MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 18. Takut



Jessie menjatuhkan kado kecil yang dia bawa, saat di melihat Renata begitu erat memeluk suaminya yang sedang berdiri tanpa bantuan apapun.


James dan Renata yang mendengar sebuah benda jatuh, lalu menoleh bersamaan.


Alangkah terkejutnya James saat melihat istrinya telah berada di dalam ruangannya.


Sedangkan Renata tersenyum samar penuh kemenangan.


"Sayang!" James mendorong kuat tubuh Renata yang sedang memeluknya erat.


"Ah.. Sakit sayang!" Renata yang jatuh di lantai berpura-pura kesakitan.


Tanpa banyak bertanya, Jessie berlari meninggalkan James dengan perasaan yang amat terluka.


"Jessie sayangku! Tunggu!" James segera menyusul istrinya dan berlari mengejarnya.


Padahal dokter mengatakan dia masih belum diperbolehkan beraktivitas berat apalagi sampai berlari, tapi dia tidak peduli, baginya yang terpenting adalah istrinya. Dia takut kesalahpahaman ini membuat hubungan mereka yang harmonis kembali memburuk lagi.


Tapi sialnya dokter yang menanganinya menghadangnya pergi, hingga dia tidak dapat mengejar sang istri.


"Tuan James anda mau kemana?" tanya dokter itu menghadang James.


"Ada hal penting yang harus saya selesaikan dok," jawab James.


"Saya sudah katakan agar anda tidak beraktivitas berat apalagi berlarian seperti ini, anda ini baru bisa berjalan normal kembali. Dan hasil pemeriksaan ulang kami juga baru bisa keluar nanti siang, jika anda masih keras kepala, kami tidak akan bertanggungjawab kalau kondisi anda menjadi lebih buruk kembali." omel dokter wanita itu.


"James sayang! Menurutlah apa kata dokter! Kamu baru saja sembuh sayang," sahut Renata yang sudah ada di belakang James.


"Diam kau wanita tidak tahu malu! Jangan dekat-dekat denganku lagi!" bentak James sembari menunjuk wajah Renata.


Seketika wajah Renata menjadi merah menahan malu karena dibentak James di depan banyak orang.


"Bre***sek kau James! Lihat saja! Sebentar lagi kamu akan menangisi nasib burukmu!" umpat Renata dalam hati.


"Maaf dokter! Saya sudah merasa sehat dan tolong jangan halangi saya! Biar anak buah saya yang mengurusi segala administrasi disini, terimakasih!" James mengangguk sekilas dan pergi dari hadapan dokter, tim medis dan Renata.


"Kamu urusi semua disini, dan kamu ikut aku mengejar istriku!" perintah James pada dua anak buah kepercayaannya.


"Baik Boss!" jawab mereka bersamaan.


**


Jessie keluar rumah sakit dengan berderai airmata, dia mencari taksi untuk pergi ke bandara lagi. Dia sudah tidak peduli lagi dengan suaminya, dia bertekad akan meminta perpisahan pada suaminya saat kembali ke negara asalnya lagi.


Sudah cukup kesabarannya selama ini, James sudah terlalu banyak menorehkan luka di hatinya, James telah berjanji padanya tidak akan berhubungan lagi dengan Renata maupun wanita lain, tapi nyatanya pria itu mengingkari janjinya.


Tiba-tiba sebuah mobil SUV hitam berhenti dan menghampirinya.


"Nona Jessie! Saya orang suruhan Tuan Gery, saya yang bertugas untuk mengantarkan anda kemanapun yang anda mau." ucap seorang pria yang asing yang keluar dari mobil hitam itu.


Jessie mengernyit heran, wajah pria itu berbeda dari ketiga wajah pria yang tadi menjemputnya di bandara.


"Mungkin anda heran karena tidak mengenali saya, maaf ketiga teman saya yang tadi pagi menjemput anda, saat ini mendapatkan tugas lain dari Tuan Gery jadi saya yang ditugaskan untuk menjemput anda," ucap si pria menyakinkan.


