
Hati James menghangat mendengar ucapan Jessie, dia kira Jessie sudah tidak menyukainya lagi setelah tahu kondisinya sekarang, tapi nyatanya gadis itu tidak pernah malu mengungkapkan perasaannya.
Dan apa kabar dirinya, yang mendadak insecure dengan keadaannya saat ini hingga dia sendiri menjauh dan tak berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada sang istri, sungguh begitu pengecutnya dirinya!Lalu apa yang dia takutkan? Dia takut penolakan Jessie? Atau takut terluka lagi karena cinta? Dia hanya belum siap menghadapi rasa sakit dan penolakan dari Jessie, padahal selama ini dia yang terus menolak dan memberikan rasa sakit pada istrinya.
"Aduh manisnya menantu kesayangan mama, terimakasih sudah tulus mencintai putra mama yang menyebalkan ini sayang!" ucap Bu Nadia tanpa memperdulikan James yang kini melotot mendengar ejekan mamanya.
"Mama," keluh James.
"Ya sudahlah, mama mau pergi dulu. Mama ada banyak urusan, kamu baik-baik ya sama istrimu James! Bersikaplah manis padanya, kalau kamu menyebalkan bisa-bisa istrimu dicuri orang lain!" goda Bu Nadia.
"Mah!" James tak suka ucapan mamanya dan Jessie hanya menahan tawanya.
"Oke-oke mama tidak akan menggoda mu sayang! Mama pergi ya!" pamit Bu Nadia lalu mencium pucuk kepala James dan mencium pipi menantunya lalu berjalan pergi meninggalkan keduanya.
"Apa kakak masih ingin berkeliling?" tanya Jessie pada suaminya.
"Nggak, aku ingin ke kamar." jawab James.
"Baik kak, ayo aku antarkan!"
Jessie mendorong kursi roda suaminya dan membawanya menaiki lift menuju kamar utama mansion mereka.
Saat Jessie memasuki kamar pribadi sang suami, Jessie terpukau melihat kamar James yang luas dan telah tertata rapi.
Jessie membantu James membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Jika kakak butuh apa-apa, kakak hubungi ponselku aja. Aku mau mencari kamarku dulu," ucap Jessie yang akan beranjak pergi.
"Tunggu Jess!" cegah James.
"Iya?"
"Apa kau tidak menyadari jika seluruh barangmu sudah ada di kamar ini? Liat semua barang mewahmu telah tertata rapi disana!"
James menekan sebuah remote, di ruangan walk in closet yang ada di kamarnya telah terbuka dan dia menunjukkan pada Jessie.
"Hah!"
Sontak Jessie menyapukan pandangan keseluruhan ruangan kamar itu dan berhenti pada sebuah ruangan kecil yang berfungsi menyimpan baju serta beberapa barang mewah miliknya dan milik suaminya.
"Aku akan tidur satu kamar dengan kakak?" tanya Jessie yang mendadak lemot.
"Iyalah dengan siapa lagi!"
Jessie berbinar bahagia, akhirnya setelah berbulan-bulan lamanya dia sekamar juga dengan sang suami.
"Memangnya kamu mau pelayan disini melaporkan pada mamaku jika aku dan kamu tidur di kamar terpisah? Bisa-bisa aku digantung sama mama dan papaku!" ucap James dan membuat senyuman bahagia Jessie pun meredup.
Jessie mengira suaminya sudah menerimanya, tapi nyatanya suaminya hanya takut dengan kemarahan kedua mertuanya.
"Oh iya, kamu tidak usah memikirkan segala keperluanku saat bekerja. Nanti akan ada suster wanita yang membantu segala aktivitasku,"
"APA!!" teriak Jessie yang terkejut.
Membayangkan suaminya dirawat dan disentuh wanita lain, membuatnya bergidik ngeri.
"Apa?" James menahan senyumnya saat melihat raut wajah Jessie yang marah sekaligus panik.
