My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
CEMBURU



"Tau dari mana?" tanyaku padanya.


"dia cerita tadi" katanya padaku


"sering ngobrol?" tanyanya lagi


"enggak" kataku singkat


"kayaknya aku bakal sering ngobrol sama dia soalnya, Aku mau koordinasi soal osis sama dia" katanya padaku


"buat apa?" kataku spontan


"ya kan aku sebentar lagi udah ga jadi pengawas, dah mau lulus," katanya padaku. Aku lupa jika Albert merupakan anggota osis di sekolahku. Bodohnya aku bertanya hal itu padanya.


Setelah diantar oleh Albert aku masuk ke rumah. ku dengar suara motor kak Reno dari rumahku. Aku mengintip di jendela kamarku. Kulihat dia memasukkan motornya ke dalam.


malam harinya aku tak bisa tidur. Aku teringat soal Reno siang tadi. Aku membuat coklat panas dan duduk di balkon kamarku. Malam ini aku sendiri karna papa mama harus pergi urusan bisnis di Surabaya lagi. Aku tak tau kapan urusan bisnis itu akan selesai. Senin depan aku sudah harus menghadapi ujian sekolah. Aku menghela napas berat.


karna udara yang dingin aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. tak lama, aku mendengar suara dari bawah sana. Itu suara Reno memanggilku.


“Fan?”katanya padaku.


Aku yang sudah meringkuk di balik selimut sangat malas untuk keluar. Reno melempar beberapa kertas yang mengenai depan kaca kamarku. Hal itu sedikit banyak menggangguku. Akhirnya setelah mengumpulkan mood aku memutuskan untuk keluar.


Kertas 1


Fan keluar dong


Kertas 2


Fan lo lagi apa sih


Kertas 3


Fan... gua mau cerita


Kertas 4


Fan lo marah sama gue?


Aku menggaruk garuk kepalaku yang tak gatal ketika membacanya. Kenapa dia memberikanku semua kertas ini. Aku sangat kesal karna banyak sekali kertas berserakan di depan terasku.


"Fan..." Reno memanggil dari bawah.


"Apa?" kataku singkat


"lo tau Fransiska ga?" katanya padaku. Aku teringat soal siska yang berbincang dengan Reno di parkiran sekolah.


"kenapa?"


"menurut lo dia gimana?"


"ya gatau lah... gua bukan temen dia ngapa tanya gue, ga penting banget" kataku judes padanya.


"ye... kan gue tanya.. cantik ya" kata kata Reno membuatku menengok padanya.


"selera lo rendah juga ternyata.." kataku sewot


"masa sih... cantik kok" katanya padaku.


"gua ga perduli dia cantik atau enggak, lo kalo malem malem ganggu gue cuma buat nanyain dia mending jauh jauh deh.. dah gue mau masuk" kataku meninggalkannya.


"lah kok ditinghalin....Fan..." katanya tersenyum.


Aku menutup pintu kamarku dengan kencang. Aku kesal dengan tingkah Reno yang seperti itu. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut tebal. Aku berteriak di dalam bantal untuk meredam suaranya. Entah kenapa aku merasa marah padanya.


"gila ga penting banget sih, dasar buaya" kataku bermonolog.


...----------------...


ANYA...


Aku sudah cukup tenang meninggalkan sahabatku Fani dengan Albert. Dia cukup baik meskipun aku tak tau kapan mereka dan kenapa mereka bisa sedekat seperti sekarang.


Danar membawaku ke tempat yang indah. Sebuah taman bunga yang di daerah Bandung selatan. Aku menghabiskan waktu seharian dengannya disana.


"Dan..." aku menyenderkan kepalakku ke pundaknya


"kenapa?" ia mengusap kepalaku


"kangen" kataku padanya. Dia menatapku dan tersenyum.


" belum juga sebulan aku pergi" katanya padaku.


"ini kenapa?" tanyaku ketika melihat sikunya yang lecet. Aku yakin itu bekas luka karna jatuh.


"gapapa... itu jatuh pas naik motor kemarin" katanya padaku.


"kok ga bilang? pas kamu di Kalimantan?" tanyaku khawatir padanya.


