
Aku mengangkat alisku
“maksudnya?” kataku bertanya menyelidik.
“gua...” jawabnya singkat.
Aku kaget mendengar jawaban Reno. Tapi aku tak boleh menunjukannya. Aku tak boleh menunjukan kalau aku kaget. Karna aku akan kalah jika sampai hal tersebut terjadi. Aku... ratu judes cuek dan dingin harus pandai menata ekspresiku. Walaupun saat ini jujur aku sangat deg deg an dibuatnya.
“gila lo...”kataku dengan muka datar.
“canda... serius amat neng,”kata Reno padaku. Dia tertawa melihatku.
"yah... prank gagal deh" katanya melanjutkan.
"ga mempan" kataku padanya.
Reno pulang setelah kami mengobrol. Ia sempat khawatir meninggalkanku. Tapi tak mungkin dia tinggal disini. Ini sudah cukup larut untuk melanjutkan mengobrol.
Dear tuan bintang
Engkau memberi cahaya yang indah malam ini seindah senyumnya , secemerlang auranya
seindah kata- katanya
tuhan... salahkah aku karna merasa bahagia malam ini?
Apa aku menaruh hati padanya?
Sihir apa yang dia gunakan?
Aku tak bisa tidur malam ini...
So crazy !
RENO...
Sepulang dari rumah Fani, Kubaringkan tubuhku ke ranjang. Kulihat Vesa belum tidur. Dia menghampiriku ke kamar.
“kak !kemana aja sih? untung mama ga tanya macem macem soal kakak... aku bilang aja kakak lagi ngerjain tugas di kamar dan ga mau diganggu...”kata Vesa padaku
“you are my best sister ,”aku mencubit pipinya.
Aku membaringkan lagi tubuhku di tempat tidurku.
"kakak dari mana,?”tanya Vesa padaku “kerumah Fani,”
“Fani?”
“hm..”
“malam begini?”
“iyap...”
“kalian ngapain aja?" kata Vesa nglantur
"mikir apaan kamu... kamu pikir kakakmu sebodoh itu?Cowo kaya aku ga mungkin melakukan hal yang tak sopan tau. Secinta cinta nya kakakmu ini ga akan pernah nyentuh cewe! denger !”kataku pemukul kening Vesa
“cinta?,” kata Vesa dengan tatapan menyelidik.
“udah keluar sana. Aku ngantuk”
kataku mendorongnya keluar dari kamarku.
“wait wait... jd cinta? sama Fani?" katanya padaku.
“enggak... dah sana tidur ,besok sekolah!”
kataku menutup pintu.
Ku kunci kamarku agar Vesa tak nyelonong masuk lagi. Ku rebahkan tubuhku ke tempat tidur. Belum pernah aku sesenang ini.
"Apa aku menyukainya? apa aku menyukainya lebih dari aku menyukai Eni?" aku memikirkan jawaban dari pertanyaanku ini semalaman.
Aku mencoba tidur namun yang ada aku malah mendengar lantunan lagu itu. Senyuman itu, dan tawa nya.
"Apa dia merasa hal yang sama?" kataku bermonolog.
Kubuka hp ku. Tak ada satupun sms dari Eni. Entah beberapa hari ini aku merasa ia berbeda. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal. Aku harus menemuinya besok. kataku dalam hati
Pagi itu aku bersiap untuk berangkat. Kulihat papa Fani ada di depan rumah. Itu berarti mereka sudah pulang.
"Ren... mau berangkat.?”tanya om Heman pada ku.
“iya ni om...”
"kak... bareng ya?" tanya Vesa yang tiba tiba muncul di belakangku.
"motor kamu?"
"di bengkel.. dah cepet caw..." katanya padaku
"udah sana... ntar telat kalian..." kata om Herman pada kami.
"om bernagakat dulu ya..." kataku cepat cepat membungkam mulut Vesa.
"gila ya..." umpatku di jalan
"takut ketauan ya...?" kata Vesa tertawa.
nganter Vesa sama saja dengan bersiap siap untuk telat. Sekolah Vesa berlawanan arah dengan sekolahku. jalannya pun muacetnya masyaaaaaaaaaaaaa.........allah membuatku makin males nganterin dia.
"kamu pindah sekolah aja deh dek mendingan" kataku pada Vesa.
"ogah... sekolahku dah paling best" katanya padaku
"best apaan..."
"basket terbaik lo... ngalahin sekolah kakak" katanya tak mau kalah. Aku hanya menggeleng gelengkan kepalaku.
