
"Hei sayang mau kemana kau!" teriak James tak terima ditinggal begitu saja oleh sang istri.
"Mau ke bawah aja ngobrol sama mama, daripada deket-deket Kak James malah bahaya. Inget kata dokter Kak! Harus puasa 2 Minggu lagi!" Jessie mengingatkan.
"Astaga! Dokter kurang ajar! Emang harus ya puasa segala! Kita ini udah puasa satu bulan lebih lho yang, sejak aku di Singapura satu bulan lalu!" keluh James sembari mengacak rambutnya penuh frustasi.
Jessie hanya terkekeh melihat wajah suaminya yang frustasi, baginya wajah suaminya semakin lucu dan tampan, lalu dia memilih pergi meninggalkan suaminya, daripada harus tergoda dengan pria kesayangannya.
Saat berjalan ke bawah, Jessie melihat mamanya sedang ngobrol dengan Bu Farida sembari menemani Reyhan sang keponakan sedang bermain di ruang keluarga.
"Rey sayang!" Jessie berbinar bahagia dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Jessie pelan-pelan sayang!" Bu Farida menghampiri Jessie dan memegang tangannya karena takut Jessie terjatuh.
Bu Farida adalah ibunda dari Shafa, sang kakak ipar, dia tahu jika Jessie habis mengalami keguguran.
"Ya Allah ibu, Jessie nggak apa-apa Bu, Jessie sudah sembuh. Ibu selalu perhatian dan sayang sama Jessie, terimakasih Bu!" Jessie memeluk Bu Farida penuh sayang.
"Sama-sama sayang,"
Mereka berjalan sembari berpelukan, ke arah Myra duduk, sedangkan Rey berhambur memeluk sang tante.
"Rey kangen Aunty!" ucapnya memandang wajah Jessie.
"Aunty juga kangen sama kamu tampan!" Jessie mengacak rambut keponakannya dengan gemas.
Mereka pun duduk bersama di ruang keluarga.
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Jessie berdering lalu dia mengambil ponselnya yang ada di saku dan mengangkatnya.
📞"Halo, ada apa Kak Mike," tanya Jessie.
Ternyata Mike yang menghubungi ponsel Jessie.
"Hallo Jess, aku dengar kamu udah pulang ke rumah, ini ada titipan dari Robert untukmu, tolong ambillah kedepan sebentar!" ucap Mike.
"Titipan apa?" tanya Jessie.
"Aku nggak tahu, sebuah kotak. Keluarlah sebentar!" suruh Mike.
"Kenapa Kak Mike nggak masuk aja atau titipkan pada penjaga keamanan di depan?"
"Nggak bisa Jess, aku harus memastikan kamu sendiri yang menerimanya, kau tahu sendiri kan sifat Boss kita seperti apa? Lagipula aku juga nggak bisa masuk sekarang, badanku bau alkohol, mana mungkin aku bisa masuk jika kacau begini."
"Astaga! Pesta miras lagi?" Jessie tak habis pikir, sahabatnya itu gemar sekali dengan pesta dan wanita.
"Biasalah anak muda Jess! Burulah kesini!" ucap Mike dengan tak sabar.
"Iya.. iya aku keluar! Dasar bawel!" cibir Jessie.
Jessie pun keluar mansion menemui Mike sahabat sekaligus rekan kerjanya.
Saat Jessie bertemu Mike di depan gerbang mansionnya, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Mike yang kacau,
"Mana kotaknya?" tanya Jessie menadahkan tanganya sembari memandang Mike.
"Ada di dalam, masuklah dan ambil sendiri! Selamat ya Jess atas kesembuhanmu!" ucap Mike tersenyum manis.
"Iya Kak, terimakasih." Jessie membalas senyuman Mike.
"Ceklek!"
Jessie masuk ke dalam mobil Mike, dia mengambil sebuah kotak yang katanya titipan dari Robert, dan benar saja kotak berwarna hitam dengan hiasan pita emas berada diatas kursi penumpang.
Saat Jessie duduk di kursi penumpang, tak disangka anak buah Mike muncul dari kursi belakang dan membekap mulut Jessie dengan obat bius hingga Jessie jatuh pingsan.
Dan Mike segera melajukan mobilnya dengan kencang membawa Jessie.
Di sisi lain, James yang telah selesai mandi dan berganti baju santai turun ke bawah.
Dia melihat mama mertuanya dan Ibu Shafa sedang bermain dengan putra Barrack, lalu mendekati mereka dan dia juga bersalaman dengan ibu Shafa.
Sedangkan Reyhan sudah bisa bersikap baik pada James, karena Rey merasa sekarang sikap dan tatapan James lebih tulus pada Aunty kesayangannya, jadi dia memutuskan untuk berbaikan dengan James.
"Istri saya dimana ma?" tanya James pada Mama Myra sang mertua.
"Sepertinya ke depan Nak James, coba hampiri dia di depan, tadi dia menemui teman sekantornya yang bernama Mike." ucap Myra.
Seketika raut wajah James berubah sedikit kesal, dia pernah cemburu pada pria bernama Mike itu, pria yang pernah menyelamatkan Jessie dan dirinya dari preman-preman yang mau merampoknya.
Saat James akan menghampiri Jessie, penjaga keamanan datang.
"Tuan muda! Nona Jessie dibawa pergi oleh temannya barusan," ucap sang penjaga dengan panik.
"APA?!" sontak semua pun berteriak terkejut.
"Kenapa kau tidak mencegahnya!" seru James yang tersulut emosi.
"B***h kalian!" umpat James sedangkan mereka hanya menunduk takut.
"Mama jangan khawatir aku akan segera mengejar pria itu, sementara aku mengejar mereka, mama hubungi papa dan Barrack ya!" ucap Jessie pada sang ibu mertua.
