
James hanya asal ngomong tanpa melihat ekspresi wajah Jessie yang mendadak menjadi angker. Dia masih kesal dengan sikap Jessie yang kekanak-kanakan seperti tadi.
"Nerissa terus! Nerissa terus! Sebenarnya yang dianggap istri sama Kak James ini siapa! Hah!" seru Jessie dengan kesal luar biasa.
James mengernyit heran melihat Jessie yang marah-marah padanya.
"Nerissa itu perawat pribadiku jadi wajar kan dia membantuku dalam hal apapun! Aku juga sudah membayarnya," James tak mau kalah.
"Ya udah kalau Kak James merasa senang dibantu Nerissa! Nikahin aja dia! Senang kan kalau kalian bisa terus sama-sama!"
"Jangan kekanak-kanakan Jessie! Dia hanya melakukan tugasnya dengan profesional! Kamu terlalu banyak berfikiran buruk tentangnya! Lagipula, untuk apa aku menikahi wanita itu, apalagi wanita itu tidak aku cintai sama sekali!"
"Oh jadi kalau Kak James mencintai wanita lain, kakak akan mengajaknya menikah untuk jadi istri kedua kakak?" tanya Jessie semakin kesal.
James terdiam mendengar ucapan Jessie, sebenarnya yang dikatakan Jessie memang ada benarnya. Jika saat itu hubungannya dengan Renata membaik dan Renata tidak memilih menikah dengan pria lain, bisa jadi James akan memperistri Renata juga.
"Oh jadi benar dugaanku! Kak James penganut poligami! Sebelum aku dipoligami, lebih baik aku pergi aja dari sini!"
Jessie beranjak mengambil kopernya dan akan masuk ke dalam walk in closet untuk memasukkan baju-bajunya ke koper.
"Hei! Mau kemana kamu Jess!" tanya James dengan wajah panik.
"Aku mau pulang ke Mansion papaku!" Jessie tak peduli, dia masuk ke ruangan itu dan mulai memasukkan baju-bajunya.
"Hei Jess! Jangan coba-coba pergi dari sini kamu! Kamu masih istriku dan aku tidak mengijinkanmu pergi selangkahpun dari rumahku!" seru James.
Jessie menghela nafasnya panjang, dia benar-benar kesal dengan pria itu. Dia masih mencintai suaminya dan tidak benar-benar ingin meninggalkannya. Sudah lama dia tidak berkunjung ke Mansion papanya, jadi dia berencana akan berkunjung kesana untuk menggertak James.
"Jess.. Jessie! Jangan berani pergi kau!" teriak James.
Jessie tak peduli dan tak menjawab ucapan James.
Beberapa detik kemudian, dia keluar dengan koper besar miliknya. Padahal di dalam koper itu hanya dia isi beberapa potong baju miliknya.
"Seharusnya kan Kak James senang aku pergi dari sini, Kak James bisa menikah dengan wanita manapun yang kakak inginkan. Itu kan sebenarnya yang selama ini kakak inginkan?" tanya Jessie dengan santai.
"Dulu kamu yang meminta keluargaku agar melamarmu, tapi setelah semua keinginan kamu tercapai, kamu pergi sesukamu! Maumu itu apa sih Jess! Apa kamu sadar gara-gara kamu juga, Renata meninggalkanku!" James malah menyalahkan Jessie.
Bukannya Jessie merasa bersalah dia malah sangat kesal dengan ucapan James. Bisa-bisa saat bertengkar, James masih membawa nama mantannya dan malah menyalahkannya atas kepergian wanita itu.
"Oke! Aku akan mengabulkan keinginan kakak, aku akan pergi dan kejarlah wanita bernama Renata itu! Aku nggak akan ganggu hidup kakak lagi!" Jessie berjalan ke arah pintu dengan kesal.
"Jess! Hei Jessica! Jangan pergi kau!"
Saat Jessie sudah mencapai luar kamar James, terdengar suara benda jatuh ke lantai dengan dibarengi teriakan keras pria itu.
"Buugghhh!!"
"Aarrrrghhhhh!"
"Tolong Jessie!" teriak James.
Jessie yang mendengar itu sontak melemparkan kopernya sembarang dan berlari ke arah suaminya yang tengah terjatuh di lantai.
"Kak James!" seru Jessie terkejut.
Jessie segera membantu James untuk naik ke kursi rodanya.
"Kak James kenapa bisa terjatuh sih!"
"Aku ingin mengejar kamu Jess, tapi aku nggak bisa. Aku mohon jangan pergi Jess, aku janji tidak akan menyuruh suster itu membantuku mandi. Aku hanya akan mandi saat kamu yang membantuku." ucap James dengan wajah sendunya.
Sungguh dia tak ingin Jessie pergi meninggalkannya.
Wajah Jessie melembut melihat wajah sendu suaminya, dia menghela nafasnya panjang lagi, menekan ego dan amarahnya.
"Baiklah kak, aku nggak akan pergi! Mari aku bantu mandi dan setelah itu kita akan makan malam sama-sama." Jessie akhirnya pun mengalah, wajah sendu James membuatnya melupakan semua sakit hatinya.
Dia benar-benar tidak berdaya, saat berhadapan dengan pria yang dicintainya itu.
**
Selama satu bulan ini, perkembangan James meningkat pesat, karena kegigihannya melakukan terapi dengan dibantu Suster Nerrisa. James sudah bisa berjalan bertumpu pada tembok maupun benda2 besar lainnya, bahkan dia juga sudah tidak memakai kursi roda lagi, tapi memakai tongkat kruk untuk membantunya berjalan.
