MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 27. Permintaan Jessie



"Pria itu memakai kursi roda Tuan, dan dia mengaku jika ayah dari Nona Renata."


"Suruh dia masuk dan tunggu di ruang tamu,"


"Baik Tuan muda,"


Pak Hari pun menemui ayah Renata, dia menyuruhnya masuk dan menunggu di ruang tamu.


Selang beberapa menit kemudian, James menemui Ayah Renata bersama Jessie.


"Selamat Pagi Om Joseph, bagaimana kabar anda?" sapa James dengan sopan.


Dia menyalami papa Renata dan Jessie pun juga menyalaminya.


Terlihat pria paruh baya itu semakin tua dan lemah, menatap James juga Jessie dengan tatapan sendu.


"Puji Tuhan, aku baik-baik saja James. Aku kesini untuk meminta bantuanmu dan juga Nona Jessie, istrimu." ucap Pak Joseph pada intinya.


Jessie dan James mengernyit heran, keduanya bertanya-tanya, bantuan apa yang bisa mereka berikan pada ayah Renata.


"Saya mohon tolong katakan pada Tuan Jason, papa anda, agar membebaskan putri saya dari hukumannya nona!"


James dan Jessie terkejut, dia tidak menyangka papanya masih menahan wanita itu.


Terlihat Pak Joseph turun dari kursi rodanya dan berlutut dihadapan Jessie dan James dengan susah payah.


"Apa yang anda lakukan Pak Joseph!"


Sontak James Reflek memegang bahu Pak Joseph agar berdiri.


"Tidak James, aku tidak akan berdiri sebelum Tuan Jason mau membebaskan putriku." kekehnya.


"Nona saya mohon, bantulah saya agar papa anda mau membebaskan putri saya. Saya tahu dia sudah berbuat kesalahan fatal pada anda dan mencelakai anda, tapi dia sudah menyesali semua perbuatannya. Dia telah berjanji pada saya tidak akan menyakiti anda lagi, saya mohon maafkanlah putri saya nona, saya sudah tak memiliki siapapun selain dia." ucap Joseph dengan mata berkaca-kaca.


Jessie benar-benar iba melihat pria tua itu, sejenak dia membayangkan jika papanya yang berada di posisi pria tua itu, bagaimana hancurnya hatinya.


Setelah kejadian di markas Jason tempo hari, Pak Joseph memang kembali ke apartemen lamanya, tapi hidupnya tidak pernah tenang karena memikirkan putrinya, dia tahu Tuan Jason sebenarnya orang baik. Karena Tuan Jason sendiri yang menjamin hidupnya, mengirimnya uang dan sembako setiap Minggu untuk kehidupannya sehari-hari.


Dia berharap Tuan Jason dan putrinya berbaik hati memaafkan putrinya dan membebaskannya.


"Tenang saja Pak, saya akan bantu anda untuk membebaskan Renata dari papa saya. Sekarang anda berdiri dulu!" pinta Jessie.


"Benarkah nona?" Pak Joseph berbinar bahagia.


Jessie mengangguk tersenyum.


"Terimakasih banyak nona,"


Pak Joseph pun kembali ke kursi rodanya dengan dibantu James.


James menyuruh supirnya untuk mengantarkan Pak Joseph kembali ke apartemennya.


***


Setelah kepergian Pak Joseph, James mendekati istrinya yang sedang bersiap-siap di kamar.


Hari ini Jessie akan pergi menemui papanya ke perusahaan.


"Sayang,"


James memeluk Jessie yang sedang memilih baju di walk in closet dari belakang.


"Ada apa sayang?" Jessie menoleh menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum bahagia.


"Terimakasih sudah menyelamatkanku berkali-kali, terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih sudah bersabar untukku dan terimakasih sudah hadir dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu dan beruntung memiliki wanita sebaik kamu." ucap James yang kini menatap mata istrinya dengan mesra.