"Tidak bisa! Aku tidak setuju Kak James dirawat suster wanita! Aku masih bisa merawat kakak sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja!"
"Memangnya kenapa? Mereka kan bekerja profesional!" goda James.
"Apa sudah tidak ada perawat pria hingga kakak menginginkan dirawat seorang perawat wanita?" gerutu Jessie.
"Aku geli jika harus disentuh seorang pria Jess!"
"Tapi kemarin Kak James tidak keberatan dirawat Kak Fino!" protes Jessie.
"Fino sudah seperti saudaraku sendiri, jadi aku tidak merasa risih sama sekali. Lagipula pekerjaan Fino lebih penting di perusahaan daripada hanya mengurusiku saja,"
"Oh jadi kakak, lebih suka dipegang dan disentuh-sentuh wanita lain? Jadi itu tujuan kakak? Apa bersamaku saja tidak cukup bagi kakak? Aku rela memberikan semua hak kakak, apa itu semua itu masih kurang?" ucap Jessie kesal dan menyingkirkan rasa malunya.
"Astaga Jessica! Kenapa pemikiran kamu jadi sejauh itu? Apa kau kira aku akan bercinta dengan suster itu?" ucap James menggelengkan kepalanya tak percaya.
Wajah Jessie mendadak memerah saat menyadari pikirannya sudah terlampau jauh dan memikirkan hal-hal yang kotor.
"Bu.. bukan itu maksudku kak," Jessie menjadi salah tingkah.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, merawat pria lumpuh sepertiku."
"Jangan berkata seperti itu Kak James, apapun yang terjadi dengan kakak, aku akan selalu setia mendampingi kakak," ucap Jessie dengan tulus.
"MasyaAllah.. dia ini sebenarnya manusia apa malaikat sih? Kenapa hatinya sebaik itu dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang? Apa aku yang seperti ini masih pantas berharap dia berada di sisiku selamanya?" ucap James dalam hati.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi! Aku sudah terlanjur menyewa perawat dan mulai besok pagi dia mulai bekerja. Sekarang aku mau istirahat dulu," ucap James yang seolah tak peduli lalu memejamkan matanya.
***
Keesokan paginya, Jessie telah bangun lebih pagi dan menunaikan ibadahnya. Saat dia membuka matanya, dia baru menyadari jika posisinya sekarang sedang memeluk suaminya yang sedang tidur terlentang.
Wajah Jessie memerah sekaligus bahagia, aroma tubuh suaminya sungguh menenangkan dan rasanya seperti tidak ingin melepaskan tangannya dari tubuh atletis suaminya.
Dia memandang wajah tampan khas ala oriental itu, wajah yang selalu mengisi hati dan pikirannya.
"Apa sudah puas memandangiku seperti itu?" tanya James dengan mata masih terpejam.
"Hah! Maaf, sejak kapan kakak bangun?" tanya Jessie melepaskan pelukannya dan menjadi salah tingkah.
"Sejak kamu merapatkan pelukanmu tadi,"
"Aku nyaman berada dipelukan kakak," ucap Jessie malu-malu.
"Tapi tubuhmu sangat berat, aku belum sanggup menopangnya dalam waktu yang lama. Rasanya seluruh tubuhku jadi kram karena menahan bobot tubuhmu semalaman," ucap James jujur.
"Hah! Benarkah seberat itu? Maaf kalau aku membuat badan kakak sakit semua," Jessie merasa bersalah.
"Sebenarnya jika kaki dan badanku bisa miring kesamping mungkin bobot tubuhmu tidak terlalu berat, tapi karena kakiku masih sakit, aku hanya bisa tidur terlentang saja."
"Kalau begitu mulai malam nanti biar aku tidur di sofa itu saja, biar aku tidak.."
"Nggak perlu! Kamu akan tetap tidur disini bersamaku, jangan membantah lagi! Dan sana pergilah ke kamar mandi, kalau kita berdebat tidak akan pernah ada habisnya juga!" ucap James memotong ucapan Jessie.
