
Tanpa sengaja James menabrak seorang waiters yang membawa nampan makanan.
"Ah maaf aku nggak sengaja, biar aku ganti rugi semua kerusakannya." ucap James merasa bersalah.
"Tidak masalah Tuan Muda, saya juga minta maaf membuat baju anda kotor." ucap pelayan itu merasa bersalah juga.
"Hm, tidak masalah!"
Sedangkan Jessie baru menyadari jika ada sang suami disana, dia segera menghampiri James.
Nerissa yang menghampiri James terlebih dulu pun sedikit terkejut melihat piring dan beberapa gelas yang pecah berserakan di lantai.
"Sus, minta tolong untuk ke kasir lagi ya! Bayar semua kerugian yang aku timbulkan!" pinta James pada Nerissa.
"Baik Tuan Muda!"
Nerissa kembali ke kasir lagi, sedangkan James buru-buru keluar dari restoran itu melalui pintu samping restoran yang terhubung dengan parkiran samping bangunan yang biasa sepi, karena para pelanggan kalangan atas, lebih suka memarkirkan kendaraannya di depan Restoran.
James sempat mendengar panggilan Jessie tapi dia tak mengindahkan istrinya.
"Kak James, biar aku anter ke mobil!" ucap Jessie yang sudah ada di belakangnya.
James menghentikan gerak kursi rodanya, "Untuk apa kamu peduli denganku? Bukannya kamu lagi bersenang-senang dengan pria-pria tampan disana tadi?" ucap James dengan wajah datar.
"Bersenang-senang bagaimana? Dua laki-laki tadi itu adalah Tuan Robert atasanku sekaligus sahabat kakak iparku, Kak Shafa dan Mike adalah asistennya. Kami baru selesai meeting dengan klien dan sekalian makan di restoran itu. Kami memang terlihat akrab karena mereka menganggapku adik mereka sendiri," ucap Jessie.
"Cihh alasan klasik! Awalnya dianggap adik, lama-lama bisa lebih dari itu, aku bisa menebak sifat wanita-wanita sepertimu," cibir James.
"Apa maksud Kak James bicara seperti itu! Aku bukan wanita yang seperti Kak James pikirkan, asal Kak James tahu, ucapan Kak James sangat menyakitiku!" seru Jessie yang kesal luar biasa.
James membuang mukanya dan tidak peduli, dia sendiri masih sangat kesal dengan Jessie mengingat dia sangat akrab dengan pria lain, bahkan dirinya yang berstatus suami sahnya tak pernah menyuapinya dengan mesra seperti itu, dia cemburu sekaligus iri.
"Sudahlah kembalilah ke dalam! Aku akan pergi ke tempat lain, agar tidak mengganggu kesenangan kalian."
"Astaghfirullah Hal'adzim.. kenapa sih pria ini semakin menyebalkan!" gumam Jessie dalam hati.
Saat James mulai menggerakkan lagi kursi rodanya, tak disangka empat preman bertopeng hitam menodongkan senjata tajam padanya.
"Hei pria lumpuh! Serahkan semua harta bendamu atau aku akan menghabisimu sekarang juga! Dasar pria tak berguna!" umpat salah satu preman itu.
James melotot kaget saat empat orang sedang mengancamnya. Jika saja dia tidak lumpuh dia bisa dengan mudah mengalahkan preman-preman itu dengan tangan kosong tapi sekarang dia tak berdaya.
"HEI MAU APA KALIAN! JANGAN GANGGU SUAMIKU!" teriak Jessie kepada para preman itu.
Jessie menarik kursi roda James agar menjauh dari preman itu, memposisikan dirinya di depan James dan menghadang ke empat preman itu.
"Jessie apa yang kau lakukan! Jangan bertindak bodoh!" seru James dengan perasaan khawatir yang luar biasa.
