MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
19. Penyelamatan



"HAHAHA!"


Beberapa orang bertubuh kekar itu tertawa mendengar teriakan Jessie.


"Kami adalah malaikat pencabut nyawamu! Hahaha!"


"Apa salahku pada kalian hingga kalian ingin menghabisiku?" tanya Jessie lagi.


"Mana kami tau! Kami hanya disuruh untuk menghabisimu setelah mendapatkan perintahnya nanti, jadi ucapkan pesan terakhir untuk keluargamu sebelum kamu pergi ke nirwana!" ucap salah satu pria kekar itu sembari mengaktifkan mode video pada ponselnya.


"Ayo bicaralah cantik!"


Pria itu mencengkeram pipi Jessie dengan kuat.


"Aku nggak mau! Lepaskan tanganmu bre***sek!" umpat Jessie dan berusaha menggerakkan kepalanya agar tangan pria itu terlepas dari wajahnya.


"Hei! Jangan sakiti dia! Dia adalah tawanan khusus kita! Kita bisa dipenggal oleh Boss jika tubuhnya tergores sedikitpun." salah temannya memperingatkan.


Pria itu pun mendengus kesal dan akhirnya melepaskan cengkeramannya dari wajah Jessie.


**


Di Indonesia..


Setelah mengetahui Jessie telah diculik, Barrack, Jason dan istri mereka, segera terbang ke Singapura dengan jet pribadi mereka, bersama Asisten Tomy, Samuel dan Mark si h*cker handal.


"Lihat saja jika segores saja mereka menyakiti Jessie! Akan aku hancurkan mereka!" seru Jason dengan amarah luar biasa.


Kini mereka telah berada di dalam pesawat.


"Siapa lagi sebenarnya yang ingin mencelakai keluarga kita pa? Kenapa harus Jessie yang menjadi korban!" geram Barrack.


"Entahlah papa juga tak tahu, kita berdoa saja semoga mereka tidak menyakiti Jessie,"


Sedangkan Myra ibunda Jessie hanya bisa menangis sedih, dia sangat khawatir terjadi hal buruk ada putrinya.


Dan Shafa hanya bisa menggenggam tangan mama mertuanya untuk menenangkannya.


Jason sempat menghubungi rekannya, seorang ketua gengster ternama yang juga paling ditakuti juga di negara itu, dia meminta bantuannya agar bisa terhubung dan bernegosiasi dengan ketua Gengster Black Dragon. Jika Jason sendiri yang menghubungi ketua si penculik putrinya, bukannya negosiasi yang didapat tapi malah pertumpahan d*rah.


Karena ketua Black Dragon akan setia pada orang yang pertama membayarnya apalagi yang memakai jasanya adalah orang-orang yang sama dengan mereka, dari dunia bawah tanah. Jadi pebisnis seperti Jason baginya hanyalah seorang rival, dia akan menolak mentah-mentah walaupun disodorkan banyak uang sekalipun.


Setelah tiba di negara tujuan, Jason dan Barrack disambut oleh rekan Jason dan dibawa ke markas mereka.


Sedangkan Gery dan James yang telah menunggu kedatangan Barrack pun ikut gabung bersama mereka.


"Aku akan buat perhitungan padamu James! Ini semua gara-gara kamu!" desis Barrack pada James.


"Maafkan aku Barra, aku memang tidak becus menjaga adikmu!" balas James dengan suara lirih, dia merasa sangat bersalah.


Saat telah tiba di markas rekan Jason, rekanan Jason membantunya untuk bernegosiasi pada ketua Black Dragon agar melepaskan Jessie, dia bahkan berbohong jika Jessie adalah putri salah satu bagian dari mereka, tapi tetap saja pihak musuh tidak ingin melepaskan Jessie.


"Tuan Jason, maaf mereka sangat kekeh tidak melepaskan putri anda. Tapi saya akan mencoba mengulur waktu agar kita menemukan cara lain untuk menyelamatkannya. Saya akan berusaha membantu anda sekuat tenaga." ucap rekan Jason.