Jessie bukannya berbunga-bunga dengan ucapan suaminya, dia malah meletakkan punggung tangannya di dahi suaminya, dia merasa suaminya menjadi aneh, karena tidak ada angin maupun hujan tiba-tiba berkata seperti itu.


"Apa sih sayang! Aku ini masih waras! Dan aku sadar bilang seperti itu." ucap James sembari mengambil tangan istrinya yang masih ada di dahinya lalu mencium tangan istrinya.


"Habis Kak James aneh!" Jessie tersenyum geli.


"Terimakasih telah bersedia membantu Pak Joseph, kamu benar-benar wanita yang dewasa dan baik hati walau Renata sudah bersikap buruk padamu dan mencelakaimu, tapi kamu masih mau berbaik hati padanya. Aku sangat beruntung dan bangga memilikimu sayang!"


"Sudahlah jangan berterimakasih sayang, sudah kewajiban kita sesama manusia memang harus saling bantu dan saling memaafkan, asalkan dia mau berubah. Allah saja Maha Pengampun masa kita manusia tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain."


"Masyaallah bidadari surgaku! Aku benar-benar semakin jatuh cinta sama kamu." ucap James sembari mencubit kedua pipi istrinya.


"Jadi bukan si gadis manja dan kekanak-kanakan lagi donk julukanku?"


"Sudah tidak ada Jessie yang seperti itu sayang! Jessie yang sekarang adalah istriku yang dewasa dan baik hati juga tangguh yang paling aku cintai." puji James.


"Terimakasih, aku juga mencintaimu suamiku!"


Dan mereka pun saling berpelukan.


***


Sementara di Apartemen Samuel..


Renata duduk menonton Televisi dengan memakai celana training milik Sam yang juga kebesaran untuknya.


Karena tadi sebelum berangkat Sam mengingatkan agar dia tidak mondar-mandir di dalam rumah dengan hanya memakai kemejanya saja karena kemeja itu terlalu minim baginya, dan wajah Sam juga menunjukkan ketidaksukaannya.


Renata mengira orang seperti Sam anti dengan wanita seperti dirinya, walau sebenarnya Sam takut tidak bisa menahan untuk tidak menyerang wanita itu.


"Selamat siang nona, permisi ini ada paket untuk anda!" ucap pria berpakaian kurir itu.


"Selamat siang juga Pak, benar untuk saya pak?" ucap Renata mengernyit heran, dia mendadak takut jika paket itu berbahaya untuknya. Bisa jadi paket itu dikirim orang yang membencinya dan tahu keberadaannya saat ini.


"Iya benar ini memang untuk anda nona, apa anda kan yang bernama Nona Renata?"


"Oh iya benar pak, itu nama saya. Kalau boleh tahu paket ini dari siapa pak?"


"Dari Tuan Samuel nona, silahkan anda terima."


Seketika Renata menjadi lega, ternyata paket itu dari Samuel.


"Baik Pak, terimakasih."


Kurir itu pun mengangguk lalu pamit pergi.


Setelah masuk lagi ke dalam, Renata Membolak-balikkan kotak besar yang berukuran 70 x 70 sentimeter itu.


Tanpa banyak berfikir lagi, dia mengambil cutter yang ada di dapur dan membuka isi paket itu yang ternyata beberapa potong baju mewah juga baju harian, sebuah sepatu dan tas dari sebuah butik terkenal.


"Wow! Perhatian banget si tampan itu!" gumam Renata berbinar bahagia.


Dia sangat bahagia dan mencoba baju yang Sam belikan, Sam benar-benar pandai memilik mode dan ukuran untuknya. Benar-benar sesuai dengan karakternya yang dewasa dan se**si. Jika Sam datang dia tidak akan mengucap banyak-banyak terimakasihnya pada pria itu.


***


Siang itu Jessie datang bersama James ke perusahaan Pak Jason.


Semua karyawan mengenal Jessie dan memberi hormat pada putri Boss mereka.


Mereka sangat menyukai Jessie yang ramah dan baik hati, sangat berbeda dengan Barrack sang kakak, yang terkenal dingin dan ketus.


