My Protective Brothers

My Protective Brothers
Menginap #PART 12



Happy reading.....


"Saya mencium aroma-aroma orang yang baru saja jadian,"goda Freya sembari menirukan gaya yang biasa dilakukan oleh Roy Kimochi.


"Siapa?"tanya Nichol penasaran.


"Disebelah lo,kak!"jawab Freya sembari menatap Anatha dengan tatapan menggodanya.


Nichol mengalihkan pandangannya kearah Anatha,Anatha yang diperhatikan seperti itupun tersenyum manis.


"Iya sih,gue gak seganteng Nichol,tapi hargain dong,ni pacar ada di samping masih aja genit ke cowok lain,"sindir Dalbert.


Anatha menatap kekasihnya itu dengan tatapan herannya. "Kakak nyindir aku?"tanyanya.


"Bisa mikir,kan? Apa gunanya otak kalo gak dipake,"ucap Dalbert pedas.


Freya yang melihat pertengkaran ini pun,ia langsung mengkode Kelvin agar memisahkannya. Kelvin yang tak mengerti akan kode itupun,ia hanya mengangkat sebelah alisnya kearah Freya.


Freya menepuk jidatnya pelan. Kelvin benar-benar pria yang tidak peka!


"Udah-udah jangan debat,baru aja jadian masa udah berantem,sih!"tegur Freya.


"Biarin,dek. Seru!"timpal Azri yang masih memperhatikan acara ribut Dalbert dan Anatha dengan antusias.


Freya memukul kepala kakak nya itu pelan,jika dibiarkan lebih lanjut,Azri akan semakin menjadi-jadi. "Awssh! Sakit,dek!"ringis Azri.


Freya memutar bola matanya malas,kakak nya ini sangatlah alay. "Lebay!"sindirnya.


Farrel yang melihat kerusuhan ini pun,ia mengacak rambutnya frustasi. Jika membunuh itu tidak dosa,mungkin saat ini ia sudah melakukannya. "STOP! Gue pusing liat kalian ribut terus,diem dikit napa! Gue pusing liatnya. Sekali lagi kalian ribut kaya tadi,gue laporin ke kepala sekolah!"ancam Farrel yang membuat nyali Freya,Dalbert, dan Anatha ciut seketika. Azri? Pria itu hanya cuek bebek saja,ia tahu bahwa ancaman dari kakak tertuanya itu hanyalah gertakan semata.


Farrel menatap adik dinginnya itu dengan tatapan herannya. "Lo gak takut sama ancaman gw,Zri?"tanyanya.


Azri memutar bola matanya malas. "Ngapain takut,gak penting juga,"jawabnya dengan nada dingin.


Farrel mengepalkan tangannya kuat-kuat. Adiknya itu benar-benar sangat menyebalkan. "Sialan!"umpatnya kesal.


...••••••••••••••••••...


"Eh,ini gurunya pada kemana,sih?! Perasaan dari tadi ditungguin gak dateng-dateng,"gerutu Delsya kesal.


"Guru-guru lagi pada rapat,kan tadi udah di umum-in sama kak Farrel,"timpal Dewi,salah satu anggota osis.


Delsya menatap temannya itu dengan senyuman polosnya. "Hehehe,maaf! Lo tau sendiri kan,kuping gw agak-agak,"ucapnya yang membuat Dewi tertawa kecil seraya menganggukkan kepalanya mengerti.


Delsya berjalan kearah meja Freya dan Mikaela dengan amarah yang memuncak,saat sudah sampai dihadapan meja kedua sahabat nya itu,Delsya langsung saja memukul mejanya itu,hingga membuat sang pemilik mejanya itu terbangun dari tidur cantiknya.


Freya menatap sahabat nya itu dengan tatapan tajamnya,sementara yang ditatap hanya tersenyum polos. "Maaf!"ucap Delsya yang tak merasa bersalah sedikit pun.


Baik Freya maupun Mikaela,mereka berdua sama-sama menghembuskan nafasnya pasrah. Ingin marah pun mereka berdua tidak bisa melakukannya,ini Delsya sahabat mereka yang jika dibentak sedikit saja,maka akan menangis sejadi-jadinya, dan Freya tak bisa melihat jika sahabatnya itu menangis.


Delsya mengangguk paham. "Iya,gue gak akan ngulangin lagi. Maafin gue ya,Frey,Mik!"ucap Delsya merasa bersalah.


"Iya,gak apa-apa,"balas Freya.


...••••••••••••••••••...


Selepas pulang sekolah Dalbert dkk dan juga Delsya dkk memutuskan untuk menginap di rumah milik keluarga Freya kembali,hal itu disebabkan karena Freya merasa kesepian karena kedua orang tuanya masih belum pulang. Sesampainya di rumah milik keluarga Freya,Erick langsung saja duduk di ruangan keluarga,tanpa meminta izin terlebih dahulu. Benar-benar tidak sopan!


"Eh,nonton film horor,yuk!"ajak Dalbert yang masih berusaha untuk melepaskan sepatunya.


"Saran yang bagus,yuk nonton. Lo bawa kasetnya,gak?"tanya Aland yang dijawab gelengan kepala oleh Dalbert.


"Kaset horor? Cari aja tuh di kamar gue,banyak kok,tinggal pilih,"titah Farrel.


Aland menganggukkan kepalanya senang,tanpa berlama-lama lagi ia langsung saja menarik lengan Dalbert untuk menemaninya mencari kaset horor di kamar Farrel.


"RELD,KAMAR LO YANG MANA?"teriak Dalbert dari arah atas.


"TEMBOK ITEM,PINTU PUTIH ADA TULISAN 'I LOVE YOU' NYA,"jawab Farrel.


"OKE."


Aland. Pria itu mengeluarkan semua kaset yang ada di kamar Farrel. Ia mencari kaset horor yang menurutnya menarik,dan untungnya ia menemukannya. "Mau nonton 1 kaset apa 2,Bert?"tanyanya kepada Dalbert.


"1 aja,kalo 2 durasinya kepanjangan,males gue!"jawabnya.


Aland tersenyum smirk kearah sahabat nya itu. "Halah,bilang aja takut,"ledeknya.


Dalbert menatap tajam sahabat nya itu. "Ssstt! Itu aib gue,"ucapnya yang membuat Aland tertawa pelan.


Ada-ada aja, batin Aland.


...••••••••••••••••...


Entah apa yang dipikirkan Freya saat ia tiba-tiba saja memeluk badan seorang Kelvin saat hantu dari film horor itu muncul. Azri yang melihat hal itupun,ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Azri juga mengkode adik kecilnya itu agar segera pindah tepat disampingnya, Dan untungnya Freya mengerti akan hal itu.


"Kalo kamu takut peluk aja kakak,jangan cowok lain,"tegas Azri yang dibalas anggukan singkat oleh Freya.


Setelah itu,mereka berdua fokus kembali menonton film nya. Merasa bosan,Freya menyandarkan kepalanya itu kearah dada bidang Azri,Azri yang merasa tak terganggu sedikitpun hanya diam saja.


"Kak,adek ngantuk,"rengek Freya kepada Azri.


Azri mengusap puncak kepala adiknya itu. "Tidur gih,ngapain curhat?"balas Azri.


Freya menggerutu kesal. Sungguh,kakak dinginnya ini sangatlah tidak peka. Jika Azri bukanlah kakak kandungnya,mungkin Azri sudah Freya buang kearah pantai. "Ngeselin ya,bund!"batinnya kesal.


see you next part,babai!