MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 29. Akhir Yang Bahagia



"Bangunlah Renata! Jangan seperti ini!" Jessie memegang lengan Renata agar wanita itu berdiri.


"Tenang saja aku sudah memaafkan semua kesalahanmu Rena. Aku berharap setelah ini kamu bisa berubah menjadi orang yang lebih baik dan fokus merawat ayahmu karena dia sangat menyayangimu."


"Terimakasih banyak Jessie, kamu benar-benar wanita yang sangat baik. James sangat beruntung memiliki wanita sebaik kamu." ucap Renata sembari melirik James sekilas.


"Apakah kamu mau memaafkanku juga James?"


"Hm, aku juga sudah memaafkan kamu. Sekarang mulailah lembaran baru dan hiduplah dengan bahagia." ucap James pada Renata.


"Terimakasih banyak James!"


James pun mengangguk.


Setelah itu Renata dan Ayahnya pun pamit pergi meninggalkan kediaman James dan Jessie dengan perasaan lega dan bahagia, begitu pula dengan Jessie dan James.


"Terimakasih atas kebesaran hatimu sayang! Kamu luar biasa dan aku sangat mencintaimu!" ucap James lalu mencium lembut bibir istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu Pak Suamiku yang Bucin dan Posesif!" Jessie menjulurkan lidahnya dan berlari ke arah kamarnya.


"Awas kamu sayang! Berani-beraninya mengejekku! Aku akan memakanmu tanpa ampun!" James pun mengejar istrinya dengan tatapan nakal.


***


Dua Bulan berlalu..


Pagi itu Jessie tampak masih bergelung dalam selimutnya, dia merasa badannya tak nyaman dan kepalanya terasa pusing, bahkan dia melewatkan ibadah subuhnya padahal James sudah membangunkannya tadi.


"Sayang bangunlah! Mau sampai kapan kamu berada di dalam selimut? Ayo kita sarapan sama-sama sayang!" ajak James yang sudah rapi dengan setelan jas mahalnya.


Saat James membuka selimut Jessie, dia melihat Jessie yang pucat.


"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit yang?" tanya James sedikit panik, dia menempelkan punggung tangannya di dahi istrinya yang ternyata sedikit hangat.


"Hm, sedikit pusing sayang." ucap Jessie yang masih memejamkan mata.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Kasian sekali kamu sayang, biar aku panggilkan dokter ya!" ucap James yang akan beranjak dari duduknya.


"Nggak usah sayang! Paling cuma sakit kepala biasa, nanti habis sarapan sama minum obat juga baik lagi." cegah Jessie.


"Ya udah aku bawakan sarapan sama obat kamu kesini ya!" tawar James.


"Hm, boleh."


Setelah turun ke lantai bawah, James pun naik lagi ke kamarnya membawa sarapan dan obat untuk istrinya.


"Huweekk.. Huweekk!"


Tak disangka Jessie malah muntah-muntah di kamar mandi, saat mencium bau susu dan makanan yang James bawa, dia merasa perutnya seperti diaduk saat bau makanan itu mulai masuk ke dalam hidungnya.


"Kenapa sayang?" tanya James dengan panik, dia melihat istrinya yang semakin pucat dan lemas.


Sedangkan Jessie hanya menggelengkan kepalanya dan bersandar di tembok dinding kamar mandinya.


Dengan sigap James menggendong istrinya ke ranjangnya dan segera menghubungi dokter pribadi mereka.


Setelah setengah jam berlalu, dokter pun telah tiba.


Sedangkan James masih setia berada di samping istrinya sembari memijat lembut kaki istrinya.


"Selamat pagi Tuan James, Nyonya Jessie.." ucap dokter wanita itu.


"Selamat pagi juga dokter," ucap keduanya bersamaan.


Kemudian dokter itu pun memeriksa kondisi Jessie, dan James pun berdiri di samping keduanya.


Dokter itu tersenyum sekilas sebelum bertanya sesuatu pada Jessie.


"Apakah anda ingat kapan terakhir ada haid Nona Jessie?" tanya Sang Dokter.


"Hm.. Sepertinya bulan lalu di awal bulan." ucap Jessie sembari mengingat-ingat.


"Selamat ya Nyonya Jessie dan Tuan James, ada akan segera memiliki momongan,"


"Hah! Anda serius dokter?" tanya James berbinar bahagia.


Dokter itu pun mengangguk tersenyum.


