
"Suruh mereka masuk!" perintah Mike.
"Baik Boss," ucap anak buahnya.
Rombongan anak buah Mike menggiring, Barrack, istrinya dan papanya juga James untuk masuk ke dalam ruangan tempat Jessie disekap.
Mike terlihat duduk tenang dan angkuh di kursi kebesarannya untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan Jason!" ucap Mike pada mereka.
Sedangkan Jason dan Barrack merasa Dejavu dengan suasana seperti ini, dan tatapan Mike seolah mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
"Apa maumu anak muda? Kenapa kau ingin menghancurkan putriku? Apa masalahmu sebenarnya?" tanya Jason tanpa basa-basi.
"HAHAHA! Tidak sabaran sekali anda Pak Tua! Kau jelas tahu jika sebenarnya targetku bukan Jessie melainkan kamu! Dan aku bersyukur kamu menyerahkan dirimu sendiri kesini, jadi aku tidak susah payah mencarimu!" jawab Mike.
"Iya aku sangat tahu jika targetmu yang sebenarnya adalah aku, jadi lepaskanlah putriku, biar aku yang akan menggantikannya disini."
"Jangan papa! Papa tidak perlu berkorban seperti itu!" seru Jessie yang cemas.
"Tidak sayang, ini adalah urusan papa dengannya, kamu tidak ada hubungannya dengan ini, jadi biarkan papa menyelesaikan semuanya."
"Tapi pa.."
"DIAM KALIAN!" teriak Mike dengan kesal.
"Aku muak dengan drama kalian berdua! Sudah cukup kalian tertawa diatas kesedihanku selama ini! Bertahun-tahun ini aku susah payah menyelidiki kematian papaku, dan ternyata kamu yang telah pembunuh papaku! Sekarang biar aku membunuhmu agar anak-anakmu juga merasakan kesedihanku beberapa tahun ini!"
"Membunuh papamu! Siapa papamu Mike?" tanya Jason, sebenarnya dia mulai tahu siapa laki-laki yang dimaksud Mike tapi dia ingin memastikannya lagi.
"Kevin Lee!"
"Deg!"
Ternyata benar tebakan Jason, Mike adalah putra Kevin, suami pertama istrinya.
Barrack sendiri pun juga sudah menduga jika Mike adalah putra Kevin, walau wajahnya blasteran tidak seperti Kevin yang orang Asia, tapi Barrack tahu dari gestur tubuh Mike begitu mirip dengan Kevin.
"Apa kau sudah ingat pak tua? Kau telah membuatku menjadi anak yatim dan mamaku menjadi janda! Nyawa dibalas nyawa!" ucap Mike memandang Jason dengan kilatan penuh dendam, "Sekarang ucapakan kata-kata terakhir untuk putra-putrimu pak tua!"
Mike mulai menodongkan senjata pada Jason.
"Tunggu Mike! Kau bilang nyawa dibalas nyawa kan? Sekarang apa kau bisa mengembalikan kehidupan ayahku yang telah dibunuh papamu?" geram Shafa.
"Apa maksudmu Shafa! Jangan ikut campur kau! Kamu nggak ada hubungan dengan semua ini!" Mike memperingatkan.
"Nggak ada hubungannya bagaimana Mike? Papamu itu penjahat! Dia menghalalkan segala cara untuk merebut Mama Myra dari Papa Jason demi obsesinya, termasuk membunuh Papa Jason yang akhirnya ayahkulah yang terbunuh!" Shafa mencoba memprovokasi.
"Dor.. Dor!"
Mike menembak senjatanya ke atas untuk memperingatkan Shafa agar diam.
"Diam kau j***ng! Jangan mencoba menjelekan nama baik papaku! Papaku sangat menyayangi mamaku, dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan mamaku! Bagaimana mungkin papaku ingin merebut istri orang lain!" Mike tak terima.
Seketika Barrack tersulut amarahnya saat istrinya disebut 'j***ng' oleh orang lain. Dia yang berada di belakang papanya, mendadak mendekati Mike.
"Bre***sek! Berani kau mengatai istriku!"
"Bugghhh!"
"Arrrrghhhh! S14**n!" Mike tersungkur saat wajahnya dipukul oleh Barrack.
Klek!
Klek!
Klek!
