My Neighbor: Reno

My Neighbor: Reno
SEBUAH PENGAKUAN YANG TERTUNDA



aku terdiam mendengar pertanyaan Anya. Aku tak tau harus memberi jawaban apa padanya.


"fan...." tanyanya lagi padaku


"Gue gatau" kataku singkat


"Lo suka sama dia?" Anya bertanya serius padaku.


"menurut lo?" tanyaku padanya


"menurut gue, lo ga suka sama dia... sikap lo ke dia bukan kaya orang yang jatuh cinta" anya memandangku lekat lekat.


"iya kan?" dia bertanya sekali lagi padaku.


"terus gue harus gimana?"


"ya memperjelas hubungan kalian lah... lo ngebaperin anak orang Fan" katanya padaku.


"gue ga tega ngomong nya Nya... Al baik banget sama gue" aku menekan kata kataku.


"ya harus tega... atau lo jadi orang yang paling jahat di antara kalian" Aku menghembuskan napas frustasi mendengar perkataan Anya.


Dia benar. Aku harus membuat semuanya jelas. Tapi aku tak tau harus mulai dari mana. Aku bahkan tak pernah menjalani suatu hubungan. Mana bisa aku memutuskan hubungan dengannya. Tidak, lebih tepatnya menolaknya karna aku dan dia belum berpacaran.


......................


Reno


Ku pacu motor yang kunaiki bersama Vesa pagi ini. Aku benar benar tak tahan melihat Fani dengan Al. Sebenarnya aku menilai Al cukup baik, tapi aku tetap tak suka Fani dekat dengan orang lain.


Apakah aku cemburu batinku dalam hati


"kak.... Fani sama siapa?" pertanyaan Vesa membuyarkan lamunanku.


"temennya"


"kok tumben dia dijemput cowo, biasanya Anya" Vesa mengerutkan dahi mendengar jawabanku.


"ya biar lah... mereka lagi deket"


"hah? kok bisa? Fani? kak Reno gimana sih..." Vesa memukul punggungku membuat motor yang kami kendarai sedikit oleng.


"ih... aku lagi nyetir Ves bahaya gila ya..." kataku meninggikan suara.


Tak lama aku tiba di sekolahh Vesa. Dia mencopot helm yang dipakainya.


"kok bisa?" vesa masih sibuk membuka helm nya


"apanya?"


"ya kakak kalah start"


"apaan sih..."


"ngaku aja kak... kakak tu sebenernya suka kan sama Fani?" Vesa menyipitkan matanya.


"apaan sih... dah mana helm nya... gue telat" aku mengambil paksa helm yang dipegang Vesa.


Aku melajukan motorku menuju sekolah. Aku tak tau apakah yang dikatakan Vesa benar. Haruskah aku memastikannya. batinku dalam hati.


Sepulang sekolah aku menunggunya di depan teras rumahku. Kulihat Albert mengantar Fani pulang. Aku memperhatikan mereka dengan seksama. Fani terlihat cukup senang mengingat dia tersenyum ke arah Albert. Setelah Albert pulang aku menghampiri Fani.


"Fan..." dia berbalik melihatku.


"Ya... kenapa?"


“ikut mancing yok” Aku melemparkan alat pancing padanya.


“random banget, ih nggak ah... ngapain?”


“nemenin gua doang” aku menyematkan topi di kepalanya.


“yaudah gue ganti baju dulu“


ia menyerahkan pancing yang dipegangnya padaku.


“mancing di belakang rumah lo... ngapain ganti baju?"


“lo mau cari ikan cere di belakang rumah gue?" aku mengerutkan dahi


“ya seadanya... dah yok..." aku meninggalkannya di belakang. Kulirik Fani setelah berjalan beberapa langkah di depan. Dia meletakan tas yang di dengongnya di teras rumahnya. Ia lalu sedikit berlari mengejarku.


“kenapa ga ngajak Vesa aja sih?”tanyaku pada Reno


“dia ga mau kulitnya gosong katanya,”


“ya gue sama ege!" dia terlihat agak kesal mendengar jawabanku. Aku tersenyum licik karna tingkahnya.


“nih bawa pancingannya ,biar gue bawa umpannya “ Aku menyerahkan alat pancing yang dia kembalikan padaku.


“dih... dah suruh nemenin, suruh bawain juga" katanya menggerutu.


“milih bawa cacing atau pancingan" aku menyodorkan cacing yang ada di cup gelas yamg ku bawa. Mata Fani tiba tiba melotot melihat cacing cacing itu. Dia hanya menggeleng pertanda tak mau berurusan dengan cacing.


Aku puas melihat ekspersinya seperti itu. Aku kembali berjalan di depannya. Dia berjalan menyusulku di belakang.


Akirnya kami sampai ke tempat yang di tuju. Tempat itu adalah sebuah aliran sungai berukuran sedang. Aku memasang umpan di tempat yang biasa untuk memancing sedangkan Fani duduk di sebelahku.


