My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
PENYESALAN



"Kak Eni mantan kak Reno punya pacar baru Fan... gua gatau deh kenapa dia kek gitu, kakak gua kurang apa coba" Vesa bercerita padaku dengan menggebu gebu. Aku kaget mendengar ceritanya.


"Reno putus?" tanyaku tak yakin.


"iya... 2 hari yang lalu. Lo gatau? Kak Reno mergokin dia ciuman sama temen sekelasnya. Dia sayang banget sama Eni Fan... sampe dia coba berusaha buat balikan, tapi kayaknya emang udah ga bisa deh" dia bercerita panjang lebar padaku.


"2 hari yang lalu? ketika Albert nembak aku?" batinku dalam hati.


Pikiranku menerawang kembali di saat dia menarikku dari lapangan. Aku bertanya tanya kenapa hari itu Reno datang ke sekolahku. Hari itu tak ada jadwal mengajar untuknya. Hari itu kenapa dia menemuiku. Aku terus bertanya dalam pikiranku. Apakah pikirannya begitu kalut setelah putus dengan Eni sampai sampai dia menemuiku.


Tapi seharusnya dia tak mengatakan itu padaku.


"Aku menamparnya...." kataku dalam hati.


Rasa bersalahkupun muncul. Pasti sangat sakit ketika aku menamparnya. Aku menghela napas berat.


"Fan... lu dengerin gua gasi?" Vesa menyadarkanku dari lamunanku.


"abang lo mana?" tanyaku padanya.


"di rumah... "ia menunjuk ke arah rumahnya.


"lo jaga rumah gua ya, gua mau keluar sebentar, awas kalo lo keluar kamar gue, kamar ini paling aman, ga ada hantu disini" kataku padanya.


"lo kok nakutin gue sih... ih janngan tinggalin gue dong" aku membuka pintu kamarku dan menutupnya kembali. Vesa berusaha untuk menahan pintu tapi terlambat. Dia akhirnya terkunci di kamarku.


"Faniiiiii.... gila lo ya... awas lo ya kalo lama..." katanya berteriak.


Aku cepat cepat menuruni tangga dan berlari ke rumah Reno. Aku mengatur napasku dan menguatkan tekadku untuk memencet bel rumahnya.


Aku memencet bel rumahnya. Tak lama Reno keluar rumah. Dia tampak sedikit kaget melihatku di depan rumahnya.


"Fan..." dia membuka pintu rumahnya. Aku duduk di depan teras rumahnya. tak ada percakapan antara aku dan Reno. aku coba menyusun kata untuk membuka pembicaraan kita agar tak hambar.


“Jadi ini pemandangan yang lo liat tiap hari?”kataku padanya


“bagus dari balkon lo ya?”


"iyasih... lo dari sini cuma bisa liat rumah gua" kataku meneliti sekitar


"ya... sialnya gue gitu sih" dia tersenyum melihatku.


"gua denger lo putus dari pacar lo?" kataku memberanikan diri bertanya padanya.


"hem... di hari lo jadian sama pacar lo" katanya mencoba tersenyum


"gue ga pacaran..." perkataanku membuatnya menengok ke arahku.


"lo dianter jemput dia tiap hari itu....."


"baru deket, gua belum nerima dia" aku memotong ucapan Reno. Dia masih diam mencerna kata kataku. Sementara aku salah tingkah karna dia terus melihatku.


"sorry udah nampar lo hari itu" aku menunduk ketika mengatakannya. Aku tak berani menatapnya kembali. Ada rasa malu dan bersalah atas apa yang kulakukan.


"lo pantes marah sih... gua yang kelewatan" katanya padaku. Aku cukup senang mendengar Reno sudah tak marah padaku.


"kirain lo marah, lo ga pernah ngajak gue ngobrol setelah itu" kataku tersenyum.


"siapa yang ngasih tau lo gue putus?" tanyanya padaku.


"Adek lo lah... sapa lagi" dia tertawa mendengarku.


