
GUE!
Aku berjalan meninggalkan Reno di belakang. Aku benar benar marah padanya. Aku merasa dia menghinaku. Mungkin aku merasa sakit hati karna dia mengucapkan kata itu dengan sadar saat dia masih punya pacar.
"Brengsek!" kataku mengumpatnya saat menunggalkannya. Harga diriku jatuh saat itu. Aku merasa dipermainkan olehnya. Aku berjalan menuju toilet wanita. Tempat aman yang tak akan mungkin Reno datangi. Kupandang diriku di depan kaca. Aku terliaht sangat menyedihkan di sana.
Aku marah karna jantungku berdetak lebih cepat karna ucapannya. Aku marah karna aku harap kata katanya adalah nyata. Kutundukkan mukaku. Air mata yang ku tahan sejak tadi akhirnya jatuh. Aku benci padanya. Aku benci karna dia merendahkanku. Mengolokku atas apa yang terjadi padaku siang ini.
Aku sangat takut untuk keluar dari toilet. Aku takut Reno masih ada di parkiran sekolah. Aku takut bertemu dengannya.
Ku beranikan diriku untuk keluar dari tempat itu.
"Fan..." ternyata Albert menungguku di depan toilet. Aku menengok dan menatapnya.
"Anak Anak bilang lo disini tadi" katanya padaku. Aku hanya menghela napas setelah melihatnya.
"lo mau jadi pacar gue?" kataku to the point. Albert mengangguk terlihat senang.
"gua mau lo ubah penampilan lo" Kataku menunjuk style nya yang culun
"Diubah yang mana?" dia meneliti setiap sengkal pakaiannya.
"gua tau lo pinter, tapi pinter ga harus cupu kan?" aku melipat kedua tanganku di depan.
"lo bawa motor?" tanyaku padanya lagi.
"bawa" katanya padaku.
"good! ikut gue" aku berjalan ke depan parkiran diikuti dia yang berjalan di belakangku.
"kita mau kemana?"ia tampak kebingungan.
"dah ikut aja"kataku padanya.
Dia memboncengku di belakang. Beberapa anak yang masih disana tampak berbisik membicarakan kami. Aku cuek akan hal itu.
Albert memang anak yang pandai di sekolahku. Ranking 1 paralel semenjak kelas 7. Kami pun pernah mengikuti olimpiade matematika bersama tahun lalu. Sedikit banyak aku mengenalnya. Membawanya pergi saat ini bukanlah tanpa sebab. Aku tak ingin diolok anak anak lain karna terkesan menolaknya. Aku juga tak ingin dia diolok anak lain karna ditolak olehku. Dia cukup baik menurutku. Walaupun aku tau gayanya yang super culun sangat menggangguku.
"Kita mau apa ke sini?" dia terlihat bingung ketika aku membawanya ke salah satu optik.
"ngeganti kacamata lo, lo gaboleh pake kacamata itu lagi," Dia mengernyitkan dahi mendengar kata kataku.
"emang salah pake kacamata ini?" tanyanya melepas kacamatanya.
" Al, ini kacamata bulet. Lu kaya pak Budi kalo pake kacamata ini" Aku menggaruk kepalaku sedikit frustasi menjelaskan alasannya pada Albert.
"oh...."
"yok..." aku menarik tangannya masuk ke dalam toko itu.
"teh mau ganti frame bisa?" kataku pada salah satu penjaga optik tersebut.
"bisa kak" jawabnya ramah.
Aku mencocokkan beberapa frame pada Albert. Aku cukup puas dengan pilihanku. Tampak cocok padanya.
"makasih teh" kataku saat meninggalkan toko.
Kami menuju parkiran motor. Aku menatapnya sambil memikirkan apa yang aku bisa ubah dari penampilannya.
"kenapa? masih ada yang perlu diubah?" tanyanya padaku.
Aku sedikit melonggarkan dasi yang dipakainya. Refleks dia sedikit mundur karna jarak kami yang cukup dekat.
"dah... lo harus pake dasi kaya gini setiap hari, Sepatu ga masalah, Ah... tas..." Ku balikkan badannya dan melonggarkan kaitan tas yang dibawanya.
"ini ga sehat buat punggung" katanya padaku.
Refleks aku tersenyum geli karna ucapannya.
"dah nurut deh lo sama gue" kataku padanya. Dia melihatku masih tersenyum.
"kenapa?" aku bertanya padanya karna dia terlihat masih menatapku sangat lama.
"cantik" katanya tersenyum.
Aku mengernyitkan dahi mendengarnya.
"dah yok..., "kataku padanya. Dia mengantarku pulang ke rumah.
"thanks dah dianterin" aku turun dari motornya. Dia mengangguk mendengar ucapanku.
"besok aku jemput ya? aku bawain 2 helm" dia tersenyum padaku.
