My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
KENYATAAN PAHIT UNTUKKU



AKU


“Neng, bibi pulang dulu ya? Mama neng Fani pulang telat malem ini. Mungkin jam 12 malem an baru pulang. Anak bibi agak sakit jadi bibi harus pulang cepat. Bibi sudah siapkan makan malam di meja. Neng Fani jangan lupa makan ya?" Bi Elis mengetok pintu kamarku.


Aku membuka pintu kamar saat itu juga. "Iya bi, kasihan anak bibi juga dirumah kalau ga ada yang ngerawat." Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.


Setelah bibi pulang, pikiranku kalut mendapati diriku dirumah sebesar ini sendirian.


"Nanti kalo ada suara gimana ya? Kalo mati lampu aku harus lari kemana? Kenapa jadi serem sih!" Aku melihat sekeliling ruangan.


Aku menonton tv sambil mengerudungkan selimut karena dingin. Persetan dengan AC 18 derajat yang tak berani aku matikan.


Setelah aku menunggu lama, akhirnya aku mendengar suara mobil Papa dan Mama. Hatiku sangat lega rasanya. Aku tak turun ke bawah untuk membukakan pintu. Mataku sudah mengantuk dan tak sanggup lagi untuk sekedar menyapa mereka.


Untung saja masing masing dari kami membawa kunci sendiri. Jadi, aku tak perlu repot untuk membukakan pintu.


Tak lama mataku yang mengantuk terpejam. Aku sudah terlelap dalam mimpiku. Keesokan harinya aku bersekolah seperti biasa. Aku cukup senang hari ini karna Mama dan Papa stay untuk sarapan.


Pagi ini aku juga diantar Papa ke sekolah. Sedikit mengobati rasa rinduku pada mereka yang hampir 2 tak kutemui.


"Papa dan Mama besok mau ke Jepang ya nak. Mungkin sekitar 4 hari di sana. Nanti kamu bisa mengajak Anya menginap dirumah, atau kalo kamu takut Mama sama Papa suruh bibi menginap." kata papa padaku.


Mood ku seketika berubah. Obrolan yang tadinya sangat menyenangkan berubah menjadi sunyi.


"Pa, papa ga kangen sama Fani?" kataku membuka percakapan lagi.


"Fani ini sebenernya anak Papa bukan sih? Kayaknya Fani itu ga pernah dianggep. Fani tu iri sama temen temen Fani yang tiap hari dianter sama papa nya. Papa cuma nganter Fani sekali dua kali doang pa! Fani bahkan iri sama temen temen Fani yang cuma dianter papanya pake sepeda." kataku meninggikan suara.


Aku keluar dari mobil setelah selesai berbicara. Tak ada kata pamit kepada papa sama sekali. Aku sangat marah dan kecewa pada mereka. Aku ingin hidup normal lagi. Entah kapan terakhir aku dan keluargaku dapat berwisata bersama.


Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali kami mengunjungi kebun nenek di Ciater.


Sebelum Papa dan Mama mendapat kontrak di Australia, kami sering sekali datang kesana untuk piknik.


Aku berjalan menuju kelas. Hari itu aku sangat marah hingga aku tak bicara pada siapapun termasuk Anya. Dia sendiri paham jika aku sedang diam begitu pasti ada masalah yang menimpaku.


Pulang dari sekolah, Ku rebahkan diriku di atas kasur. Sesekali aku keluar balkon untuk menghirup udara segar. Dadaku serasa sesak. Pikiranku pun sangat kalut. Aku seperti seorang anak yang dibuang.


Beberapa kali Anya mengirimiku pesan. Papa dan Mama memang sengaja menyuruhnya datang ke rumah untuk menemaniku. Tapi, Anya bilang hari ini dia tak bisa datang karna mamanya meminta Anya pergi ke suatu tempat. Bibi juga tak bisa menginap mengingat anaknya yang masih sakit.


"Sendiri lagi," kataku menghembuskan napas berat.


Aku mengambil minum di dapur. Kulihat sekeliling rumah yang kosong.


"Kenapa rumahku jadi horor gini sih? Oh tuhan!" kataku dalam hati.


