MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 14. Rencana Yang Tertunda



"Astaghfirullah Hal'adzim suamiku.. Mana ada aku malu!" Jessie menghela nafasnya panjang, "Apapun yang terjadi aku nggak akan malu dan akan selalu berada disisimu sayang!" Jessie berjongkok dan menggenggam tangan suaminya.


"Terimakasih sayang, Aku sangat mencintaimu." James mencium lembut kedua tangan istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu suamiku! Lagipula kenapa terus berkecil hati, aku yakin kalau kamu bisa sembuh dan normal lagi sayang. Jangan pantang menyerah ya suamiku!" Jessie menyemangati suaminya.


"Amiinn.. Terimakasih sayang!" James sangat bahagia istrinya menerimanya apa adanya dan memberikan dukungan dan semangat untuknya.


"Ayo kita siap-siap lalu berangkat!" ajak Jessie dan James pun mengangguk.


Setelah beberapa menit melakukan persiapan kini mereka pun berangkat diantar supir pribadi mereka.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah pantai. Mereka berdua duduk di cafe yang berada di dekat pantai, menikmati angin pantai yang sejuk sekaligus menikmati suara merdu penyanyi cafe yang sedang menghibur pengunjung di atas panggung.


Mereka saling bercanda dan bercerita, sesekali mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, layaknya dua manusia yang sedang jatuh cinta.


Tak mereka sadari seseorang memperhatikan mereka dari jarak jauh, dan orang itu terlihat menerima sebuah telpon dari rekannya.


📞"Bagaimana? Apa ada celah?" tanya si pria.


"Tidak ada! Mereka dijaga ketat oleh anak buah mereka dari jauh,"


"Baiklah jalankan plan B."


"Siap bro! Serahkan saja padaku!" ucapnya.


Kemudian orang itu menutup panggilan teleponnya.


Di cafe tadi, James dan Jessie masih duduk nyaman disana.


Jessie benar-benar merasakan perhatian tulus dari James, bukan perhatian seorang kakak pada adiknya lagi tapi sebuah perhatian dari kekasih yang mencintainya.


Lama mereka ngobrol, tiba-tiba seorang wanita yang mereka kenal menghampiri mereka berdua.


"Eh James! Kamu disini?" tanya si wanita menghentikan langkahnya.


"Renata!" James melihat ke arah sang mantan kekasihnya itu.


Jessie pun mendadak waspada, dia takut dengan keberadaan mantan kekasih suaminya itu, perasaan suaminya akan berubah lagi padanya.


"Kenapa sih ini wanita harus muncul lagi? Awas aja kalau godain Kak James lagi!" ucap Jessie dalam hati.


"Bagaimana kabarmu James?" tanya Renata tersenyum manis.


"Yah beginilah, seperti yang kau lihat sekarang! Kamu ada urusan apa disini?"


"Aku lagi nunggu temanku tapi dia belum datang juga, daripada aku duduk sendiri dan merasa bosan, Bolehkah aku gabung bersama kalian?" tanya Renata.


James memandang ke arah Jessie untuk meminta persetujuan.


Ingin sekali Jessie menggelengkan kepalanya untuk menolak Renata, tapi dia tidak ingin dianggap ank kecil oleh suaminya, dan akhirnya dia mengangguk tanda setuju. Karena dia sendiri juga penasaran apa yang akan dibicarakan Renata pada suaminya.


"Oke, duduklah!"


"Terimakasih ya James.. Jessie.." ucap Renata berbinar bahagia, lalu dia menggeser kursinya duduk di sebelah kirinya James padahal Jessie sedang duduk di sebelah kanannya.


"Hah? Apaan sih wanita ini! Bukannya duduk di depan kami malah duduk di sebelah Kak James!" gerutu Jessie dalam hati.


"Biar aku pesankan minum untukmu!" tawar James, lalu dia mengangkat tangannya seolah akan memanggil pelayan cafe.


"Tak usah James!" tolak Renata yang reflek memegang tangan James.


Jessie melotot melihat pemandangan tak menyenangkan itu, sedangkan James menarik tangannya dengan cepat, dia melirik sekilas ke arah Jessie yang terlihat kesal.


"Ah maaf James, aku nggak sengaja." ucap Renata merasa tak enak tapi hatinya berkata lain, dia sangat menyukai raut wajah Jessie yang muram.


"Hm, tolong jaga sikapmu didepan istriku! Kita hanya teman sekarang!" ucap James penuh penekanan.


James tahu apa arah pembicaraan Renata, dia mencoba mencegah wanita itu berbicara jauh agar istrinya tidak salah paham, "Jangan dibahas lagi Rena! Aku udah mema.."


"Rencana? Rencana apa? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" sela Jessie dengan perasaan kesal, tapi dia mencoba setenang mungkin.


"Ehemm! Bukan apa-apa Jess, jangan pikirkan lagi, ayo kita pergi aja!" ajak James, lalu mengenggam tangan Jessie.


"Tunggu! Aku masih ingin disini Kak! Coba katakan padaku apa sebenarnya rencana kalian?" Jessie memandang ke arah Renata dengan tatapan menuntut.


Terlihat James akan membuka suara, tapi Renata menyelanya terlebih dahulu, "James pernah berencana akan menikahiku dan menjadikan aku istri kedua setelah kalian melangsungkan pernikahan,"


"Deg!"


Jantung Jessie seolah seperti dihujam belati tak kasat mata, hatinya terasa sangat sakit dan perih mendengar kenyataan bahwa James telah berencana akan menikahi kekasihnya tanpa sepengetahuannya.


"Lalu kenapa kalian tidak menikah malah memutuskan hubungan kalian?" Jessie berusaha menyembunyikan kemarahannya dan ingin menuntaskan rasa penasarannya.


