My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
PART 1



...I will always with you my love...


...Aku percaya semua anugerah darimu akan kembali juga kepadamu...


...Apakah salah jika aku belum merelakannya?...


...Tuhan, aku menyayanginya lebih dari yang dia tau...


...AKU MENCINTAINYA...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua anugerah mu, skenariomu, kisah yang kau tuliskan untukku adalah TAKDIR!


”Tuhan aku titipkan dia yang aku sayangi padamu” Batinku saat aku terduduk disini. Aku mengenang dia yang telah pergi dari pandanganku selamanya.


BAD DAY FOREVER


Tidak pernah ada hari yang special di hidupku. Apakah dunia semembosakan ini, setiap hari melakukan hal yang sama, membuat bosan setiap orang yang menjalankannya.


Ku langkahkan kaki menuju kantin sekolah, tempat dimana semua orang menghabiskan uang saku, dan mengisi penuh perut mereka.


“Fan, gak kerasa ya kita udah mau lulus? kayaknya baru kemarin kita berdiri konyol memakai papan bertuliskan nama kita dilapangan itu.” Anya membuka pembicaraan di kantin sekolah.


“Hem," Aku menjawabnya dengan muka datar tanpa menoleh.


"Hem doang lagi." Kata Anya cemberut.


Akupun tak tahu, mungkin bawaan dari lahir sifat cuekku ini ada. Terkadang aku baik pada orang lain, tapi tentunya tidak akan pernah terjadi pada orang asing. Ekspresiku selalu tenang menghadapi apapun dalam hidupku.


"Kamu itu beruntung Fan punya temen kaya aku. Coba aja gak ada aku, makan itu bakso sendirian!" Anya menunjuk mangkuk bakso yang ku makan. Ia meneruskan makan mie yang terlihat sangat pedas.


“Fan, kapan sih kamu mau ngerubah sifat judes mu itu? Aku takut kalo cowo-cowo pada gamau deket sama kamu karna sikapmu yang ngebelin. Kamu gak takut bakal jadi jomblo seumur hidup?”


“Nya, kamu tanya terus deh! abisin itu mie nya. Lagian jodoh itu nanti datang sendiri, tinggal tunggu aja tanggal mainnya.” Aku masih sibuk memakan bakso yang ada di mangkukku.


Sepulang sekolah aku mendapati rumahku yang kosong. Hari ini aku memilih untuk pulang terlambat karena Mama dan Papa memang tidak pernah ada di rumah. Aku menghela nafas panjang menaiki tangga ke lantai 2 tempat kamarku berada. Kunyalakan lampu kamar dan kurebahkan badanku.


Aku menyempatkan diri mengecek HP. Mama mengirimiku pesan singkat disana.


"Mama dan Papa pulang besok, bibi sudah buat makan malam, jangan tidur telat nanti kesiangan." Kuhembuskan nafas berat.


Pesan itu tak ku balas sama sekali. Dibalaspun tak akan merubah keadaanku malam ini. Aku membuka buku diary yang ada di atas meja. Kutulis beberapa kata di sana.


Dear my self


Umurku sudah cukup untuk menyukai seseorang dalam hatiku. Tapi kenapa aku bahkan belum menemukan siapapun yang dapat membuat jantungku berdetak lebih cepat ?


Aku akan menemukanmu, Aku janji.


Malam ini seperti biasa. Aku berdiri di balkon teras atas rumahku sambil meminum coffee yang kubuat di cangkir yang super besar. Aku memakai sweeter yang tebal malam itu. Aku kembali ke kamar untuk mengambil selimut karna merasa sweeter yang ku pakai tak cukup untuk menghangatkan badanku.


“Huft, sepertinya aku harus membeli pemanas ruangan." Kataku menggerutu.


”Gak bisa tidur? Kalo insom, cobalah berbaring dan membaca buku. Aku yakin pasti membantu.“ Kudengar suara yang tak asing dari bawah sana.


“Kamu siapa?” Aku menatap orang itu. Aku tahu jika dia adalah kakak Vesa. Ia adalah Reno, tetanggaku yang tak pernah ingin aku kenal.


“Hey neng! Aku tinggal 3 langkah dari depan rumahmu, Kau tak tau aku ini siapa? Sangat konyol!” Katanya ketus.


Aku menghela nafas dan segera masuk ke kamar.


“Eh, orang lagi bicara itu didengerin. Aku lebih tua darimu, dasar anak kecil! gak sopan banget! Gak pernah diajari tata krama ya?” Katanya menggerutu.


“Dasar pengganggu!" Aku menarik selimut menutupi seluruh tubuhku.


“Sial! Aku bangun kesiangan!" Aku bangun dari kasur dengan panik.


Aku anak tunggal, sedangkan Papa dan Mama sibuk kerja. Bibi yang mengurus rumah baru akan datang nanti jam 7 nanti. Aku seperti anak kucing yang tak terawat. Aku sering terlambat ke sekolah karena jam alarm yang tak sengaja aku matikan dalam mimpiku.


"Ck! jam segini mana ada angkot? kenapa aku gak dibolehin bawa motor sendiri sih?" Gerutuku yang masih berdiri dengan cemas di depan gang perumahanku.


Tiba–tiba Reno datang dengan sepeda motor nya yang khas. Aku tak asing dengan suaranya karena Ia sering menghidupkan mesinya sangat keras.


Tapi anehnya, pagi ini Ia tak memanaskan motornya. Mungkin karena itu, Aku bangun kesiangan. Aku hanya melirik ke arahnya. Ia membuka sedikit kaca helmnya dan menengok padaku.


