
Setelah selesai mendonorkan darahnya pada sang suami, Jessie menunggu proses operasi yang dilakukan tim dokter dan tim medis pada kaki James malam itu juga.
Dia merasa sangat cemas dan gelisah di depan ruangan James dioperasi, dia berdoa dalam hatinya agar operasi sang suami lancar.
"Ya Allah, aku mohon berikan kelancaran operasi suami hamba Ya Rabb.. Amiiin," doa Jessie dalam hati.
"Nona apa tidak sebaiknya anda menghubungi Nyonya Nadia dan Tuan Ronald?" usul Fino.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. aku sampai lupa untuk menghubungi mama dan papa mertua! Terimakasih sudah mengingatkanku ya Kak Fin!" ucap Jessie dan Fino pun mengangguk.
Sebenarnya Jessie penasaran bagaimana bisa suaminya itu tertabrak mobil di jalan raya, apa yang sebenarnya terjadi? Dia ingin bertanya pada Fino, tapi rasanya bukan waktu yang tepat untuk menanyakan semua itu. Yang terpenting baginya adalah keselamatan suaminya.
Setelah setengah jam berlalu, kini Pak Ronal dan Bu Nadia pun telah sampai di rumah sakit James dirawat, Jessie menyambut kedatangan ibu mertuanya.
"Mama, Papa!" Jessie menyalami papa mertuanya dan memeluk ibu mertuanya.
"Apa operasinya belum selesai sayang?" tanya Bu Nadia melonggarkan pelukannya.
"Belum ma, aku takut Kak James.." Jessie meneteskan airmatanya.
"Ssttt! Sayang tidak apa-apa, suamimu pria yang kuat. Sebelumnya dia juga pernah kecelakaan motor yang parah dan Alhamdulillah Allah masih memberikannya kesempatan." ucap Bu Nadia sembari menghapus airmata menantu kesayangannya.
"Hah! Kapan ma?"
"Dulu sekali sewaktu dia masih kuliah sekitar 4-5 tahun lalu, ada gadis yang mendonorkan darahnya untuk James tapi sayangnya gadis itu sudah pergi tanpa kami tahu siapa dia dan berterimakasih padanya."
"Degg!" jantung Jessie terasa berhenti berdetak sesaat.
"Memangnya waktu itu Kak James dirawat di rumah sakit mana ma?"
"Di rumah sakit Medistra, mama ingat waktu itu ada acara donor darah di halaman rumah sakit itu,"
"Degg!"
Jessie tak menyangka jika pria yang kecelakaan yang pernah dia tolongnya adalah James, suaminya saat ini. Golongan darahnya dan James termasuk golongan darah yang langka, jadi sudah bisa dipastikan jika memang dia adalah gadis yang mama mertuanya maksud.
Ingin sekali dia mengatakan pada mama mertuanya jika pendonor itu adalah dirinya, tapi Jessie takut Bu Nadia tidak mempercayai ucapannya.
"Kita berdoa saja sayang, semoga operasi kaki suamimu lancar,"
"Amiinn Ya Robbala'laminn.. Baik Ma,"
Pak Ronal berjalan menjauh dari ruangan James dan menyuruh Fino mengikutinya. Dia meminta Fino menjelaskan semua yang terjadi, Bu Nadia yang penasaran pun mengikuti suami dan asisten putranya.
Fino menjelaskan dengan detail yang terjadi antara James, Renata juga calon suami Renata. Terlihat Pak Ronald sangat kecewa dan marah pada putranya, dia pikir James sudah bisa menerima Jessie dan pernikahan mereka tapi nyatanya James masih mengejar kekasihnya itu.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Masih saja berulah!" geram Pak Ronald.
"Sayang, tenanglah! Semua udah terjadi, yang terpenting kesembuhan putra kita dulu," Bu Nadia menenangkan suaminya.
Sedangkan Jessie hanya bisa melihat dari kejauhan mertuanya dan Fino berbicara tanpa dia bisa mendengar percakapan mereka.
Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan operasi James dan mengatakan jika operasi pada kaki James sudah berhasil. Semua pun sangat bahagia mendengar ucapan dokter, dan dokter juga mengatakan jika sesaat lagi, James akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Setelah James dipindahkan ke ruang perawatan VVIP, Bu Nadia dan Pak Ronald menyuruh Jessie tidur di salah satu bed besar di ruang itu yang khusus untuk penunggu pasien, karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Jessie juga terlihat sangat lelah dan menguap beberapa kali, jadi mau tidak mau dia menuruti ucapan mertuanya.
Pak Ronald terlihat ketiduran di sofa dan Bu Nadia tertidur di samping bangkar putranya.
Saat menjelang subuh, James terbangun dari tidurnya, dia meraba-raba tangan mamanya yang sedang memegang tangannya.
"Mama!" panggil James dengan suara lirih.
"James sayang, bagaimana keadaanmu nak? Apa yang kamu butuhkan?" tanya Bu Nadia.
"Aku ingin minum ma," jawab James.
"Baiklah sayang, biar mama ambilkan."
Pak Ronald pun tiba-tiba terbangun mendengar pergerakan istrinya dan mendekati bangkar putranya, dia menanyakan kondisi James juga.
Setelah selesai minum, James merasa lebih baik, dia menyapukan pandangannya keseluruhan ruangannya dan melihat istrinya tidur sangat nyenyak sedikit jauh dari ranjangnya.
Dia menatap Jessie dengan tatapan yang sulit diartikan, banyak perasaan yang timbul berkecamuk di hatinya. Gadis itu adalah penolongnya, dua kali Jessie telah menyelamatkan hidupnya, tapi yang Jessie dapat darinya hanya sebuah rasa sakit dan penolakan.
Dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan cinta tulus istrinya dan sering menyakiti hati istrinya. Dia berharap bisa meminta maaf pada Jessie jika istrinya telah bangun nanti.
"Tulang keringmu retak James, jadi dokter mengoperasi tulangmu agar tidak semakin parah, jadi untuk sementara waktu kamu harus memakai kursi roda sampai kakimu benar-benar sembuh dan bisa berjalan normal lagi." sahut Pak Ronald.
"Hah! Jadi aku tidak bisa berjalan saat ini? Aku lumpuh pa?" tanya James dengan raut wajah gelisah. Mendadak dia menjadi tak percaya diri.
"Bukan lumpuh James, kamu hanya perlu pemulihan beberapa minggu saja sampai kakimu benar-benar sembuh. Kamu dilarang beraktivitas berat untuk sementara waktu," terang Pak Ronald.
"Tapi sama aja aku belum bisa berjalan normal pa!"
"Bersabarlah sayang! Seiring berjalannya waktu, kamu akan kembali seperti sedia kala, kamu akan segera sembuh sayang!" ucap Bu Nadia memberi semangat.
James mengangguk dan matanya menerawang jauh, tiba-tiba dia merasa tidak pantas bersanding dengan Jessie yang cantik dan sempurna. Dia takut istrinya itu tidak bisa menerima kekurangannya dan tiba-tiba dia merasa takut jika kehilangan Jessie yang selama beberapa bulan ini mengisi hari-harinya.
"James, lihatlah istrimu! Dia adalah orang yang sangat terpukul dan bersedih dengan kejadian ini, dia rela mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanmu. Lihatlah ketulusan cintanya dan segala pengorbanannya padamu! Apa yang kurang dari Jessie? Apa selama ini dia tidak menjalankan tugasnya sebagai istri?" tanya Pak Ronal dan James hanya membalas dengan gelengan kepala.
