MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 16. Ijin



"Ah sayang! Kau mengagetkan kami aja! Kami pelukan lagi melepas rindu aja yang," jawab Shafa sedikit gugup. Dia hanya takut suaminya mendengar perbincangan mereka.


"I.. iya Kak Barra, kami sangat rindu makanya kami berpelukan terus." Jessie menambahkan.


"Kenapa kau tidak turun ke bawah untuk menyambutku Jessie? Dan kamu malah menahan kakak iparmu disini, tidakkah kau tahu aku sangat merindukannya walau tak bertemu beberapa menit apalagi ini sampai sejam!" ucap Barrack dengan kesal dan membuat kedua wanita yang di depannya melotot tak percaya.


Shafa memutar malas bola matanya menanggapi suaminya yang berlebihan itu.


"Hei Tuan muda arogan! Sejak kapan Tuan arogan ini lebay dan semakin posesif? Astaga tidak bisa dipercaya kakakku yang dulu arogan dan dingin sekarang seperti ini," ucap Jessie sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasar iri! Ayolah kita turun makan! Kami sudah sangat kelaparan menunggu kalian selesai bergosip!" ucap Barrack yang kini merangkul bahu adiknya sembari menuju lantai bawah.


"Lagian siapa yang nyuruh menunggu kami!" Jessie menjulurkan lidahnya di depan sang kakak.


"Dasar gadis manja! Udah salah malah meledek, jitak nih!" ucap Barrack seolah akan menjitak adiknya tapi Jessie yang ada didekapan kakaknya malah tertawa.


James yang melihat Jessie bisa tertawa lepas pun ikut bahagia, sudah lama dia tidak melihat Jessie tertawa seperti itu, yang dia bisa hanya menorehkan luka saja dihatinya.


Kini ketiganya pun telah sampai di depan meja makan, sudah ada James, Gery dan Ken disana.


"Hai Kak Ken! Selamat datang, maaf aku tidak menyambutmu, aku tadi ketiduran dikamar." ucap Jessie merasa tak enak.


"Nggak masalah Jess! Suamimu sudah menemaniku daritadi, jadi sama saja bagiku," ucap Ken tersenyum manis.


"Ketiduran apa? Bergosip terus sama istriku!" cibir Barrack.


"Isshh kakak mana tau sih! Katanya laper udah ayo makan jangan ngajak bertengkar terus!" Jessie mendorong kakaknya dan mendudukkan di kursi makan.


"Eh!"


"Udah diem kak, kakak mau makan apa?" tanya Jessie mengambilkan piring untuk kakaknya.


"Apa aja yang penting enak!"


Jessie mengambilkan makan serta lauk pauk untuk kakaknya, lalu mengambil piring suaminya dan mengambilkan makanan untuk suaminya juga, dan akhirnya mereka pun makam bersama sembari mengobrol hangat di meja makan itu.


***


Pada saat petang menjelang, setelah banyak bertukar cerita dan ngobrol bersama, akhirnya semua kembali ke rumah masing-masing.


Ken dan Gery berpamitan lalu pergi, kemudian Barrack dan Shafa juga berpamitan, terlihat Jessie seperti enggan melepaskan kakak iparnya itu.


"Kakak ipar menginap disini ya!" ucap Jessie yang terlihat bergelayut manja pada Shafa yang kakak ipar.


"Apaan sih Jess, udah nikah manjanya nggak berkurang juga! Kalau kakak iparmu tidur disini, siapa yang akan mengurusiku?"


"Isshh kakak nih, kakak kan bisa urus diri kakak sendiri! Wanita juga butuh waktu santai buat nyenengin dirinya sendiri bukannya ngurusin suami terus! Apalagi suaminya manja kayak kakak!" Jessie menjulurkan lidahnya didepan sang kakak.


"Dasar adik nakal! Sudah aku mau pulang dulu! Nanti kapan-kapan aku kasih kalian waktu berdua buat gosip seharian!" Barrack menarik tangan istrinya dan membukakan pintu mobilnya.


