
Reno sudah masuk ke kelasku. Aku yang masih berdiri di samping kursi karna ingin keluar kelas hanya bisa mematung.
Dia menatapku yang masih berdiri. Anya menarikku untuk kembali duduk di kursiku.
"hari ini, Kaka dapet amanah dari Bu Ririn untuk memberikan soal latihan bab terakhir. Ketua kelas tolong bagi soalnya ya" ia mengeluarkan kertas fotokopian di atas meja. Aku dengan berat hati menagambil kertas itu dan membagikannya pada seluruh anak di kelasku.
Jam pelajaran 1 telah selesai.
"oke temen temen sudah selesai ya mengerjakannya, minggu depan kita bahas jawabannya. Ketua kelas tolong bawakan ke ruang guru ya, selamat pagi" Reno meninggalkan kelas setelah itu. Aku mengumpulkan semua jawaban dari anak kelas dan membawanya ke ruang guru. Aku tau Reno tak mungkin ada di sana. Karna dia ada kelas lain setelah kelasku. Tapi entah mengapa dia kembali ke arah kelasku ketika aku sampai lorong.
"Biar gue yang bawa" katanya mengambil tumpukan kertas itu.
"Gausah... gue aja"
"mau gue cicil koreksi abis ini, biar gue bawa, lagian gue gamau ngerepotin pacar orang" ia mengambil tumpukan kertas itu dan pergi meninggalkanku. Aku masih mematung di sana. Aku melongo mendengar kata katanya. Entah apa yang kurasakan tapi yang jelas hatiku sakit mendengarnya.
Akhirnya aku kembali ke kelas. Aku hanya diam melamun mendegarkan pak Budi mengajar sejarah. Pikiranku kalut memikirkan perkataan Reno.
Kenapa dia berkata seperti itu, apa aku terlihat seperti sudah jadian dengan Albert aku benar benar merasa apa yang kulakukan adalah salah.
Saat bel istirahat Albert mengajakku makan di kantin. Anya tentu ikut karna dia selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Kami bertiga berbincang banyak. Anya memang tak pernah mengobrol Albert tapi sedikit banyak ia tau tentang Albert.
"Danar dah ngabarin lo?" Aku menyantap bakso yang aku pesan.
"udah... papanya sakit, jadi dia di Kalimantan sekarang, harusnya sih udah pulang 2hari yang lalu, tapi diundur. Mungkin minggu ini, papahnya dah enakkan katanya" aku hanya mengangguk mendengar cerita Anya.
"berarti baik baik aja kan"
"ya... dia sering VC kok kalo malem" Anya masih sibuk memakan bakso di mangkuknya.
"ntar pulang nonton yok, ada film bagus tayang hari ini di bioskop" Albert memecah percakapan kami
"film apa?" tanyaku padanya
" ILY 1000, romance gitu" katanya padaku. Aku dan Anya bertatap tatapan mendengar jawaban Albert.
"Al... lu mending jangan nonton romance sama Fani deh." Anya sedikit menahan tawa
"loh kenapa?" Albert tampak kebingungan
" Terakhir dia nonton sama gua nih ya... tidur dia, daripada lo ditengah film ditinggal tidur mending gausah deh" Anya tersenyum mengingat kejadian itu. Aku ikut tertawa mengingat kebodohanku yang sampai dibangunkan oleh teteh teteh yang ada di sana. Anya sampai menyerah membangunkanku dan akhirnya aku ditinggal Anya ke toilet saat itu.
"terus film apa yang kamu suka?" Albert menatapku penasaran.
"emm.... Action, semacam transformers atau avengers gt. yang sound effect nya ga bikin ngantuk pokoknya" kataku padanya.
Albert hanya mengangguk mendengarkan ucapanku.
Siang harinya aku dan Albert akhirnya menonton film. Seperti request dariku, kita menonton film suicide squad. Aku menikmati film nya. pulang menonton dia mengajakku makan dan bermain di time zone. Cukup menyenangkan bisa jalan dengan Albert. Mungkin karna kami sudah lama kenal jadi aku nyambung ketika mengobrol dengannya.
Ia mengantarkanku pulang sebelum jam 6.
"sampai deh..." aku melepas helm yang kupakai.
