My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
VESA DAN ANYA



ANYA


Pagi ini, aku sengaja menghampiri Fani sebelum ke sekolah. Aku tau dia pasti akan terlambat ke sekolah karena semalam Ia menelfonku hingga larut malam.


“Fan- Fan kipas angin!" Aku berteriak di depan rumahnya.


“Kamu ngapain ke rumah aku pagi pagi gini Nya?" Fani mengintipku dari balkon kamarnya. Ia tampak masih mengusap kedua matanya khas bangun tidur.


“Pagi apanya? ini udah jam ½ 7 Fan. Kamu belum mandi?" kataku berteriak padanya.


“Serius? Oke, aku mandi sekarang!“ katanya panik.


“Bukain dulu ini gerbangnya!” kataku berteriak.


“Sabar!"


Kami berangkat sekolah menaiki motor dengan terburu-buru. Aku mengendarai motorku dengan sangat cepat, hingga kami berada di tengah garis marka.


"Nya! kamu bawa anak orang! jangan ngebut ngebut." kata Fani meneriakiku. Aku hanya tertawa mendengarnya mengoceh sepanjang jalan. Fani memang tak pernah diizinkan menggunakan motor. Aku sedikit heran pada orang tuanya.


Keluarganya sangat kaya, tapi orang tuanya bahkan tak pernah memanjakannya.


Kami sampai di sekolah tepat saat gerbang depan akan ditutup.


"Permisi bapak," kataku pada pak satpam yang hampir menutup pintu.


"Untung ga telat. Coba kalo sampai telat, bisa-bisa gak ikut kelas Bu Seli kita Fan. Gak lulus ntar kita!" kataku pada Fani.


Dia masih geleng-geleng kepala mendengar ku mengoceh.


"Aku mending nyusul ulangan bu Seli deh, dari pada aku nyusul nenek ke rahmatullah" katanya padaku.


"Death jokes banget astaga! durhaka kamu Fan!" kataku padanya. Kami hanya tertawa sambil sedikit berlari menuju kelas.


Kami sampai kelas ketika bu Seli masuk ke kelas kita.


“Anya?" Kata Fani padaku.


”Ntar aja ngobrolnya,“ Aku berbisik padanya tanpa menengok ke arahnya.


“Kamu mau masuk SMA mana?” Tanya Fani padaku.


”SMA 15 Bandung mungkin," Jawabku asal.


“Kok gak satu aja?” Dia berbisik padaku lagi.


“Otak aku gak sama kaya otak kamu Fan. Lagian kalau aku di SMA 15 kan bisa bareng Danar."


“Kok gitu? Gak bisa! Pokoknya aku bakal bantuin kamu supaya dapet nilai bagus di UN.


Aku pingin satu SMA sama kamu Nya," katanya padaku.


“Kita masih tetep bisa main walau gak satu SMA Fan," Aku tersenyum padanya. Ia mulai cemberut mendengarku. Aku hanya tersenyum melihatnya.


“Aku gak tau nanti bakal dapet temen kaya kamu apa enggak di SMA,“ katanya masih dengan muka yang ditekuk.


"Iya sih, Cuma aku kayaknya yang tahan temenan sama miss judes kayak kamu ya?“ Aku tersenyum padanya.


Pulang dari sekolah, Aku mengantar Fani pulanng ke rumahnya. Tak kulihat mobil orang tuanya di halaman. Ku pastikan mereka sedang berada di luar kota.


"Nginep sini ya?" katanya padaku.


"Next deh, Aku mau nyariin ayang." katanya padaku.


"Danar?"


"Iya siapa lagi, Dia gak bisa dihubungi dari semalem. Aku mau cari dia di sekolahnya." Danar memang sama sekali tak menghubungiku semalaman.


Hubungan kami memang bukan hubungan yang lebay seperti kebanyakan orang pacaran. Tapi aku sedikit khawatir dengannya. Tak biasanya Ia tak mengangkat telfon ku. Sejak semalam dia juga tak kunjung membalas pesanku.


"Iya deh." Akhirnya aku putuskan untuk menginap di rumah Fani.


Aku menuju sekolah Danar setelah mengantar Fani. Tak ku temui dia disana. Mungkin karena aku telat datang. Sekolahnya cukup sepi karena banyak anak yang sudah pulang.


Dengan putus asa akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah Fani.


