MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 7. Mansion Baru



"Boleh, silahkan masuk!"


Jessie mempersilahkan Renata masuk kedalam ruangan James dirawat.


James hanya terdiam melihat kedatangan Renata, dia sangat kecewa dan marah, cintanya pada Renata sudah menguap begitu saja, sejak Renata muncul bersama calon suaminya.


"Hai James, bagaimana keadaaanmu?" tanya Renata tersenyum manis.


"Aku sudah lebih baik," ucap James dengan dingin.


Jessie heran tidak biasanya dia melihat James bersikap dingin pada Renata, apa mereka memiliki masalah ataukah sebenarnya mereka sudah putus cinta? Beberapa pertanyaan hanya berputar di kepalanya tanpa dia tahu jawabannya.


"Kak James, aku keluar ke depan dulu ya! Kalau ada apa-apa kakak hubungi ponsel aku aja. Oh iya, ini ponsel kakak yang Kak Fino berikan padaku kemarin malam,"


Jessie menyerahkan ponsel James padanya.


"Hm, terimakasih!"


Jessie pun berjalan keluar meninggalkan Renata dan James yang ingin berbincang, daripada dia harus mendengarkan perbincangan mesra pasangan itu seperti tempo hari dan membuatnya semakin terluka, lebih baik Jessie tidak mendengar pembicaraan mereka sama sekali.


"Ada apa kamu kesini?" tanya James saat Jessie telah pergi dari ruangannya.


"James, maafkan aku! Karena aku kamu jadi mengalami kecelakaan seperti ini, aku tidak sengaja James, aku mohon maafkan aku!" ucap Renata sembari meneteskan airmatanya.


"Jangan membuat drama! Apa maumu? Kalau urusan polisi, aku pastikan aku tidak akan melaporkan perbuatanmu padaku, karena aku tahu kamu juga tidak sengaja mendorongku. Kamu lebih takut calon suamimu terluka daripada aku yang terluka," sindir James.


"Bukan begitu James, aku banyak berhutang budi padanya saja. Aku tidak ingin kamu memiliki masalah dengannya. Em.. James, bolehkah aku merawatmu sampai kamu sembuh?" pinta Renata ragu-ragu.


"Aku tidak butuh bantuanmu! Kamu tidak perlu merasa bersalah, pergi urusi saja calon suamimu itu!" ucap James tak peduli.


"Tapi James, aku sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami, aku masih sangat mencintaimu James! Setelah kejadian tadi malam, aku sadar jika aku tidak bisa kehilangan kamu. Aku terus mikirin kamu James!" ucap Renata yang terisak.


"Buang airmatamu itu Rena! Aku sudah tidak mencintaimu jadi pergilah dari hidupku!"


"Tadi malam saja kamu bilang telah menungguku selama beberapa bulan ini dan ingin membawaku pergi, sekarang kamu bilang kamu tidak mencintaiku! Maksudmu apa James? Aku rela memohon pada calon suamiku agar melepaskanku demi bersama kamu, tapi sekarang kamu menolakku! Jangan bilang kamu mencintai istrimu James!" ucap Renata sedih sekaligus kecewa.


"Itu urusanmu dengan calon suamimu, aku tidak peduli! Semalam aku hanya ingin melihat sejauh apa perasaanku padamu, dan nyatanya aku hanya merasa menyesal pernah mencintai wanita yang tidak pernah menganggapku sama sekali. Dan kamu benar, aku memang mencintai istriku, aku baru menyadarinya tadi malam, dia yang selalu ada untukku, dia yang selalu setia menungguku. Bahkan satu bulan belakangan ini, aku sudah tidak pernah memikirkanmu lagi!"


Mendengar penolakan James padanya, Renata mengepalkan tangannya menahan segala amarahnya. Dia berjanji pada dirinya tidak akan menyerah merebut cinta James kembali.


