
Dear hatiku,
Aku belum juga bisa menerka siapa sebenarnya orang yang benar-benar aku inginkan.
Orang yang bisa membuat hatiku bergetar hanya dengan melihat senyumannya,
Aku ingin merasakan hal itu.
Terkadang aku iri saat melihat Danar dan Anya,
Aku juga iri melihat Reno bersama permpuan itu.
Kututup buku diary ku. Aku mendengar suara dari balkon rumahku. Aku mengintipnya dari balik jendela. Sebenarnya, aku sangat malas untuk pergi keluar. Namun, aku penasaran sebenarnya suara apa yang kudengar.
Aku berjalan menuju bakon luar kamarku. Tak terlihat siapapin di sana. Saat ku menengok sekitar, aku melihat batu di teras balkon kamarku. Aku pikir ini adalah sumber dari suara itu.
“Fan?” suara seseorang dari bawah hampir saja membuat jantungku meloncat keluar.
“Astaga!” Aku spontan memundurkan langkah karena kaget akan suara itu.
“Ren, aku kaget tau!” aku mengecilkan volume suaraku agar tak membangunkan Vesa dan Anya.
“Kamu memang menyebalkan ya! ini sudah larut malam Ren, ada apa?" Reno terlihat duduk di teras rumahnya sambil menyilakan kedua tanganya.
“Vesa disitu? kenapa dia belum pulang?” tanya Reno masih dengan gayanya yang dingin.
“Dia gak izin sama kamu kalau mau bermalam di tempatku?"kataku sinis padanya.
“Vesa menginap di tempatmu? kenapa dia sama sekali tak meminta izin padaku? aku mencarinya dari tadi!” Reno terlihat sedikit kesal.
“Mungkin menurutnya tak penting meminta izin darimu" Aku berusaha menahan tawaku. Tak ada percakapan diantara kami setelah kata-kata ku.
“Kamu gak tidur?” pertanyaan Reno berhasil memecah keheningan.
"Belum ngantuk, aku mau cari angin, mumpung cerah.“ Aku melihat ke langit yang dipenuhi bintang.
“Kamu berani naik kesitu?”
“kemana?” Aku tak mengerti maksud dari ucapan Reno.
“Balkon kamarmu, seperti dulu." Reno tersenyum jahil melihatku.
“why not?”kataku tak mau kalah darinya. Aku mencoba naik ke balkon seperti saat Reno datang ke rumahku.
“Tunggu! Kamu tak boleh naik ke sana kalau aku tak ada." kata Reno menghentingkanku.
“Ini kan rumahku, kenapa jadi kamu yang ngatur aku?" kataku ketus padanya.
"Bahaya, anak kecil gak boleh macam-macam. Ingat ya, kamu gak boleh duduk di balkon itu kalo gak ada aku!”katanya makin ketus, hal itu membuatku sedikit marah padanya.
"Aku bukan anak kecil, Ren!" aku berteriak padanya.
"suttt! kecilkan suaramu, ini sudah malam Fani!" Reno sedikit panik mendengarku, Ia mungkin saja takut membangunkan Vesa ataupun tetangga lain.
Aku tak suka berdebat dengannya. Aku masuk ke dalam rumah dengan sedikit kesal. Saking kesalnya, hampir saja aku membanting pintu kamarku. Mungkin jika aku tak menahan pintu itu, Vesa dan Anya akan bangun karena suaranya.
“aw, sakit!" kataku meringis memegangi tanganku yang sakit karena ulahku sendiri.
Paginya aku dibangunkan oleh Vesa dan Anya. Mereka menaruh alarm tepat di telingaku yang tentunya bunyinya sangat mengusikku.
“Fani, ayo bangun!" Vesa berteriak di telingaku. Mereka memaksa dan menarikku untuk segera bangun dari kasurku.
“Ayo Fan, kamu gak pernah olahraga kan? ayo kita jogging, mumpung masih pagi." Akhirnya aku menuruti kemauan mereka. Aku lari mengelilingi kompleks. Tapi, belum 1putaran kompleks rasanya aku akan pingsan karena kakiku yang pegal.
“Kalian duluan, nanti aku belakangan aja!" paru-paruku serasa tak sanggup lagi untuk memompa oksigen. Aku istirahat di bangku taman komplekku.