"Hai nona cantik! Ayo ikutlah dengan kami! Kami akan buat kamu bahagia sepanjang hari, karena aku yakin suamimu yang lumpuh itu tidak bisa berbuat apa-apa!" ledek preman itu sembari menatap Jessie penuh n***su.
Jessie mengibaskan tangan preman itu dengan keras.
"HAHAHA!" keempat preman itu menertawakan James.
James benar-benar sakit hati mendengar ejekan para preman itu, dia semakin minder dan merasa seperti pria tak berguna di depan istrinya. Dia berjanji pada hatinya akan menghancurkan mereka dengan tangannya sendiri.
"BRE***SEK! KALIAN JANGAN COBA BERANI MENYENTUH ISTRIKU SEDIKITPUN! KALIAN PASTI AKAN MENYESAL!" teriak James penuh amarah.
"Pria lumpuh tak tahu diri! Sok-sokan ngancem lagi, Hahaha!"
"APA MAU KALIAN! AKU AKAN MEMBERIKAN YANG KALIAN INGINKAN, TAPI SETELAH ITU PERGILAH DARI SINI!" teriak James penuh amarah.
Dia bahkan rela memberikan semua hartanya agar para penjahat itu melepaskan mereka berdua.
"Tapi sayangnya kami berubah pikiran Tuan! Kami juga menginginkan istri cantikmu itu! Kami ingin tau rasanya dipu45kan olehnya, Hahaha!"
"BRE***SEK KALIAN! PERGILAH KE NERAKA!" teriak James semakin marah.
Dia akan maju menantang preman itu, tapi Jessie menahannya.
Tiba-tiba Supir James muncul, tadinya dia berada di parkiran depan, duduk luar mobil sembari merokok, mendengar samar-samar keributan di samping bangunan, lantas dia mendatangi suara keributan itu. Dan dia baru menyadari jika tuannya dalam bahaya, lalu dia segera bergegas menghampirinya.
"Hei ba***gan! Segores saja kalian menyakiti Bossku akan aku habisi kalian!" geram supir James.
"Bre***sek! Berani-beraninya kau mengancamku!" umpat salah satu preman itu.
"Bughhh!!"
Preman itu melayangkan bogem mentah pada supir James.
"Bughh!"
Sang supir pun membalas pukulan itu.
Dan setelah tahu temannya akan kalah ketiganya pun mengeroyok sang supir.
Si supir kewalahan, dia mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari para preman itu.
Jessie segera menjauhkan James dari perkelahian kelima orang itu ke arah dekat mobilnya.
James mengira Jessie akan mengajaknya kabur dan menumbalkan supirnya, tapi ternyata dia salah mengira. Jessie malah berlari mendekati keempat preman yang sedang mengeroyok preman itu.
"Braaakkk!"
"Aarrrrghhhhh!"
Keempat preman itu menoleh dan memandang Jessie dengan tatapan tak percaya.
James dan supirnya pun mengaga tak percaya, dia melihat sisi lain dari wanita yang manja dan penurut itu. Ternyata wanita itu memiliki kekuatan luar biasa dalam tubuhnya.
"Bre***sek! Dasar Ja***ng!" umpat preman itu lalu dia membalas serangan Jessie.
Dengan sigap, Jessie menangkap tangan preman yang akan memukulnya lalu menendang perut preman itu.
"Bughhh!"
"Kreeekk!" bersamaan dengan suara belahan rok span Jessie yang sobek sampai ke paha.
Mata James membesar, ingin sekali dia membantu mereka dan tidak membiarkan Jessie kesusahan seperti itu, tapi lagi-lagi dia tidak bisa apa-apa, hanya bisa melihat semuanya dari kejauhan.
Dengan sigap Jessie melepas blazernya dan melilitkan ke belakang roknya.
Jessie dan sang supir mulai memukuli para preman itu bergantian, kekuatan mereka tidak sebanding, dua lawan empat. Jessie memang bisa bela diri karena sempat berlatih dengan Zain, adik dari kakak iparnya, tapi dia tak semahir Shafa dan Zain.
