
Tubuh Jessie meremang mendapatkan sentuhan James, tidak bisa dipungkiri jika dia merindukan sentuhan suami tampannya itu, tapi dia ragu apa kakinya yang belum sepenuhnya sembuh itu berefek pada organ v1t4lnya atau tidak.
"Eh kenapa aku jadi mikir kotor sih disaat begini! Ya ampun Jessie kendaliin otak kamu!" gumamnya dalam hati.
"Eh apa tadi yang dia katanya? Beruntung memilikiku dan dicintai olehku? Dia ini bodoh apa gimana sih! Udah jelas-jelas aku bilang kalau cinta sama dia dan sekarang masih jadi istrinya, dia malah bilang gitu! Maksudnya apa coba?" gumam Jessie lagi dalam hati.
"Kak James, apa semua ucapanku kurang jelas?" Jessie menatap James dengan tatapan bertanya, James hanya mengernyit.
"Aku ini milik Kak James sepenuhnya, istri sah kakak dan aku sudah bilang berkali-kali kalau mencintai kakak. Lalu kenapa Kak James merasa tidak memilikiku? Jika kakak memang bersikeras untuk berpisah aku akan kabulkan," gertak Jessie.
Wajah James tiba-tiba mendung dan sedikit panik, entah kenapa dia jadi takut ucapan Jessie itu menjadi kenyataan.
"Eh bukan Jess! Aku bukannya ingin berpisah, tapi aku tidak pantas dicintai sebesar itu olehmu. Selama ini sikapku buruk padamu, aku hanya tidak yakin apa masih bisa berharap padamu atau tidak. Apalagi aku sekarang adalah pria yang lumpuh, aku tak ingin membuatmu malu dihadapan banyak orang."
Jessie senang dengan pengakuan suaminya, walau tidak mengatakan cinta seperti dirinya secara gamblang tapi James mengaku jika mengharapkan dirinya.
"Aku rasa hari ini kamu sudah terlalu banyak bicara sayang!" ucap Jessie sebelum menc**m bibir suaminya dan duduk di pangkuan pria tampan itu.
"Cupp!"
Bibir mereka bertautan penuh lembut pada awalnya, mengesap dan merasakan manisnya satu sama lain, mencurahkan segala kerinduan yang selama ini tertahan, tapi lama-lama tautan itu semakin panas dan semakin menuntut lebih dari itu.
Tubuh James mengeras, dia kira dia tidak bisa lagi tapi nyatanya bagian itu masih berfungsi dengan normal.
Jessie menyadari sesuatu yang keras menganggu posisi duduknya, dia tersenyum dan wajahnya merona malu.
James menyelusuri leher jenjang istrinya dan mencium aromanya dalam-dalam disana, lalu menurunkan Indra penciumannya sedikit kebawah dan bermain-main disana.
Hingga tanpa disadari kini keduanya pun tak memakai apapun dan sudah beralih di sofa empuk di tempat Jessie duduk tadi.
Jessie menatap James dengan binggung.
"Lakukan sayang! Kamu yang diatas!' ucap James dengan suara beratnya.
Suara James terdengar sangat seksi di telinga Jessie, ini kali pertama James memanggilnya dengan sebutan 'sayang', lalu dengan semangat Jessie melakukan apa yang diucapkan suaminya.
Setelah hampir dua bulan keduanya hanya menahan hasr** dan rindu masing-masing, akhirnya malam ini menjadi malam yang indah bagi keduanya. Saling memberi dan menikmati satu sama lain, begitu sangat menyenangkan hingga membuat keduanya tak ingin berhenti.
Entah sampai berapa kali pelepasan mereka, hingga tiba-tiba James merasakan rasa nyeri dan kram di kakinya.
"Oooohhh!" James menggeram kesakitan.
"Ada apa Kak? Apa ada yang sakit?" Jessie segera turun dari t**uh suaminya dan memandang prianya dengan perasaan khawatir.
"Nggak apa-apa sayang hanya sedikit nyeri sekaligus kram! Mungkin kita yang terlalu bersemangat," James mengedipkan matanya.
"Astaga Kak James, udah begini malah bercanda aja!" wajah Jessie merona, "Apa yang harus aku lakukan agar rasa sakit Kak James mereda?" ucapnya khawatir.
"Jangan lakukan apapun sayang! Biarkan aja, nanti juga reda sendiri. Cukup cium aku aja, karena sepertinya obatnya hanya kamu!" goda James pada Jessie.
"Dasar gombal!" wajah Jessie merona lagi, dia tersenyum malu sembari memukul pelan dada suaminya.
James menangkap tangan Jessie lalu menariknya agar lebih dekat dengannya, lalu dia mencium istrinya dengan penuh kelembutan.
Lalu beberapa menit kemudian dia melepaskan tautannya, memandang lembut sang istri.
"Aku mencintaimu Jessica Aira Hansel, sayangku, istriku." ucap James.
Jessie mendadak membeku sejenak, dia takut ini hanya mimpi, lalu dia menampar pipinya sendiri.
"Plaakkkk!"
"Hei sayang! Apa yang kau lakukan! Hm? Tenang saja ini bukan mimpi!" ucap James tersenyum lucu kemudian dia menciumi lagi seluruh wajah istrinya sembari berucap kata cinta berkali-kali.
Tak terasa airmata Jessie pun jatuh, dia bahagia sekaligus terharu, karena pada akhirnya James mencintainya. Usaha dan kesabarannya akhirnya membuahkan hasil.
"Hei kenapa malah menangis sayang?" James menghapus airmata istrinya.
"Ini tangisan bahagia Kak James, terimakasih sudah mencintaiku." Jessie tersenyum dengan airmata yang masih menetes dipipinya.