"Alhamdulillah Ya Allah.." ucap keduanya bersamaan.


"Terimakasih telah memberikan hamba kepercayaan kembali Ya Allah, hamba janji akan menjaga anugerah dari-Mu ini dengan baik." ucap Jessie dalam hatinya.


Dia terlihat tersenyum bahagia sembari meneteskan airmatanya.


"Kalau tidak salah usia kandungan Nyonya sudah 6 Minggu, untuk lebih jelasnya anda bisa menemui dokter Obygn Tuan."


"Baik Dokter."


"Oh iya saya akan memberikan vitamin untuk Nyonya Jessie agar Nyonya dan calon buah hati kalian sehat, juga agar mual nyonya tidak terlalu parah."


"Terimakasih dokter."


"Sama-sama Tuan."


Setelah kepergian sang dokter, James mendekat pada istrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, buah hati kita ada disini." ucap James sembari mengelus perut Jessie yang masih datar lalu menciuminya berkali-kali.


Sedangkan Jessie hanya bisa mengangguk dan masih meneteskan airmatanya karena bahagia.


"Apakah kamu bahagia ada James kecil disini sayang?" tanya James memandang mata istrinya yang basah.


Lagi-lagi Jessie hanya mengangguk dan tersenyum saja.


Dia terlalu bahagia sampai tak bisa berkata-kata, impiannya menjadi ibu akan terwujud sebentar lagi, mengandung buah hati dari orang yang paling dicintainya.


"Aku sangat mencintaimu sayang! Terimakasih sudah menjadi istri yang terbaik untukku. Terimakasih Ya Allah.. Alhamdulillah.. Terimakasih atas kebahagiaan ini." James terus berucap syukur pada Allah.


Dia mengusap airmata istrinya lalu memeluk istrinya dengan erat.


"Aku juga mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu."


Keduanya pun berpelukan sembari menangis bahagia.


***


James memutuskan cuti beberapa hari untuk menemani istrinya.


"Bagaimana rasanya sayang? Apa masih mual?" tanya James sembari mengecup lembut tangan istrinya.


"Sedikit mual sayang, tapi nggak terlalu parah seperti kemarin."


"Syukurlah sayang, yang terpenting kamu masih bisa makan walaupun dikit-dikit, karena yang aku baca di google itu gejala normal kehamilan trimester pertama sayang jadi kita harus bersabar selama 2 bulan kedepan sampai masuk trimester kedua."


Jessie tersenyum lucu mendengar ucapan James yang seolah seperti dokter kandungan, dia tidak menyangka pria itu sampai membaca artikel tentang kehamilan.


"Kenapa tersenyum sayang?" James memandang istrinya dengan tatapan bertanya.


"Nggak apa-apa abang sayang," Jessie masih tersenyum.


"Isshhh senyumanmu menyebalkan sayang!" gerutu James, "Yahh.. Walaupun aku nggak ikut hamil setidaknya aku harus tahu informasi mengenai ibu hamil, jadi aku bisa menjadi suami siaga buat kamu sayang!"


"Iya sayang, terimakasih ya suami siagaku!" ucap Jessie mengelus lembut pipi suaminya.


"Sama-sama sayang." James mengambil tangan Jessie di pipinya lalu mengecup tangan Jessie dengan lembut.


Sedangkan Pak supir hanya bisa pasrah melihat keromantisan pasangan itu, dia berharap hari ini segera berlalu dan dia bisa pulang untuk bermanja dengan istrinya di rumah.


***


Beberapa jam telah berlalu, Jessie telah selesai di periksa oleh seorang dokter kandungan. Hasil pemeriksaan mengatakan jika janin Jessie sehat dan usia kandungannya memasuki 6 Minggu, sama seperti yang di katakan dokter pribadinya.


Dokter juga memberikan hasil USG milik Jessie, janinnya memang belum terbentuk tapi dia benar-benar bahagia dan terharu melihat ada sebuah kehidupan di rahimnya.


Sama halnya dengan James yang terus tersenyum bahagia.


Sepulang mereka dari rumah sakit, James mengabari mama dan papanya tentang kehamilan Jessie, keduanya pun nampak sangat bahagia mendengar kabar itu.


Jessie sendiri juga mengabari mama, papanya juga kakak iparnya, dia ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarganya juga.


Dan tentu saja keluarganya juga sangat bahagia mendengar Jessie yang hamil kembali.


