
Kulihat disana Eni dan Adi berciuman. Dadaku sesak melihatnya. ingin sekali aku menghampiri Adi dan menonjok mukanya. Aku hanya diam seperti orang bodoh di sana. Akupun menyayangkan kedatanganku ke tempat ini.
"Ren...." kata Alin padaku. Dia cukup kaget melihatku di tempat ini. Alin melihat ke arah Eni dan Adi. Alin tau apa yang terjadi disana. Diapun tampak terkejut melihatnya. Aku menghampiri mereka walaupun aku tau aku yang paling terluka disini. Aku tak mau hal yang lebih jauh terjadi pada Eni.
"Ren..." kata Eni tampak shock melihatku datang.
"Gua anter lo pulang sekarang" kataku menarik tangannya. Tapi hal yang tak terduga terjadi. Eni menolakku. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku.
"aku ga mau..." katanya padaku.
"en... " kataku sedikit membentaknya.
"dia bilang ga mau..." kata Adi padaku. Aku benar benar naik pitam dibuatnya.
"gua ga ada urusan sama lo ya..." kataku padanya. Aku menonjok mukanya. Beberapa orang yang melihat kami disana melerai pertengkaran kami. Eni mendorongku keluar dari tempat itu.
"lo kenapa sih kesini" katanya padaku. Eni terlihat kesal dan frustasi.
"harusnya gua yang kesel sama lo tau ga... lo ciuman sama cowo lain" kataku masih menahan amarahku padanya.
"kalo lo ga sibuk sama kegiatan lo yang sok positif itu. kalo lo ngertiin gua sedikit aja. Kalo lo ngeluangin waktu lo lebih buat gua, ga akan gua kaya gini Ren" katanya padaku
"yang lo lakuin tetep aja salah En..."kataku meninggikan nada.
"terus yang lo lakuin bener gitu?" katanya padaku
aku menatapnya lekat lekat. Kulihat tatapan bencinya padaku disana.
"4 Tahun En.. 4tahun kita sama sama... lo ngecewain gua" kataku tak bisa menahan sakit.
"mungkin emang.... 4 tahun kita ga ada artinya... " katanya padaku. Aku kecewa mendengar kata katanya padaku.
"En..."
"aku mau putus"
"en..."
"mending lo pulang sekarang Ren," katanya padaku. Dia lalu masuk ke dalam. Aku benar benar sedih melihatnya berlalu di depanku.
Aku tak bisa berbuat banyak. Aku juga tak bisa mencegahnya pergi.
Ku pacu motorku dengan sangat kencang. Aku sangat marah pada Eni. Aku tak ingin melepaskannya. Meskipun aku tau jika belakangan ini hubunganku dengannya tak baik baik saja. Tapi aku tak bisa putus darinya seperti ini.
Berita soal aku dan Eni putus sangat cepat menyebar. Bukannyaa apa tapi aku dan Eni memang sudah lama berpacaran. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Eni. Aku mendatangi kelasnya saat pulang sekolah.
"En..." kataku mencegahnya pergi. Beberapa anak yang melihat kami langsung berbisik bisik.
"Kenapa?" tanyanya padaku
"aku mau ngomong sama kamu" kataku padanya. Aku dan dia mengobrol di cafe dekat SMA.
“mau ngomong apa?" kata Eni membuka percakapan.
“soal semalem" kataku to the point padanya
“jujur ya ren, kamu berubah sama aku... bukan cuma aku yang berubah ke kamu, kamu ga kaya Reno yang dulu aku kenal. Kamu ga pernah perhatian lagi sama aku “ katanya padaku.
“itu karna aku sibuk En, bukan karna aku ga sayang sama kamu. Kamu tau kan SMA ini penting banget buat nentuin masa depan" kataku padanya.
"jadi karna kegiatan kamu lebih penting, kamu ga perduli lagi sama aku?" katanya padaku
"sejak kapan aku ga perduli sama kamu? aku selalu coba ngeluangin waktuku buat kamu, bahkan buat sekedar ngafe kaya gini sama kamu" kataku padanya.
"tapi kamu ga kaya dulu Ren.."
“ aku beralasan en...”
“udahlah... mungkin kita udah ga cocok, toh aku udah punya seseorang yang lebih baik dari kamu sekarang “ katanya padaku.
“Adi maksud kamu?" kataku pada Eni menghembuskan napas kesal.