"Aku yang seharusnya banyak-banyak berterimakasih padamu sayang. Aku baru menyadari jika selama ini hanya kamu yang selalu ada untukku, kamu setia dan sabar menungguku, aku merasa sangat beruntung dicintai wanita yang luar biasa baik dan sempurna sepertimu."
Jessie hanya mengangguk, dia tak bisa berkata-kata lagi. Semuanya terlalu membahagiakan buatnya, dia sangat bersyukur pada Tuhan atas semua kebahagian ini.
Dan mereka pun berpelukan dengan sangat erat, dan setelah mereka menyelesaikan segala pembicaraan dan kegiatannya di ruangan itu, keduanya pun kembali ke kamar mereka. Tidur berpelukan dan satu selimut bersama.
Disela-sela tidur mereka, James membuka suaranya, padahal Jessie sudah akan terlelap.
"Sayang ambilkan P3K!"
"Untuk apa kak?" Jessie membuka matanya kembali, dan mendongkakkan kepalanya menatap sang suami.
"Hihi dasar tukang gombal! Sejak kapan Kak James pinter gombal! Hah?" tanya Jessie dengan hati berbunga-bunga.
"Bakat alami sayang!"
"Awas aja kalau gombal ke wanita lain!"
"Nggak akan sayang! Aku janji!"
"Terimakasih!" Jessie menelusupkan wajahnya dipelukan suaminya.
"Eh! Nggak jadi diobatin ini?"
"Nggak usah sayang! Nanti juga sembuh sendiri. Yuk bobo yuk, aku dah ngantuk dan capek banget."
James mengangguk dan memeluk istrinya dengan erat sembari menciumi pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.
**
Di suatu hunian yang mewah dan bergaya modern, terlihat tiga orang berbeda jenis, sedang berbicara serius tentang rencana kejahatan mereka.
"Kamu ini bagaimana sih? Membuat seorang pria jatuh cinta aja susah! Keluarin donk semua kemampuan menggodamu, aku aja bisa dengan mudah membuatnya jatuh cinta tapi kamu sangat payah!" ejek wanita pertama pada si wanita kedua, yang merupakan temannya.
"Cihh! Walaupun kamu berhasil membuatnya jatuh cinta tapi nyatanya kamu nggak berhasil membuatnya menikahimu!" cibirnya wanita kedua.
"Itu karena bocah manja itu! Dia selalu menggoda kekasihku dan mendekati kedua orangtuanya! Licik sekali bocah itu!" balas wanita pertama dengan kesal.
"Sudahlah kalian jangan berdebat lagi! Secepatnya aku akan melenyapkan bocah manja sainganmu itu, agar kamu leluasa bisa memiliki kekasihmu lagi!" ucap seorang laki-laki yang ada di depan kedua wanita itu.
"Terimakasih atas kebaikanmu bro! Aku berhutang budi padamu." ucap wanita itu dengan binar bahagia.
"Tidak usah berterimakasih, karena itu adalah tujuanku! Yang lain aku tidak peduli! Nyawa dibalas nyawa!" ucap sang pria dengan kilatan mata penuh dendam.
"Kita hanya perlu rencana yang matang dan waktu yang tepat, agar semuanya terlihat tidak disengaja." tambahnya, lalu dia tersenyum menyeringai.
***
Keesokan paginya, James ingin menghabiskan waktunya seharian bersama sang istri, karena hari ini adalah hari Minggu dan Jessie libur kerja. Suster Nerissa juga bebas bertugas pada saat hari Minggu.
James telah selesai mandi dan berganti baju sendiri dengan duduk di sisi ranjang. Semakin lama keadaannya semakin membaik, walau sepenuhnya dia belum bisa berjalan dengan normal.
"Bangunlah princess! Ini sudah pagi," ucap James sembari mengecup pucuk kepala sang istri.
Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi.
Jessie menggeliatkan tubuhnya, dia membuka matanya perlahan dan tersenyum manis melihat suaminya.
"Maafkan aku Kak James, aku malah bangun sesiang ini. Kenapa tidak membangunkanku?"
Jessie tahu jika itu sudah agak siang, karena cahaya matahari telah masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka.
"Aku nggak tega bangunin kamu yang, kamu bobonya nyenyak banget. Ya udah mandi dulu sana sayang lalu kita sarapan." James mencium bibirnya singkat.
"Iya kak,"
Saat Jessie akan beranjak dari ranjangnya, James menarik tangan Jessie hingga wanita itu terjatuh dipangkuan suaminya.
James mendekati telinga istrinya dan membisikkan sesuatu.
"Panggil aku 'suami', sayang! Aku sangat mencintaimu!" ucap James dan membuat wajah Jessie merona.
"Aku juga mencintaimu suamiku!"
"Cupp!"
Jessie mencium pipi suaminya singkat lalu berlari kecil ke kamar mandi.
James menggelengkan kepalanya, sungguh James merasa sangat bahagia dan semakin jatuh cinta pada istri manjanya itu, dia bersyukur telah menemukan orang yang tepat dalam hidupnya.
Dia merutuki kebodohannya sendiri karena telah menyia-nyiakan cinta sang berlian yang selalu bersamanya itu dan malah masih mengejar Renata yang nyatanya tak sesetia yang dia pikirkan, dan kini dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai wanita itu sampai akhir hidupnya.
Setelah Jessie menyelesaikan mandinya, kini mereka berdua pun sarapan bersama.
"Apa rencanamu hari ini sayang?" tanya James pada istrinya saat mereka telah menghabiskan sarapan mereka.
"Mari kita berkencan di luar suamiku! Aku ingin kita pacaran ala anak-anak muda kebanyakan." Jessie berbinar bahagia.
"Tapi apa kamu nggak malu jalan dengan pria lumpuh ini?" James menatap Jessie dengan khawatir.