
Setelah menjemput Anya di sekolah, Aku membelikannya ice cream dan mengantarnya pulang. Pikiranku terus terbayang pertanyaan Fani yang membuatku sedikit tercengang. Darimana dia tau aku pergi menemui D-Roft.
Aku lupa jika Aku telah membuat janji menemui D-Roft malam ini. Apa yang harus aku katakan pada Anya soal ini. Apa yang akan Anya lakukan jika Ia tau aku bersama geng itu. Sungguh, Aku tak seberani penampilanku.
Aku tak lebih dari seorang pengecut. Apa jadinya jika dia tau apa yang sebenarnya terjadi. Entah sejak kapan, tapi aku benar benar menyayanginya.
Kupacu motorku malam itu. Aku tak bisa ingkar janji soal D-Roft.
“Dan, sejak kapan lo telat?”
“Sorry tadi macet.”
“Dan, Lo kenapa sih? Lo itu ketua geng. Tapi akhir-akhir ini sering telat. Lo bahkan absen waktu pertemuan markas besar. Lo juga gak pernah minum waktu kita menang. Geng kita jadi redup semenjak lo sibuk sama urusanmu sendiri. Lo sering banget nolak kalo kita ajak tawur!" kata Axel padaku.
“Xel!” Aku memotong perkataan nya.
Sungguh, Aku tak bermaksud mengabaikan geng ini. Tapi aku benar-benar tak tau apa yang harus ku lakukan.
“Lo udah bosen sama kita-kita? Lo panglima D-roft bro! kemana aja lo waktu Bisma ketangkep kemarin?" kata Axel melanjutkan.
“Dia ketangkep?" Aku sangat kaget mendengarnya.
“Kita itu sehidup semati Dan, jangan sia- sia in kepercayaan kita dong!” Axel melanjutkan perkataannya.
"Lo denger ya Xel, pemimpin geng ini gue! kalo gue gak nyuruh kalian buat nyerang, jangan pernah kalian nyerang duluan! ngerti?" Aku sangat marah dengan tingkah Axel yang sangat gegabah.
"Dan,"
"Gue gak suka sama orang yang sok berkuasa, kalo lo kayak gini terus, mending lo keluar dari geng ini!" bentakku pada Axel.
“Gue akan tebus Bisma sekarang." Aku berjalan menuju parkiran motor. Tiba-tiba Aang memukulku tepat di pipiku.
“Sahabat macam apa sih lo! Kami gak butuh uang Dan. Mana Danar yang dulu? Kalo lo udah gak sanggup mimpin kita, bilang!" Aang terlihat sangat marah padaku.
Aku paham apa yang dia maksud. Aku paham jika mereka kecewa padaku.
“Udah Ang,” kata Genta melerai kami.
Aku masih diam terduduk di trotoar. Ku sentuh ujung bibirku. Ada darah di sana, tapi aku merasa tak berhak untuk membalas pukulan Aang. Aku pantas mendapatkannya.
“Sorry Dan, gue emosi.“ kata Aang padaku. Ia lalu meninggalkan kami. Aku mengendarai motorku ke kantor polisi. Tempat Bisma tertangkap.
Setelah urusan Bisma selesai, Aku pergi menemui Vesa. Vesa dan aku adalah teman baik. Kami pernah menjalin hubungan sebelum aku dan Anya pacaran. Mungkin karena aku terbiasa dengannya, jadi aku memutuskan untuk tetap berteman dengan Vesa.
Ku pencet bel rumah Vesa. Sesekali ku lirik rumah Fani yang berada di depan rumahnya. Aku tak mau Fani melihatku datang kesini. Ia tau jika Vesa adalah sahabatku. Dia juga tau seperti apa hubungan kami di masa lalu. Aku tak mau Anya salah paham atas hubunganku dengan Vesa sekarang.
”Ves,” Dia membukakan pintu untukku. Ia kaget melihat mukaku yang lebam.
“Kamu kenapa?” tanyanya sambil melihat luka di sudut bibirku. Aku memegang tangannya yang hampir saja menyentuh lukaku.
“Sini masuk, Aku ambil obat buat obati lukamu," katanya padaku.
"Diluar aja, Aku gak enak sama Reno." Aku duduk di teras rumahnya.