James segera mengambil mobil sportnya dan menghubungi anak buahnya untuk meretas CCTV jalanan untuk mengetahui kemana Mike melajukan mobilnya.
Dengan kecepatan penuh dan di ikuti banyak anak buahnya, James mengikuti arahan dari h*cker andalannya, dan h*cker itu mengatakan jika terakhir mobil Mike terlihat menuju ke suatu tempat yang jauh dari pusat kota.
***
Sementara di markas Jason, dia terlihat sangat marah setelah mendapatkan kabar dari istrinya jika sang putri kesayangannya diculik kembali.
"Bre***sek! Dasar pria s14l*n! Dia benar-benar pandai memanfaatkan situasi! Akan aku hancurkan kau kalau berani menyentuh putriku sedikit saja!" umpat Jason dengan penuh amarah.
"Apa ini rencana kalian! HAH!" teriak Jason sembari mencengkeram pipi Renata.
"A.. Aku tidak tahu apapun Tuan, sumpah penculikan kali ini aku tidak tahu apa-apa karena Mike tak mengatakan apapun padaku," jawab Renata dengan suara bergetar takut.
"Jika kamu terbukti terlibat lagi, kali ini aku sendiri yang akan menghabisimu!" geram Jason pada Renata.
"Sam.. Mark! Ayo!" ajak Jason.
"Baik tuan besar,"
Samuel dan Mark yang berjalan di belakang Jason.
"Kalian awasi wanita licik itu! Jangan sampai dia berusaha kabur!" ucap Jason pada beberapa anak buahnya yang lain yang berjaga di markasnya.
Jason bersama Samuel dan Mark segera mencari keberadaan Jessie.
"Untung saja waktu itu aku membelikan Jessie kalung yang sudah aku taruh GPS jadi kita bisa mudah melacaknya. Lacak keberadaan Jessie, Mark!" perintah Jason.
"Baik Tuan Besar!"
"Sam, apa kau sudah hubungi Barrack?" tanya Jason.
"Sudah Tuan Besar, Tuan Muda bersama Nona Shafa dan asisten Tomy beserta seluruh anak buahnya telah berada di belakang mobil kita,"
"Baguslah kalau begitu,"
Barrack mengirimkan lokasi keberadaan Jessie yang dikirimkan Mark pada James.
James merasa lega jika tempatnya berada dengan lokasi yang dikirimkan Barrack tak jauh darinya.
Barrack juga mengatakan pada James agar berhati-hati dan tidak bertindak gegabah, dia meminta James mengawasi mereka dari jauh saja.
Barrack bukannya tidak peduli keselamatan adiknya, dia tahu jika penjahat itu memancingnya dan sang ayah untuk keluar, kalaupun dia memang berniat membunuh Jessie sudah daridulu dia lakukan karena Jessie satu kantor dengannya, apalagi mereka sangat akrab.
Barrack hanya tidak menyangka jika yang ingin mencelakai keluarganya adalah Mike asisten dari Robert sahabat istrinya, bahkan Robert mengatakan jika dia sendiri juga tak menyangka kenapa Mike nekad membuat masalah dengan keluarga Hansel yang jelas-jelas orang berpengaruh di negara ini.
Robert sama sekali tidak terlibat dengan penculikan Jessie, dia juga merasa geram pada Mike yang ternyata adalah musuh dalam selimut. Jadi untuk menebus rasa bersalahnya pada keluarga Hansel dan Shafa, Robert ikut mengirimkan anak buahnya untuk membantu penyelamatan Jessie.
Sementara di dalam markas Mike
"Byurrrr!!"
Jessie diguyur air oleh anak buah Mike agar dia segera sadar dari pingsannya.
Jessie mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menerangi setiap sudut ruangan.
"Kak Mike," panggil Jessie pelan.
"Hallo Jessie sayang, sahabatku, rekan kerjaku! Apa kau siap mengorbankan hidupmu di depan keluargamu?" sapa Mike dengan senyuman sinis.
"Kenapa kakak ingin menghabisiku? Apa salahku dan keluargaku padamu?aku nggak nyangka, persahabatan kita yang tulus berakhir seperti ini." seru Jessie dengan mata berkaca-kaca.
"Kau terlalu naif sekali sayang! Di dunia ini tidak ada persahabatan yang tulus Jessie, yang ada hanya saling menyingkirkan satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan! Dan itu juga yang sering dilakukan oleh papamu yang licik itu!" seru Mike dengan kilatan mata penuh dendam.
"Apa maksudmu Kak, aku nggak ngerti?" sela Jessie.
"Papiku telah dibunuh oleh papamu! Apa kau tahu papamu itu seorang baji***!" umpat Mike.
Jessie benar-benar kaget mendengar ucapan Mike, dia tidak menyangka ayahnya adalah seorang pembunuh. Dia berfikir, bagaimana mungkin ayahnya tega menghabisi ayah Mike, sudah pasti semua ada alasannya.
Jessie tahu jika ayahnya terkenal berhati dingin dan kejam dulunya tapi dia tahu ayahnya selalu memiliki alasan untuk berbuat itu.
"Kak Mike! Aku sangat tahu siapa papaku, pasti ada alasan kenapa dia berbuat sekejam itu!" seru Jessie membela sang papa.
"Cihh.. anak dan ayah sama saja! Sama-sama pengecut! Tidak berani mengakui kesalahannya sendiri!"
Selang 20 menit berlalu, akhirnya rombongan Barrack dan Jason telah sampai di luar lokasi. Puluhan mobil mereka terparkir di halaman tempat itu, dan anak buahnya keduanya segera turun dari mobil untuk melindungi Boss mereka.
Anak buah Mike membisikkan padanya jika musuh telah datang dan Mike pun tersenyum menyeringai.