Terlihat beberapa anak buah Mike maju dan menodongkan beberapa senjata ke kepala Barrack.
"Dasar be***bah! Jangan coba-coba sok jagoan kau! Aku bisa dengan mudah melubangi kepalamu yang tak berguna itu!" teriak Mike dengan penuh amarah.
"Lepaskan putraku Mike! Bunuh saja aku! Aku akan menebus semua kesalahanku!" teriak Jason dengan perasaan cemas, dia tidak ingin putranya menjadi korban dari kesalahannya.
"Dengan senang hati Pak tua!" ucap Mike yang mulai mengongkang senjatanya dan mengarahkan pada Jason.
"Tunggu Mike!" Shafa mencegahnya, "Tanyakan pada dirimu dan pada mamamu! Apa selama hidupnya, papamu selalu menemani kalian? Papamu itu tidak menyayangimu dan mamamu! Dia hanya memanfaatkan kalian untuk obsesinya, dia hanya ingin berkuasa dan dengan mudah membunuh Papa Jason! Masa hal sekecil itu saja kamu tidak bisa menyadarinya Mike!" Shafa mencibir.
"Bre***sek! Diam kau! Tau apa kau tentang papaku! Selama ini papaku disini untuk mengurus cabang perusahaan kakekku dan dia mengorbankan semua waktunya untuk bekerja demi kami." sangkal Mike.
"Hahaha! Polos sekali kamu Mike! Kalian benar-benar sudah dibohongi papamu itu!"
Mike mulai memikirkan ucapan Shafa, selama ini memang mamanya telah melarangnya untuk menyelidiki kematian papanya, entah untuk alasan apa. Tapi dia kekeh menyelidikinya.
Awalnya mamanya memang bersedih saat tahu jika papanya meninggal, tapi setelahnya mamanya terlihat biasa. Dia tahu raut kekecewaan sang mama selama ini pada papanya tapi dia selalu mengabaikannya. Dia terlalu menyayangi sang papa hingga mengabaikan perasaan mamanya.
"Juga kematian atas bayi Jessie yang secara tak langsung kamu penyebabnya!" Shafa menatap Mike tajam.
"Apa? Bayi Jessie? Apa waktu penculikan itu Jessie hamil?" tanya Mike yang terkejut.
"Tentu saja istriku hamil dan kau penyebab kematian bayiku yang tidak berdosa itu! Jadi bisakah aku juga menuntut balas atas kematian bayiku!" geram James yang kita bersuara.
James tiba-tiba maju dan mulai menendang Mike, tapi dengan cepat Mike menangkis tendangan James.
Dan lagi-lagi anak buah Mike menodongkan senjata ke kepala James.
Sedangkan Mike berusaha mencegah anak buahnya dengan gerakan tangannya, dia ingin duel langsung dengan James, satu lawan satu.
Perkelahian pun mulai terjadi, keduanya sama-sama kuat, saling menendang dan memukul satu sama lain.
"Bugghhh!"
"Bugghhh!"
"Bugghhh!"
Berkali-kali James jatuh tersungkur hingga berdarah-darah, begitu pula dengan Mike.
Jessie pun berteriak histeris melihat suaminya babak belur.
Lama mereka berkelahi dan keduanya terlihat kelelahan, hingga akhirnya James dapat melumpuhkan Mike, dia mengambil senjata yang ada di sakunya dan menodongkan ke kepala Mike.
"Apa kau ingin menyusul papamu ke neraka bre***sek? Biar aku kabulkan dengan cepat!" ucap James yang masih menodongkan senjatanya pada kepala Mike.
Sedangkan anak buah Mike tidak bisa berbuat apapun, mereka takut Bossnya kenapa-napa jika mereka bertindak gegabah.
"TUNGGU!"
Seorang wanita paruh baya seusia Mama Myra berparas bule tiba-tiba muncul menghentikan semuanya.
"Mama!" gumam Mike.
Wanita itu adalah Elizabeth, mama Mike.
"Aku akan mengampuni kalian atas kematian suamiku tapi bebaskan putraku!" pinta Nyonya Elizabeth.
"Mama, aku tidak ingin melepaskan mereka! Mereka harus bertanggungjawab atas kematian papa! Nyawa harus dibalas nyawa!" kekeh Mike.