Dia sangat berhutang budi pada Jason di masa lampau, berkat bantuan Jasonlah dia menjadi seperti sekarang.


"Baiklah, terimakasih banyak! Aku berhutang budi padamu," ucap Jason dengan wajah gusar.


"Bukan Tuan, saya yang berhutang budi besar pada anda, saya akan sangat menyesal jika tidak bisa melakukan apapun untuk anda," balas pria itu.


Jason pun mengangguk, hatinya benar-benar gelisah memikirkan nasib putri kesayangannya.


"Klik.. Klik!


"Yes! I find you princess!" gumam Mark yang sedang mengotak-atik laptop andalannya.


"Apa sudah ketemu Mark?" tanya Barrack dengan antusias.


"Sudah Tuan muda, saya sudah menemukan lokasi dimana terakhir sinyal ponsel Nona Jessie berada."


Semua pun berbinar bahagia mendengar ucapan Mark, terutama James suami Jessie.


"Baiklah kita lakukan penyerangan, jika cara baik-baik saja tidak bisa, kita lakukan dengan paksa!" ucap Barrack penuh emosi.


Semua pun mengangguk menyetujui usul Barrack, Rekan Jason pun mengerahkan semua anak buahnya untuk membantu melawan pihak musuh.


Tapi saat James ingin ikut bersama mereka, Barrack mencegahnya karena Barrack tahu James baru pulih, dia tidak ingin James beraktivitas berat dahulu. Dengan sedikit perdebatan, akhirnya James pun hanya bisa mengalah dan pasrah menunggu sampai Jessie bisa diselamatkan.


**


Di bangunan tua tempat Jessie disekap, Jessie memikirkan cara agar bisa keluar dari bangunan itu.


"Hei, aku ingin pergi ke toilet lepaskan aku sebentar!" seru Jessie pada beberapa preman yang sedang bermain kartu tak jauh dari tempatnya diikat.


"Jangan membohongi kami kau ja***ng!" ucap si preman tidak percaya dengan trik lama Jessie.


"Aku tidak bohong! Aku memang sedang ingin ke toilet! Baiklah kalian mau aku buang air disini, aku akan lakukan!" gertak Jessie.


"Hei wanita s14l4n! Jangan jorok kau disini!" teriak salah preman senior itu, kemudian dia menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan Jessie.


"Mana mungkin aku berani kabur, kalian begitu tangguh dan kuat, aku tidak ingin mati konyol ditangan kalian!" Jessie berpura-pura memuji mereka sehingga mereka pun tersenyum puas.


Salah satu preman itu pun melepaskan ikatan Jessie, dia membawa Jessie ke kamar mandi yang ada di dalam bangunan tua itu.


Saat berada di kamar mandi, Jessie menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kamar mandi tapi tidak ada sesuatu yang dapat membantunya kabur.


"Bre***sek! Bagaimana ini! Mana bisa aku melawan mereka sendirian!" ucap Jessie dengan gusar sembari mondar-mandir dikamar mandi.


"Braak.. Brrakk.. Brraak!"


"Nona! Lama sekali kau! Cepat keluar!" teriak preman itu.


"Iya, bentar!" balas Jessie.


Setelah beberapa menit kemudian Jessie pun keluar, dia digiring preman itu ketempat dia diikat tadi.


Saat dia berjalan,a dia melihat ada sebuah kayu bergeletak di tanah, dan dia berpura-pura sakit perut.


"Auww!" rintih Jessie.


"Hei! Kenapa kau?!" tanya Preman itu.


"Perutku sakit, sepertinya sakit maagku kambuh,"


Saat preman itu ikut berjongkok bersama Jessie, dengan cepat Jessie mengambil kayu itu dan memukul kepala preman itu dengan kuat hingga dia mengerang kesakitan dan pingsan.


Jessie segera berlari mencari jalan keluar dengan masih ada kayu ditangannya, tapi saat telah mencapai pintu belakang, ternyata banyak penjaga berjaga di luar bangunan dan mereka menyebar kesemua arah.