Tanpa pikir panjang Jessie pun percaya dengan ucapan pria itu.


"Baiklah, kalau begitu antarkan aku ke bandara sekarang!" perintah Jessie.


"Baik nona, silahkan anda masuk!" ucap pria itu sembari membukakan pintu mobil untuk Jessie.


Jessie pun masuk ke dalam mobil itu dan duduk di kursi penumpang. Dia menghela nafasnya lalu duduk bersandar pada jok mobil. Hati, pikiran dan tubuhnya terasa lelah, apa begini rasanya mengejar laki-laki yang kita cintai? Sangat melelahkan dan menyakitkan, jika dia tahu pada akhirnya dia dan James tidak bisa bersatu lebih baik dia mundur dari awal saja, begitu pikirnya.


Airmatanya menetes lagi, dia merasa semua cinta dan pengorbanannya tak cukup membuat James melupakan mantan kekasihnya, bayangan untuk melepaskan rasa kerinduannya pada sang suami pun kini telah berganti dengan rasa sakit dan kecewa yang luar biasa. Dia sudah menyerah dan ingin pergi sejauh mungkin dari suaminya.


Saat Jessie menghapus airmatanya dan melihat ke arah jalan raya, dia baru menyadari jika jalan yang sedang dia lewati bukan jalan menuju bandara.


"Hei bang! Ini bukan jalan menuju bandara, mau kamu bawa kemana aku?" tiba-tiba perasaan Jessie mendadak tak enak, "HEI! TURUNKAN AKU DISINI!" teriak Jessie.


Dan tiba-tiba seorang pria bertopeng hitam keluar dari jok mobil belakang dan membekap mulut Jessie dengan sebuah kain hingga membuat Jessie tiba-tiba tak sadarkan diri.


**


Sementara di depan rumah sakit, James terlihat bertanya pada beberapa petugas keamanan mengenai Jessie, dengan mengatakan ciri-ciri Jessie pada mereka.


Salah satu petugas keamanan mengatakan jika melihat Jessie di jemput sebuah mobil SUV hitam dan mobil itu berjalan ke arah barat.


"Apa anda tahu plat mobilnya?" tanya James.


"Maaf Tuan, saya tidak sempat mengingat plat nomor mobilnya."


"Apa ada CCTV yang mengarah ke jalan raya itu?" tanyanya lagi.


"Ada Tuan, tapi maaf rumah sakit kami tidak di perkenankan memberikan rekaman CCTV kami kepada orang asing,"


Hati James merasa sangat khawatir, dia merasa ada hal buruk yang akan terjadi pada istrinya. Dia segera menghubungi Gery.


📞"Gery, apa kau yang menyuruh anak buahmu untuk menjemput Jessie?"


"Iya tadi sewaktu di bandara! Bukannya Jessie sudah sampai di rumah sakit ya?" Gery balik bertanya.


"Tadi dia udah sampai kesini, tapi dia pergi lagi, saat tak sengaja melihat Renata yang tiba-tiba memelukku!" jujur James.


"Hah! Dasar B3d3b4h! Apa-apaan sih kau itu James! Kenapa kamu mengijinkan wanita ular itu masuk ke dalam ruanganmu? Dimana otakmu itu!" bentak Gery.


"Ck itu nggak penting lagi! Sekarang katakan dimana Jessie? Kamu kan yang nyuruh anak buahmu menjemputnya?" tanya James dengan tidak sabar.


"Apa maksudmu mengira anak buahku yang menjemput Jessie? Sedangkan anak buahku saja sudah kembali ke markas sejak mengantarkan Jessie tadi dan saat ini tidak ada dari mereka yang menjemput Jessie!"


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Jadi siapa yang menjemput Jessie? Atau jangan-jangan Jessie diculik?" seru James dengan panik.


"James jangan bercanda kau! Jessie memang mengatakan padaku jika tak membawa bodyguard satupun!" terang Gery.