"James, apa kau sadar siapa kau sekarang? Kamu adalah pria lumpuh! Dokter mengatakan jika salah satu syaraf kakimu tidak berfungsi jadi, kamu akan lumpuh dalam jangka waktu yang lama, lalu apa seorang pria lumpuh pantas bersanding dengan wanita cantik, sempurna dan kaya raya sekelas Jessica Hansel? Aku yakin jika Jessie juga tidak tahu kondisimu yang sebenarnya, jika dia tahu belum tentu dia mau menerimamu yang seperti ini"


Renata memanas-manasi James.


"Tutup mulutmu Rena! Dasar wanita pembohong! Bahkan papaku saja mengatakan jika aku bisa pulih dalam beberapa minggu saja," seru James tak percaya, walaupun hatinya juga merasa gelisah.


"Apa kau sadar jika keluargamu hanya menutupi kondisimu yang sebenarnya agar kamu tidak bersedih lalu depresi? Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja langsung pada dokter!" ucap Renata tak mau kalah.


"Aarrggh! S1al! Pergi kau Rena!" James mengerang penuh frustasi.


"James, hanya aku yang bisa mencintaimu dengan tulus dan menerima segala keadaanmu! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu lagi James!"


"Terserah! Pergi kau!" James tak peduli dan mengusir Renata dari ruangannya.


Mau tidak mau, Renata pergi dari ruangan James dan berjanji akan kembali untuk mendapatkan cinta James lagi.


**


Mengingat ucapan Renata, James merasa tidak percaya diri. Benarkah dia akan lumpuh dalam jangka waktu yang lama? Jika benar itu yang terjadi, dia benar-benar merasa tidak pantas bersanding dengan Jessie. Dia seperti pria yang tidak tahu diri jika masih mengharapkan Jessie disisinya disaat dia berada titik terendahnya saat ini, sedangkan selama ini disaat sehatnya dia menyia-nyiakan istrinya.


"Ceklek!"


"Kak James, ayo makan! Biar aku yang menyuapi," tawar Jessie.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri. Tanganku tidak lumpuh, hanya kakiku saja yang lumpuh. Jangan mengasihaniku!" ucap James kembali dingin, lalu mengambil kotak makanan yang ada ditangan Jessie.


Jessie mengernyit heran, kenapa suaminya mendadak berubah menjadi dingin lagi padanya, padahal sejak tadi hubungan mereka sudah agak membaik. Apa karena kedatangan Renata, sehingga suaminya tak menganggap keberadaannya lagi? pikir Jessie dalam hati.


"Baiklah, aku akan tetap menunggu kakak disini, sampai selesai makan dan minum obat." Jessie tersenyum manis sedangkan James berpura-pura fokus pada sarapannya.


Selama satu minggu ini, James dirawat di rumah sakit dengan dijaga oleh istrinya, mamanya secara bergantian, karena Jessie sendiri juga mulai bekerja kembali setelah 3 hari James dirawat. Sedangkan Fino menghandle semua pekerjaan James di kantor.


James juga lebih banyak diam, kata-kata Renata selalu terngiang-ngiang di telinganya. James berusaha menjauhi Jessie perlahan agar cintanya tidak terlampau dalam pada istrinya itu, karena James sadar, dia tidak pantas untuk Jessie. Istrinya itu terlalu baik dan sempurna untuk dirinya yang sudah berkali-kali menyakiti istrinya dan kini malah tak bisa apa-apa.


Renata sendiri juga masih sering datang ke rumah sakit untuk menjenguknya, saat dia tahu Bu Nadia tidak menjaga James tapi James mengabaikannya dan Jessie pun akhirnya tahu jika hubungan keduanya telah berakhir, tapi dia tidak tahu alasan perpisahan keduanya.


Walaupun kesal dengan kehadiran Renata yang sering perhatian pada suaminya dan sikap dingin James yang selalu dia tunjukkan padanya, Jessie tetap berusaha merawat suaminya dengan baik, karena dia sendiri sudah terbiasa menghadapi sikap menyebalkan sang suami.