Tak ada jawaban dari Eni. Aku menatap lekat lekat matanya. Mencoba mencari celah dimana aku tak menemukan kata iya didalamnya. Tapi tak ada celah itu.
"iya kamu benar... mungkin bukan dia yang lebih baik daripada kamu... Mungkin aku yang ga cukup baik buat kamu" kata Eni padaku. Aku mengubah posisi dudukku. Aku menyerah mendengar kata katanya.
Aku menyerah atas hubunganku dengannya selama 4 tahun ini. Aku marah atas Eni, aku kecewa padanya. Aku marah pada diriku sendiri. Eni meninggalkanku yang masih duduk termenung di tempat yang sama. Aku menatapnya pergi dari kaca cafe. Kulihat dia berjalan menuju arah sekolahku.
Aku mencoba mengejarnya keluar. Tapi yang ku lihat Eni menaiki motor yang tak asing bagiku.
"Adi..." kataku. Aku menghembuskan napas berat. Hubunganku dengannya benar benar sudah tak bisa dilanjutkan lagi. Aku langsung memacu motorku menuju SMP Alexandria Bandung. Kutunggu seseorang keluar dari gerbang. Tapi orang yang ku tunggu tak kunjung keluar. Tak ku lihat Fani di sana. Aku melihat Anya keluar dari gerbang sendirian menaiki motornya.
"Nya... Fani mana?" kataku padanya.
"Tadi dia katanya mau ngobrol sama Albert kak... aku harus pulang duluan soalnya, ada acara mendadak jadi aku ga tunggu dia" Kata Anya padaku.
"thanks ya..." kataku padanya.
Aku lalu masuk ke dalam. Kulihat beberapa anak anak berlari menuju lapangan.
"eh Albert nembak Fani"
"hah serius? dimana?"
"di lapangan cepet...."
"hah siapa?"
"albert nembak fani..."
"gila tu anak berani banget, mana mana"
Aku yang mendengar itu langsung berlari menuju lapangan.
“apa?”.
Kulihat Fani sedang berdiri di depan Albert yang berlutut membawakan setangkai bunga. Aku melihatnya dengan tatapan tak suka. Aku refleks menarik Fani dari sana membuat semua orang kaget karna ulahku.
“ikut gua”kataku pada Fani
“apa?”Aku membawanya menjauh ke parkiran motor.
“apa apaan sih lo....." katanya melepaskan tanganku.
"diterima?" tanyaku padanya.
"kenapa emang?" tanyanya sambil melipat kedua lengannya di depan.
"pokoknya ga boleh" kataku padanya. Ada rasa marah pada Fani, rasa yang harusnya tak pernah aku tunjukan padanya.
"kan elu yang nyuruh gua buat cari pacar, buat nganter jemput gua, buat jadi apa tu,... satpam gua, ngejagain gua... iya kan? kenapa sekarang ga boleh" katanya padaku.
"pokoknya ga boleh aja... lagian lo suka sama cowo cupu yang nembak lo di lapangan kayak gitu?" kataku menekan kata kataku.
"mungkin buat lo gampang Ren buat punya pacar. Tapi bukan berarti lo seenak jidat ngatur ngatur gua... lo bukan siapa siapa gua" katanya padaku. Aku lihat dia sangat kesal karna kata kataku. Dia berlalu meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya.
"mau kemana?" kataku menahan tangannya.
"balik ke lapangan buat nerima Albert" katanya padaku. Aku masih mencengkram tangannya tanpa sedikitpun melepaskannya.
"aw... apa lagi sih" katanya sedikit kesakitan
"lo mau pacaran kan, lo mau tau rasanya di tembak cowo kan, you got it now!... lo mau jadi pacar gua?" kataku padanya. Aku tak tau apa yang ku katakan sebenarnya. Aku hanya marah pada sikapnya kepadaku. Aku juga marah akan sikap Eni padaku. Entah aku tulus mengatakannya pada Fani atau seledar pelampiasan akan kemarahanku padanya.
plakkk...! Dia menamparku.
"lo pikir gua apaan Ren, mungkin buat lo gua cewe paling menyedihkan, tapi gua punya hati Ren... jangan pernah temuin gua lagi" katanya padaku. Aku hannya menunduk melihatnya pergi. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku kecewa atas perlakuanku padanya. Dan aku yakin dia juga sangat kecewa padaku.
...****************...
hai temen temen aku mau tau dong tanggepan kalian soal cerita ini, tolong tinggalin komen nya ya... 😊