"Oke! hati-hati ya sayang, bye!” mereka berlari kecil meninggalkanku. Aku meminum botol yang aku bawa sembari mengatur nafas.
Tak lama, aku melihat seseorang yang tidak asing berlari menuju arahku. Aku mengangkat alis ketika kusadari orang itu adalah Rano. Aku berfikir dia akan menyapaku, ataupun menggangguku.
"Pecundang!” katanya saat lari melewatiku. Tebakanku memang tak pernah meleset.
Aku naik darah mendengar ucapannya. Tak mau kelihatan payah didepannya, aku pun mengejarnya.
“hei kamu!" aku berteriak padanya. Aku mencoba berlari mengejarnya. Dia tak menengkok sedikitpun ke arahku. Hal itu membuatku semakin marah pada Reno. Aku merasa putus asa karena kakiku kram ketika mengejarnya.
“Aduh!” benar saja, sialnya kakiku terkilir. Aku jatuh terduduk di pinggir jalan. Aku benar-benar membenci Reno saat itu. Mungkin memang aku dan Reno tak pernah bisa akur sampai kapanpun.
Aku masih duduk di tepi jalan sembari memijit kakiku yang terkilir. Persetan dengan mobil atau motor yang lewat disampingku.
Tak lama kemudian, aku melihat seseorang didepanku. Ia mengulurkan tangannya sehingga tanpa sadar aku menengok kearahnya.
Aku menapis tanganya ketika tahu itu adalah Reno. Aku mencoba berdiri tanpa bantuannya.
"aw!” Aku merintih kesakitan saat mencoba bangun.
“Sepertinya kamu terkilir." Dia memegang kakiku dan mengurutnya. Tak lama, Ia lalu membantuku berdiri. Aku hanya mengerutkan dahi melihatnya membantuku.
“awww! sakit Ren!" Aku memukulnya menggunakan botol minumku.
"aw, ini lebih sakit!” katanya agak membentak.
“Gak bisa berdiri Ren! udahlah, kamu kalau mau lari, duluan aja. Aku tunggu Vesa dan Anya saja. Lagian, aku gak mau hutang budi sama kamu."
" Yakin? gimana cara kamu pulang kalau kamu saja gak bisa berdiri. Memangnya mereka bisa gendong kamu sampai rumah?" Reno bertanya padaku setengah menyindir.
"Kamu ngatain aku gendut maksudnya?" kataku ketus padanya.
"Cepat naik!" katanya berjongkok memunggungiku.
"Tak ada penawaran yang ke dua ya!" Ia melihatku karena aku masih diam tak bergeming.
Akhirnya dengan terpaksa aku menurutinya. Ia menggendongku ke rumah. Suasana saat itu benar benar canggung. Aku takut salah tingkah ataupun melakukan hal konyol didepannya.
"Ren, aku mau tanya sesuatu boleh?" kataku pada Reno.
“Apa?” katanya dengan nada yang datar.
“Kamu ngimpi apa semalam bisa baik banget nolong aku!” Reno berhenti berjalan setelah mendengarku bicara.
“Turun!”katanya padaku. Aku shock saat ia tiba-tiba menurunkanku di jalan.
“Secara tak langsung kamu bilang aku gak pernah berbuat baik ke orang.” Raut muka Reno berubah menjadi serius menatapku.
“Aku cuma bertanya, maaf kalau kamu mengartikannya seperti itu." kataku menunduk ke bawah.
“Masih untung aku tak meninggalkanmu!" Ia menggendongku kembali.
“Coba saja kalo berani" kataku berbisik. Ia tak sengaja mendengarnya. Aku benar benar lupa jika aku berbicara tepat di telinganya. Dia benar-benar menurunkanku saat itu juga. Aku benar benar kaget ketika dia berjalan menjauh dariku.
“woy.... !”kataku padanya
"serius ditinggal?" kataku padanya.
"ren....." kataku menaggilnya lagi. dia benar benar tak menghentikan langkahnya.
“sorry !”kataku perlahan berharap dia kembali tanpa mendengar kataku barusan.
“apa?” ia berhenti dan berbalik.
“maaf.”
“gue ga mendengar, lo bilang apa !”
