
Aku dan Danar pergi ke caffe tempat yang biasa kami kunjungi bersama Anya.
”Mau pesen apa kak?” Salah satu pelayan dengan ramah menghampiri kami.
“Matcha latte 1." Aku melihat menu yang dibawakan pelayan tersebut.
“Dua ya teh. Sama pesan kentang goreng 1 porsi." Danar menimpali ucapanku.
“Baik kak ditunggu sebentar ya." Kata pelayan itu dengan ramah.
Aku dan Danar memang sudah lama berteman. Kami berteman sejak aku masih sangat kecil. Seingatku aku bertemu dengannya ketika masih kelas 1 SD.
Papa Danar bekerja di kebun nenek saat itu. Aku harus tinggal bersama nenek karena Mama dan Papa sedang mendapatkan kontrak di Australia.
Saat nenek meninggal, keluarga Danar lah yang mengurus semua keperluan pemakaman, sebelum Mama dan Papa pulang ke Bandung.
Saat itu aku menganggap Danar dan keluarganya seperti keluargaku sendiri. Danar menjadi temanku sekaligus kakak bagiku.
“Kamu mau ngomong apa?” Danar membuka percakapan diantara kami.
“Kemarin kamu kemana kak?”
“Main sama temen, kenapa?" Danar mengerutkan dahi mendengar pertanyaanku.
“Ya kemana?” Aku meninggikan nada bicaraku.
“Memang kenapa?"
“Aku serius kak, Ini menyengkut sahabatku." Aku menekan setiap kata yang ku ucapkan.
“Siapa? Anya?” Danar heran melihat tingkahku yang tampak cemas.
“Ya siapa lagi,” Suasana hening. Kak Danar tak menjawab pertanyaanku.
“Ini silahkan,“ Semua keheningan terpecah setelah pelayan mengantarkan pesanan kami.
“Makasih," Jawabku tersenyum padanya.
“Kak?” Kali ini aku yang membuka pembicaraan. "Kamu sayang kan sama Anya?” Tanyaku menyelidik.
“Apa harus aku jawab? Ya jelas lah Fan." Katanya yakin.
“Kalo kamu emang sayang sama dia, kamu harus jawab dengan jujur. Apa kemarin kamu main sama geng D-Roft?" Danar tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaanku.
“Hah? Jelas enggak lah Fan, ngapain juga aku main sama mereka."
“Jawab jujur kak Dan!" Tiba-tiba HP Danar berbunyi.
“Bentar, aku angkat dulu," Dia meninggalkanku sendiri. Aku hanya menyelidik melihatnya berlalu menjauh dariku.
"Siapa sebenarnya yang Ia telfon? Kenapa sampai aku tak boleh mendengarnya?" Tingkah kak Danar benar benar membuatku penasaran.
“Siapa?” Tanyaku padanya saat kembali.
“Anya, Dia minta jemput sekarang."
“Oh, Yaudah jemput dia." Aku tersenyum padanya.
“Kamu pulangnya gimana?” Dia tampak sedikit khawatir padaku.
“Gampang, nanti aku bisa pake taxi." Aku tersenyum melihat dia pergi.
"Benar, kak Danar tak mungkin ada hubungannya dengan geng itu, Aku mengenalnya dengan baik." kataku dalam hati.
Jujur aku dalam posisi ragu dan bimbang. Di sisi lain, aku sangat percaya padanya. Tapi entah kenapa ada hal yang membuatku tak yakin dangan ucapan kak Danar.
Beberapa menit setelah itu, Aku memutuskan untuk pulang. Aku menghadang taxi di depan caffe. Mataku tertuju pada seseorang yang tak asing di sebrang jalan. Aku melihat Reno dan seorang perempuan berseragam SMA. Dari seragam perempuan itu, aku tau jika mereka bersekolah di tempat yang sama.
Aku meliriknya sebentar. Tak lama taxi yang aku pesan datang. Aku masuk ke dalamnya.
"Cibaduyut Indah ya neng?" Tanya sopir taxi itu kepadaku.
"Iya, nanti lewat gang depan saja ya pak, jam segini suka macet kalau lewat samping." Kataku menerangkan.
"Oke neng siap!" katanya padaku.
Pikiranku terus melayang memikirkan kak Danar. Aku takut jika memang dia bergabung dengan geng itu. Banyak hal yang sangat berkecambuk di pikiranku. Tak hanya kak Danar, tapi juga Reno. Masih kesal rasanya mengingat dia meninggalkanku pagi tadi.
"Apa itu pacarnya?” Tiba tiba terlintas di pikiranku tentang apa yang kulihat tadi. Tak penting memang, tapi sedikit banyak membuatku penasaran.