Sedangkan James hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan kakak beradik yang seperti anak kecil itu, dia tahu itulah cara keduanya meluapkan rasa rindu mereka.


"Bye Jessie sayang!" ucap Shafa melambaikan tangannya.


"Bye kakak ipar! Hati-hati dijalan ya! Bye Kak Barra yang alay dan bucin!"


"Ck! Dasar adik kurang ajar!" Barrack berpura-pura kesal dan masuk ke mobilnya lalu keluar dari kediaman James dan Jessie.


Rumah mereka pun kembali sepi, Jessie mendorong James tanpa bersuara lagi menuju kamar mereka. Dia masih kesal dengan suaminya tapi dia bersikap biasa didepan semua tamu tadi.


"Apa Kak James mau mandi? Biar aku siapkan air dinginnya," ucap Jessie tanpa memandang suaminya.


Dia sibuk membereskan barang-barang yang berserakan di meja kamarnya.


"Apa kamu masih marah sayang?"


James mendekati Jessie dan memegang tangannya.


"Lalu menurut kakak?" Jessie menoleh sekilas pada suaminya lalu kembali menyibukkan dirinya.


"Sayang sudah berkali-kali aku katakan jika hanya kamu saja yang saat ini aku cintai dan Renata hanyalah masa laluku, kedatangannya tidak berpengaruh apapun untukku sayang. Tolong percayalah! Dia hanya berusaha membuat hubungan kita menjadi buruk sayang. Maafkan aku sayang, jangan marah lagi!" James mengiba dengan masih menggenggam tangan istrinya.


"Jika Kak James ingin menjadikan Renata istri kakak, aku akan mundur dari pernikahan ini. Aku akan ikhlas demi kebahagiaan kakak." Jessie memandang lembut ke arah suaminya dan tersenyum lembut lalu melepaskan genggaman tangan yang suami dari tangannya dengan perlahan.


Jessie berjalan menuju walk in closet, tapi James memegang tangan istrinya kuat, dia berdiri bertumpu pada kursi rodanya dan tangan Jessie.


"Sayang, jangan pergi aku mohon jangan tinggalkan aku istriku! Aku tahu aku salah, aku tahu aku pernah memikirkan akan menikahi wanita lain tapi saat ini hanya kamu yang aku cintai dan aku inginkan. Tolong berikan aku kesempatan satu kali lagi sayang! Maafkan aku!" James memeluk istrinya dengan erat, dia sangat takut Jessie mengemasi bajunya lalu meninggalkannya.


Jessie terdiam tak bisa berkata apa-apa, dia juga masih sangat mencintai suaminya walau hatinya benar-benar terluka.


Dia menghela nafasnya panjang sebelum memberikan keputusan untuk sang suami, "Baiklah aku akan memberikan kesempatan untuk Kak James, tapi tolong jangan menyakitiku lagi. Aku sangat tidak suka Kak James dekat dengan wanita itu,"


Akhirnya Jessie memaafkan suaminya dan memberikannya kesempatan, dia berharap setelah ini hubungan cinta mereka semakin kuat.


***


Selama dua minggu ini hubungan Jessie dan James semakin harmonis, mereka kerap menghabiskan waktu berdua saat keduanya tidak banyak pekerjaan. James tetap bekerja di rumahnya dan Jessie tetap bekerja di kantornya dengan pengawalan ketat seperti biasa.


Jessie sendiri telah mewanti-wanti para mengawal mansionnya agar tidak menerima tamu wanita yang bernama Renata, saat dia tidak berada di mansion. Dia tidak ingin hubungan yang sudah membaik ini kembali buruk karena pengaruh wanita ular itu.


Malam itu James berada di ruang kerjanya, dia terlihat sedang berbincang bersama Gery, sahabatnya.


📞"Bagaimana? Apa kau sudah temukan dokter terbaik untukku?" tanya James.


"Kau tahu jika temanmu yang tampan ini sangat bisa diandalkan, jangan pernah ragukan kemampuanku sobat!" ucap Gery dengan sombongnya.