"iya... gapapa kok, cuma lecet aja" katanya mengusap rambutku lagi. Ia tersenyum padaku.


"kamu kalo ada apa apa cerita dong sama aku" kataku padanya.


"iya... orang ga papa kok lecet dikit aja" katanya tersenyum


Aku tak tau mengapa aku merasa Danar menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku tak bisa menebak apa yang dia sembunyikan padaku. Terlalu banyak rahasia yang tak Danar ceritakan padaku. Aku menghela napas berat. Sudah setahun aku bersamanya tapi aku merasa aku belum sepenuhnya mengenal Danar.


"Dan... Fani lagi deket sama cowo" kataku padanya mengalihkan topik.


"dia? sama siapa? ada yang suka sama dia?" katanya kaget. Aku dan dia tertawa karna hal itu. Kita mengenalnya dengan baik. Karna itu Danarpun tak percaya jika ada orang yang menyukai sifat judesnya itu.


"kamu tu ga boleh kaya gitu... Sahabat aku itu, " kataku mencubit pipinya. Aku bercerita tentang Fani yang tiba tiba ditembak oleh Albert. sampai cerita tentang laki laki yang menarik Fani keluar dari lapangan.


"tapi ya Dan... aku yakin deh cowo itu suka sama Fani" kataku padanya.


"siapa emang cowo itu?" tanyanya padaku.


"kamu kayaknya ga kenal sih.. namanya kak Reno, dia itu tetangga Fani, Depan rumahnya persis, dia perhatian banget sama Fani" kataku padanya. Aku melihat raut muka Danar yang berbeda. Dia seperti mencerna setiap kata kata yang terlontar dari mulutku.


"kamu kenal?" tanyaku lagi


"pernah denger sih, tapi ga kenal" katanya padaku.


"o iya..? dia lagi ikut ngajar di sekolahku" kataku padanya. Dia hanya mengangguk mendengar ceritaku.


Kami menaiki motor berkeliling kota Bandung sampai sore. Aku benar benar senang saat itu. Seperti aku dan Danar memang ditakdirkan untuk bersama. Aku tak akan pernah melupakan moment ini.


Danar mengantarku pulang setelah itu. Aku menyuruhnya tinggal sejenak untuk menemui papa, tapi dia memilih untuk langsung pulang. Danar beberapa kali datang ke rumahku. Tapi dia belum pernah masuk untuk menemui papa dan mama.


Andai saja Abangku masih hidup. Dia pasti tak akan pernah menyukai Danar. Karna Dia akan sangat selektif soal laki laki yang dekat denganku. Mama beberapa kali menanyakan soal Danar. Tapi aku sebisa mungkin beralasan soal dia. Untung mama tak begitu memperdulikan soal itu.


Iya, mama tak begitu memperdulikan soal itu. Karna pikirannya masih tertuju pada bang Erik kakakku. Masih ingat sehancur apa keluarga ini saat abang pergi 2 yang lalu. untungnya kami mencoba menerima keadaan walaupun aku sendiri masih mencoba untuk mencari tau alasan dibalik meninggalkanya bang Erik.


Aku mama dan papa sangat terpukul melihat bang Erik bersimbah darah di rumah sakit. Saat itu adalah ulang tahun mama. Kami berniat untuk makan malam di luar.


......................


flashback


"dek.. abang nyusul dari sekolah ya, nanti biar abang belikan kue sekalian" kata bang Erik di telepon


" oke bang, aku dah bawa kado yang kita beli kemarin, abang ati ati ya di jalan, jangan ngebut" kataku padanya.


" beres... yaudah abang harus pergi sekarang" katanya padaku. Aku menyiapkan semua hal yang diperlukan sebelum berangkat. Kami menunggu abang datang malam itu.


21.00


"Coba di telfon An... kok belum datang abangmu itu" kata mama khawatir. Aku menelfon hp nya, tapi tak aktif. Aku mulai cemas dengan keadaan itu. Tak biasanya abang mengabaikan telfonku atau mematikan hp nya. Apalagi ini adalah ulang tahun mama, tak mungkin dia ingkar janji dan tak datang di hari special ini.