,"ajak Mikaela yang sudah kesal.
"Yuk,yuk!"putus Freya mengalah,karena jika Mikaela sudah mengamuk,maka akan sulit menenangkannya, Hal itu akan berbahaya bagi sekolah ini.
Mereka berlima pun pergi kearah kantin dengan gaya ciri khas nya masing-masing,sesampainya di kantin,Freya mengajak keempat sahabat nya itu untuk bergabung bersama Farrel dkk. Karena,meja yang lain sudah sangatlah penuh,yang tersisa hanyalah meja yang ditempati oleh Farrel dkk.
Entah disengaja atau tidak,Anatha duduk tepat di sebelah Dalbert. Freya yang melihat kejadian itupun tersenyum senang. Kayaknya uang gue bakalan awet nih,batinnya senang.
Dalbert tersenyum manis kearah Anatha, dan Anatha juga melakukan hal yang sama. "Nat,gimana jawabannya?"tanya Dalbert yang meminta kepastian.
Anatha tersenyum malu-malu,tak lupa ia pun menganggukkan kepalanya pelan,pertanda bahwa ia menerima Dalbert sebagai pacarnya. Dalbert yang melihat jawaban Anatha pun tersenyum senang. Tak sia-sia ia memperjuangkan gadis polos dihadapannya ini. "Makasih,ya!"ucapnya yang dibalas anggukan singkat oleh Anatha.
Alice yang melihat kejadian itupun,dirinya menatap Rezvan yang ada dihadapannya dengan tatapan sendunya. "Andai kak Rezvan juga nembak gw,"halunya sungguh tidak lancar.
See you next part,babai!