”Baru berangkat? ini jam 7 kurang 10 menit, Emang bisa kamu sampai sekolah tepat waktu? Apa tak ada yang perduli kepadamu? Oh aku lupa kamu kan miss judes, mana ada orang yang perduli." Katanya menyindir.


Aku langsung menengok melihatnya.


“Hem, yaudah kalo gitu. Beneran gak mau bareng kan?” Katanya padaku.


Aku hanya menunduk dan memalingkan muka. Dia langsung melesat pergi dengan motornya.


“Hah? ada ya orang setega itu ninggalin orang yang hampir telat.” Gerutuku padanya. Aku melongo melihatnya pergi meninggalkanku. Aku sangat benci pada sikapnya yang menyebalkan.


Aku sampai disekolah jam 7 lebih 20 menit.


”Pak, tolong dong buka gerbangnya," Aku memohon kepada satpam sekolahku.


"Gak bisa neng ini udah peraturan, nanti saya yang kena marah kalau di buka gerbangnya atuh.“ Aku hanya bisa pasrah duduk di depan gerbang sekolah.


”Permisi pak,” Kata seseorang yang baru datang.


“Eh, mas Reno," Kata pak satpam kepadanya sembari membuka gerbang.


Aku sangat kaget melihatnya datang ke SMP ku.


“Pak, kok dia boleh masuk? Reno kan bukan murid sini. Dia anak SMA lain, sedangkan aku anak sekolah sini. Kenapa dia dibukain gerbang saya enggak?” Kataku protes pada pak satpam.


“Tapi neng,” Belum sempat pak satpam menyelesaikan perkataannya, Reno menyela.


“Biar dia masuk ya pak. Dia telat karena bareng saya tadi. Biar saya yang bilang ke kepala sekolah." Katanya sok berwibawa membuatku terkejut setengah idup.


Reno menarik tanganku sebelum pak satpam berbicara kembali. Akhirnya aku masuk berkat dia.


"Lebih baik kamu masuk kelas setelah istirahat, kalo kamu masuk sekarang, bisa- bisa dimarahi guru." Katanya dengan sombong. Ia lalu pergi meninggalkanku.


”Emangnya dia siapa ngatur hidup orang? Kalo bukan gara-gara dia juga aku ga akan telat. Dia pikir aku bakal maafin dia, setelah buat aku nunggu 1 jam diluar? Gak akan! Lagian ngapain dia kesini?” Gerutuku dalam hati.


“Kok gak masuk kelas neng?” Kata mbok kantin padaku.


"Iya, tadi telat terus disuruh keluar." Aku tersenyum padanya.


Setelah bel istirahat berbunyi, Aku segera masuk ke kelas.


"Fan, Kamu gila ya? Kemana aja? Bu Ririn nyariin kamu tau. Gara-gara kamu ga ada, Kita semua dimarain karena ga ada yang bisa ngerjain soal dari dia. Soal MTK nya susah banget." Kata Anya padaku.


“Sabodo teing! Aku kesel banget hari ini!“ Kataku cuek.


“Kenapa sih itu muka ditekuk mulu? Eh btw kamu tau gak, Minggu ini kan ada pengajar baru. Dia katanya lagi ikut perogram dari KEMENDIKBUD gitu. Denger- denger sih ganteng, alumni sini juga." Aku hanya diam mendengar ocehan Anya yang tak karuan.


"Fani! Fani-Fani kipas angin Fan-Fan? Respon dong! Siapa tau kamu kesengsem sama dia. Orangnya masih muda." Kata Anya dengan gayanya yang sangat bersemangat.


"So?” Aku mengangkat pundakku dan bertanya padanya.


"Gatau deh, Ngomong sama kamu tuh kaya ngomong sama batu. Capek!" katanya membereskan buku.


“Fan? Aku mau cerita sama kamu. Ini soal Danar." Anya mulai serius menatapku.


“Kenapa sama Danar? Dia nyakitin kamu?” Kataku menyielidik.


“Bukan begitu, Dia baik banget sama aku. Tapi ada yang aneh, Aku liat dia main sama geng D-Roft kemarin. Apa dia bagian dari geng itu ya Fan? Aku takut Fan.” Anya menunduk gelisah.


"Geng D-Roft? Itu geng yang kamu bilang ngebunuh kakak kamu kan? Gak mungkin deh Nya, Danar gak mungkin macem macem kaya gitu.” Aku menenangkan Anya.


“Mungkin kamu benar Fan, mungkin aku yang salah lihat. Aku juga cuma lihat dia dari dalem mobil sih. Semoga salah ya Fan?"


Katanya menerawang.


“Semoga aja bukan Nya. Danar baik kok, Aku kenal dia dari dulu." Kataku menghibur Anya.


Sebenarnya aku pernah melihat Danar dengan geng itu. Namun, aku tak yakin apa itu benar Danar. Aku akan datangi dia sepulang sekolah nanti. Aku berjanji pada diriku sendiri.


Aku menunggu Danar di depan SMA 15 Bandung.


”Fani, kok sendirian? Anya mana? Hari ini aku janjian sama dia jam 2" Danar kaget melihatku datang tanpa Anya.


"Aku gak sama Anya kak. Aku mau ngomong sama kamu kak Dan!“ kataku serius padanya.


...****************...


Kira-kira Fani mau tanya apa ya? Siapakah Danar sebenarnya?


...Verlyn Nymphaea...