"Astaga! Keras kepala sekali kau bocah! Sudah terjepit begini masih saja menyebalkan!" umpat Barrack.
"Terserah kau ba***ngan!" balas Mike.
"Mike apa kau tahu kekacauan yang ditimbulkan papamu selama ini? Dia sudah membunuh banyak orang demi obsesinya, termasuk membunuh kakekmu sendiri demi menjadi pemimpin dan menguasai seluruh harta kakekmu!"
"Jedeeeerrr!"
Jantung Mike terasa seperti disambar petir, dia benar-benar terkejut sekaligus tak percaya dengan ucapan mamanya.
"Mama bercanda kan? Papa nggak mungkin melakukan itu ma! Papa sangat menyayangiku selama ini!" teriak Mike tak terima.
"Papamu benar memang menyayangimu tapi papamu tidak menyayangiku juga kakekmu, dia memanfaatkan kami Mike! Demi mendapatkan wanita di masa lalunya, Itulah sebabnya mama melarangmu menyelidiki kematiannya, mama hanya tidak ingin kamu terlibat dengan kelakuan kotornya! Cuma kamu yang mama miliki saat ini Mike, dan mama tidak ingin kehilangan kamu!" ucap Nyonya Elizabeth yang kini berderai airmata.
Badan Mike seolah lumpuh dan bertenaga saat tahu kenyataannya, dia terduduk lesu di lantai. Orang yang selama ini telah dia anggap sebagai pahlawannya adalah penyebab kematian sang kakek, juga orang yang selalu menyakiti mamanya selama ini.
"Nyonya, maafkan saya sudah membunuh suami anda, saya bersedia mempertanggungjawabkan perbuatan saya ke kantor polisi atau kalau anda mau anda bisa membunuh saya tapi saya mohon lepaskan anak-anak saya yang tidak tahu apa-apa." ucap Jason pada Nyonya Elizabeth.
Kedua anak Jason juga kedua menantunya pun hanya memandang Jason dengan terharu, mereka tahu sudah lama Jason telah berhenti dari dunia hitam dan mulai mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa. Tapi bukan berarti Jason pantas kehilangan nyawanya ditangan seorang manusia, karena sejatinya hidup dan mati adalah urusan Allah.
"Saya sudah lama memaafkan anda Tuan Jason, sebenarnya saya juga bersyukur secara tidak langsung, anda membalaskan kematian ayah saya, karena jika saya sendiri yang membunuhnya, saya tidak mampu. Saya juga minta maaf atas kematian besan anda karena suami saya dan kematian calon cucu anda karena putra saya. Jadi mari kita anggap semuanya impas, saya membebaskan anda dan anda juga membebaskan putra saya." ucap Nyonya Elizabeth dengan bijak.
"Baiklah Nyonya, terimakasih banyak atas kemurahan hati anda, saya doakan semoga anda bahagia." ucap Jason.
Nyonya Elizabeth pun mengangguk dan mempersilahkan Jason meninggal markas putranya.
Dan akhirnya Jason, keluarganya dan semua anak buahnya pun pergi dari sana.
***
Setelah kepergian Jason dan yang lain, terlihat Mike masih terdiam karena terpukul.
Sang mama memeluknya dengan erat dan menangis kembali. Dia bersyukur pada Tuhannya, putranya masih hidup sampai sekarang. Dia berjanji pada dirinya akan pergi membawa putranya kembali ke negaranya dan membahagiakan putranya disisa usianya.
"Maafkan mama sayang, maafkan mama. Mama sangat menyayangimu, cuma kamu yang mama miliki. Mengertilah perasaan mama! Mama yang lebih terluka disini, selama ini mama menahan rasa sakit dari papamu hanya demi kamu bisa hidup. Mama tidak berani melawannya karena dia selalu mengancam ingin menghabisimu juga, jika mama tidak menuruti semua perkataannya," ucap Elizabeth akhirnya berkata kenyataan yang lebih pahit lagi.
"Ya Tuhan mama.." Mike pun menyesal terlalu membela papanya, tanpa mengerti semua penderitaan yang mama alami selama ini.
Mike pun menangis sembari memeluk mamanya dengan erat, dia mengucapkan permintaan maafnya berkali-kali pada sang mama.