"Kalau dia sudah menjadi istri yang baik, kenapa kamu masih saja menyakiti hatinya? Kamu malah mengejar cinta wanita lain, wanita yang tidak halal untukmu. Apa sebenarnya yang kamu cari darinya James? Cinta kalian sudah berakhir sejak kamu mengucap janji suci bersama Jessie dihadapan Allah. Lagipula sekarang Renata sudah memiliki calon suami, tidak usah mengejarnya lagi. Belajarlah mencintai istrimu, dia yang selalu ada dan mendampingimu dalam setiap kondisi. Gadis itu dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang ditengah keluarganya tapi di rumahmu kamu malah memberikan rasa sakit. Jika kamu tidak bisa mencintainya, lepaskan saja dia dan biarkan dia bahagia!" gertak Pak Ronald.
"Tidak pa! Aku tidak akan melepaskannya sampai dia sendiri yang meminta perpisahan, maafkan aku sudah mengecewakan papa dan mama!"
"Mintalah maaf pada Jessie bukan pada kami!" ucap Bu Nadia.
James mengangguk dan dia pun beristirahat kembali.
**
Saat pagi menjelang, Jessie terbangun dari tidurnya dan melihat ibu mertuanya tertidur pulas disampingnya, ayah mertuanya tidur di sofa dan suaminya pun masih tertidur juga.
Jessie pergi ke kamar mandi sejenak untuk membersihkan diri, setalah selesai dari kamar mandi dia mendekati bangkar James dan memegang tangan James dengan lembut.
"Kak James, apa kakak baik-baik saja? Aku rindu suara kakak," ucap Jessie lirih sembari mengenggam tangan suaminya.
James yang terusik karena sentuhan Jessie, sontak membuka matanya, dia melihat Jessie yang menatapnya dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Jessie, ka.. kamu udah bangun?" James gugup saat tangannya digenggam oleh Jessie dan reflek melepaskan genggaman tangan Jessie.
"Ah.. maaf kak!" Jessie menjadi tidak enak, dia kira James tidak mau disentuh olehnya tapi nyatanya James gugup dan salah tingkah.
"Hm," James memalingkan wajahnya karena tak tahan melihat tatapan istrinya, ingin rasanya dia merengkuh dan menciumi istri cantiknya itu.
"Bagaimana mana keadaan kakak? Apa sudah lebih baik?" tanya Jessie.
"Alhamdulillah, setidaknya aku bisa ditangani lebih cepat. Terimakasih sudah mendonorkan darahmu untukku Jessie, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa," ucap James dengan tulus.
"Jangan bicara seperti itu Kak, aku istri Kak James jadi sudah seharusnya aku selalu ada buat kakak, aku ikhlas melakukan semuanya, kakak jangan pikirkan lagi!" Jessie tersenyum manis dan James pun mengangguk membalas senyuman Jessie.
Sebenarnya James ingin membicarakan soal kecelakaannya yang dulu pada Jessie tapi saat dia membuka mulutnya, Bu Nadia dan Pak Ronald telah bangun dari tidurnya.
"Jessie sayang! Kamu sudah sarapan?" tanya Bu Nadia pada menantu kesayangannya.
"Belum mama,"
"Ya udah mama akan suruh orang untuk mengantarkan sarapanmu kesini dan mama pulang dulu mengambil baju ganti mama dan baju ganti untukmu. mama juga menyiapkan keperluan papa yang akan meeting dengan klien menggantikan suamimu,"
"Baik ma, terimakasih!" ucap Jessie.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu Jessie?" tanya Pak Ronald.
"Saya telah mengajukan cuti untuk tiga hari kedepan pada atasan saya pa," jawab Jessie dan Pak Ronald pun mengangguk.
"Kalau begitu, papa dan mama tinggal dulu ya!" pamit Pak Ronald.
Jessie dan James mengangguk.
Saat keduanya ingin memulai percakapan mereka kembali, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan James dirawat.
"Tok! Tok!"
"Ah sepertinya makanan yang mama pesankan untukku sudah datang, sebentar aku liat dulu kak," ucap Jessie pada James.
"Hm," James mengangguk.
Jessie pun membukakan pintu kamar James, dan terkejut melihat seseorang yang ada didepannya.
"Boleh aku masuk?"