"Jess semua udah berlalu! Saat ini cuma kamu satu-satunya istriku dan aku tidak akan menikahi siapapun!" keluh James, dia ingin pembicaraan tak penting ini tidak dibahas saat hubungannya dan Jessie sudah membaik, apalagi ini adalah kencan pertama mereka.


Jessie mengangkat tangannya di depan James, agar James tidak berbicara. Dia hanya ingin tahu walau sepahit apapun kenyataannya.


"Hari dimana kamu dan James menikah, penyakit jantung ayahku kambuh dan dokter menyarankan agar ayahku segera dioperasi. Aku binggung dan tidak tahu harus meminta bantuan siapa, sedangkan uang yang dibutuhkan begitu sangat banyak dan aku sendiri tidak punya uang sebanyak itu," Renata menghela nafasnya panjang, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hari itu aku menghubungi James untuk meminta bantuan padanya, meminjamkan uang untuk operasi ayahku, tapi James tidak bisa dihubungi seharian. Sebelumnya James memang menawariku bantuan materi untuk pengobatan ayahku, tapi aku menolak karena aku takut James akan mengira aku hanya memanfaatkannya. Aku kira aku sanggup membiayai sendiri dengan tabunganku, tapi kenyataannya uangku kurang banyak, aku binggung dan menangis seperti orang gila, yang aku miliki hanyalah ayahku. Aku tidak mau kehilangan ayahku."


Kini Renata menangis, Jessie dan James masih diam mendengar penjelasan wanita itu.


Ada rasa iba di hati James, tiba-tiba dia merasa bersalah karena berada disamping Renata saat wanita itu membutuhkan, dia menjadi bimbang dengan perasaannya.


"Hingga aku bertemu dengan Thomas, dia adalah rekan bisnis atasanku. Dia menawariku semua bantuan yang aku butuhkan, asalkan aku mau mengandung darah dagingnya karena Thomas sudah lama tidak memiliki keturunan, istrinya divonis tidak bisa memberikan keturunan. Dan akhirnya aku terpaksa menyanggupi keinginannya agar ayahku cepat ditangani. Selama beberapa bulan aku menunggu ayah di Singapore untuk mendapat pengobatan yang terbaik itu sebabnya aku menghilang darimu, James." wajah Renata memelas memandang ke arah James dan airmatanya semakin deras.


"Malam saat kamu aku dorong waktu lalu, aku minta maaf aku benar-benar nggak sengaja James. Aku hanya tak ingin kamu mendapatkan masalah, apalagi Thomas sangat baik padaku dan aku berhutang segala hal padanya. Mana mungkin aku membiarkan orang yang telah menolong ayahku, kamu sakiti! Aku minta maaf James, gara-gara aku kamu seperti ini." ucap Renata penuh penyesalan.


"Tidak usah dibahas lagi Rena, berkali-kali aku bilang sudah memaafkanmu. Semua udah berlalu sekarang hiduplah bahagia dengan calon suamimu!" ucap James dengan dingin.


Walaupun dia merasa simpati pada Renata, tapi bukan berarti dia melupakan Jessie, baginya Renata hanyalah masa lalunya. Dan Jessie adalah masa depannya, wanita yang selalu ada dan berkorban untuknya.


"Aku dan Thomas tidak jadi menikah James, karena jujur, aku masih sangat mencintaimu James, dan Thomas mengetahui itu. Dan itulah sebabnya dia melepaskanku dan membiarkanku untuk mengejarmu, dan soal hutangku padanya aku sudah mencicilnya beberapa bulan ini. James bisakah kita kembali seperti dulu lagi?" pinta Renata.


Jessie kesal sangat kesal, dia sudah tidak tahan wanita lain terang-terangan mengucapkan kata cinta kepada suaminya didepannya.


"Dasar pelakor busuk! Tidak tahu diri!" umpat Jessie dalam hati.


Saat James akan membuka suaranya, tiba-tiba Jessie berbicara mendahuluinya.


"Baiklah sepertinya urusan kalian belum selesai! Selesaikan hari ini juga, aku tidak akan ikut campur, aku tidak akan peduli apapun keputusan kalian!" ucap Jessie setenang mungkin, dia berdiri dan akan pergi meninggalkan James dan Renata.


"Sayang tunggu! Kita pulang bersama! Urusan dengan Renata udah selesai, aku rasa nggak ada yang akan kami bicarakan lagi!" James memegang tangan Jessie dan mencegahnya pergi.


Renata memegang tangan James, "James aku ingin kita bicara! Masih banyak hal yang akan kita bicarakan, tolong beri aku sedikit saja waktumu. Aku janji tidak akan lama." pinta Renata.


Wajah Jessie semakin merah padam melihat Renata memegang tangan suaminya lagi, dia melepaskan tangan James dengan kasar dan meninggalkan suaminya itu.


"Jessie sayang! Tunggu sayang!" panggil James yang tak peduli dengan keberadaan Renata lagi tapi Renata menarik tangan James dan mencegahnya pergi.


"Lepaskan Rena! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, pergilah jauh dari hidupku! Karena kamu hanya masa lalu dan istriku adalah masa depanku!" James mengibaskan tangan Renata dengan kasar.


"James tunggu! Jangan pergi! Kamu egois James!" seru Renata dengan hati kesal. Lagi-lagi James menolaknya lagi.


"Lihat saja! Sebentar lagi kamu tidak akan punya pilihan selain kembali padaku James! Hanya aku yang berhak memilikimu!" gumam Renata, saat James telah pergi menjauh.


Sedangkan Jessie tak mengindahkan panggilan suaminya, dia terus berjalan sampai keluar cafe dengan tergesa-gesa tanpa melihat kanan kiri hingga sebuah motor ATV hampir menabraknya.


"Aarrrrghhhhh!"