Setiap hari Fino juga datang untuk melaporkan semua perkembangan perusahaannya dan meminta tanda tangan maupun segala persetujuan darinya yang menyangkut kepentingan perusahaan.
Pagi itu, seperti biasa sebelum berangkat kerja, Jessie membantu suaminya mandi dan memakaikan baju untuknya, lalu mereka pun sarapan bersama dengan Suster Nerissa juga.
Setelah menyelesaikan sarapan, Jessie segera bersiap-siap dan berangkat ke kantornya.
Terlihat Nerissa tersenyum dengan tatapan mendamba dari dalam mansion James, saat pria itu tengah memandang kepergian sang istri dari depan mansionnya.
"Tuan Muda, apa anda butuh sesuatu?" tanya Nerissa yang kini menghampiri James.
"Baik Tuan muda, dengan senang hati." ucap Nerissa tersenyum manis.
Di kantor Jessie, terlihat dia sedang sibuk mempersiapkan berkas-berkas perusahaan untuk pertemuan penting dengan klien bersama Robert atasannya dan Mike.
Dan setelah satu jam berlalu, Robert dan Mike menghampirinya.
"Apa kau sudah siap Jess?" tanya Robert.
"Sudah Boss!"
"Oke, ayo pergi sekarang!" ajak Robert, Jessie dan Mike mengangguk patuh.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sebuah restoran mewah.
Tiga orang laki-laki tampan memakai jas rapi tengah duduk untuk menunggu mereka.
"Selamat Siang Tuan Erlangga, maaf jika membuat anda menunggu lama." ucap Robert merasa tidak enak.
Tuan Erlangga adalah Presdir dari PT Aryarajasa Group, dia datang bersama asisten dan sekretarisnya.
*(Yang penasaran sama kisah cinta Presdir Erlangga, Yuk bisa mampir ke Novel Mak yang lain berjudul "CEO CANTIK SI PENGGODA HATIKU" )
"Selamat siang juga Tuan Robert!" balas Erlangga, "Tidak Tuan Robert, kami juga baru saja datang kok. Mari kita lanjutkan kesepakatan kita beberapa waktu lalu!"
Robert pun mengangguk, lalu dia duduk dan diikuti oleh Mike dan Jessie duduk disampingnya.
Jessie dan Mike memperkenalkan diri pada Erlangga dan kedua pria disampingnya.
Dan meeting pun di mulai, Jessie mulai mempresentasikan semuanya dengan sangat baik, dan Erlangga pun mengangguk sembari tersenyum penuh puas.
Erlangga juga memuji kepiawaian Jessie dalam mempresentasikan segala yang berhubungan dengan meeting mereka hari ini.
Dua jam berlalu, waktu telah menunjukkan pukul satu siang dan waktunya untuk makan siang.
Erlangga mengakhiri meeting mereka dan pamit pergi dari ketiga orang itu.
Setelah itu, Mike memanggil waiters dan memesankan makan siang untuk Robert dan Jessie.
"Kamu hanya pesan steak Jess?" tanya Mike mengernyit heran.
Biasanya di kantin saja Jessie memesan banyak cemilan untuk menemani makan siangnya.
"Iya kak, lagi diet!" jawab Jessie asal.
Entah kenapa dia hanya sedang tak berselera saja hari itu.
"Jiaahh... tukang jajan sok-sokan diet segala! Apa aku nggak salah denger?" ledek Mike.
"Biarin aja! Kan sekali-kali diet biar nggak gendut!" Jessie menjulurkan lidahnya di depan Mike.
"Gendut dari mana! Orang badan makin krempeng gini!" Mike mengambil pergelangan tangan Jessie dan melemparkan ke meja begitu saja.
"Dihh! Aku tuh ideal bukan kerempeng kak!" Jessie mendengus kesal.
"Sepertinya dia punya penyakit tekanan batin Mike! Kasihan sekali dia!" Robert pun ikut meledeknya.
"Menyebalkan Boss nih!" gerutu Jessie.
Dia bukan marah Robert mengatainya, tapi yang dikatakan Robert memang kenyataan. Walau James menjaga jarak dengan suster cantik itu saat ada dirinya, tapi nyatanya hubungan Jessie dan James dingin kembali seperti dulu, suaminya itu seolah menjaga jarak dengannya.
"Eh udah ayo makan! Berdebat dan bertengkar juga butuh tenaga, nanti bisa kita lanjutkan lagi acara ledek-ledekannya!" ucap Robert.
Ketiga orang itu begitu sangat akrab bahkan saat mereka makan, Mike dan Robert tidak sungkan untuk menyuapi Jessie dengan makanan miliknya, karena menganggap Jessie seperti adik mereka.
Sedangkan Jessie pun menerima suapan mereka dengan bahagia. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari meja lain di restoran mewah itu.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat untuk meredakan amarahnya.
"Bre****sek! Apa-apaan sih bocah itu! Jadi kelakuannya selama di luar rumah seperti ini? Menggoda laki-laki lain! Liat saja aku akan beri pelajaran sama kamu Jessie!" gumam James dalam hatinya.
Hatinya begitu panas saat melihat Jessie diberikan perhatian oleh dua orang pria tampan berwajah blasteran.
"Ayo sus kita pergi aja dari sini! Kita cari restoran lain aja!" ucap James yang akan menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Tapi saya sudah memesan makanan untuk anda Tuan James, apa perlu saya bilang ke pegawainya untuk membungkusnya saja pada Tuan?" tanya Nerissa.
"Nggak usah nggak perlu! Aku tunggu di mobil aja, kamu yang bayar makanannya!" James menyerahkan kartu kreditnya pada Nerissa dan mulai menekan tombol kursi rodanya agar berjalan otomatis.
"Praaaaankk!"