"S14l! Bagaimana aku bisa keluar kalau seperti ini!" gumam Jessie, dia masih mengendap-endap mencari jalan keluar lain dalam bangunan tua itu.


Saat dia berhasil menemukan pintu lain, tiba-tiba gerombolan preman yang berada bersamanya di ruang depan tadi menangkap basah dirinya.


"Hei ja***ng! Mau kemana kau!" teriak salah satu preman itu.


Jessie melotot kaget saat ketahuan akan kabur dari mereka, dia mengeratkan pegangannya pada kayu yang ada di tangannya dan bersiap akan menyerang para preman itu.


Saat para preman itu mendekat, Jessie memukuli mereka dengan kayu yang dia bawa.


"Bughhh!"


Preman itu menangkis pukulan kayu Jessie, tapi dengan cepat Jessie menendang perut preman itu hingga dia tersungkur.


"Aarrggh!"


Teman-temannya tidak terima dan mengeroyok Jessie, Jessie terus mengayunkan kayunya untuk memukul mundur para musuh, hingga salah satu dari musuhnya menangkap tubuhnya dari belakang. Dan dari arah depan salah satu dari mereka juga memukul wajah Jessie hingga sudut bibirnya mengeluarkan d*rah.


Mereka terus mengumpati Jessie karena dia memberontak dengan kuat hingga para preman itu kesusahan untuk memegangnya, mereka pun melepaskan Jessie lalu menendangnya dengan kuat hingga dia jatuh tersungkur.


"Aarrrrghhhhh!" Jessie mengerang kesakitan saat sebuah cairan merah pekat keluar dari pahanya di balik celana panjangnya.


"Dor! Dor! Dor! Dor!"


Barrack, dan Shafa melumpuhkan keempat preman yang sedang mengeroyok Jessie dengan dibantu anak buahnya.


Sedangkan di luar Jason, dan yang lain melumpuhkan semua penjahat yang menyebar di luar bangunan.


Shafa pun segera berlari menghampiri Jessie.


"Jessie sayang, apa kau tak apa-apa?" tanya Shafa yang tak menyadari jika ada darah keluar dari dalam inti tubuh Jessie.


"D*rah.."


Jessie mengucapkan satu kata sebelum dia tak sadarkan diri, dan Shafa pun baru menyadari jika cairan merah pekat itu telah memenuhi paha adik iparnya.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. BARRA! ANGKAT JESSIE!" teriak Shafa dengan panik luar biasa.


"Kenapa Jessie sayang?" Barrack yang tak jauh dari mereka pun menoleh pada adik dan istrinya lalu baru menyadari juga jika Jessie telah tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah.. JESSIE!"


Barrack segera menggendong Jessie dan berlari ke arah mobil, Shafa dan anak buahnya pun menjaganya dari serangan dadakan pihak musuh.


Jason yang melihat mereka masuk mobil pun segera berlari menyusul mereka, dan mobil itu pun melesat dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan Asisten Tomy dan Samuel serta yang lain, masih tinggal untuk membereskan semua penjahat yang ada disana. Mereka ingin menunjukkan pada ketua gengster itu jika Jason bukan orang yang pantas untuk dia remehkan, saat Jason memberikan uang lebih dan perdamaian ketuanya menolak mentah-mentah, jadi berakhirlah dengan pertumpahan d*rahlah seperti ini, Jason pun semakin kuat karena bantuan gengster rekannya.


Selama di perjalanan, Jason sangat panik dan khawatir saat melihat celana Jessie yang telah berlumur darah, dia menyuruh supir andalannya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak sampai satu jam mereka pun menemukan sebuah rumah sakit swasta yang berada di pinggiran kota.


"Dokter, suster! Tolong adikku!" teriak Barrack yang memanggil tim medis.


Dengan cepat pada tim medis mendekati Barrack dan meletakan Jessie di bangkar mereka lalu segera mereka bawa ke ruang UGD untuk dilakukan pertolongan dengan cepat.


"Cepat kabari mamamu dan suaminya nak!" suruh Jason pada Shafa.


"Baik Pa!"