"nyokap bokap ada?" Al meneliti ke halaman rumahku.
"belum balik" kataku singkat.
"yaudah salam aja kalo gitu" katanya mengambil helm yang ku berikan.
"kalo ada mau masuk?" tanyaku
"iyalah... masa ngajak anaknya main ga nemuin" kata katanya membuatku diam. Dia jauh dari ekspektasiku. Sangat sopan dan baik.
"Yaudah... aku masuk dulu, kamu ati ati pulangnya" Al hanya mengangguk dan tersenyum.
Dia tersenyum mendengar kata kataku.
Aku masuk setelah melihatnya pergi. Aku sebenarnya tak sampai hati membohongi perasaanku padanya. Aku merasa menjadi orang yang sangat kejam disini.
Sebelum masuk ke kamarku, entah kenapa aku ingin sekali menghirup udara segar di balkon rumahku. Aku menghela napas berat. Aku benar benar telah terjebak permainanku sendiri. Aku telah salah mengambil langkah. Harusnya aku tak dekat dengan orang lain sebelum membereskan masalah hatiku.
Aku menatap langit sore waktu itu. Sinar oranye bercampur jingga sangatlah indah. Tapi tak seindah kondisiku sekarang ini. Aku menikmati angin yang membelai lembut rambutku.
" Aku harus gimana?" gumamku pada diriku sendiri. Aku benar benar tak bisa memutuskan pilihanku. Aku tak pernah menghadapi situasi kacau seperti sekarang ini.
"dah baik?" suara itu membuayarkan lamunanku. Aku tau suara yang tak asing itu pasti milik Reno.
"maghrib tu harusnya masuk, jangan di luar" katanya meneruskan.
"lo sendiri ngapain masih diluar" kataku padanya
"oh iya lupa... abis ngedate sama pacar baru ya..? lupa kalo nona judes ini dah punya pacar" aku hanya menatapnya dengan tatapan tak suka. Aku tak tahan mendengar ucapannya. Akhirnya ku putuskan untuk masuk ke dalam kamar.
"Brengsek! cowo sialan," aku masih mencoba mengatur napasku. Aku benar benar marah atas perkataanya. Kenapa dia harus mengatakan hal itu. Kenapa dia harua berbicara seperti itu. Kenapa dia tak pernah mengobrol denganku tapi sekali dia berucap sangat menyakitkan.
Tak sadar air mataku menetes. Aku tak suka dengan perkataannya. Aku tak suka dia berbicara seperti itu padaku. tak sadar aku tertidur di dalam tangisku.
21.00
Aku bangun ketika tak sengaja aku mendengar sesuatu.
Suara batu.
Aku tau itu adalah Reno. Aku tak mau keluar rumah sama sekali. Tapi suara itu terus mengusikku. Akhirnya aku putuskan untuk melihatnya.
tak sesuai ekspektasiku ternayata suara itu bukanlah Reno.
"Fan...bukain pintu..." kata Vesa dari bawah. Aku menghela napas dan berjalan menuju ruang tamu. Perasaan kecewa sedikit banyak menjalar di hatiku.
Apa yang aku hayalkan sih... kataku di dalam hati.
"Hai sweetypie... " dia menyapaku denan gaya khasnya yang berlebihan
"kenapa?" tanyaku padanya
"masuk dulu kek... " vesa nyelonong masuk ke dalam rumahku. Aku mengikutinya menuju lantai 2.
"gua mau nginep ya...?" katanya setelah sampai di depan kamarku.
"yaudah serah deh... " kataku membuka kamar
"lu ada masalah ya sama kak Reno?" tanyanya to the point
"kenapa emangnya?"
"Fan.. kak Reno tu enang suka gitu, gengsian... suka cari masalah duluan, tapi asli deh baik bgt orangnya." Vesa menjelaskan dengan gaya khasnya.
"lu kalo mau ngomongin abang lo balik aja deh mending, gua ga mood Ves asli" kataku padanya.
" iya deh iya gajadi... abang gue tu lagi galau banget tau Fan... gue sedih liatnya" aku mengernyitkan dahi mendengar Vesa.
"kenapa ceritanya sama gue" kataku pada Vesa.
"orang yang dia suka punya pacar baru" kata Vesa padaku.
...****************...