MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 9. Mengancam



"Selamat pagi juga," James dan Jessie mengangguk membalas senyumannya.


"Perkenalkan nama saya Nerissa Tuan James dan Nyonya Jessica, saya yang akan bertugas sebagai perawat pribadi Tuan James." ucap wanita bernama Nerissa itu mengulurkan tangannya.


James dan Jessie menyambut baik uluran tangan Suster Nerissa.


James mengajak Nerissa sarapan bersama mereka.


"Mari kita sarapan sama-sama sus!" tawar James.


"Ah tidak Tuan, saya nanti sarapan di belakang saja bersama para pegawai yang lain," ucap Nerissa merasa sungkan.


"Nggak perlu sungkan sus, mari kita sarapan bersama aja," sahut Jessie.


"Baiklah kalau begitu Nyonya.. Tuan.."


Nerissa akhirnya duduk di meja makan itu dan sarapan bersama mereka.


Setelah mereka telah menyelesaikan sarapan mereka, James kembali ke kamarnya dengan diantarkan Nerissa. Sedangkan Jessie berjalan beriringan mengikuti keduanya.


Saat perjalanan menuju kamarnya, James berbincang sebentar mengenai tugas perawat baru itu.


Sedangkan suster itu hanya mengangguk tanda mengerti lalu pamit kembali ke lantai bawah pada James dan Jessie, saat keduanya telah masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian Jessie yang telah selesai bersiap lalu pamit pada James untuk berangkat bekerja dan James pun mengiyakan.


"Aku berangkat dulu ya kak, kalau kakak mau mandi sore tolong tunggu aku yang memakaikan baju untuk kakak," ucap Jessie yang berdiri didepan James yang tengah memangku laptopnya.


"Kan sudah aku bilang, jangan memikirkanku. Sudah ada perawat yang akan membantuku melakukan segala hal." James berpura-pura tidak peduli.


"Tapi aku nggak suka wanita lain menyentuh kakak!" ucap Jessie memberanikan diri.


"Bukan urusanmu Jessie! Jangan campuri urusanku!"


"Tapi aku ini.."


"Udah berangkat sana! Aku capek pagi-pagi terus berdebat denganmu!" potong James.


"Baik Kak James, aku berangkat!" ucap Jessie kemudian mengecup tangan suaminya.


"Hm, Hati-hati!"


"Iya kak,"


Jessie pun keluar kamar mereka dan berangkat ke kantornya.


Entah apa yang ada dipikiran James, dia mulai menyukai istrinya tapi dia masih malu dan gengsi untuk mengakuinya. Dia sendiri sebenarnya juga tidak berharap disentuh wanita lain, kata-kata hanya bertujuan untuk membuat Jessie cemburu.


**


Di kantor perusahaan Robert, Jessie mengerjakan semua pekerjaannya yang sudah menumpuk, bahkan dia tidak sempat untuk makan siang.


"Tok! Tok!"


Seseorang mengetuk pintu ruangan Jessie dari luar.


"Masuk!" jawab Jessie.


"Jess! Apa kau tidak merindukanku?" tanya Mike yang masuk keruangan Jessie sembari tersenyum manis dan membawa makan siang untuknya.


"Ah Kak Mike! Maaf beberapa hari ini aku membuatmu bekerja sendirian, mulai hari ini aku akan menebusnya dan menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat." ucap Jessie membalas senyuman manis Mike.


"Hmm, baguslah aku maafkan! Tapi jangan sampai melupakan waktu makan siangmu Jess!" ucap Mike sembari menyerahkan bungkusan makan untuk Jessie.


"Makasih Kak Mike, selalu deh baik!" ucap Jessie berbinar bahagia sembari mencubit pelan pria yang sudah dia anggapnya kakak itu.


"Ah Jessie! Jangan menyentuhku!" keluh Mike.


"Ah maaf kak! Aku spontan aja tadi, hehehe!" Jessie merasa tidak enak.


"Kalau kamu terus bersikap manis dan menyentuhku, aku bisa jatuh cinta padamu!" ucap Mike yang tiba-tiba melayangkan pandangan menggoda pada Jessie.


Bukannya terpana, Jessie malah melempar bantex yang ada di depannya.


"Inget di depan kakak nih bini orang! Dasar buaya!" cibir Jessie dan Mike hanya terkekeh.


Jessie pun memakan makan siangnya ditemani oleh Mike di ruangannya.


**


Di mansion James, setelah dia melakukan terapi sejenak bersama suster barunya, James bersantai minum kopi sembari menonton televisi di ruang tengah, ditemani oleh suster pribadinya.


Suster itu terlihat mencuri-curi pandang ke arah James dan memuji ketampanan pria itu dalam hatinya.


"Kalau kamu merasa lelah, beristirahatlah di kamar tamu suster Risa, jangan sungkan!" ucap James.


"Tidak Tuan muda, terimakasih. Saya tidak lelah sama sekali kok, anda adalah pasien yang paling baik yang pernah saya rawat," puji Nerissa sembari tersenyum manis.


"Hah? Baik? Baik darimananya sus? Padahal aku tipe pria yang irit bicara," ucap James tersenyum lucu.


"Ya itulah yang membuat anda baik Tuan James, anda tidak cerewet dan tidak banyak permintaan ini itu." jawab Nerissa.


"Wah benarkah? Jadi selama ini kebanyakan pasien kamu cerewet semua ya?" tanya James sedikit penasaran dan Nerissa pun mengangguk tersenyum.