“maaf reno,..... ”aku sudah pasrah kalau kalau dia benar benar tak menghiraukan kata kataku. aku menunduk sambil melihat kakiku yang masih sakit.
saat aku melihat ke arahnya lagi aku benar benar terkejut.
“apa?”kataku kaget melihat dia semakin mendekat padaku. hampir 5 cm jarak kami, aku menelan ludah. jantungku benar benar tak bisa diajak kompromi. mungkin karna aku kaget melihatnya tiba tiba ada di depanku. aku hampir mundur ke belakang kalo saja kakiku bisa digerakan dengan baik.
“lo seharusnya berterimaksaih sama orang yang nolongin lo....lo harus tau betapa pentingnya berterimaksaih. paham?”katanya dengan panjang kali lebar, entah apa yang ada di pikiranku dengan jaraknya yang tak lebih dari 3 cm aku hanya mengangguk.
dia berjongkok di depanku dan menyuruhku naik ke punggungnya. dia menggendonku lagi. kali ini dia benar mengantarku sampai depan rumah. disana ada Vesa dan Anya. mereka berdua kaget melihat kami.
“Fan? kok digendong ka Reno, kenapa?" kata Vesa padaku panik.
“bantuin tolong, sakit nih....”kataku pada mereka berdua
"lagian gua ditinggalin coba" kataku cemberut.
“kan lo yang minta fan ...!”kata anya padaku “ya.... ditengok kek, orang gua ga keliatan, di cariin kek" kataku sambil masuk ke rumah di papah mereka berdua.
“kenapa nya?,lo simpati sama gue...? cuma kekilir doang, gausah tampang sok sedih gt deh" kataku mencubit pipinya.
"bukan.... gua cuma cemas aja, danar belum ada kabar dari kemarin.”kata anya cemas
“oh ayolah, mungkin dia sibuk, tenang, ga akan srlingkuh juga dia... kirain lo sedih gue terluka... ,”kataku coba menggodanya.
"dia baik baik aja kok... “kata Vesa pada kami. aku sangat kaget dia menyaut kata kata Anya.
aku lupa jika Vesa mantan Danar. aku lupa mungkin dia tak tau danar. atau mungkin sebenarnya dia sudah tau kalau Anya pacar danar.
“kamu tau danar ?”kata anya pada vesa.
“kenal aja dari temen, cuma tau doang sih..." kata vesa pada kami. aku menatap Vesa penuh tanda tanya. aku pikir dia memang sudah tau jika Anya adalah pacar danar. tapi kenapa dia menutupi fakta itu. kenapa dia tak pernah bercerita padaku.
Siang harinya mereka pamit pulang. aku masih berfikir keras kenapa Vesa tak pernah cerita kalau dia tau Anya pacar danar. Apa danar cerita soal Anya padanya. apa mereka masih berkomunikasi sampai sekarang. aku masih berfikir keras tentang ucapan vesa. aku curiga ketika melihat raut muka vesa tadi.
malamnya aku coba menelfon kak danar. ternyata benar hp nya tak aktif .aku coba menelfon teman sekelasnya, Axel. aku mungkin tak begitu kenal dengannya. tapi danar pernah memberikan no ini padaku. hp nya aktif .tak beberapa lama seseorang mengangkatnya.
“kak Axel... .” kataku di telfon.
“hallo?siapa ini?”kata orang di balik telfon.
"hallo kak... maaf mengganggu. aku fani teman kak danar, apa kak axel tau dimana kak danar?" kataku mencoba lebih sopan padanya.
“gua lagi sama dia...”kata orang itu
“ boleh bicara ? hp dia mati soalnya aku ga bisa ngehubungin dia” kataku memohon.
“dia lagi di kamar mandi,”
“ohhh....gitu, aku titip pesan saja kak kalo gitu, tolong bilang suruh nghubungin anya ya kak, dia sangat kawatir “ kataku padanya.
“oke nanti gua sampein “
“oke kak maka...,”orang itu langsung menutup telefonnya sebelum aku selesai menucapkan terimakasih.
“lah dimatiin..., TERIMAKASIH!" kataku dengan kesal pada telfon.
"ngeselin banget sih, heran, ngapa kak danar ngasih nomor temannya yg ngeselin kek gini sih" kataku menggerutu.