My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
LAMPU KEBOHONGAN



"Lampu lorong kamarku mati. Bisa tolong gantikan?" kataku menghampirinya.


Aku mengambil bola lampu yang ada di laci bawah TV.


"Yang mana?" tanyanya padaku.


Aku menunjukan lampu lorong yang aku maksud.


"Mana yang mati?” Tanya Reno padaku.


“Itu," Aku menunjuk 1 lampu yang memang padam di sana.


“Kamu gila? Ini gak usah pake kursi aja nyampe. Lagian ini cuma lampu hias Fani, kalopun mati semua juga masih ada lampu atas, tuh terang banget!“ katanya padaku.


“Ya kan mengganggu keindahan kalo mati. Lagian aku gak ngerti soal kaya gini." kataku nyengir.


Setelah selesai memasang lampu itu, Reno berjalan menuju balkon.


“Eh, nagapain kamu?” kataku padanya.


“Ngajarin hal yang keren sama anak kecil!“ Katanya sok jagoan. Ia duduk di pinggir balkon sembari memandang bintang.


“Aku bukan anak kecil lagi. Umurku sudah 15 tahun. 2 Tahun lagi aku bisa milih wakil rakyat tau!”kataku ketus padanya.


“Oh ya? Berarti kamu berani duduk di sini?” katanya menantangku.


“Gampang."


“Aku belum pernah liat kamu duduk disini." katanya membantuku untuk duduk disampingnya.


”Itu karna aku gak pingin aja, nanti kalau aku duduk disini pas lagi galau, terus kelewat terjun kan bahaya!" kataku menerangkan. Reno hanya mendengarkan ucapanku tanpa membalas. Aku duduk di sampingnya sembari melihat banyak bintang di atas sana.


“Kamu tau, bintang yang itu?" katanya menunjuk bintang. Aku menggelengkan kepala.


"Aku juga ga tau sih," katanya padaku.


"Apaan sih Ren, kirain kamu tau!" kataku tertawa.


"Akhirnya ketawa," katanya memandangiku.


Aku gugup setengah mati dibuatnya.


"Kamu itu cantik tau kalo ketawa" katanya padaku.


"Tau ga, dari dulu aku pingin banget jadi astronot" katanya padaku.


"Loh! kamu kan pinter, pasti bisa lah." Dia tertawa mendengarku mengatakan hal itu.


"Bercanda," katanya sangat puas melihat tanggapanku.


"Apaan sih, gak jelas banget!" kataku menepuk punggungnya.


"Enggak, aku dari dulu itu pingin jadi guru. Ngajar di sekolah di pedalaman, Sharing ilmu sama anak- anak disana, Ngajar di tempat yang sangat sulit buat dijangkau. Di Indonesia banyak tau orang-orang yang ga seberuntung kita soal pendidikan." katanya menerangkan panjang lebar.


"Mengabdi untuk negeri ceritanya?" tanyaku sembari tersenyum. Reno mengangguk setuju.


"Tapi sulit," katanya tak takin.


"Kenapa?" aku mengerutkan dahi memdengar perkataan Reno.


"Nyokap gak ngebolehin, Dia pingin aku jadi dokter,” katanya melanjutkan.


“Beruntung ya ibu kamu perduli banget sama kamu,” kataku sambil menunduk.


“Mama kamu juga baik kok!” katanya menimpali.


“Aku malah ngrasa gak punya keluarga. Aku anak tinggalan di rumah.” Aku menghela nafas berat.


“Yang harus kamu tau nih Fan, semua orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya.” Aku menatap Reno setelah mendengar kata-katanya.


Benar memang, tak seharusnya aku sekeras itu pada Papa. Tak seharusnya aku membenci apa yang dilakukan orang tuaku.


Tiba- tiba ada suara klakson mobil yang mengagetkan kami berdua.


”Itu Mama sama Papa aku Ren, Gimana nih? bukannya mereka ke Jepang, kenapa udah pulang aja sih?" kataku panik.


“Yaudah, aku tinggal pulang lah," kata Reno polos.


“Iya pulang, tapi apa kata mereka kalo aku bawa masuk cowo ke rumah? berdua lagi!" Aku panik setengah mati.


“Lah, kamu gak bilang tadi!"


“Ah ampun deh, Kamu turun lewat sini aja ya?” kataku sedikit mendorongnya.