Apalagi sejak dia mengejar-ngejar James, dia mulai jarang berlatih lagi.
"Bughhh!"
"Bughh!
Wajah cantik Jessie terkena pukulan hingga memar dan sudut bibirnya pun berdarah.
"Bre***sek!" umpat Jessie.
Dia mulai menggila, dia membalas pukulan preman itu dengan sisa kekuatan miliknya. Saat satu preman mulai memeganginya, satunya lagi mengeluarkan pisaunya dan akan menusuk Jessie.
Dan tak disangka Mike tiba-tiba muncul bersama Robert. Mike menahan tusukan pisau yang akan mengarah pada Jessie, hingga kedua tangan Mike terluka dan berdarah.
"Kak Mike!" seru Jessie.
Walau dengan tangan yang terluka, Mike menghajar para preman itu dengan mudahnya.
Semua dihajar sampai babak belur, dibantu oleh Jessie dan supir James hingga meminta pengampunan pada Mike agar melepaskan mereka.
Preman-preman itu pun lari terbirit-birit, karena hampir sekarat.
Sedangkan Robert hanya, memandang Mike dan Jessie penuh dengan bangga. Dia tidak menyangka Jessie bisa bela diri seperti Shafa.
Sedangkan James, merasa bersyukur akhirnya Jessie dan supirnya terbebas dari bahaya.
"Kak Mike apa kamu nggak papa?" tanya Jessie yang cemas sembari memegang tangan Mike yang berdarah.
"Aku nggak apa-apa Jess, ini hanya luka kecil." ucap Mike santai.
"Luka kecil bagaimana? Liat ini pasti sangat dalam, darahnya aja nggak mau berhenti."
"Nggak perlu panik begitu Jess! Mike malah suka jika tubuhnya tergores, baginya itu cuma hal kecil, karena dia tipe pria psikopat," ledek Robert.
"S14l4n kau Boss!" umpat Mike, Robert terkekeh sedangkan Jessie masih khawatir.
Jessie begitu heran bisa-bisa kedua pria itu bercanda disaat darah dari tangan Mike tak kunjung berhenti.
Dengan cepat Jessie membuka dasi milik Mike yang melingkar di lehernya dan membelitkan ke luka Mike.
"Hei! Dasi mahalku!" Mike hanya berseru tak percaya, bisa-bisanya Jessie menggunakan dasi kesayangannya untuk membalut lukanya.
"Udah diem Kak Mike! Nanti aku ganti!"
Jessie masih sibuk membalut luka Mike mengeluarkan sapu tangan dari salah satu saku blazernya untuk membalut luka tangan satunya.
Jessie tak menyadari jika James terlihat sangat marah dan mengepalkan tangannya dengan kuat, melihat Jessie perhatian pada Mike.
Tapi lagi-lagi James hanya bisa menahan kemarahannya karena dia sadar jika bukan karena Mike Jessie bisa saja mati ditangan para preman itu.
"Tuan Muda apa anda tidak apa-apa? Maaf saya tidak berani mendekat tadi, saya takut melihat preman-preman itu." ucap Nerissa merasa bersalah.
"Hm, tidak masalah!" jawab James singkat.
"Udah selesai kak!" Jessie menepukkan kedua tangannya karena puas, "Ayo kita ke rumah sakit sekarang! Tunggu bentar aku ijin suamiku dulu!" ucap Jessie pada Mike.
"Ck! Jangan berlebihan Jess! Aku nggak papa, nanti dirawat di kantor aja!" keluh Mike.
"Jadilah penurut bocah tua! Nanti Suster Jessie marah!" ledek Robert lagi.
"Diem Kak Mike! Jangan protes terus! Aku pergi bentar!"
Jessie berjalan menghampiri James.
"Kak James, aku minta ijin membawa Kak Mike ke rumah sakit. Kasihan dia terluka karena menolong kita," ucap Jessie dengan tatapan memohon.