Hingga malam tiba setelah menunaikan ibadah magrib berjamaah, James ke lantai bawah untuk mengambilkan makan malam dan susu hamil untuk istrinya.


Sedangkan Jessie hanya berbaring seharian saja di ranjangnya sembari membaca-baca novel di salah satu aplikasi novel online terkenal.


30 menit berlalu, James belum juga kembali ke kamarnya, Jessie penasaran apa yang dilakukan suaminya itu dan dia pun memutuskan untuk turun ke bawah.


Saat Jessie mulai membuka pintu kamarnya nya dan keluar, dia melihat semua lampu di mansionnya tak menyala. Semuanya gelap dan dia meraba-raba sembari berjalan ke arah tangga.


"Bang James.. Sayang.. Kamu dimana?" teriak Jessie.


Dia takut jika terjadi apa-apa pada suaminya.


Sedangkan James yang mendengar panggilan istrinya segera menjawab.


"Tunggu disitu sayang, aku kesana! Jangan turun dulu, bahaya kalau turun tangga gelap begini!" teriak James memperingatkan istrinya.


Seketika Jessie bisa bernafas lega karena suaminya baik-baik saja.


"Iya sayang aku tunggu disini,"


"Klik!"


Tiba-tiba semua lampu mansion James menyala.


"SUPRISE!!!" teriak semua yang di bawah bersamaan.


Keluarga Jessie dan Keluarga James tengah berkumpul di lantai bawah dan memberikan surprise pada Jessie.


Mereka semua membawa banyak hadiah, bunga dan kue untuk Jessie juga sebuah ucapan selamat yang di tulis tangan di sebuah kertas besar yang sedang dibawa oleh kakaknya Barrack.


Jessie hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut sekaligus bahagia luar biasa.


"Ayo kita turun sayang," ucap James yang kini sudah di sampingnya.


Dia mengulurkan tangannya didepan Jessie.


Jessie menerima uluran tangan suaminya dan mereka pun saling menggenggam dengan erat.


Saat Jessie telah sampai di lantai bawah, Mama Almyra, mama Jessie memeluknya, menciumnya dan mengucapkan selamat atas kehamilannya.


"Selamat atas kehamilanmu sayang, mama doakan semoga kamu dan calon bayimu sehat selalu dan mendapat limpahan keberkahan dari Allah SWT." doa Mama Myra.


"Amiin.. Ya Robbala'laminn.." semuanya pun mengamini doa Bu Myra.


"Terimakasih mamaku sayang," Jessie balas memeluk dan mencium mamanya.


Pak Jason sang papa pun mencium kening putrinya penuh sayang dan mengucapkan selamat pada Jessie, disusul kedua orangtua James Bu Nadia dan Pak Ronal.


Semua orang berbahagia mendengar kehamilan Jessie, Barrack, Shafa dan Bu Farida pun ikut mengucapkan selamat juga pada Jessie.


"Aunty, kata mommy, di perut aunty ada adek bayi ya? Kalau adiknya keluar dari perut nanti, boleh Rey ajak main?" tanya Reyhan dengan polosnya.


"Boleh donk sayang, ini kan juga adik Rey tapi adiknya nggak boleh dicubit ya sayang." ucap Jessie lalu mencium keponakannya dengan gemas.


"Nanti kalau aku gemas sama adik bayi, aku cubit Uncle James aja, biarin uncle yang sakit." ucap Reyhan menjulurkan lidahnya pada James.


"Oh jadi Si Barrack kecil ini nantangin uncle ya! Dasar kayak bapakmu kamu Rey!" ucap James yang tiba-tiba menggelitiki Reyhan.


"Ampun uncle! Ampun! Rey nggak nantangin uncle lagi!" teriak Rey meminta ampun pada James.


Semua ikut tertawa melihat Rey yang tertawa kegelian.


Dan malam itu di mansion James, semua orang makan dan berkumpul bersama, saling bercerita dan bercanda juga.


James memeluk Jessie penuh sayang dan penuh kebahagiaan sembari melihat keluarganya yang sedang pesta barbeque di halaman mansionnya.


"Alhamdulillah aku sangat bersyukur kita berada di titik ini. Semoga keluarga kita selalu dilimpahi Allah banyak kebahagiaan seperti ini ya sayang!"


"Amin.. Ya Robbala'laminn.. Yuk kita gabung sama mereka sayang!" ajak James.


Jessie pun mengangguk dan ikut bergabung bersama keluarganya di halaman depan.


END