“lo sayang banget ya sama pacar lo?”kataku mencoba bertanya


“gue pacaran dah 4 tahun Fan....,boong rasanya kalo gue bilang gua ga sayang sama dia, tapi ya gitu... dia milih cowo lain di banding gue yang udah 4tahun sama dia.”kata reno masih dengan muka sedih. Aku sedikit kecewa dengan jawabannya. Aku merasa tak ada celah buatku masuk dan menggantikan orang itu dihatinya. Dadaku sebenarnya sangat sesak. Tapi aku mencoba menahannya.


"gua pulang dulu ya... Vesa masih di rumah gue" kataku padanya.


"dia masih dirumah lo? pantesan pesenan gue ga dateng dateng" dia melipat tangannya ke depan.


"martabak depan kompleks" aku tertawa mendengarnya.


"yaudah ntar gue suruh dia cepet balik deh... dah gue pulang dulu" kataku melangkahkan kaki keluar rumahnya.


"bye..." dia mengantarku sampai depan gerbang.


aku pulang ke rumah. Kulangkahkan kakiku menuju lantai 2. Kubuka pintu kamarku


"udah?" kata Vesa bersemangat.


"udah" aku masuk ke kamar dan duduk di kasurku.


"ko cepet? kak reno bilang apa?" tanyanya padaku.


"kepo lo ah... dah sana.. abang lo nyruh apa tadi ke lo" kataku padanya


"astaga gue lupa... yaudah gue pergi dulu bye..." katanya buru buru turun ke lantai 1. Aku hanya tertawa melihatnya.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Kubuka laci dan kuambil foto disana. Itu fotoku dan Reno. Aku terus menatap foto itu, foto pertamaku dan dia. Aku tersenyum melihatnya. Andai saja aku tak dekat dengannya. Rasa ini tak akan pernah ada. Tak terasa aku tertidur sambil memegang foto itu.


......................


Hari hari setelah itu aku kembali dijemput oleh Albert. Dia benar benar baik padaku. Hubunganku dengan Reno pun baik baik saja. Walaupun aku merasa dia tetap menjaga jarak dariku. Mungkin karna aku sedang dekat dengan Albert.


"ketua kelas tolong bantu bawakan buku ke ruang guru ya"kata Reno ketika kelas telah selesai. Aku membantunya membawakan buku yang cukup banyak.


"kuat?" tanyanya padaku.


"kuat lah..." kataku padanya


Aku dan dia berjalan menuju ruang guru. Sesekali dia menggodaku karna badanku sesekali oleng karna buku yang berat.


"makanya olahraga, oleng kan jadinya"


"ih... ini ma karna tangganya Ren..." aku dan dia tertawa karna hal itu.


"Fan..." Albert memanggilku, dia melihatku membawa banyak tumpukan buku.


"biar gue aja, bawa kemana kak?" tanyanya pada Reno.


"Ruang guru" katanya singkat. Kulihat ekspresi Reno sedikit berubah. Dia tampak tak suka dengan Albert.


"kalo gitu aku balik kelas gapapa kan?" tanyaku pada Reno. Dia hanya mengangguk mendengar ucapanku.


Akhrnya aku kembali ke kelas.


Pulang sekolah, aku berjalan menuju parkiran dengan Albert. Sesekali kami tertawa karna lelucon darinya. Aku melihat Reno disana. Dia sedang digoda beberapa anak perempuan anak kelas sebelah. Dia hanya tersenyum ketika beberapa dari mereka mengajaknya berbicara.


"gampangan" aku mengendus napas kesal ketika melihatnya


"siapa?" tanya Albert padaku.


"itu.. siapa sih anak kelas kamu, murahan banget sampe ngegodain cowo kaya gitu" kataku dengan nada kesal.


"Fransiska?" Albert menengok ke kerumunan anak perempuan yang ku tunjuk.


"dah yok..." kataku berjalan mendahuluinya. Ku lirik Reno yang masih asik mengobrol dengan anak anak itu.


"dasar buaya" umpatku dalam hati


Aku dan Albert berlalu melewati Reno.


"Kamu kenapa? tiba tiba cemberut gitu?" tanyanya padaku ketika di motor.


"gapapa... lagi nikmatin angin aja" kataku singkat


"Kak Reno tetangga kamu ya ternyata..." Aku cukup kaget mendengar perkataan Albert