"Dasar congkak! Katakan padaku kapan aku bisa berangkat?"


"Besok pagi berangkatlah! Lebih cepat lebih baik. Lagipula, apa kau tidak capek berada di bawah terus, tanpa bisa memimpin permainan? Dasar lemah!" cibir Gery.


"S14l4n kau Ger! Bisa-bisanya disaat begini kamu ngomongin urusan ranjang! Aku rasa otakmu itu telah rusak parah karena sudah banyak tercemar dengan hal-hal negatif!" umpat James dan Gery malah terkekeh.


Kemudian keduanya pun mengakhiri sambungan telepon mereka setelah selesai berbicara banyak hal.


"Ceklek!"


Jessie masuk ke ruangan kerja milik suaminya dan terlihat dia membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir kopi dan beberapa cemilan di piring.


"Sayang! Kamu belum tidur?" ucap James tersenyum bahagia saat melihat wanita kesayangannya datang padanya.


"Belum sayang, pekerjaanku udah selesai jadi aku menyusulmu kesini. Ayo minum dulu kopinya!"


"Hmm!"


James pun menggangguk lalu meneguk cairan hitam pekat dan beraroma khas kesukaannya. Istrinya itu, walaupun tidak begitu pandai masak, tapi dia sangat tahu takaran kopi kesukaannya.


Rasa manis dan pahit pada cairan itu, begitu sangat nikmat di lidahnya, tapi tidak ada yang mengalahkan kenikmatan saat bersama sang istri.


"Sayang kemarilah!" James menepuk pelan pahanya, agar istrinya duduk dipangkuannya.


Tanpa banyak bertanya, Jessie duduk di pangkuan suaminya.


"Ada apa sayang? Sepertinya ada yang ini kamu ingin bicarakan?" Jessie langsung tahu.


"Hm, besok aku akan berangkat ke Singapura sayang," ucap James langsung pada intinya.


"Singapura? Kenapa mendadak begitu sayang? Ada masalah apa?" tanya Jessie dengan raut cemas di wajahnya.


"Tidak ada masalah apapun sayang! Gery telah menemukan dokter terbaik untukku dan akan mengobati kakiku disana agar bisa kembali normal. Apa kamu mengijinkanku pergi sayang?" tanya James sembari memandang lembut istrinya.


"Jelas boleh sayang, aku juga ingin suami tampanku ini kembali seperti sedia kala. Aku sangat bahagia sayang, semoga pengobatan kali ini bisa berhasil!" ucap Jessie antusias.


"Terimakasih sudah mengijikanku sayang dan terimakasih atas doa dan dukungan kamu untukku, aku sangat mencintaimu istriku!" James memeluk istrinya penuh sayang.


"Aku juga sangat mencintaimu suamiku!" Jessie pun mengeratkan pelukannya.


"Eh aku ikut kan sayang? Aku akan menemanimu disana."


"Jangan sayang! Kamu kan harus kerja, aku juga tidak bisa memastikan berapa lama disana, karena Gery bilang, dokter itu mengatakan jika dalam kasusku ini penyembuhan paling cepat dua minggu dan paling lama bisa sampai satu bulan. Kamu tetap tinggalah disini dan doakan aku disana agar segera sembuh,"


"Tapi sayang.."


"Kamu jangan mengkhawatirkanku sayang, ada Gery yang akan menjagaku disana."


"Baiklah sayang, kalau itu kemauanmu, aku akan tetap disini setia menunggu kedatanganmu." Jessie pun tak punya pilihan.


Seandainya saat ini dia bekerja di perusahaan papanya, mungkin dia bisa bekerja dari rumah saja. Tapi kenyataannya dia bekerja di perusahaan orang lain, mana mungkin dia boleh cuti lama kecuali dia sakit ataupun melahirkan.


"Hmmm.. Kalau kenyataannya aku tidak bisa sembuh, apa kamu masih mau menerimaku sebagai suamimu sayang?" tanya James ragu-ragu.