“Hah? loncat maksudnya? ini tinggi banget Fan!“ kata Reno ikut panik.


“Kamu kan cowok, masa gak berani? Udah cepetan!” kataku mendorong Reno.


“Iya sabar, Gak ada tali atau seprei gitu buat turun?" katanya mencari cari di sekitar.


“Aaaaaaaaaa...., aduh sakit!“ Reno loncat ke bawah. Aku menahan tawa melihatnya merintih kesakitan.


“suttttt! diem! udah sana pulang.”kataku masih menahan tawa.


“Iya bawel!" Katanya di bawah sana. Mama dan Papa sudah masuk ke rumah sehingga mereka tak mungkin melihat Reno turun dari samping rumah.


“Reno!" kataku sedikit berteriak.


"Makasih!”


Dia hanya mengacungkan jempol padaku dan berlari kecil menuju rumahnya. Sepertinya dia benar benar kesakitan.


“Fani, Papa Mama pulang!" Kata Papa padaku dari bawah.


“Iya pa."


“Halo sayang, Udah makan?”Kata Papa padaku.


“Kami bawa steak kesukaan kamu."


"Mama sama Papa gak jadi ke Jepang?" tanyaku pada mereka.


"Enggak sayang, Kita udah urus semuanya jadi sekretaris Papa yang berangkat." katanya padaku. Aku mengangguk tanda mengerti.


"Ada pisang anget, dari siapa?" Kata Papa melihat pisang goreng di atas meja.


"Dari tante Ami tadi." kataku membuka plastik yang papa bawa.


"Tadi kesini?" tanya Mama.


"Anaknya" jawabku singkat.


Mama hanya mengangguk mendengar jawabanku.


"Ma, Pa, liburan yok? Aku bosen dirumah." kataku melanjutkan.


“Kamu kan belum libur sekolah," kata papa sambil memencet remot TV.


“Fan, mama sama papa masih sibuk. Mungkin akhir tahun ini baru agak leluasa.“ Mama membelai rambutku.


“Tapi ma, Aku pingin laburan sama kalian sebelum ujian sekolah." kataku ngotot pada mereka.


“Memangnya kamu pingin kemana? Malaysia, Thailand, Korea, atau LA?” tanya Papa padaku.


“Aku pingin ke puncak. Pingin ke kebun strawberry, terus bakar jagung waktu malem. Atau piknik di kebun nenek kayaknya seru juga." kataku berangan angan tentang liburan kami.


“Sayang, kita kan udah pernah ke puncak.”


“pingin lagi ma,” kataku merengek pada Mama.


“Yaudah kita kesana akhir bulan ini ya? hari Munggu kan?” kata Papa padaku.


“Pah, aku ujiannya tanggal 5. Apa gak bisa kalian luangin waktu sehari aja? Aku jenuh dirumah.” Aku meninggalkan mereka dan pergi ke kamar.


“Fani?”kata mama memanggilku.


Aku sedikit kecewa karena tidak bisa liburan bersama mereka. Bukankah wajar jika aku meminta itu. Meluangkan waktu sedikit untukku saja mereka bahkan tak bisa.


...Dear my self...


...Aku benci keluarga ini, apa sesibuk itu mereka hingga tak menganggapku ada?...


...Aku hanya ingin semua ini berubah,...


...Aku tak butuh harta mereka,...


...Aku cuma butuh Mama sama Papa di rumah!Please tell me what i can do?...


"Fan," Mama memasukki kamarku.


Aku masih diam di balik selimut. Aku tak ingin mendengar apapun dari Mama.


"Setelah UN, Mama janji kita akan pergi piknik ke tempat nenek. Sekalian kita kunjungi makamnya." Ia membelai rambutku. Aku pun bangkit lalu menatapnya.


"Janji? gak akan ingkar?" kataku pada mama.


"Janji," Aku memeluknya.


Ingin rasanya seperti dulu. Banyak sekali moment yang aku lewatkan bersama mereka. Walaupun sebenarnya mereka bukannya tak sayang padaku, tapi tetap saja aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Mama dan Papa.


"Dah tidur, besok kesiangan lagi. Besok ada tryout kan?" kata mama padaku. Setelah Mama keluar dari kamarku aku langsung menarik selimut dan mencoba tidur.


Saat aku memejamkan mata, Aku melihat bayangan Reno sekilas. Aku tersenyum mengingat Reno yang jatuh dari balkon.


...****************...