"Kenapa dia datang ke sekolahku tadi pagi?" Pikiran tentang Reno yang datang ke sekolahku pun terlintas di kepalaku.
"Ini belok kanan kan neng?" Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.
"Iya pak benar," kataku sedikit kaget.
“Makasih neng."
Aku segera masuk ke rumah.
"Assalamualaikum."
“Waalaikumsalam, Neng udah pulang?" Terdengar suara bibi yang bersemangat dari dalam dapur.
"Mama mana bi?”
“Belum pulang atuh neng, mau makan apa?” tanyanya padaku.
“Apa aku harus sakit dulu baru Mama sama Papa pulang?” Aku sangat kesal pada mereka. Aku naik tangga menuju kamarku di lantai 2.
"Aduh, kok ngomongnya gitu sih? Mereka cari uang juga kan buat neng Fani juga."
“Fani gak laper bi, nanti kalo bibi mau pulang tolong kunci pintunya. Fani mau dikamar seharian " kataku dari atas tangga.
"Makan dulu atuh neng!" katanya padaku.
Aku mengabaikan perkataan bibi. Ku rebahkan tubuhku di kasur. Aku terus mengutuk diriku sebagai anak yang seperti tidak dianggap.
"Aku benar benar rindu nenek." Kataku tak sadar menitihkan airmata.
RENO
Aku dan Eni pergi ke caffe tempat biasanya kami pergi untuk makan siang bersama. Aku melihat Fani keluar dari caffe seberang.
"Sedang apa dia disana?" gumamku dalam hati.
"Sayang, kamu mau pesen apa?”kata Eni padaku.
“Matcha latte 1, Aku tadi udah makan di kantin sekolah jadi masih kenyang." Aku masih berfikir tentang Fani yang barusan keluar dari caffe depan.
"Oke." kata Eni ramah padaku.
“Kamu kenapa ?” Eni tampak khawatir melihat raut wajahku.
“Gak papa kok." Aku tersenyum melihatnya.
Setelah selesai makan, Aku mengantar Eni pulang ke rumahnya. Aku memacu motorku menuju rumah setelah mengantar Eni pulang. Kulihat rumah Fani sanhat sepi. Ia sama sekali tak keluar untuk berdiri di balkon seperti biasanya.
Entah mengapa malam ini terasa berbeda. Mungkin karena aku sedikit kecewa tak ada yang bisa aku ganggu malam ini.
“Apa dia sakit? Kenapa dia gak keluar?” gumamku sembari duduk di depan teras.
“Siapa kak?”tanya Vesa mengagetkanku dari belakang.
“Bukan siapa- siapa." kataku sembari berdiri hendak masuk ke rumah.
“Akhir- akhir ini kakak sering banget duduk di luar, kenapa? kesambet ntar!“ kata Vesa menyelidik.
“Enak aja, enggak lah. Kamu kali yang kesambet.” Kataku melanjutkan langkahku masuk ke dalam.
"Oh, pasti gara-gara Fani kan kak?” katanya meledek.
“Cewe judes itu? Konyol kamu!” Kataku sambil mengacak- acak rambut Vesa.
“Udahlah ngaku aja. Iya kan?"
“Enggak lah adikku sayang, kan kakak udah punya Eni." Aku tersenyum melihat Vesa yang cemberut.
“Lupa, kak Reno langeng banget ya? 4 tahun sama dia. Aku aja pacaran 1 minggu aja putus. Salut deh sama kakak." Vesa membuntutiku masuk ke dalam rumah.
Aku masuk ke kamar setelah menenggak habis kopi yang kubuat. Kuhidupkan MP3 milikku. Ku buka playlist musik kesukaanku.
Seperti biasa, Bruno Mars. Penyanyi yang aku suka dari dulu. Lagu yang selalu aku dengarkan 5 tahun belakangan ini.
Aku ingat pertama kali aku mendengar lagu ini karena seseorang.
"Fani." kataku dalam hati. Entah mengapa aku tersenyum mengingatnya.
Aku ingat betul pertama kali Ia datang ke lingkungan ini. Aku membuatnya menangis karna tak sengaja menumpahkan air di MP3 miliknya.
Karna hal itu, Aku dengan susah payah menabung untuk mengganti MP3 nya yang telah rusak. Tapi tak sempat aku mberikan hadiah ini padanya. Ia bahkan tak mau bertemu denganku beberapa bulan setelah itu.
"Masih ku simpan Fan. Kau tak ingin mengambilnya?" kataku menerawang mengingat masalalu.
Kupandangi MP3 yang ku pegang hingga tak sadar aku tersenyum mengingatnya.
...****************...
...Verlyn Nymphaea...