"Berarti orang sepertiku nggak cocok jadi perawat, bisa-bisa mereka yang aku marahi karena cerewet dan banyak maunya." ucap James tersenyum lucu dan Suster Nerissa pun ikut tersenyum.


"Setiap orang memang memiliki kelebihan sendiri-sendiri Tuan, anda dituntut menjadi orang yang tegas dan kuat karena kelebihan anda berputar pada dunia bisnis. Jika anda lemah, anda tidak akan sehebat seperti sekarang." puji Nerissa.


"Ah jangan terlalu memuji sus! Aku hanya pria lemah dan lumpuh sekarang, nggak ada yang bisa dibanggakan lagi." ucap James tersenyum getir.


"Tuan, jangan merasa berkecil hati! Tuan harus yakin dan semangat untuk sembuh. Kita tidak akan tahu, kapan pertolongan Tuhan itu datang, yang terpenting kita sudah berusaha dan berdoa." nasehat Nerissa.


"Amiinn, terimakasih atas doanya sus!"


"Sama-sama Tuan muda,"


**


Setelah lelah bersantai di lantai bawah, James meminta untuk diantarkan ke kamarnya.


Nerissa pun mendorong kursi roda James dan membawa pria itu ke kamar pribadinya.


Saat mereka telah berada di kamar, Nerissa membantu James untuk duduk di samping ranjangnya.


"Eh tunggu sus!" panggil James saat suster itu akan meninggalkannya kamarnya.


"Iya tuan muda?"


"Aku minta tolong ambilkan laptopku yang ada di meja depan sofa itu!"


"Baik Tuan muda,"


Saat Nerissa akan mendekat lagi ke arah James untuk memberikan laptopnya, tak disangka suster itu tersandung karpet tebal James dan tiba-tiba dia terjatuh tepat menimpa James yang sedang duduk di samping ranjangnya.


Dengan sigap, satu tangan James menangkap laptopnya dan satunya lagi menangkap pinggang suster cantik itu, hingga suster itu jatuh terduduk dipangkuannya.


"Ah!" seru keduanya bersamaan.


Pandangan keduanya pun beradu sejenak karena terkejut.


Terdengar langkah kaki dari arah pintu tapi keduanya tak menyadarinya.


"Braaakkkk!!!"


Dan ternyata itu adalah Jessie, dia melemparkan tas kerjanya ke meja dengan sembarangan saat melihat pemandangan yang memuakkan di depan matanya.


Sedangkan Nerissa yang menyadari telah menimpa James segera bangun dari pangkuan pria itu.


Keduanya menjadi gelagapan dan salah tingkah melihat pandangan tajam Jessie.


"Apa yang kalian lakukan di kamar!" seru Jessie yang kesal.


"Ma.. maaf nyonya muda, kami tidak melakukan apapun. Saya hanya tak sengaja terjatuh tadi," ucap Nerissa merasa bersalah.


"Cihh alasan! Atau jangan-jangan kamu sengaja ya menjatuhkan tubuh kamu agar bisa memeluk suamiku!" hardik Jessie.


"Maaf nyonya muda, saya benar-benar tidak sengaja terjatuh dan menimpa tuan muda. Saya mohon maaf nyonya," ucap Nerissa dengan mata berkaca-kaca.


"Aku peringatkan kamu! Jangan coba-coba mendekati suamiku, jika kamu nekad aku bisa menghancurkan kamu dengan mudah!" ancam Jessie sembari menunjuk wajah Nerissa dengan geram.


"JESSIE! JANGAN KETERLALUAN KAMU!" teriak James.


Entah kenapa James tiba-tiba merasa tak suka melihat Jessie yang biasa terlihat manis dan penurut, kini menunjukkan sifat arogan dan sombongnya.


"Tapi Kak James.." Jessie mendadak menciut mendengar bentakan suaminya.


Hatinya begitu sangat sakit, James membentak dirinya di depan wanita lain, apalagi wanita itu sangat dia benci saat ini. Dia mempunyai firasat, jika wanita itu memiliki tujuan yang buruk pada mereka.


"Apa kamu nggak dengar kalau Suster Nerissa emang nggak sengaja? Dia kan juga udah minta maaf! Kenapa kamu malah berfikiran buruk dan malah mengancamnya?" James menatap tajam ke arah Jessie.


Jessie tak menjawab, dia hanya terdiam sembari mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan segala amarahnya.


"Bre*****k! Lihat aja suster j***ng! Aku nggak akan biarin kamu ngerebut Kak James dariku!" umpat Jessie dalam hati.


"Sus, aku tau kamu emang nggak sengaja dan kami memaafkan kamu. Tolong kamu kembali ke bawah aja! Terimakasih untuk semua bantuan kamu hari ini!" ucap James pada Nerissa.


"Baik Tuan muda.. Nyonya muda.. terimakasih." Nerissa menunduk sekilas lalu pergi dari kamar James.


Setelah kepergian Nerissa, keduanya hanya terdiam dengan perasaan kesal masing-masing.


James menyibukkan diri dengan laptopnya.


Dan Jessie pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh dan menyegarkan kepalanya yang sudah terasa sangat penuh.


"Ceklek!"


Setengah jam berlalu, Jessie telah selesai mandi dan telah memakai pakaian santainya.


"Apa Kak James mau mandi? Biar aku bantu ya?" tawar Jessie.


Dia memutuskan untuk tak memperpanjang pertengkaran mereka agar tak ada celah bagi wanita lain untuk mendekat pada suaminya.


"Nggak usah, biar Suster Nerissa aja yang bantu aku!"