“sejak kapan suka mancing?”


Fani bertanya padaku.


“lah...?hobi baru?”


“bisa dibilang gitu, ngelatih kesabaran“ Aku masih sibuk mengaitkan umpan di alat pancing.


“dipikir pikir lo lama juga ya pacaran sama mantan lo, 4tahun...” Fani spontan bertanya padaku.


“ya gitu...Dia tu orangnya asyik walaupun kadang ada sisi kekanak kanak an nya. Tapi dia cukup bisa ngertiin gua yang ambis sama cita cita gue sih, mungkin karna itu gua bisa lama sama dia. Tapi kan 4tahun ga mungkin ga ada titik jenuhnya. Gua juga ga bisa nyalahin 100% dia selingkuh karna karna kesalahan dia, gua juga salah disana" Aku tersenyum melihat Fani mendengarku bicara. Lucu memang, aku mengajaknya untuk menemaniku karna ingin memastikan perasaanku. Tapi aku malah menceritakan orang lain.


Fani tersenyum mendengarkan ceritaku.


"lo sama Albert gimana?"


"gatau... gue juga bingung, Dia baik banget sama gue sebenernya, tapi gatau sampe sekarang hati gue belum ke dia aja" Fani menunduk menceritakan Albert. Aku tak bisa membaca isi hatinya karna aku tak melihat wajahnya. Yang pasti aku menggaris bawahi 1kalimat disana.


"hati gue belum ke dia" 1 kalimat yang membuatku sedikit berharap aku bisa masuk dalam kehidupan Fani. 1 kalimat yang sedikit membuatku lega dan senang.


"tapi lo harus tegas sih... mau iya atau enggak" Aku spontan berkata demikian pada Fani. Dia menengok menatapku.


"menurut lo mending gue terima atau enggak?"


"ikuti hati lo aja..."


Aku masih menatapnya lekat. Aku mencari celah disana, mencari celah apakah aku punya kesempatan untuk bersamanya.


"berat deh... " dia tersenyum memalingkan muka.


"pelan pelan lah kalo berat" kataku padanya.


"ikan!" Fani berteriak ketika melihat pancingku bergerak. Aku yang kagetpun menarik pancingnya. Disana, aku mendapatkan ikan berukuran sedang. Aku dan Fani tertawa dan bersorak kegirangan karnanya.


"ga nyangka loh bakal dapet, gila bakat juga gue mancing" aku masih tertawa melihat ikan itu.


"di pelihara aja ini" kata Fani padaku. Dia membantuku melepaskan kail yang menyangkit pada mulut ikan itu.


Aku dan Fani pulang setelah menangkap 2 ekor ikan. Aku memberikan 1 ikan itu pada Fani. Dia sangat senang mendengarnya. Meskipun tak ada yang bisa aku pastikan dari percakapan kami saat memancing. Setidaknya aku senang bisa menghabiskan waktuku dengannya.


Malam harinya, Aku melempar batu ke arah kamarnya. Ku letakkan gitarku di teras. Aku mencari keberadaan Fani yang tak kunjung muncul.


"apa dia tidur?" kataku bermonolog.


Fani tak keluar kamar sama sekali. Aku kembali duduk di teras rumahku. Ku petik gitarku. Menyanyikan lagu yang ku sukai Bruno Mars. Aku tak bisa memungkiri jika aku menyukai lagu ini karna Fani.


IT WILL RAIN


If you ever leave me baby


Leave some morphine at my door


Couse it would take a whole lot of medication


To realize what we used to have


We dont have it anymore


There’s no religion that could save me


No matter ow long my knees are on the floor ,oh


So keep in mind all the sacrifices im making


Will keep you from walking out the door


Couse there’ll be no sunlight if i lose you baby


There’ll be no clear skies if lose you,baby


Just like the clouds my eyes will do the same


If i walk away every day it will rain rain rain


Saat lagu yang ku nyanyikan telah selesai, aku mendengar suara tepuk tangan dari atas sana.


"keren.. " Aku tersenyum melihat Fani ada di sana. Dia tersenyum padaku.


"kok baru keluar?" Aku meletakan gitarku disampingku.


"lagi belajar aku... senin dah ujian"


“oh... ujian”


"lo bisa tanya ke gue kalo ada yang lo bingung in" Aku menawarkan bantuan padanya.


"serius?" Dia sangat bersemangat mendengarku mengatakan hal itu.


"iya..."


"fisika bisa?" katanya bersemangat


"bisa..."


"oke, gue lagi belajar fisika, lo besok ke sekolah kan? gue mau tanya tanya soal fisika ke lo"


"yaudah... pas istirahat ya?" kataku padanya


"janji ya... deal" Aku tertawa melihatnya kegirangan.


"deal" jawabku tersenyum padanya.


...----------------...