My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
TRAGEDI MASA LAMPAU



5 menit kemudian hp nya aktif.


"bang, kemana aja sih... kita nungguin abang, mama cemas banget tau, abang dimana?" kataku di dalam telfon.


Aku shock mendengar jawaban orang di sebrang sana. Aku menjatuhkan hp yang ku pegang. kakiku lemas tak dapat lagi menopang tubuhku. Darahku seperti berhenti mengalir di setiap jengkal pembuluh darahku. Membuatku tak sanggup untuk berdiri lagi. Aku masih mencerna apa yang baru saja aku dengar. Aku tak tau apa ini hanya mimpi atau nyata. Aku tak bisa membedakannya. Papa yang melihatku langsung menghampiriku.


"An... " papa menangkap tubuhku dari belakang. Raut mukaku sangat pucat karna shock.


"pah... bang Erik pah..."


"abangmu kenapa?" kata mama ikut panik.


"abang kecelakaan... " kami bertiga sangat shock malam itu. Papa menyetir sangat panik. Aku benar benar takut saat itu. Aku takut bang Erik kenapa kenapa. Aku takut kami juga kenapa kenapa mengingat papah menyetir tak tentu arah.


Papa melajukan mobil di tengah garis marka. Menyalip semua mobil yang ada di depannya. Kami menuju rumah sakit malam itu. Untungnya jalan tol cukup sepi mengingat waktu itu sudah mulai larut. Mama masih menangis di pundakku. Pikiranku sangat cemas menerawang ke depan. Bagaimana nasib Abang disana. Hp bang Erik sudah tak aktif lagi. Kami benar benar tak bisa menghubungi siapapun saat itu. Hanya SMS yang berisi alamat rumah sakit yang menjadi tujuan kami.


"pah Anya yakin abang ga kenapa kenapa, Anya yakin abang kuat, papa pelan pelan aja nyetirnya, kasihan mama" kataku pada papa. Papa masih tak merespon. Tapi aku tau papa mendengarkanku. Aku melihat matanya dari kaca spion tengah. pertama kalinya aku lihat papa menangis. lebih tepatnya menahan tangisnya agar tak jatuh atau terdengar oleh kami. Kacamata yang dipakainya memantulkan cahaya dari air yang ada di pelupuk matanya. Aku Bingung harus apa saat itu. Pikiranku juga kalut. Tapi aku harus tenang menghadapi keadaan.


Kami tiba di Rumah sakit 30 menit kemudian. Papa dan mama berlari ke arah pusat informasi di rumah sakit itu. Seorang perawat mengantarkan kami ke UGD. Papa menanyakan keadaan bang Erik pada seorang dokter.


"dok... Erik dimana dok, erik anak saya dimana" kata papa pada dokter itu.


"maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, yang tabah ya... anak bapak sudah tenang sekarang" kata dokter itu pada papa.


Aku dan mama yang mendengar perkataan itu langsung lemas. Kakiku seperti mati rasa. Mama langsung berlari mencari keberadaan bang Erik.


Disanalah dia. Ranjang pojok Ruang UGD. Dokter bilang bang Erik meninggal karna kehabisan darah. Ia meninggal 5menit yang lalu. kata dokter, bang Erik tertabrak truck di jalan. Aku masih tak percaya mendengarnya. Mama memeluk bang Erik sangat erat. Ia menangis memeluk bang Erik.


Papa tak jauh berbeda. Papa menangis di depan jenazah bang Erik. Aku masih tak menyangka akan melihat pemandangan ini di ulang tahun mama. Aku hanya terduduk lemas di lantai. Kakiku seperti tak sanggup untuk berjalan menghampiri bang Erik. Bahkan untuk sekedar merangkak meraih tangannya aku tak sanggup.


Kulihat kain putih yang menutup tubuh bang Erik. Aku sangat sedih melihatnya. masih ada bercak darah di beberapa bagian kain itu. Aku masih mencerna apa yang aku lihat malam ini. Papa menangis sangat keras. Tak pernah kulihat papa menangis seperti ini. Malam itu adalah malam yang panjang sekaligus mimpi buruk bagi kita ber empat.