"Dia belum pulang, tenang aja," Vesa menarikku ke dalam. Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya
"Aku kompres dulu lukanya, biar gak tambah bengkak." Vesa mengompres lebam yang ada di pipiku.
“Lagian kamu ngapain kok bisa babak belur gini ?" Tanya Vesa meyelidik.
“Tadi anak-anak marah sama aku karena gak becus jadi ketua.“ Aku masih menahan sakit karena luka di sudut bibirku.
“Kamu ngapain masih gabung sama geng itu sih Dan? Kamu gak kapok? Kamu hampir bunuh orang karena geng itu Danar!" Vesa berbicara panjang lebar menasehatiku.
“Stop Ves!" bentakku pada Vesa.
“Sorry," kata Vesa memegang tanganku.
"Kamu tau kan Aku gak ada niat sama sekali buat nusuk orang itu? ini kecelakaan Ves!” Aku menangis merasa bersalah dan frustasi di depan Vesa.
“Udah Dan, lagian bukan karena kamu orang itu mati. Dia mati karna ketabrak Dan." Vesa memelukku. Pelukan hangat sebagai orang yang masih mengasihiku. Bisa jadi ini adalah pelukan kasihan karena aku menangis.
Rasa bersalahku pada Vesa sangatlah besar. Aku memutuskan hubungan dengan orang sebaik dia hanya untuk menebus dosaku. Aku tak mau dia tersangkut dengan masalah ini. Aku tak mau dia menanggung semua kesalahanku.
“Ves,”kataku membuka percakapan antara kami yang sempat hening .
“Kamu gak pernah cerita apapun soal Geng D-Roft ke Fani kan?" kataku menyelidik.
“Enggak! sama sekali," katanya padaku.
“Berjanjilah kamu gak akan cerita apapun tentang geng itu ke Fani. Dia teman deket Anya. Aku gak mau Anya tau yang sebenernya," kataku padanya.
“I will keep my promise." Senyumannya membuatku semakin tak tega berlama –lama di rumahnya. Rasa bersalahku sangat besar pada Vesa.
Tak lama Reno pulang kerumah. Reno sangat tak suka denganku. Semenjak kami putus, Reno tak sekalipun pernah menyapaku. Dia tau alasan Vesa dan aku putus. Dia tau aku memutuskan Vesa karena ingin menebus dosaku pada seseorang.
“Ngapain kesini?”katanya ketus padaku.
”Gue cuma mampir kok, ini udah mau pulang.”
“Makasih buat obatnya,“Aku tersenyum pada Vesa. Vesa hanya mengangguk melihatku.
Setelah keluar dari rumah Vesa, Aku dengar suara ribut antara mereka berdua.
“Ngapain kamu bawa bajingan itu masuk? Apa gak ada cowo yang lebih baik dari dia?” Aku dengar suara Reno membentak Vesa dengan kasar.
Aku menghela nafasku.
"Kak! Danar itu baik. Lagian aku cuma mengobatin lukanya aja."
Kupacu motorku dengan cepat. Aku tak mau mendengar mereka bertengkar karenaku. Malam itu, terlintas dipikiranku untuk mengakhiri semua. Entah mengakhiri hubunganku dengan Anya, atau hidupku. Aku berfikir untuk mengubur rahasia ini sampai mati.
Kupacu kendaraanku lebih cepat entah kemana.
“Aku bodoh!” Aku berteriak frustasi di sepanjang jalan.
Kulihat mobil melaju didepanku. Aku kaget melihatnya. Semua terjadi, aku terlempar setelah menabraknya. Entah apa yang terjadi padaku. Rasanya jika detik itu adalah saat terakhirku, aku ingin memeluk Anya. Aku teringat betapa sedihnya Anya saat itu. Aku mengingat Anya yang hanya bisa tertunduk lesu di depan jasad kakaknya.
Sekilas kuingat kembali bayangan orang itu. Orang yang aku bunuh malam itu. Orang yang sangat berarti untuk Anya.
...****************...
Hai temen temen, buat kalian yang baru baca bab ini silahkan skip bab 6,7, 8, 9, 10, 11 ya, karna bab tersebut sudah aku revisi. Silahkan langsung ke bab 12 saja biar ga bingung, enjoy 😊😊😊