Jessie berangkat kerja dari rumah sakit dan sepulang kerja langsung menuju rumah sakit pula, dia hanya tidak ingin terlalu merepotkan mama mertuanya. Jadi dia memindahkan semua yang diperlukannya ke rumah sakit, tanpa dia harus mondar-mandir ke apartemen lagi.


Pada hari ke 4 James di rumah sakit, Mama dan papa Jessie pun sempat menjenguk James begitu pula dengan kakaknya Barrack dan Shafa istrinya lalu Bu Farida dan si tampan Rey pun juga ikut. Semua berkumpul bagai reuni keluarga, Pak Ronald dan Bu Nadia sangat senang dengan kehadiran besan beserta keluarga besarnya.


Dan seperti biasa James dan Jessie bersikap seperti layaknya pasangan harmonis lainnya didepan keluarga besar mereka. Walaupun sebenarnya keadaan hubungan keduanya masih saja dingin seperti diawal.


**


Sepuluh hari telah berlalu, pagi itu, dokter telah memeriksa keseluruhan kondisi James. Dokter mengatakan jika James sudah diperbolehkan pulang karena kondisi lukanya sudah mulai mengering dan James diharuskan terapi setiap satu minggu sekali untuk merangsang salah satu syaraf kakinya agar berfungsi kembali.


Hari ini Bu Nadia dan Jessie mengantarkan kepulangan James, untuk sementara waktu James harus memakai kursi roda dan Fino mendorong kursi roda Bossnya menuju ke mobil mewahnya.


James dan Jessie duduk bersebelahan di kursi penumpang tanpa ada banyak kata-kata yang terucap, mobil yang mereka tumpangi menuju ke suatu tempat. Bukan menuju ke arah apartemen yang mereka tinggali sebelumnya, ingin rasanya Jessie menanyakan tapi dia tidak berani membuka mulutnya saat aura dingin James begitu kentara.


25 menit kemudian, kini mobil mereka telah sampai di sebuah mansion mewah hampir sama luasnya dengan mansion utama keluarga James.


"Kak James ini mansion siapa?" tanya Jessie yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ini mansion kita dan mulai sekarang kita akan tinggal disini," jawab James.


"Tapi barang-barangku? Aku belum membawanya,"


"Kamu jangan khawatir, semua barangmu sudah dipindahkan oleh orang-orangku beberapa hari ini dan mereka menatanya seperti saat di apartemen kita yang lama,"


"Terimakasih kak!" ucap Jessie berbinar bahagia dan James pun mengangguk.


Mereka pun turun dari mobil mereka dan disambut oleh beberapa pelayan di mansion itu. Fino pun berpamitan kembali ke perusahaan James lagi.


"Selamat datang Nyonya besar, Tuan muda, Nona muda!" ucap salah satu kepala pelayan yang berusia sekitar 50-an tahun.


James, Jessie dan Bu Nadia pun berterimakasih atas sambutan mereka.


Mereka berkeliling melihat isi mansion, ada taman bunga yang indah di samping mansion dan sebuah kolam renang besar yang tertutup di belakang taman bunga itu. Mansion itu terlihat sangat mewah dan nyaman, disana juga dibangun sebuah lift menuju ke lantai atas untuk memudahkan James naik ke kamarnya.


"Apa kau suka tinggal disini?" tanya James pada istrinya.


"Sangat suka kak!" Jessie terus bahagia begitu pula dengan Bu Nadia.


"Seharusnya sejak awal kamu mengajak istrimu tinggal di mansion James, daripada harus tinggal di sebuah apartemen kecil. Membuat tidak nyaman saja," nasehat Bu Nadia.


"Ah tidak mama, bagiku dimanapun kami tinggal asalkan kami terus berdua, aku akan selalu nyaman." ungkap Jessie jujur.