Kalo bisa aku bilang dengan om Herman sih aku pingin bilang
"om tukeran yok, janji deh bakal nganterin Fani sampe sekolah dengan sehat wal a’fiat tanpa kurang suatu apapun" kataku dalam hati.
Setelah mengantar Vesa, Kupacu motorku dengan cepat karena jika tidak, aku pasti telat. Aku sampai dengan selamat dan tepat waktu di sekolah.
“pagi pak..”kataku ramah pada penjaga sekolah
“pagi mas Reno,wah tumben siang ,”
“iya pak, tadi nganterin adek dulu" kataku padanya ramah.
Hari itu aku sama sekali tak menemukan Eni di sekitarku. Entah dia tak masuk sekolah atau memang sengaja menghindariku. Aku sempat bertanya pada teman temannya. Tapi tak ada satupun yang menjawabku dengan kepastian.
Setelah bel pulang sekolah aku menghampiri Eni di kelasnya. Ku lihat dia sedang asyik mengobrol dengan Adi. Teman sekelas nya.
" En?”kataku padanya.
“hai Ren,”katanya membalas
“aku pulang duluan ya.. see you ntar malem" kata Adi pada Eni.
"ok,... see you “kata Eni ramah.
"ke mana entar malem?" tanyaku tanpa basa basi.
" party sama temen sekelas, kamu kan tau sebentar lagi kenaikan kelas" katanya sembari membereskan buku bukunya.
"dimana? kok ga cerita?" tanyaku menyelidik.
"hastag" jawabnya singkat
"bar?" aku kaget mendengar jawaban Eni
"kenapa? mau ikut?" tanyanya padaku.
"gaboleh..aku ga suka kamu pergi ke tempat kaya gitu" kataku padanya.
"sejak kapan kamu ngelarang ngelarang aku sih?" tanyanya mengernyitkan dahi.
"buat kebaikan kamu En...." kataku padanya.
"sejak kapan kamu perduli? kamu kan sibuk sama penelitian kamu, sama kegiatan kamu yang sok positif itu.. " katanya padaku. Aku hanya bisa diam mendengarkan. Semenjak ikut penelitian aku memang jarang meluangkan waktu untuk Eni. Aku sibuk dengan kegiatanku.
"pokoknya aku ga ijinin kamu kesana" kataku padanya
"dah aku gamau debat sama kamu bye" katanya padaku.
"aku anter pulang" kataku mencegahnya pergi
"masih sempat? kemarin kemarin kemana aja?" katanya sinis. Aku tak bisa berbuat apapun dengan jawabannya. Aku mengaku salah tak pernah memperhatikannya. Aku harap amarahnya cepat mereda dan kami bisa seperti dulu.
Jujur aku masih sayang padanya. 4Tahun aku bersamanya. Aku tak ingin keributan kecil seperti ini membuat aku dan Eni putus.
malam harinya aku menyusul Eni ke hastag. Aku tak mau dia kenapa kenapa di tempat itu. Tempat itu memang tempat langganan anak anak Sma 1 untuk party. Teman sekelasku pernah mengadakan pesta ulangtahunnya di sana. Jadi sedikit banyak aku tau seperti apa tempat itu.
Ku cari Eni disana. Aku menemukan beberapa anak kelas Eni disana. Mereka menyapaku dengan ramah. Beberapa dari mereka bertanya tujuanku datang kemari.
"bro... tumben..." kata Gaga padaku
"Eni mana?" tanyaku padanya.
" apa?" katanya padaku. Suara musik yang sangat kencang membuatku harus berteriak ketika mengobrol.
"Eni?..." kataku mengulangi
"Tadi disini... keknya duduk disana deh.. Alin sama Adi di sana soalnya" katanya menunjuk salah satu sudut dari tempat itu.
"thanks bro..." kataku menepuk punggung Gaga.
aku berjalan menuju tempat duduk yang Gaga tunjuk. Disitu aku melihat hal yang tak terduga. Aku tak percaya akan apa yang kulihat sekarang. Aku benar benar naik pitam. Aku tak tau apa aku harus marah akan apa yang terjadi atau aku harus sedih dibuatnya.
Ada perasaan kecewa yang amat dalam pada Eni. Aku tak percaya apa yang sudah aku lalui dengannya ternyata sia sia. Aku diam menatapnya dari kejauhan. Hatiku benar benar hancur. 4 tahun aku bersamanya, tak pernah sekalipun aku menyentuhnya. Aku selalu menjaganya dan menghormatinya.