......................


flashback off.


Masih banyak pikiran yang menggangguku. Kurebahkan tubuhku di kasur. Aku memegang fotoku dan bang Erik di tanganku. Foto yang aku ambil 3tahun yang lalu ketika ulang tahun mama. Sebenarnya masih banyak hal yang mengganjal pikiranku tentang kematian Bang Erik. Tapi kasusnya telah ditutup. Pengemudi truck juga telah ditangkap. Mama dan papa sudah mengikhlskan bang Erik pergi. begitu juga dengan aku. Aku tak mau papa dan mama sedih karna aku masih mengungkit masa lalu.


Aku mencoba memejamkan mataku untuk tidur. Tapi bayangan kejadian saat itu masih membekas di ingatanku. Aku tertidur di dalam tangisku malam itu.


......................


GUE


aku berangkat sekolah pagi ini. Ini adalah hari tenang sebelum senin kami Ujian sekolah. Aku berangkat dijemput oleh Albert. Kulihat Reno didepan rumahnya mengeluarkan motor disusul dengan Vesa.


"Fan... sama siapa?" tanya Vesa padaku.


Albert dengan spontan tersenyum pada Vesa. Vesa juga tersenyum balik padanya.


"cepet dah siang, ntar gue telat" kata Reno dengan judes. Akhirnya Vesa naik ke motornya dan melaju meninggalkan kami.


"Fan duluan ya... bye" kata Vesa berlalu. Reno sama sekali tak menyapaku disana. Dia bahkan seakan tak mau melihatku. Mataku mengikuti kearah mereka berdua menghilang.


"yok..." Kata kata Albert membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum dan memakai helm.


"Kak Reno emang berwibawa kaya gitu ya, aku suka kagum deh sama dia, Pantes kalo banyak cewe yang suka......" Al mengatakan banyak hal sepanjang jalan. Aku tak menghiraukannya sama sekali. Pikiranku terus menuju pada raut wajah Reno yang seakan muak dan tak mau melihatku.


Kami sampai dengan selamat di sekolah.


"thanks" aku turun dari motor dan berjalan meninggalkan Al.


"Fan..." ia memanggilku. Refleks aku berbalik melihatnya. Dia berjalan ke arahku.


"helmnya..." katanya singkat. Dia tertawa melihat tingkahku yang absurd. Pipiku memerah karna merasa malu. Betapa bodohnya aku tak melepas helm karna memikirkan Reno. Kami berjalan menuju kelas masing masing. Aku duduk di kursiku seperti biasa.


"Hai fan fan kipas angin," sapa Anya padaku. Dia tampak senang pagi ini. mungkin karna Danar sudah pulang dari Kalimantan kemarin.


"seneng amat lo" aku membuka bukuku untuk pelajaran pertama.


"iyadong... ayang gue dah balik... kemarin udah dibeliin ice cream, diajak jalan jalan.. dah pokoknya gue dah siap menghadapi ujian sekolah besok senin, separuh napas gue dah balik" iya menghirup udara sambil tersenyum senang.


"serah deh... "aku hanya tersenyum melihat tingkah Anya.


"tau ga reaksi danar pas denger lo ditembak cowo?" katanya sangat bersemangat


"lu ngasih tau ke dia?" aku kaget mendengar ucapan Anya.


"anjir pasti dia ngolok ngolok gue, ih lo ngapain sih cerita sama ka Danar, rese lo sumpah deh" kataku menepuk punggungnya agak keras.


"sakit fani..., ya ga papa lah... hiburan buat kita" kata Anya menaikkan alisnya


"puas kan lo berdua?" kataku padanya. Aku dan dia hanya tertawa setelah itu.


"fan... "


"em..." aku menjawab anya tanpa menoleh. aku masih melihat soal di buku paketku.


"lo mau sampe kapan kaya gini terus sama albert?"