Tiba-tiba aku mendengar orang membunyikan bel rumahku. Aku kaget setangah mati dibuatnya. Aku berjalan mengendap-ngendap sambil membayangkan siapa yang ada diluar sana.


Refleks aku mengabil sapu dan bersiap untuk memukul siapapun yang ada diluar.


“Siapa?”tanyaku dibalik pintu.


Tak ada jawaban dari luar. Aku mengintip dari jendela. Terlihat orang memakai pakaian hitam.


”Oh tuhan apa dia malaikat maut? Apa dia datang ingin mencekikku karna menjadi anak durhaka pagi ini?” Kataku dalam hati.


"Bukan maling kan ya?" kataku pada diriku sendiri.


Aku membuka pintu perlahan. Sosok itu berbalik menghadapku. Aku kaget setengah mati melihatnya.


"Pergi dari sini, Ngapain kamu datang ke rumahku?" kataku memukulinya.


"Aduh! apa apaan sih kamu ini!" katanya mengeluh kesakitan.


Aku membuka mata perlahan setelah mendengar suaranya. Ternyata itu Reno. Tetangga menyebalkan yang sering menggangguku.


“Hah? kamu? Maaf Ren aku gak sengaja." kataku padanya. Nafasku masih tak teratur karena ketakutan.


“Kirain maling, abis pake baju item semua." Aku menunjuk outfit nya yang serba hitam.


“Idih, mau ngapain?" kataku ketus.


“Nih ibuku baru bikin ini. Pisang goreng masih anget." katanya singkat padat jelas.


“Oh, bilangin makasih ke Ibu kamu.” kataku padanya.


“Yaudah, aku balik dulu Assalamualaikum!" katanya padaku.


“Waalaikumsalam, Ren tunggu! mau kemana?" kataku mencegahnya pergi.


“Pulang lah, kemana lagi."


“Yakin? maksudnya ini piringnya gimana?" kataku sedikit gagap.


Sebenarnya aku sedikit tak rela dia pergi begitu saja. Menginggat aku sedikit ketakutan di rumah sendiri.


"Besok aja, lagian cuma piring putih doang. Kalo piring emas baru aku tungguin." katanya padaku.


"Ibu kamu pernah ngirimin makanan yang lain juga. Piringnya belum aku kembaliin. Tunggu dulu aku ambil, biar sekalian." kataku lalu masuk ke dalam rumah.


"Aku masuk boleh ga?" katanya padaku.


"Masuk aja, duduk sini." aku menarik kursi ruang keluarga supaya Reno bisa duduk.


"Sendiri?" tanyanya padaku.


Aku cuma mengangguk sembari mencari piring yang aku sendiri tak tau ada atau tidak.


"Oh pantesan, takut ya dirumah sendiri makanya nyuruh aku lama -lama?" katanya meledek.


"Kenapa takut? Emang ada apa? hantu? gak mungkin! aku gak percaya sama hal goib kayak gitu." kataku yakin.


“Gak takut, tapi sedia sapu di depan pintu ya?" katanya mengejekku.


“Sialan ini orang!" ocehku lirih.


“Apa?”kata Reno padaku.


“Gak papa" kataku singkat.


"Mau cari sampe kapan neng? Kakayaknya mau dicari sampe pagi pun ga akan ada. Udah lah gue pulang aja." katanya sembari berdiri.


"Piring ini?"


"Besok aja," katanya sambil berjalan menuju pintu.


“Ren,"


"Apa lagi?"


"Boleh minta tolong?" kataku bertanya padanya. Jujur aku tak yakin dia akan menolongku karena ini merupakan kebohongan keduaku.


"Gak!" katanya meneruskan langkahnya.


Aku tertunduk pasrah sambil cemberut.


Memang aku dan Reno tak akan mungkin bisa menjadi teman. Dia sangat kontras denganku. Bahkan selepas percakapan yang cukup panjang setelah beberapa tahun kita tak berbicara, aku masih merasa tak punya kesamaan apapun dengannya.


Entah sejak kapan aku dan Reno menjadi Tom dan Jerry. Padahal aku berteman baik dengan Vesa, adiknya.


"Minta tolong apa?" katanya berbalik padaku.


Tanpa ku sadari, aku tersenyum mendengarnya.


...****************...