Fani menghiburku dan mengatakan padaku jika semua akan baik baik saja. Aku menjadi lebih baik karena ucapan Fani.


Malam hari nya, kami BBQ ikan di halaman belakang rumah Fani. Tak lupa Fani mengajariku materi UN yang Ia janjikan. Fani memang tak pernah main-main dengan ucapannya. Dia selalu serius dengan apa yang menjadi keinginanya.


“Bau ikannya enak, fresh gitu kayaknya,”kataku pada Fani.


"Bilang aja kamu mau makan kan? pokoknya kerjakan dulu soal itu, nanti aku yang siapin ikannya." Aku sangat pusing melihat soal yang Ia berikan padaku.


"Aljabar lagi, Gak ada yg lain?" kataku padanya.


Tiba- tiba ada suara dari ruang tamu.


“Biar aku yang buka pintunya," kataku bersemangat.


"No! biar aku aja, kerjain itu cepet! gak makan ya kalau gak selesai!" katanya padaku.


Aku hanya bisa cemberut melihatnya meninggalkanku sendiri di halaman belakang.


AKU


Saat sedang membakar ikan di deket kolam bersama Anya, Aku mendengar seseorang memencet bel pintu rumahku.


"Hai Fan! bau apa ini? enak banget," kata Vesa dengan lagaknya yang super over.


“Hai Ves, itu aku lagi bakar ikan sama temen aku di belakang." Aku dan Vesa memang sudah lama berteman. Meskipun tak sedekat aku dan Anya, tapi kami cukup berteman baik. Bahkan aku mengenalnya lebih dulu sebelum aku mengenal Anya.


“Siapa?" Tanya Vesa serius padaku. “Anya," kataku tersenyum padanya.


Aku melihat raut muka Vesa yang berubah. Aku tau ada masa lalu yang belum selesai antara Vesa dan Danar.


Aku yang dulu mengenalkannya pada Danar. Tapi aku tak tau apa alasan merek putus. Danar bahkan mungkin tak pernah mengunjungi Vesa setelah mereka putus.


"Apa dia tahu jika Anya adalah pacar Danar?" kataku dalam hati.


“Aku boleh ikut kalian kan?” Ia lalu masuk ke dalam rumahku tanpa basa basi.


“Sure," aku ngeijinkannya masuk ke rumahku.


Kami menuju ke taman belakang rumah. Disana terlihat Anya sedang membakar ikan.


"Nya, kenalin ini Vesa. Dia tetanggaku yang sering ku ceritakan. Dia ingin ikut kita bakar ikan, boleh kan?"


"Tentu saja, makin banyak yang ikut kan makin asyik. Aku Anya temen sekelas Fani." Kata Anya ramah pada Vesa.


“Aku Vesa," mereka lalu berjabat tangan dan saling mengobrol.


Vesa sangat antusias dengan acara barbeque malam itu. Untuk menambah keasyikan kami malam itu, kumainkan gitar dan kunyanyikan beberapa lagu. Kami juga mengambil beberapa foto malam itu.


Setelah puas makan dan bernyanyi, kami naik ke atas menuju kamarku. Anya dan Vesa memutuskan untuk menginap dirumah ku malam ini.


Aku yang punya hobi memotret sangat senang katika melihat foto foto yang kami ambil.


Papa membuatkanku 3 ruangan khusus di lantai 2. Satu kamar tidur lengkap dengan boneka dengan lemari pakaian yang cukup besar. Satu ruang belajar lengkap dengan komputer dan koleksi buku pelajaran, ensiklopedia dan beberapa novel edisi terbatas.


Ruangan terakhir adalah ruangan merah. Ruang itu digunakan untuk mencetak foto. Ruang merah memang jarang aku buka, tapi sekali aku membukanya aku bisa menghabiskan waktu seharian di dalam sana.


Anya dan Vesa tidur duluan. Aku membuka ruang merah dan mencetak foto disana. Aku mencetak semua foto yang kami ambil.


Saat melihat foto kami, aku teringat raut wajah Vesa saat mendengar anya ada di rumahku. Danar tidak pernah bercerita apapun setelah dia dan Vesa putus. Aku ragu akan hal itu, tapi jika benar Vesa tau siapa Anya sebenarnya, sepertinya Vesa tak akan seramah itu pada Anya.


...****************...