"Al... gua belum nerima lo jadi pacar gue ya tapi..., maksudnya, ya kita deket aja dulu" aku mencoba menjelaskan sebisaku padanya.
"aku paham kok, kamu pasti kaget aku tembak kaya gitu di depan umum, aku bisa nunggu" dia tersenyum padaku. Mendengar ucapannya aku benar benar merasa bersalah padanya. Sempat terfikir di otakku untuk menolaknya. Tapi orang sebaik dia apa pantas aku tolak. Aku sempat berfikir juga untuk melupakan perasaanku pada Reno.
"thanks... aku masuk dulu ya... kamu ati ati pulangnya" kataku padanya.
Aku melihat Albert pergi dari rumahku. Saat aku berbalik hendak masuk rumah, kulihat Reno di teras rumahnya. Dia melihatku bersama Albert. Aku tak menghiraukannya dan langsung masuk ke rumah.
Aku naik ke lantai atas. Kubaringkan tubuhku di kasur. Hatiku tak tenang dibuatnya. Entah banyak sekali pikiran berkecambuk di otakku. Aku menghela napas berat. Malam itu aku tak keluar kamar sama sekali. aku tak mau melihat Reno. Aku tak mau bicara padanya lagi. Memang benar aku dan dia tak punya kesamaan sama sekali. Mungkin aku bertekat untuk melupakannya dan menerima Albert jadi pacarku.
...----------------...
Pagi itu Albert menjemputku. Dia menungguku keluar dari rumah. Aku cukup senang karna saran yang ku berikan kemarin diterapkan dengan baik olehnya. Ia mengganti kacamatanya. Dan hal yang tak terduga. Dia menata rambutnya membuatku hampir saja tak mengenalinya.
"Ini elo Al?" aku kaget melihatnya datang dengan gaya rambut yang berbeda.
"Ia... yok?" ia memberikan helm nya padaku.
"ga rusak rambutnya pake helm?" tanyaku di perjalanan.
"bawa pomade kok" katanya padaku.
"sejak kapan bisa pake pomade?" tanyaku padanya
"semalem... diajarin abang" Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
"kapan lo ganti motor ?" tanyaku karna baru sadar jika motor yang dipakainya beda dari yang biasa ia kendarai.
"motor abang... kebetulan nganggur yaudah aku pake" katanya padaku. lagi lagi aku hanya mengangguk mendengar ceritanya.
Kami sampai sekolah dengan selamat. Terlihat beberapa anak yang berpapasan dengan kami bergosip.
Saat berjalan menuju kelas, kulihat beberapa anak menggoda kami
"pasangan baru nih"
"Pajak jadian dong"
"cie couple of the year"
"wih... pacar baru, gaya baru ya Al"
Aku cukup risih dengan kata kata mereka. Aku tak suka jadi pusat perhatiaan. Apalagi dengan issue seperti sekarang ini. Aku hanya tersenyum melihat beberapa dari mereka dan mengabaikan beberapa lainnya.
"Fan aku ke kelas dulu ya" kata albert padaku.
"Iya... aku juga ke kelas dulu" aku tersenyum melihatnya. Aku menunduk sepanjang jalan menuju kelas.
"Fan... lo jadian sama Albert?" tanya Anya dengan berteriak ke arahku. Spontan aku menutup mulutnya dengan tangan.
"ih... apaan sih keras banget" kataku padanya.
"serius jadian? lo suka sama dia? sejak kapan? kok lo ga cerita?" Anya benar benar sangat penasaran pada jawabanku.
"apaan sih lo...belum jadian" kataku setengah berbisik.
"terus? lo dijemput sama dia itu?" Anya kembali meninggikan suaranya.
"lo bisa pelan dikit ngapa..."
"ceritain anjir... kok bisa tiba tiba kaya gitu?" tanyanya menyelidik
"gua belum jadian sama dia oke... ya gitu deh pokoknya, dia nembak gua kemarin di lapangan, terus Reno narik gua... terus" Anya memotong perkataanku
"Kak Reno suka sama lo?" Katanya sangat keras. Untung beberapa anak masih ada di luar.
"ih mulutnya" kataku membungkam mulut Anya.
"lah dia ngapain narik lo.."
"gatau.. mungkin mau ngeledek gua kali " aku mengubah posisi dudukku menghadap ke depan. Aku masih kesal dengan tingkah Reno kemarin.
bel masukpun berdering. Beberapa anak mulai masuk ke ruang kelas.
"Nya.. pagi ini matematika?" aku kaget ketika menyadari jam pelajaran 1 adalah mata pelajaran matematika yang tentunya Reno akan masuk ke kelasku.
"iya... kenapa?"
"mampus gua... gua ke UKS aja kali ya" aku panik setelah mendengar kata kata Anya. Aku reflek berdiri meninggalkan bangkuku.
"Selamat pagi semua..." TERLAMBAT....!!