"Papa!" Jessie berjalan ke arah papanya saat mereka telah masuk ke dalam ruang kerja papanya.


Dia memeluk pria yang sangat disayangi itu.


"Hei ada apa kesini princess? Tumben?" tanya Jason heran.


Sedangkan James juga menyalami juga mencium tangan sang papa mertua.


"Ayo duduk dulu papa! Aku udah bawain makanan kesukaan papa! Gulai lambusu dan Rendang daging dari warung nasi Padang langganan papa."


"Wahh kamu tahu aja kalau papamu ini lagi laper Jess! Jangan repot-repot lah princess! Tapi kalau tiap hari papa dikirimin begini papa juga nggak nolak kok!" goda Jason pada putrinya, terlihat matanya berbinar bahagia saat melihat tentengan yang Jessie bawa.


"Isshh papa! Dikasi usus minta hati! Suamiku aja nggak pernah aku kirimkan makan siang." jujur Jessie.


"Dasar istri nggak perhatian! Mama saja sering kesini membawakan papa makan siang," cibir Jason.


"Ya mau gimana lagi! Aku tuh sekarang di dalam sangkar emas Pa! Nggak boleh Kak James kemana-mana walaupun untuk sekedar mengantarkannya makan, takut aku diculik lagi! Jadi masa aku harus keluar tanpa ijin suami?"


"Wah saking cintanya itu si James, tapi nggak apa-apalah papa dukung James, soalnya kamu itu ceroboh dan suka seenaknya!" cibir Jason lagi.


"Ya Allah, ini yang anak papa Kak James apa aku sih! Kenapa kalian sekarang bersekongkol bikin aku menderita!" Jessie berpura-pura kesal.


"Terima nasib aja sayang!" sahut James.


Dan ketiganya pun terkekeh dan memutuskan makan siang bersama, walaupun sebenarnya James dan Jessie belum terlalu lapar.


Jessie memilih membicarakan soal Renata setelah makan siang nanti, dia pikir jika papanya merasa bahagia dan kenyang, dia akan lebih mudah membujuk papanya.


"Tok! Tok!"


"Tuan Besar,"


"Iya Sam!"


Sam masuk, tadinya dia ingin menawari Tuan besarnya, ingin dibelikan makan siang apa, tapi ternyata Tuan besarnya sudah makan siang bersama Nona mudanya.


"Kak Sam! Ayo sini makan siang sama-sama!" Jessie berbinar bahagia melihat Sam datang.


"Tidak nona, saya makan di luar saja. Tadi saya kesini untuk menawari Tuan besar ingin dibelikan makanan apa."


Sam merasa tidak enak dan menolak dengan sopan.


Tapi Jessie menarik lengannya dan memaksanya untuk makan bersama mereka, karena Jessie memang membeli makanan itu sedikit banyak.


Ada rasa cemburu dihati James saat Jessie begitu perhatian pada Sam. Tapi dia berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.


Setelah dipaksa dan Jason pun juga menyuruhnya makan dengan mereka, akhirnya Sam pun ikut makan siang bersama mereka.


***


"Papa aku ingin ngomong sesuatu yang penting." ucap Jessie saat mereka telah menyelesaikan makan siang mereka.


"Papa dengarkan sayang."


"Tolong bebaskan Renata pa!"


Sam tiba-tiba tegang tapi di hatinya muncul rasa bahagia, tadinya dia ingin meminta pada Jason secara pribadi agar membebaskan Renata, tapi ternyata Jessie yang memintanya lebih dulu. Dia penasaran apa yang membuat Jessie tiba-tiba ingin membebaskan wanita yang sudah berkali-kali mencelakainya itu.


"Kamu yakin ingin papa membebaskannya? Kalau dia kembali mengancam keselamatanmu bagaimana? Papa tidak mau mengambil resiko itu Jess! Papa tidak ingin kamu dalam bahaya lagi."