"Ya ampun Jessie!" James mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kamu melibatkanku dalam masalah James! Dasar bocah ingusan menjaga satu wanita saja tidak becus kau! Tunggu, aku kesana!" bentak Gery lagi dan dia memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


James segera menemui petugas keamanan itu lagi dan memaksa untuk meminta rekaman CCTV yang mengarah ke jalan yang di lewati istrinya.


Awalnya petugas itu kekeh tidak mau memberikannya pada James, tapi saat James mengatakan jika Jessie diculik, pada akhirnya petugas kemanan itu memberikan semua informasi yang dia butuhkan.


Hanya dalam waktu 15 menit saja, Gery telah sampai di rumah sakit dimana James berada saat ini.


"Bagaimana James? Apa kau sudah mengetahui siapa yang membawa Jessie?" tanya Gery dengan tak sabar.


Mereka ada di ruang CCTV rumah sakit saat ini.


"Tolong lacak mobil ini, mobil ini yang yang membawa Jessie pergi." pinta James.


Gery mengangguk dan segera memberitahukan salah satu h*cker miliknya.


Selang beberapa menit anak buahnya menelpon Gery dan mengatakan siapa pemilik SUV hitam itu.


"Pemilik mobil itu adalah salah satu anggota dari Black Dragon," ucap Gery dengan wajah gusarnya.


"Astaga!" terdengar gumaman pelan dari semua petugas keamanan disana sembari bergidik ngeri.


James menatap Gery dengan tatapan bertanya, dia tak tahu siapa itu "Black Dragon" sehingga membuat orang yang mendengarnya menjadi takut, tapi insting-nya mengatakan jika yang dia hadapi saat ini bukan orang biasa.


"Black Dragon adalah salah satu Gengster yang paling ditakutin disini, tidak ada yang berani berurusan dengan mereka bahkan p*m*rintah saja mundur. Dan biasanya orang-orang yang menggunakan jasanya adalah orang-orang yang sama-sama berkecimpung dalam dunia hitam." terang Gery.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Bagaimana bisa Jessie memiliki musuh orang-orang seperti itu? Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu!" ucap James merasa heran sekaligus terkejut.


"Sepertinya bukan Jessie yang terlibat dengan mereka tapi keluarganya." tebak Gery, "Sebaiknya kita hubungi Barrack sekarang, terus terang untuk masalah ini, kita tidak akan bisa turun tangan sendiri. Hanya Tuan Jason dan Barrack yang mampu menangani ini." saran Gery.


"Kau benar Ger, biarlah jika Barrack akan memenggalku nantinya, gara-gara aku yang tak becus menjaga adiknya, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Jessie."


"Bukan hanya kau yang dipenggal Barrack! Aku juga! Kau ini selalu saja membuat masalah dan sekarang malah melibatkanku!" Gerutu Gery dengan perasaan kesal.


James hanya memandang Gery dengan tatapan memelas andalannya.


"Ck! Dasar manja!"


Kemudian Gery menghubungi Barrack dan menjelaskan semua permasalahan yang terjadi hari ini padanya.


***


Di sebuah bangunan tua di tengah hutan, terlihat Jessie masih tak sadarkan diri, kedua tangan dan kakinya diikat pada sebuah kursi.


"HEI BANGUN KAU J***NG!" teriak salah satu anggota geng.


"Byuuuurrrr!"


Mereka menyiramkan air pada kepala Jessie sehingga membuatnya terbangun dari pingsannya.


"Uhukk.. Uhukkk.. Uhhukk!"


Jessie terbatuk karena beberapa tetes air masuk kedalam hidungnya.


Jessie mulai membuka matanya dan melihat banyak pria berbadan besar dengan banyak tato di tubuh mereka, sedang memandangnya dengan tatapan tak biasa dan terlihat mereka juga sedang menertawakannya.


Dia benar-benar merasa sangat takut dan berdoa dalam hatinya, agar siapapun menemukannya.


"SIAPA KALIAN!" teriak Jessie.