"Baik kak," Jessie bergegas mandi dan menunaikan ibadahnya.
Setelah Jessie menyelesaikan semuanya, dia membantu suaminya ke kamar mandi.
James masih bisa menanggalkan pakaiannya sendiri, tapi untuk memakai pakaian di badannya, dia harus dibantu seseorang. Dulu sewaktu di rumah sakit dia jarang mandi karena lukanya masih basah, dan sekalinya mandi dia dibantu Fino untuk memakaikan pakaiannya. Tapi sekarang setelah dia menyelesaikan mandinya dia binggung bagaimana memakai pakaiannya kembali.
Dia menyingkirkan rasa malunya dan kembali memanggil sang istri.
"Jess!" teriak James dari kamar mandi.
"Apa kakak sudah selesai?" tanya Jessie dari luar kamar mandi.
"Sudah, tolong bantu aku!"
"Ceklek!"
Jessie bergegas masuk ke kamar mandi dan melihat suaminya membalutkan handuk putihnya dengan sembarangan di pinggangnya hingga membuat Jessie sedikit tertegun melihat titik air jatuh di tubuh atletis sang suami, sungguh makhluk Tuhan yang begitu sempurna, begitu pikirnya.
Setelah Jessie mendudukan suaminya di samping ranjangnya, dia memakaikan pakaian untuk sang suami dari baju, celana pendek hingga baju d***m-nya juga.
Sungguh saat ini keduanya begitu tegang dan sama-sama menahan g*irah mereka masing-masing.
Tangan Jessie yang mondar-mandir diatas t***h suaminya membuat otak keduanya menjadi traveling kemana-mana.
Dan saat Jessie mulai menyisir rambut suaminya, James benar-benar sudah tidak tahan dan akhirnya dia menarik istrinya hingga sang istri jatuh di pangkuannya.
"Akh! Kak James!" seru Jessie yang terkejut.
Tanpa aba-aba, James mendaratkan c**man mesranya pada sang istri dengan menggebu-gebu. Sepuluh hari lebih dia menahan untuk tidak menyentuh istrinya, tapi saat ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Tangan Jessie yang lembut dan hangat membuat g*irahnya menggelora.
Awalnya Jessie terdiam karena masih shock dengan serangan tiba-tiba dari sang suami, tapi lama-lama dia membalas dan menikmatinya.
Lama mereka saling bertaut, seolah tak ingin berhenti dan saling mengungkapkan segala perasaan dan kerinduan keduanya.
Hingga sebuah ketukan menghentikan aktivitas mereka.
"Tok! Tok!"
Tautan mereka pun terlepas, keduanya menjadi salah tingkah dan membetulkan baju dan rambut mereka masing-masing.
"Iya! Ada apa?" teriak James dari dalam.
"Suster anda telah datang Tuan muda," ucap salah satu pelayan James.
"Baiklah, aku akan segera ke bawah!"
"Baik Tuan muda,"
Jessie mengantarkan James ke ruangan tamu di lantai bawah.
Terlihat seorang wanita berpakaian serba putih berparas cantik khas Indonesia dan bertubuh sintal sedang duduk di ruang tamu.
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa suster wanita itu dengan senyuman manisnya.
"Astaga, bagaimana mungkin dia memilih perawat secantik ini? Apa memang dia sengaja memilih yang cantik lalu jatuh cinta dan menjadikan perawat ini istrinya seperti di novel-novel! Bisa nggak sih milihnya yang biasa aja!" gerutu Jessie dalam hati.
Entah kenapa pikirannya jadi kemana-mana saat melihat tubuh sempurna didepannya. Kecantikan perawat itu sebanding dengan Renata mantan kekasih suaminya, terlihat dewasa dan sangat menarik. Padahal jika dilihat-lihat Jessie juga sangat cantik dan se*si dengan ciri khas wajah blasteran yang dia miliki, tapi mengingat suaminya lebih menyukai wanita yang lebih dewasa, dia tiba-tiba menjadi insecure.